Kamis, 05 Mei 2016

Analisis Psikologi Sastra Jingga Dalam Elegi

Matahari Yang Rapuh Dalam Novel Jingga dalam Elegi Karya Esti Kinasih
Analisis Psikologi Sastra

A. PENDAHULUAN

Dalam karya sastra, termasuk novel, terdapat tokoh-tokoh yang membangun cerita secara utuh. Tokoh-tokoh tersebut melakukan prilaku karena didorong oleh motivasi mereka. Prilaku dan motivasi sementara itu adalah wilayah psikologi. Karena itu, karya sastra dapat dikaji melalui pendekatan psikologi.
Menurut Endraswara (2003:97) psikologi sastra merupakan kajian yang memandang karya sastra sebagai aktivitas kejiwaan. Dalam arti luas bahwa karya sastra tidak lepas dari kehidupan yang menggambarkan berbagai rangkaian kepribadian manusia
Ratna (dalam Albertine, 2010:54) berpendapat psikologi, khususnya psikologi analitik diharapkan mampu menemukan aspek-aspek ketaksadaran yang diduga merupakan sumber-sumber penyimpangan psikologis sekaligus dengan terapinya. Selain itu, teknologi dengan berbagai dampak negatifnya dan lingkungan hidup merupakan salah satu sebab utama terjadinya gangguan psikologis.
Psikologi sastra tidak bermaksud memecahkan masalah psikologis. Namun secara definitif, tujuan psikologi sastra ialah memahami aspek-aspek kejiwaan yang terkandung dalam suatu karya. Psikologi lahir untuk mempelajari kejiwaan manusia, yakni manusia yang ada di bumi inilah yang menjadi objek penelitian psikologi, sastra lahir dari masyarakat, pengarang hidup dalam tengah-tengah masyarakat dan pengarang juga menciptakan karya sastranya termasuk tokoh yang ada didalamnya. Tokoh yang diciptakan secara tidak sadar oleh pengarang memiliki muatan kejiwaan yang timbul dari proyeksi pelaku yang ada dalam masyarakat, karya sastra berupa novel lebih panjang dan terperinci dalam penggambaran tokohnya, oleh karena itu kejiwaan yang ada dalam novel lebih kental pula.
Pendapat yang sama mengenai kejiwaan tokoh dalam karya sastra, dikemukakan oleh Ratna (dalam Albertine 2010:54) ialah berpendapat bahwa pada dasarnya psikologi sastra memberikan perhatian pada masalah unsur kejiwaan tokoh-tokoh fiksional yang terkandung dalam karya.



B. PEMBAHASAN

Berkaitan dengan perilaku dan motivasi tokoh dalam karya sastra abad XX berkembang tiga teori psikologi dalam kajian sastra. Ketiga teori psikologi tersebut adalah psikologi analisa, psikologi behaviorisme dan psikologi humanistik. Psikoanalisa digunakan pada orang-orang tidak normal, behaviorisme menunjukkan bahwa manusia dikondisikan oleh lingkungannya dan humanistik untuk orang-orang normal yang untuk mengaktualisasikan dirinya. Titik tolak ketiga psikologi tersebut adalah pertanyaan “Siapa aku sebenarnya?” (Darma,2003:12) Karena itu sesunggunya psikolgi dalam sastra sesungguhnya mengungkap perilaku dan motivasi tokoh dalam hubungannya dengan pertanyaan “Siapakah aku ini?”
Analisis dalam penelitian ini ditujukan untuk mengetahui perilaku dan motivasi tokoh. Perilaku tokoh dapat diketahui melalui tipe-tipe tokoh.Sementara itu motivasi tokoh dalam melakukan suatu tindakan dapat diketahui melalui penelusuran jiwa tokoh.

