Perbandingan Teks Sastra Novel Tarian Bumi Karya
Eka Rusmini dengan Ilmu Budaya
Oleh: Muhammad Abdul Aziz Syafi’i
A.
PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang
Karya
sastra sebagai cerminan kehidupan masyarakat, merupakan dunia subjektivitas
yang diciptakan oleh pengarang, yang di dalamnya terdapat berbagai aspek kehidupan yang saling
berkaitan satu dengan yang lainnya. Aspek kehidupan tersebut berupa aspek
sosiolologis, psikologis, filsafat, budaya, dan agama. Keberadaan karya sastra
tidak dapat dilepaskan dari diri pengarang sebagai bagian dari anggota suatu
masyarakat. Sehingga dalam penciptaannya, pengarang tidak dapat terlepas dari
lingkungan sosial budaya yang melatarinya.
Sastra
bandingan adalah sebuah studi teks across
cultural. Studi ini merupakan upaya interdisipliner, yakni lebih banyak
memperhatikan hubungan sastra menurut aspek waktu dan tempat. Dari aspek waktu,
sastra bandingan dapat membandingkan dua
atau lebih periode yang berbeda. Sedangkan konteks tempat, akan mengikat sastra
bandingan menurut wilayah geografis sastra (Endraswara, 2014:128).
Kajian sastra banding ini tidak menelaah karya-karya sastra
semata-mata, melainkan membicarakan hubungan antara isi karya sastra dengan
berbagai disiplin ilmu pengetahuan, agama, dan bahkan juga karya-karya seni atau budaya.
Berdasarkan hal yang demikian, maka penulis membandingkan
teks sastra novel “Tarian Bumi”
karya Oka Rusmini dengan ranah Budaya Masyarakat Bali.
2.
Rumusan Masalah
1)
Bagaimanakah persamaan teks sastra
novel “Tarian Bumi” karya Oka Rusmini
dengan Budaya Masyarakat Bali?
2)
Bagaimanakah
perbedaan teks sastra
novel “Tarian Bumi” karya Oka Rusmini
dengan Budaya Masyarakat Bali?
3.
Manfaat Penelitian
1) Dapat memperluas
khasanah ilmu dalam
suatu karya ilmiah
terutama bidang bahasa dan sastra Indonesia.
2) Bagi peneliti,
penelitian ini dapat memperkaya wawasan sastra dan menambah khasanahan
penelitian sastra indonesia yang
bermanfaat bagi perkembangan sastra indonesia.
3) Bagi pembaca,
penelitian ini dapat menambah minat baca dalam mengapresiasiasikan karya
sastra, serta menambah pengetahuan tentang sastra.
4.
Objek Penelitian
Objek penelitian ini ialah cerita novel
“Tarian Bumi” karya Oka Rusmini.
5.
Teori
Istilah
sastra bandingan (Comparatif Literature)
di Inggris, yang merupakan adaptasi dari istilah Prancis (Litterature Comparee), sastra bandingan diakui secara akademik di
Inggris pada tahun 1921. Ahli sastra bandingan pada saat itu adalah Eric
Partridge, yang menerbitkan karyanya tahun 1926 dengan judul Critical Medley. Essays, Studies and Notes
in Comparative Literature.
Munculnya
pandangan historis kritis menandai sastra bandingan telah memiliki tahapan
panjang dalam mewujudkan karya-karyanya. Kehadiran jurnal sastra bandingan yang
representatif sekaligus menunjukkan bahwa segi keilmuan sastra bandingan telah
lama menarik perhatian publik, sekurang-kurangnya di Inggris dan Prancis. Kedua
negara ini tampaknya memang menjadi ujung tombak terhadap perkembangan sastra
bandingan.
Pembahasan
di atas memberikan gambaran tentang kemunculan sastra bandingan. Sepanjang
usianya, sastra bandingan dipupuk oleh dan dengan berbagai kegiatan seperti
penerbitan jurnal, kuliah, ceramah, dan berbagai penelitian.
