Matahari Yang Rapuh Dalam Novel Jingga dalam Elegi Karya Esti Kinasih
Analisis Psikologi Sastra
A. PENDAHULUAN
Dalam karya sastra, termasuk novel, terdapat
tokoh-tokoh yang membangun cerita secara utuh. Tokoh-tokoh tersebut melakukan
prilaku karena didorong oleh motivasi mereka. Prilaku dan motivasi sementara
itu adalah wilayah psikologi. Karena itu, karya sastra dapat dikaji melalui
pendekatan psikologi.
Menurut Endraswara (2003:97)
psikologi sastra merupakan kajian yang memandang karya sastra sebagai aktivitas
kejiwaan. Dalam arti luas bahwa karya sastra tidak lepas dari kehidupan yang
menggambarkan berbagai rangkaian kepribadian manusia
Ratna (dalam Albertine, 2010:54)
berpendapat psikologi, khususnya psikologi analitik diharapkan mampu menemukan
aspek-aspek ketaksadaran yang diduga merupakan sumber-sumber penyimpangan
psikologis sekaligus dengan terapinya. Selain itu, teknologi dengan berbagai
dampak negatifnya dan lingkungan hidup merupakan salah satu sebab utama terjadinya
gangguan psikologis.
Psikologi sastra tidak bermaksud
memecahkan masalah psikologis. Namun secara definitif, tujuan psikologi sastra
ialah memahami aspek-aspek kejiwaan yang terkandung dalam suatu karya.
Psikologi lahir untuk mempelajari kejiwaan manusia, yakni manusia yang ada di
bumi inilah yang menjadi objek penelitian psikologi, sastra lahir dari
masyarakat, pengarang hidup dalam tengah-tengah masyarakat dan pengarang juga
menciptakan karya sastranya termasuk tokoh yang ada didalamnya. Tokoh yang
diciptakan secara tidak sadar oleh pengarang memiliki muatan kejiwaan yang
timbul dari proyeksi pelaku yang ada dalam masyarakat, karya sastra berupa
novel lebih panjang dan terperinci dalam penggambaran tokohnya, oleh karena itu
kejiwaan yang ada dalam novel lebih kental pula.
Pendapat yang sama mengenai
kejiwaan tokoh dalam karya sastra, dikemukakan oleh Ratna (dalam Albertine
2010:54) ialah berpendapat bahwa pada dasarnya psikologi sastra memberikan
perhatian pada masalah unsur kejiwaan tokoh-tokoh fiksional yang terkandung dalam
karya.
B. PEMBAHASAN
Berkaitan dengan perilaku dan motivasi tokoh dalam
karya sastra abad XX berkembang tiga teori psikologi dalam kajian sastra.
Ketiga teori psikologi tersebut adalah psikologi analisa, psikologi
behaviorisme dan psikologi humanistik. Psikoanalisa digunakan pada orang-orang
tidak normal, behaviorisme menunjukkan bahwa manusia dikondisikan oleh
lingkungannya dan humanistik untuk orang-orang normal yang untuk
mengaktualisasikan dirinya. Titik tolak ketiga psikologi tersebut adalah
pertanyaan “Siapa aku sebenarnya?” (Darma,2003:12) Karena itu sesunggunya
psikolgi dalam sastra sesungguhnya mengungkap perilaku dan motivasi tokoh dalam
hubungannya dengan pertanyaan “Siapakah aku ini?”
Analisis dalam penelitian ini ditujukan untuk mengetahui
perilaku dan motivasi tokoh. Perilaku tokoh dapat diketahui melalui tipe-tipe
tokoh.Sementara itu motivasi tokoh dalam melakukan suatu tindakan dapat
diketahui melalui penelusuran jiwa tokoh.
B.1 Novel Jingga dalam Elegi
Novel Jingga
dalam Elegi berkisah mengenai tokoh Ari yang berkepribadian pembangkang,
perokok serta pembuat huru-hara. Selain itu dia juga merupakan pentolan yang
paling ditakuti se-SMA Airlangga. Berawal dari perceraian orang tuanya sembilan
tahun silam, Ari yang bernama lengkap Jingga Matahari dipaksa berpisah dengan
Ibu dan Ata, saudara kembarnya yang bernama lengkap Senja Matahari. Dan karena
sebuah takdir, Aripun dipertemukan dengan Tari, cewek yang mempunya nama yang
mirip dengan saudara kembarnya yakni Matahari Senja.