B.1 Novel Jingga dalam Elegi
Novel Jingga dalam Elegi berkisah mengenai tokoh Ari yang berkepribadian pembangkang, perokok serta pembuat huru-hara. Selain itu dia juga merupakan pentolan yang paling ditakuti se-SMA Airlangga. Berawal dari perceraian orang tuanya sembilan tahun silam, Ari yang bernama lengkap Jingga Matahari dipaksa berpisah dengan Ibu dan Ata, saudara kembarnya yang bernama lengkap Senja Matahari. Dan karena sebuah takdir, Aripun dipertemukan dengan Tari, cewek yang mempunya nama yang mirip dengan saudara kembarnya yakni Matahari Senja.
Matahari Senja, nama yang terkesan maskulin tapi menyandang dua nama Ari dan Ata. Karena nama itu, obsesi untuk memiliki Tari mulai ada. Dengan segala cara, Ari berusaha mati-matian untuk membuat Tari menjadi miliknya. Tapi sayangnya hal itu tidaklah muda. Tari yang didekati malah berbalik menjahuinya dikarenakan image Ari yang sudah terlalu buruk di sekolah. 

B.2 Kehilangan, Kesepian dan Penderitaan
Tokoh Ari dalam novel Jingga dalam Elegi adalah potret buram kehidupan anak sebagai korban broken home. Walaupun Ari hidup di rumah yang mewahdengan limpahan harta, Ari justru merasa kekurangan kasih sayang atas kedua orang tuanya. Ayahnya adalah seorang buisnisman yang jarang pulang untuk menemui anaknya, sedangkan Ibunya sendiri tak pernah muncul semenjak sembilan tahun terakhir.
Tidak dijelaskan mengapa ayah dan ibunya bercerai. Tapi dari proses kreatif pengarang novel ini, Esti Kinasih sering menggunakan masalah kehilangan yang sama. Dalam sequel pertamanya Jingga dan Senja yang ditulis pada tahun 2009 juga digambarkan tokoh Ari yang pembangkang. Ari yang suka merokok, tawuran, balapan liar dan mempunyai musuh bebuyutan yang bernama Angga yang tak lain adalah gebetan Tari. Sampai suatu ketika Angga  memutuskan untuk mengalah pada Ari dengan begitu Aripun bebas sepenuhnya menguasai Tari.
Terdapat semacam hukum akibat nasib tokoh Ari dalam novel Jingga dan Senja(2009) dan Jingga dalam Elegi (2011). Mengapa Ari dalam novel Jingga dan Senja Ari menjadi sosok pembangkang? Jawabannya adalah karena adalah karena Ari korban broken home dalam Jingga dalam Elegi. Mengapa dalam novel Jingga dalam Elegi Tari merasa kesal dengan Ari? Jawabanya karena Ari suka bertindak seenaknya, terlebih lagi membuat hilang Angga dari hidupnya dalam novel Jingga dan Senja. Dan mengapa dalam novel Jingga dan Senja Ari begitu terobsesi dengan Tari? Jawabanya adalah karena Tari memiliki nama yang sama dengan saudara kembarnya yang terpisah sembilan tahun silam dalam novel Jingga dalam Elegi. Tokoh Ari menganggap Tari adalah jawaban dari semua kesedihan, kesepihan dan semua tekanan yang membelut dirinya. Dengan demikian keadaan psikologi pengarang maupun tokoh dalam novel Jingga dalam Elegi merupakan kepanjangan psikologi dalam novel Jingga dan Senja.