Menurut
Sapardi Djoko Damono (2005: 1), sastra bandingan adalah sebuah pendekatan dalam
ilmu sastra yang tidak menghasilkan teori sendiri. Dengan kata lain, dalam
kajian ini dapat menggunakan teori apa
saja selama masih dapat bersangkutan dengan sastra.
Sastra
bandingan merupakan kegiatan membandingkan sastra sebuah negara dengan negara
lain atau membandingkan sastra dengan bidang lain sebagai keseluruhan ungkapan
kehidupan (Endraswara, 2014:9-10)
B.
PEMBAHASAN
1.
Deskripsi novel Tarian Bumi
Novel
Tarian Bumi mengisahkan seorang perempuan sudra bernama Luh Sekar, yang
memiliki ambisi untuk menikah dengan lelaki brahmana karena bosan hidup dalam
kemiskinan dan tidak memiliki kedudukan di masyarakat. Untuk mewujudkan
keinginannya itu, ia mengawali langkahnya menjadi seorang penari dan ia tidak
henti-hentinya berdoa kepada para Dewa agar keinginannya terwujud. Akhirnya
ambisinya untuk menikah dengan lelaki brahmana pun terwujud. Ia menikah dengan
Ida Bagus Ngurah Pidada, akan tetapi Ida Ayu Sagra Pidada, ibu dari Ida Bagus
Ngurah Pidada sangat membenci Sekar, karena ia menginginkan anaknya menikah
dengan seoarang Ida Ayu, bukan dengan perempuan Sudra. Karena kebenciannya pada Sekar, Ida Ayu Sagra Pidada
selalu memaki-maki Sekar, apalagi ketika anaknya pulang dengan keadaan mabuk
berat. Sampai akhirnya Ida Bagus Ngurah Pidada meninggal, baru Ibunya mertuanya
tidak lagi memaki Sekar, dan tidak lama kemudian ia juga meninggal.
Dari
pernikahannya tersebut Sekar dikaruniai seorang anak, Ida Ayu Telaga Pidada.
Sama seperti dulu, Sekar sangat keras kepala. Ia mengharuskan Telaga menikah
dengan seorang Ida Bagus. Telaga juga harus menjadi wanita tercantik dan
menjadi penari, sampai-sampai ia memanggil guru tari yang terhebat, Luh
Kambren, seorang guru tari yang sangat teguh memegang adat istiadat Bali sampai
ajal memanggilnya. Rupanya tidak sia-sia. Telaga bisa menjadi seorang penari,
dan dikaruniai taksu-taksu yang dulu melekat pada diri Luh Kambren.
Keinginan Luh
Sekar (Jero Kenanga) untuk menikahkan Telaga dengan lelaki brahmana tidak
sedikit pun dipedulikan oleh Telaga. Telaga justru tertarik dengan lelaki sudra
yang sering menjadi bahan perbincangan para Ida Ayu di Griya, dan merupakan
pasangannya ketika menari oleg, Wayan Sasmitha namanya. Beruntung, cinta Telaga
tidak bertepuk sebelah tangan. Dengan keberanian yang besar, ia memutuskan
untuk menikah dengan Wayan Sasmitha. Tentunya keinginan mereka tidak begitu
saja diterima, karena merupakan sebuah malapetaka jika seorang perempuan
brahmana menikah dengan laki-laki sudra. Tetapi karena cinta Wayan dan Telaga
yang sangat besar, membuat mereka berani mengarungi hidup berumah tangga tanpa
restu dari orang tua masing-masing. Setelah menikah, mereka dikaruniai seorang
anak perempuan, Luh Sari. Namun, tak berapa lama kemudian Wayan meninggal di
studio lukisnya. Selepas ditinggal suaminya, Telaga kerap kali di ganggu oleh
adik iparnya yang membuat hidup telaga tidak tenang. Akhirnya ibu mertua
Telaga, Luh Gumbreg menyarankan dia untuk melakukan Upacara Patiwangi
untuk melepaskan statusnya sebagai brahmana dan agar terbebas dari segala
kesialan. Akhirnya ia melaksanakan upacara itu di Griya, dan ia pun berubah
menjadi perempuan Sudra seutuhnya.
2.