Matahari Senja, nama yang terkesan maskulin tapi
menyandang dua nama Ari dan Ata. Karena nama itu, obsesi untuk memiliki Tari
mulai ada. Dengan segala cara, Ari berusaha mati-matian untuk membuat Tari
menjadi miliknya. Tapi sayangnya hal itu tidaklah muda. Tari yang didekati
malah berbalik menjahuinya dikarenakan image Ari yang sudah terlalu buruk di
sekolah.
B.2 Kehilangan, Kesepian
dan Penderitaan
Tokoh Ari dalam novel Jingga dalam Elegi adalah
potret buram kehidupan anak sebagai korban broken home. Walaupun Ari hidup di
rumah yang mewahdengan limpahan harta, Ari justru merasa kekurangan kasih
sayang atas kedua orang tuanya. Ayahnya adalah seorang buisnisman yang jarang
pulang untuk menemui anaknya, sedangkan Ibunya sendiri tak pernah muncul
semenjak sembilan tahun terakhir.
Tidak dijelaskan mengapa ayah dan ibunya bercerai.
Tapi dari proses kreatif pengarang novel ini, Esti Kinasih sering menggunakan
masalah kehilangan yang sama. Dalam sequel pertamanya Jingga dan Senja yang ditulis pada tahun 2009 juga digambarkan
tokoh Ari yang pembangkang. Ari yang suka merokok, tawuran, balapan liar dan
mempunyai musuh bebuyutan yang bernama Angga yang tak lain adalah gebetan Tari.
Sampai suatu ketika Angga memutuskan
untuk mengalah pada Ari dengan begitu Aripun bebas sepenuhnya menguasai Tari.
Terdapat semacam hukum akibat nasib tokoh Ari dalam
novel Jingga dan Senja(2009) dan Jingga dalam Elegi (2011). Mengapa Ari
dalam novel Jingga dan Senja Ari
menjadi sosok pembangkang? Jawabannya adalah karena adalah karena Ari korban
broken home dalam Jingga dalam Elegi.
Mengapa dalam novel Jingga dalam Elegi
Tari merasa kesal dengan Ari? Jawabanya karena Ari suka bertindak seenaknya,
terlebih lagi membuat hilang Angga dari hidupnya dalam novel Jingga dan Senja. Dan mengapa dalam
novel Jingga dan Senja Ari begitu
terobsesi dengan Tari? Jawabanya adalah karena Tari memiliki nama yang sama
dengan saudara kembarnya yang terpisah sembilan tahun silam dalam novel Jingga dalam Elegi. Tokoh Ari menganggap
Tari adalah jawaban dari semua kesedihan, kesepihan dan semua tekanan yang
membelut dirinya. Dengan demikian keadaan psikologi pengarang maupun tokoh
dalam novel Jingga dalam Elegi
merupakan kepanjangan psikologi dalam novel Jingga
dan Senja.
Ari dalam kedua novel itu digambarkan sebagai tokoh
yang kurang perhatian. Dalam kesepian yang membelit akibat ayahnya yang jarang pulang, Ari harus
tetap bertahan sekalipun ia mengambil
jalan pintas menjadi pribadi yang pembangkang. Semua sifat buruk yang ada padanya,
hal itu semata ia tunjukan untuk mendapat perhatian orang-orang disekitarnya.
Walaupun berbagai kecaman sering ia dapatkan, dia selalu lolos karena statusnya
yang sebagai anak orang kaya. Inilah penderitaan batin yang dialami Ari.
Waktu
kecil, setiap kali gua nggak sengaja ngelihat bintang jatuh, gua selalu berdoa
supaya keluarga gua kembali utuh. Kumpul berempat kayak dulu. Begitu gua udah
gede, gua sadar itu nggak mungkin. Dan doa gua berubah. Gua cuma pengen bisa
bahagia. Terserah tuhan mau gimana bentuknya, mau tanpa alasan juga nggak papa.