Ari dalam kedua novel itu digambarkan sebagai tokoh yang kurang perhatian. Dalam kesepian yang membelit  akibat ayahnya yang jarang pulang, Ari harus tetap bertahan  sekalipun ia mengambil jalan pintas menjadi pribadi yang pembangkang. Semua sifat buruk yang ada padanya, hal itu semata ia tunjukan untuk mendapat perhatian orang-orang disekitarnya. Walaupun berbagai kecaman sering ia dapatkan, dia selalu lolos karena statusnya yang sebagai anak orang kaya. Inilah penderitaan batin yang dialami Ari.
Waktu kecil, setiap kali gua nggak sengaja ngelihat bintang jatuh, gua selalu berdoa supaya keluarga gua kembali utuh. Kumpul berempat kayak dulu. Begitu gua udah gede, gua sadar itu nggak mungkin. Dan doa gua berubah. Gua cuma pengen bisa bahagia. Terserah tuhan mau gimana bentuknya, mau tanpa alasan juga nggak papa.
Penderitaan tokoh Ari, dimana ia menginginkan kembali keutuhan keluarganya, tinggal bersama-sama dalam satu rumah menyebabkan tokoh Ari mengalami sebuah tekanan batin. Ada semacam ancaman dari pemikirannya sendiri “Kadang sesuatu yang sudah terjadi tidak bisa diputar kembali apalagi memperbaikinya” Sembilan tahun tidak bertemu dengan sang ibu, meembuat seorang anak memendam rindu yang pada akhirnya berujung pada tekanan batin. Karena sebuah tekanan batin inilah, Ari menjalani dua pribadi yang berbeda. Perilaku tokoh Ari merupakan wujud motivasinya yang merupakan tekanan batin yang dia alami dan juga karena tuntutan delusionalnya.
Dengan menjalani dua pribadi yang berbeda, tokoh Ari pun menyamar sebagai sosok Ata yang selama ini belum diketahui jelas keberadaannya.. Ata di perankan Ari sebagai pribadi yang menyenangkan, baik dan juga perhatian pada Tari. Sedangkan bagi Tari-yang menganggap Ari dan Ata adalah orang yang berbeda- lebih memilih Ata tanpa mengetahui bahwa Ari dan Ata adalah orang yang sama. Apa yang dilakukan tokoh Ari merupakan kepanjangan psikologi seorang anak remaja dalam mengejar kebahagiaannya. Tokoh Ari merupakan kepanjangan dari naluri hati seorang pria untuk memikat hati seorang wanita.
Tindakan Ari untuk menjadi dua kepribadian yang berbeda cukuplah beralasan. Tari sebenarnya menaruh kekesalan yang mendalam pada Ari. Memandang pun Tari tak sudi, apalagi berpacaran dengan cowok yang sering bermasalah di senterio sekolah. Dengan menyamar sebagai Ata, Ari pun akhirnya bisa mendapat sedikit celah untuk masuk ke kehidupan Tari sampai akhirnya menjadi shoulder to cry on bagi Tari. Inilah kehidupan cerita cinta remaja yang tak lain diawali dari rasa benci namun akhirnya berubah menjadi rasa cinta.