Persamaan Teks Sastra Novel “Tarian Bumi” karya Oka Rusmini Dengan Budaya Masyarakat
Bali
|
Novel
|
Budaya
|
|
Ternyata, dua orang adik kembarnya mau dijadikan peliharaan suami
Kenanga. Dua orang perempuan itu bahkan tanpa malu-malu membisikkan kehebatan
laki-laki itu di tempat tidur. Hlm. 104
|
Orang Bali cenderung premisif, tidak tegas-tegas menolak atau melarang
terhadap keberadaan perempuan atau laki-laki yang menggunakan pakaian terbuka
(istilah mereka “pamer aurat”). Yang banyak disoroti dalam konteks ini adalah
para turis yang begitu bebasnya menggunakan bikini atau celana pendek di
tempat-tempat umum seperti pantai atau jalanan di sepanjang Kuta dan legian,
tanpa pernah ditegur.
Orang Bali juga cenderung premisif terhadap keberadaan segelintir orang
yang menjalankan kehidupan secara ‘samen-leven’ (hubungan tanpa status,
kumpul kebo) di tempat-tempat kost atau rumah-rumah kontrakan.
Bahwa masyarakat Bali nyaris tak pernah melakukan razia-razia dengan
inisiatif sendiri untuk menolak keberadaan perilaku itu.
|
|
Analisis: dari kutipan Novel dan Budaya Masyarakat Bali terdapat
persamaan yaitu tidak adanya pernyataan tegas dari masyarakan tentang sex
bebas di Bali atau masyarakat sudah tidak menganggap sebagai hal yang tabu.
|
|
|
Novel
|
Budaya
|
|
Kenten juga tahu persis, orang-orang di luar mulai ramai membicarakan
hubungannya dengan Luh Sekar. Entah mengapa, bagi Kenten, Sekar memiliki
keindahan yang luar biasa. Dia belum pernah merasakan intim yang begitu dalam
berperang dan menyentuh bagian tubuhnya yang paling rahasia. Tubuh yang
melambangkan wujud keperempuanan itu selalu berair setiap kulit Kenten
menyentuh kulit Sekar. Hlm. 44
|
Masyarakat Bali menerima keberadaan masyarakat yang menyukai sesama
jenis, istilah sekarang LGBT dalam era
sekarang hubungan antar sesama jenis sudah menjadi pemandangan yang wajar di
daerah Bali. Masyarakat Bali menerima hal tersebut meskipun di tempat-tempat
lain hal itu merupakan prilaku yang tabu.
|
|
Analisis: dari kutipan Novel dan Budaya Masyarakat Bali terdapat persamaan
yaitu tidak adanya pernyataan tegas dari masyarakan tentang suka sesama jenis
atau masyarakat menerima keberadaan mereka.
|
|
|
Novel
|
Budaya
|
|
Lamunan Luh Sadri bergeser ketika seorang laki-laki di depannya
berbisik nakal. “sayang, dia seorang Brahmana. Andaikata perempuan itu
seorang Sudra, perempuan kebanyakan, aku akan memburunya sampai napasku
habis. Kalau dia minta napasku, aku akan memberikan hari ini juga.” Hlm. 7
|
Dalam tradisi Hindu Bali bukan sistem warna, namun sistem kasta yang
merupakan pelapis sosial yang bersifat turun temurun diwariskan oleh nenek
moyang dari generasi kegenerasi. Sistem kasta di Bali merupakan akulturasi
budaya Hindu yang masuk sejak zaman kerajaan Majapahit dan sampai sekarang
masih dilestarikan oleh masyarakat Bali yang biasanya terlihat dari nama yang
diawali dengan sebutan atau gelar tingkat kastanya. Kasta dalam masyarakat
Bali meliputi Brahmana, Kesatriya, Waisya dan Sudra.
|
|
Analisis: dari kutipan Novel dan Budaya Masyarakat Bali terdapat
persamaan yaitu sistem kasta dalam masyarakat Bali, Brahmana, Kesatriya,
Waisya dan Sudra.
|
|
|
Novel
|
Budaya
|
|
Ida Ayu, nama depan anak perempuan kasta Brahmana, kasta tertinggi
dalam struktur masyarakat Bali, biasanya disingkat Dayu. Untuk anak laki-laki
Ida Bagus. Hlm. 4
|
Brahmana merupakan kasta dari masyarakat yang mempunyai profesi
bergerak dibidang religi. Dimana sampai sekarang mereka memberi gelar Ida
Bagus (laki-laki) dan Ida Ayu (perempuan).
|
|
Analisis: dari kutipan Novel dan Budaya Masyarakat Bali terdapat
persamaan tentang sebutan gelar untuk anak laki-laki dan perempuan kasta
Brahmana di Bali.
|
|
3.