Penderitaan tokoh Ari, dimana ia menginginkan
kembali keutuhan keluarganya, tinggal bersama-sama dalam satu rumah menyebabkan
tokoh Ari mengalami sebuah tekanan batin. Ada semacam ancaman dari pemikirannya
sendiri “Kadang sesuatu yang sudah terjadi tidak bisa diputar kembali apalagi
memperbaikinya” Sembilan tahun tidak bertemu dengan sang ibu, meembuat seorang
anak memendam rindu yang pada akhirnya berujung pada tekanan batin. Karena
sebuah tekanan batin inilah, Ari menjalani dua pribadi yang berbeda. Perilaku
tokoh Ari merupakan wujud motivasinya yang merupakan tekanan batin yang dia
alami dan juga karena tuntutan delusionalnya.
Dengan menjalani dua pribadi yang berbeda, tokoh Ari
pun menyamar sebagai sosok Ata yang selama ini belum diketahui jelas
keberadaannya.. Ata di perankan Ari sebagai pribadi yang menyenangkan, baik dan
juga perhatian pada Tari. Sedangkan bagi Tari-yang menganggap Ari dan Ata
adalah orang yang berbeda- lebih memilih Ata tanpa mengetahui bahwa Ari dan Ata
adalah orang yang sama. Apa yang dilakukan tokoh Ari merupakan kepanjangan
psikologi seorang anak remaja dalam mengejar kebahagiaannya. Tokoh Ari
merupakan kepanjangan dari naluri hati seorang pria untuk memikat hati seorang
wanita.
Tindakan Ari untuk menjadi dua kepribadian yang
berbeda cukuplah beralasan. Tari sebenarnya menaruh kekesalan yang mendalam
pada Ari. Memandang pun Tari tak sudi, apalagi berpacaran dengan cowok yang
sering bermasalah di senterio sekolah. Dengan menyamar sebagai Ata, Ari pun
akhirnya bisa mendapat sedikit celah untuk masuk ke kehidupan Tari sampai
akhirnya menjadi shoulder to cry on bagi Tari. Inilah kehidupan cerita cinta
remaja yang tak lain diawali dari rasa benci namun akhirnya berubah menjadi
rasa cinta.
B.3
Pribadi yang Pembangkang
Tokoh Ari merupakan tokoh yang pembangkang. Di
juluki sang pentolan sekolah atau yang paling ditakuti se-senterio sekolah.
Bukan hanya siswa-siswa Airlangga saja yang takut padanya, para guru ternyata
juga menyerah akan kalakuannya. Kepribadian
dan perilaku itulah menyebabkan tokoh Tari menjadi tidak tertarik untuk
menjadi kekasihnya.
Ari merupakan pribadi seorang anak yang penuh dengan tekanan. Sebuah kesepian telah
menjeratnya bertahun-tahun hingga mampu merubah dirinya. Di sisi lain, dia
ingin menemukan kembali dirinya yang dulu. Menjadi Ari yang kalem, lembut dan
penurut. Hanya saja yang terjadi adalah dia tak mampu untuk menopang
penderitaan batin yang akan dia hadapi ketika dia tetap pada keadaan masa
lalunya. Sebagai pelampiasannya, Ari pun akhirnya menggandakan diri menjadi dua
pribadi yang berbeda. Menjadi Ata.
B4.
Menjadi Dua Pribadi yang Berbeda
Dalam pandangan psikologi behaviorisme, tokoh Ari
disebut sebagai tokoh yang pembangkang disebabkan karena dia sering melanggar
peraturan sekolah dan menjadi siswa yang sangat bermasalah. Sementara itu dalam
pandangan psikoanalisis, tokoh Ari dapat dianggap tokoh yang mempunyai
kepribadian dua. Kebaikan dan keburukan menempel pada dirinya.
Ari kecil
adalah seorang anak yang berwatak kelem, penurut dan baik. Hal itu sangat
berbanding terbalik dengan saudara kembarnya, Ata yang berwatak pembangkang dan
juga hiperaktif. Namun karena tekanan, dan juga rasa kerinduannya, Ari pun
merubah segala aspek dari dirinya menyerupai saudara kembarnya tersebut. Hal
itu tak lain sebagai bentuk protes atas kesendirian dan rasa sepi yang selalu
menyiksanya. Hal itu dapat dibuktikan dengan narasi berikut
Ari
adalah hati yang penuh retakan. Dia adalah senyum yang dibaliknya tangis telah
menunggu begitu lama agar bisa keluar. Dia adalah punggung tegak yang bisa
runtuh dalam satu sentuhan pelan. Dia adalah pemain drama yang hebat karena
hidup telah membentuknya dengan bertubi-tubi tekanan.