B.3 Pribadi yang  Pembangkang
Tokoh Ari merupakan tokoh yang pembangkang. Di juluki sang pentolan sekolah atau yang paling ditakuti se-senterio sekolah. Bukan hanya siswa-siswa Airlangga saja yang takut padanya, para guru ternyata juga menyerah akan kalakuannya. Kepribadian  dan perilaku itulah menyebabkan tokoh Tari menjadi tidak tertarik untuk menjadi kekasihnya.

Ari merupakan pribadi seorang anak yang  penuh dengan tekanan. Sebuah kesepian telah menjeratnya bertahun-tahun hingga mampu merubah dirinya. Di sisi lain, dia ingin menemukan kembali dirinya yang dulu. Menjadi Ari yang kalem, lembut dan penurut. Hanya saja yang terjadi adalah dia tak mampu untuk menopang penderitaan batin yang akan dia hadapi ketika dia tetap pada keadaan masa lalunya. Sebagai pelampiasannya, Ari pun akhirnya menggandakan diri menjadi dua pribadi yang berbeda. Menjadi Ata.

B4. Menjadi Dua Pribadi yang Berbeda
Dalam pandangan psikologi behaviorisme, tokoh Ari disebut sebagai tokoh yang pembangkang disebabkan karena dia sering melanggar peraturan sekolah dan menjadi siswa yang sangat bermasalah. Sementara itu dalam pandangan psikoanalisis, tokoh Ari dapat dianggap tokoh yang mempunyai kepribadian dua. Kebaikan dan keburukan menempel pada dirinya.
 Ari kecil adalah seorang anak yang berwatak kelem, penurut dan baik. Hal itu sangat berbanding terbalik dengan saudara kembarnya, Ata yang berwatak pembangkang dan juga hiperaktif. Namun karena tekanan, dan juga rasa kerinduannya, Ari pun merubah segala aspek dari dirinya menyerupai saudara kembarnya tersebut. Hal itu tak lain sebagai bentuk protes atas kesendirian dan rasa sepi yang selalu menyiksanya. Hal itu dapat dibuktikan dengan narasi berikut
Ari adalah hati yang penuh retakan. Dia adalah senyum yang dibaliknya tangis telah menunggu begitu lama agar bisa keluar. Dia adalah punggung tegak yang bisa runtuh dalam satu sentuhan pelan. Dia adalah pemain drama yang hebat karena hidup telah membentuknya dengan bertubi-tubi tekanan.
Ari bukanlah sosok yang buruk. Dengan kata lain dia hanya ingin dipahami. Semua keonaran maupun huru-hara yang dia lakukan tak lain adalah bentuk protes karena orang-orang yang tidak mengerti keadaan dirinya. Karena sembilan tahun kehilangannya tidak bisa dikatakan dengan satu atau dua kalimat.

B.5Matahari yang Rapuh
Pada saat menjalani pribadi Ata, kehidupan Ari menjadi semakin tersiksa. Apalagi melilat Tari yang menaruh perasaan pada sosok Ata yang sebenarnya adalah dirinya juga. Hal inilah yang membuat Ari untuk kembali pada dirinya sendiri. Menjadi Ari kecil yang penurut dan baik. Tapi nyatanya dia masih belum sanggup menanggung beban semua kenangan itu. Menjadi diri sendiri akan semakin mengingatkan pada keruntuhan keluarganya.
Tindakan Ari yang tidak sanggup menjadi diri sendiri merupakan pencerminan jati diri dalam kehidupan kaum muda. Ketika teman-temannya menghabiskan waktu di rumah untuk belajar maupun berkumpul dengan keluarga Jika anak dalam kehidupan wajar akan sekolah, diantar orang dan dijemput orang tuanya, Ari malah tidak pernah mengalami hal yang sedemikian rupa. Di rumah mewahnya dia hidup sendirian. Ayahnya tak pernah pulang apalagi memberikan sedikit perhatian untuk anaknya. Selama dia  memberi Ari uang, hal itu akan dianggapnya beres.
Apa yang digambarkan pengarang tersebut, tak lain adalah apa yang pernah dilihat dan diimajinasikan pengarrang Esti Kinasih dalam hal  merasakan  betapa tidak selamanya uang akan memberikan kebahagiaan
“Bukan berarti gua selalu mencoba untuk lupa atau mencoba untuk lari. Kalau lagi kecapekan aja. Sayangnya gua lebih sering kecapekan dari pada nggak. Seiring gua berharap jadi orang yang apatis.Gak peduli. Nggak punya emosi. Tapi yang gua tinggal cuma hidup gua. Cuma ini dan nggak ada lagi. Nyia-nyia-in berarti mati. Jadi yah... gua terpaksa  bertahan dengan segala cara apapun gua bisa...”
Tokoh Ari adalah tokoh yang rapuh. Dia tidak bisa bertahan dengan kesepihan yang menderanya. Membuat huru-hara adalah tak lain dari wujud pelariannya terhadap hidupnya. Seiring dengan usahanya menemukan kebahagiaannya, Aripun sampai menyeret Tari dalam kehidupannya kelamnya. Tak peduli dengan kekecewaan yang akan dialami Tari, Ari hanya ingin di mengerti.
Sedangkan Tari adalah sosok delusional. Seorang cewek yang awalnya tertarik padanya semenjak insiden upacara bendera, tapi akhirnya berbalik menjadi benci ketika apa yang sudah dilakukan Ari kepadanya. Saat Ari mengakui sebuah kebenaran, bahwa dirinya adalah seorang Ata, Tari menjadi sangat kecewa dan tidak ingin mengenal Ari lagi. Tari merasa sakit hati dan tidak mau memafkannya. Begitupun juga dengan Ari yang merasa sangat bersalah. Berbagai jalan pelampiasan sudah ia coba, termasuk dengan membuat bonyok orang, membuat kesal para guru, sampai dengan kabur ke Bali.
Tindakan yang dilakukan oleh tokoh Ari tak lain adalah cerminan rasa penyesalan seseorang terhadap orang yang disakitinya. Ari sadar bahwa perasaanya pada Tari hanyalah semacam delusional yang bagaimanapun juga tak akan pernah menjadi nyata. Tari telah masuk ke kehidupannya. Dan dengan begitu mau tak mau Ari harus rela membagi penderitaan yang dialaminya kepada Tari. Sebuah Elegi, yang tak lain adalah sebuah lagu sedih yang bagaimanapun juga harus ada seseorang yang menemaninya untuk mendengarnya. Ari tidak ingin disalahkan, tapi dia hanya ingin dipahami.