Perbedaan Teks Sastra Novel “Tarian Bumi” karya Oka Rusmini Dengan Budaya Masyarakat
Bali
|
Novel
|
Budaya
|
|
Luh Sekar bangga diangkat sebagai keluarga besar griya. Dia merasa
dengan menjadi keluarga besar griya derajatnya lebih tinggi dibanding dengan
perempuan-perempuan sudra yang lain. Hlm. 26
|
Masyarakat Bali memberlakukan pelarangan pernikahan antar kasta yang
akan menyebabkan kesialan.
|
|
Analisis: dari kutipan Novel dan Budaya Masyarakat Bali terdapat
perbedaan tentang perkawinan beda kasta, masyarakat Bali cenderung
menghindari perkawinan tersebut.
|
|
|
Novel
|
Budaya
|
|
Laki-laki yang memiliki Ibu adalah laki-laki yang paling aneh. Dia bisa
berbulan-bulan tidak pulang. Kalau di rumah, kerjanya hanya metajen, adu
ayam, atau duduk-duduk dekat perempatan bersama para berandalan minum tuak,
minuman keras. Laki-laki itu juga sering membuat ulah yang sangat memalukan
nenek, ibunya sendiri. Hlm. 12
|
Salahsatu adat Bali yang hingga kini masih lestari adalah adat ‘Tabuh
Rah’ yang lumrah dilaksanakan pada upacara tertentu sebagai bagian dari
pelaksanaan ‘Butha Yadnya’ (pengorbanan suci bagi para Butha, agar mereka
tidak menganggu keharmonisan alam sekala dan niskala alam material dan
immaterial).
Dalam tradisi Tabuh Rah, ayam jago di adu, tetapi tanpa judi. Bahwa
kemudian berkembang menjadi perjudian.
|
|
Analisis: dari kutipan Novel dan Budaya Masyarakat Bali terdapat
perbedaan yang dulunya adu ayam sebagai rangkaian upacara tetapi sudah
berkembang menjadi perjudian.
|
|
C.
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Perbandingan persamaan dan perbedaan Teks Sastra
Novel Tarian Bumi dengan Budaya
Masyarakat Bali ternyata dapat diketahui dari berbagai hal, terutama pada
kutipan-kutipan yang telah dianalisis dengan budaya masyarakat Bali, banyal hal
yang perlu kita ketahui dan kita pelajari untuk menjalani kehidupan
bermasyarakat, dari cara kita berprilaku, berinteraksi sesama individu, dan
bahkan bagaimana kita berbaur dengan sesama mahluk hidup dengan berbudaya.
2.
Saran
Saran
peneliti kepada peneliti lain, setelah penelitian ini diharapkan lebih kreatif
dalam meneliti dan menelaah kajian sastra dengan ilmu budaya. Inovasi-inovasi lain pun
diharapkan akan hadir untuk melengkapi penelitian ini.
DAFTAR
PUSTAKA
Endraswara,
Suwardi. 2014. Metodologi Penelitian
Sastra Bandingan. Jakarta: Bukupop.
Bali, pop. 2016. (file:///G:/New folder/6 Anggapan Keliru
Tentang Orang Bali Yang Bikin Dahi Berkerut _ Pop Bali.htm). Online. Diakses 17
Maret 2016.
Maha, ayu. 2013. (file:///G:/Newfolder/Mink Maharini PERMASALAHAN PERNIKAHAN BEDA KASTA DAN
AGAMA.html). Online. Diakses
17 Maret 2016.

0 komentar:
Posting Komentar