Ari bukanlah sosok yang buruk. Dengan kata lain dia
hanya ingin dipahami. Semua keonaran maupun huru-hara yang dia lakukan tak lain
adalah bentuk protes karena orang-orang yang tidak mengerti keadaan dirinya.
Karena sembilan tahun kehilangannya tidak bisa dikatakan dengan satu atau dua
kalimat.
B.5Matahari
yang Rapuh
Pada saat menjalani pribadi Ata, kehidupan Ari
menjadi semakin tersiksa. Apalagi melilat Tari yang menaruh perasaan pada sosok
Ata yang sebenarnya adalah dirinya juga. Hal inilah yang membuat Ari untuk
kembali pada dirinya sendiri. Menjadi Ari kecil yang penurut dan baik. Tapi
nyatanya dia masih belum sanggup menanggung beban semua kenangan itu. Menjadi
diri sendiri akan semakin mengingatkan pada keruntuhan keluarganya.
Tindakan Ari yang tidak sanggup menjadi diri sendiri
merupakan pencerminan jati diri dalam kehidupan kaum muda. Ketika
teman-temannya menghabiskan waktu di rumah untuk belajar maupun berkumpul
dengan keluarga Jika anak dalam kehidupan wajar akan sekolah, diantar orang dan
dijemput orang tuanya, Ari malah tidak pernah mengalami hal yang sedemikian
rupa. Di rumah mewahnya dia hidup sendirian. Ayahnya tak pernah pulang apalagi
memberikan sedikit perhatian untuk anaknya. Selama dia memberi Ari uang, hal itu akan dianggapnya
beres.
Apa yang digambarkan pengarang tersebut, tak lain
adalah apa yang pernah dilihat dan diimajinasikan pengarrang Esti Kinasih dalam
hal merasakan betapa tidak selamanya uang akan memberikan
kebahagiaan
“Bukan
berarti gua selalu mencoba untuk lupa atau mencoba untuk lari. Kalau lagi
kecapekan aja. Sayangnya gua lebih sering kecapekan dari pada nggak. Seiring
gua berharap jadi orang yang apatis.Gak peduli. Nggak punya emosi. Tapi yang
gua tinggal cuma hidup gua. Cuma ini dan nggak ada lagi. Nyia-nyia-in berarti
mati. Jadi yah... gua terpaksa bertahan
dengan segala cara apapun gua bisa...”
Tokoh Ari adalah tokoh yang rapuh. Dia tidak bisa
bertahan dengan kesepihan yang menderanya. Membuat huru-hara adalah tak lain
dari wujud pelariannya terhadap hidupnya. Seiring dengan usahanya menemukan
kebahagiaannya, Aripun sampai menyeret Tari dalam kehidupannya kelamnya. Tak
peduli dengan kekecewaan yang akan dialami Tari, Ari hanya ingin di mengerti.
Sedangkan Tari adalah sosok delusional. Seorang
cewek yang awalnya tertarik padanya semenjak insiden upacara bendera, tapi akhirnya
berbalik menjadi benci ketika apa yang sudah dilakukan Ari kepadanya. Saat Ari
mengakui sebuah kebenaran, bahwa dirinya adalah seorang Ata, Tari menjadi
sangat kecewa dan tidak ingin mengenal Ari lagi. Tari merasa sakit hati dan
tidak mau memafkannya. Begitupun juga dengan Ari yang merasa sangat bersalah.
Berbagai jalan pelampiasan sudah ia coba, termasuk dengan membuat bonyok orang, membuat kesal para guru,
sampai dengan kabur ke Bali.