B.6 Ironi Psikologi: Pentingnya Keberadaan Keluarga
Novel Jingga dalam Elegi memiliki nilai-nilai psikologis yang cukup baik. Hal ini tercermin dari kepribadian tokoh Ari. Pada awalnya Ari merupakan tokoh yang berkepribadian dua akibat sikap dan tindakannya sendiri. Tapi kenyataan itu terbantahkan ketika novel ditutup dengan narator demikian.
Kerinduan yang bertubi-tubi sebenarnya bukan hanya menimpah Ari. Setelah menemukan kembali rumah lamanya, Aripun akhirnya mengetahui titik temu keberadaan mama dan saudara kembarnya. Prediksi mengenai mama yang tidak peduli pada anaknya sangatnlah salah. Justru mamanya lah yang selama ini lebih keras dalam mencarinya. Setiap pagi hingga sore, ibunya pergi kesana kemari. Jika ditanya kemana, ibunya menjawab dengan satu jawaban tegas, “Mencari Ari!”. Sampai akhirnya dengan bantuan dari Tante Lidya, merekapun akhirnya dipertemukan kembali.
Pengarang sadar bahwa semua anak korban perceraian kedua orang tua pasti berada dalam penderitaan dan kesia-siaan. Esti Kinasih sebagai pengarang menyadari bahwa tidak ada ibu yang bisa memilih salah satu dari anaknya. Kesadaran ini mengingatkan pada kasih sayang seorang ibu yang tiada batas. Ketika sang anak sedih, sang ibu jauh lebih sedih, begitu pula sebaliknya ketika sang anak bahagia, sang ibu akan lebih bahagia.
Tokoh Ari, Ata dan mamanya adalah orang-orang yang menderita tekanan jiwa akibat dari adanya perpisahan. Ari sampai rela menjadi dua pribadi yang berbeda demi menekan rasa rindunya pada saudara kembarnya. Begitu juga mamanya yang hampir gila karena terus menerus mencari Ari dan sempat menelantarkan Ata.
Pengarang menyeret pembaca pada keadaan psikologi betapa tragisnya dampak dari adanya perceraian orang tua. Terlebih lagi jika dampak itu dirasakan oleh anak-anak mereka sendiri. Novel ini ditulis pada tahun 2010. Sementara pada tahun itu telah ditemukannya banyak kasus pemakaian narkotika, gank-gank motor, dan juga tawuran antar pelajar. Keadaan psikologi yang demikian memiliki kesamaan dengan psikologi tokoh Ari. Dengan kata lain itu semua adalah sebab akibat dari kuramgnya perhatian keluarga pada anak.
Pengarang memiliki kesadaran bahwa setiap anak pada hakikatnya membutuhkan keluarganya. Keluarga bukan hanya sebagai tempat bernaung, tapi dari keluarga anak juga akan merasa terdidik. Terlindungi dan diperhatikan. Keadaan psikologi keluarga menentukan kepribadian seorang anak. Jika sebuah keluarga terasa harmonis dan memliki sifat saling terbuka, itu akan membentuk kepribadian anak yang ceria. Begitu pula sebaliknya, jika keadaan keluarga sangatlah kacau atau bahkan penuh dengan ketidak harmonisan, itu akan membentuk kepribadian anak yang kacau juga. Bahkan dari keluarga yang seperti itulah biasanya sifat kenakalan akan terbentuk.
Tokoh-tokoh yang digambarakan oleh Esti Kinasih adalah tentang kepribadian seseorang dan masalahnya. Perjalanan fiktif dari pribadi yang buruk menjadi pribadi yang baik,  menjadi ciri novel Esti Kinasih. Tentang siapa kita? Mengapa terjadi pada kita? Apakah ini sekedar delusi atau nyata? Dan bagaimana cara kita menghadapinya?
Pada kasus demikian, nyatalah bahwa apa yang kita cari harusnya apa yang kita temui. Apa yang kita lakukan harusnya apa yang kita peroleh. Hal ini tidak lain adalah cermin psikologi pribadi sang tokoh. Menganggap kesedihan kita lebih hebat dari pada kesedihan orang lain. Seolah-olah hanya kita lah orang paling menderita di  muka bumi ini. Gambaran tokoh yang demikian merupakan ironi atas gambaran psikologi pribadi pengarang. 
Keadaan psikologi tokoh tidak lain adalah keadaan psikolgi pengarang yang mereduksi dari psikologi masyarakatnya. Pengarang berusaha menciptakan kenyataan baru dari ketidak puasannya atas realitas yang terjadi. Freud (dalam Wellek dan Austin Warren, 1989:92) mengatakan bahwa seniman asal mulanya seseorang yang lari dari kenyataan ketika untuk pertama kalinya ia tidak dapat memenuhi tuntutan untuk menyangkal pemuasan insting. Kemudian dalam kehidupan fantasinya ia memuaskan keinginan erotik dan ambisinya. Tetapi ia dapat menemukan jalan keluar dari dunia fantasi dan kembali ke kenyataan. Dan dengan bakatnya yang istimewa ia dapat membentuk fantasinya menjadi suatu jenis realitas baru dan orang menerimanya sebagai bentuk perenungan hidup yang bernilai.