Tindakan yang dilakukan oleh tokoh Ari tak lain adalah
cerminan rasa penyesalan seseorang terhadap orang yang disakitinya. Ari sadar
bahwa perasaanya pada Tari hanyalah semacam delusional yang bagaimanapun juga
tak akan pernah menjadi nyata. Tari telah masuk ke kehidupannya. Dan dengan
begitu mau tak mau Ari harus rela membagi penderitaan yang dialaminya kepada
Tari. Sebuah Elegi, yang tak lain adalah sebuah lagu sedih yang bagaimanapun
juga harus ada seseorang yang menemaninya untuk mendengarnya. Ari tidak ingin
disalahkan, tapi dia hanya ingin dipahami.
B.6
Ironi Psikologi: Pentingnya Keberadaan Keluarga
Novel Jingga
dalam Elegi memiliki nilai-nilai psikologis yang cukup baik. Hal ini
tercermin dari kepribadian tokoh Ari. Pada awalnya Ari merupakan tokoh yang
berkepribadian dua akibat sikap dan tindakannya sendiri. Tapi kenyataan itu
terbantahkan ketika novel ditutup dengan narator demikian.
Kerinduan yang bertubi-tubi sebenarnya bukan hanya
menimpah Ari. Setelah menemukan kembali rumah lamanya, Aripun akhirnya
mengetahui titik temu keberadaan mama dan saudara kembarnya. Prediksi mengenai
mama yang tidak peduli pada anaknya sangatnlah salah. Justru mamanya lah yang
selama ini lebih keras dalam mencarinya. Setiap pagi hingga sore, ibunya pergi
kesana kemari. Jika ditanya kemana, ibunya menjawab dengan satu jawaban tegas,
“Mencari Ari!”. Sampai akhirnya dengan bantuan dari Tante Lidya, merekapun
akhirnya dipertemukan kembali.
Pengarang sadar bahwa semua anak korban perceraian
kedua orang tua pasti berada dalam penderitaan dan kesia-siaan. Esti Kinasih
sebagai pengarang menyadari bahwa tidak ada ibu yang bisa memilih salah satu
dari anaknya. Kesadaran ini mengingatkan pada kasih sayang seorang ibu yang
tiada batas. Ketika sang anak sedih, sang ibu jauh lebih sedih, begitu pula
sebaliknya ketika sang anak bahagia, sang ibu akan lebih bahagia.
Tokoh Ari, Ata dan mamanya adalah orang-orang yang
menderita tekanan jiwa akibat dari adanya perpisahan. Ari sampai rela menjadi
dua pribadi yang berbeda demi menekan rasa rindunya pada saudara kembarnya.
Begitu juga mamanya yang hampir gila karena terus menerus mencari Ari dan
sempat menelantarkan Ata.
Pengarang menyeret pembaca pada keadaan psikologi
betapa tragisnya dampak dari adanya perceraian orang tua. Terlebih lagi jika
dampak itu dirasakan oleh anak-anak mereka sendiri. Novel ini ditulis pada
tahun 2010. Sementara pada tahun itu telah ditemukannya banyak kasus pemakaian
narkotika, gank-gank motor, dan juga tawuran antar pelajar. Keadaan psikologi
yang demikian memiliki kesamaan dengan psikologi tokoh Ari. Dengan kata lain
itu semua adalah sebab akibat dari kuramgnya perhatian keluarga pada anak.
Pengarang memiliki kesadaran bahwa setiap anak pada
hakikatnya membutuhkan keluarganya. Keluarga bukan hanya sebagai tempat
bernaung, tapi dari keluarga anak juga akan merasa terdidik. Terlindungi dan
diperhatikan. Keadaan psikologi keluarga menentukan kepribadian seorang anak.
Jika sebuah keluarga terasa harmonis dan memliki sifat saling terbuka, itu akan
membentuk kepribadian anak yang ceria. Begitu pula sebaliknya, jika keadaan
keluarga sangatlah kacau atau bahkan penuh dengan ketidak
harmonisan, itu akan membentuk kepribadian anak yang kacau juga. Bahkan dari
keluarga yang seperti itulah biasanya sifat kenakalan akan terbentuk.
Tokoh-tokoh yang digambarakan oleh Esti Kinasih
adalah tentang kepribadian seseorang dan masalahnya. Perjalanan fiktif dari
pribadi yang buruk menjadi pribadi yang baik,
menjadi ciri novel Esti Kinasih. Tentang siapa kita? Mengapa terjadi
pada kita? Apakah ini sekedar delusi atau nyata? Dan bagaimana cara kita
menghadapinya?
Pada kasus demikian, nyatalah bahwa apa yang kita cari
harusnya apa yang kita temui. Apa yang kita lakukan harusnya apa yang kita
peroleh. Hal ini tidak lain adalah cermin psikologi pribadi sang tokoh.
Menganggap kesedihan kita lebih hebat dari pada kesedihan orang lain.
Seolah-olah hanya kita lah orang paling menderita di muka bumi ini. Gambaran tokoh yang demikian
merupakan ironi atas gambaran psikologi pribadi pengarang.
Keadaan psikologi tokoh tidak lain adalah keadaan
psikolgi pengarang yang mereduksi dari psikologi masyarakatnya. Pengarang
berusaha menciptakan kenyataan baru dari ketidak puasannya atas realitas yang
terjadi. Freud (dalam Wellek dan Austin Warren, 1989:92) mengatakan bahwa
seniman asal mulanya seseorang yang lari dari kenyataan ketika untuk pertama
kalinya ia tidak dapat memenuhi tuntutan untuk menyangkal pemuasan insting.
Kemudian dalam kehidupan fantasinya ia memuaskan keinginan erotik dan
ambisinya. Tetapi ia dapat menemukan jalan keluar dari dunia fantasi dan
kembali ke kenyataan. Dan dengan bakatnya yang istimewa ia dapat membentuk
fantasinya menjadi suatu jenis realitas baru dan orang menerimanya sebagai
bentuk perenungan hidup yang bernilai.
C.. PENUTUP
C.1 Simpulan
Berdasarkan analisis psikologi , tokoh Ari dalam
novel “Jingga dalam Elegi” karya Esti Kinasih merupakantokoh yang memiliki
permasalahan dalam psikologis. Masalah-masalah psikologis tersebut tak lain
bersumber dari diri mereka sendiri dan ditentukan oleh sesuatu diluar diri
mereka.
Tokoh Ari adalah tokoh yang penuh tekanan. Kenyataan
bahwa akibat dari perceraian kedua orang tuanya membawa konsekuansi terhadap
perubahan kepribadian dirinya. Jika kemudian Ari dijuluki sebagai anak yang
pembangkang karena dia hanya ingin mendapat pemahaman tentang keadaan dirinya
dari orang-orang sekitar. Hal ini adalah bukti bahwa tokoh Ari adalah tokoh
yang perlu untuk dipahami.
Tokoh Ari adalah tokoh yang berkepribadian dua.
Hanya untuk mengejar delusinya, Arimenyamar sebagai sosok Ata yang tak lain
adalah saudara kembarnya sendiri. Dengan kata lain, Ari kembali menghidupkan
dirinya yang sebenarnya pada sosok Ata hanya untuk membuat Tari mengerti akan
penderitaan batinnya.
Sementara itu keberadaan keluarga pada dasarnya
adalah penting bagi kondisi emosial seorang remaja. Masa remaja adalah masa
yang labil. Banyak pengaruh yang tidak bisa kita hindari pada akhirnya. Dan
disinilah peran keluarga sebagai tempat pelindung dan bernaung . Keadaan
psikologi keluarga menentukan kepribadian seorang anak. Jika sebuah keluarga
terasa harmonis dan memliki sifat saling terbuka, itu akan membentuk
kepribadian anak yang ceria. Begitu pula sebaliknya, jika keadaan keluarga
sangatlah kacau atau bahkan penuh dengan ketidak harmonisan, itu akan membentuk
kepribadian anak yang kacau juga. Bahkan dari keluarga yang seperti itulah
biasanya sifat kenakalan akan terbentuk.
DAFTAR PUSTAKA
Kinasih,
Esti. 2011. Jingga dalam Elegi.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Kinasih,
Esti. 2009. Jingga dan Senja. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Sariban.2009.
Teori dan Penrapan Sastra. Surabaya: Lentera
Cindekia.
Sutardi.
2011. Apresiasi Sastra: Teori, Implikasi
dan Pembelajarannya. Lamongan:Pustaka Ilalang.
0 komentar:
Posting Komentar