C.. PENUTUP

C.1 Simpulan
Berdasarkan analisis psikologi , tokoh Ari dalam novel “Jingga dalam Elegi” karya Esti Kinasih merupakantokoh yang memiliki permasalahan dalam psikologis. Masalah-masalah psikologis tersebut tak lain bersumber dari diri mereka sendiri dan ditentukan oleh sesuatu diluar diri mereka.
Tokoh Ari adalah tokoh yang penuh tekanan. Kenyataan bahwa akibat dari perceraian kedua orang tuanya membawa konsekuansi terhadap perubahan kepribadian dirinya. Jika kemudian Ari dijuluki sebagai anak yang pembangkang karena dia hanya ingin mendapat pemahaman tentang keadaan dirinya dari orang-orang sekitar. Hal ini adalah bukti bahwa tokoh Ari adalah tokoh yang perlu untuk dipahami.
Tokoh Ari adalah tokoh yang berkepribadian dua. Hanya untuk mengejar delusinya, Arimenyamar sebagai sosok Ata yang tak lain adalah saudara kembarnya sendiri. Dengan kata lain, Ari kembali menghidupkan dirinya yang sebenarnya pada sosok Ata hanya untuk membuat Tari mengerti akan penderitaan batinnya.
Sementara itu keberadaan keluarga pada dasarnya adalah penting bagi kondisi emosial seorang remaja. Masa remaja adalah masa yang labil. Banyak pengaruh yang tidak bisa kita hindari pada akhirnya. Dan disinilah peran keluarga sebagai tempat pelindung dan bernaung . Keadaan psikologi keluarga menentukan kepribadian seorang anak. Jika sebuah keluarga terasa harmonis dan memliki sifat saling terbuka, itu akan membentuk kepribadian anak yang ceria. Begitu pula sebaliknya, jika keadaan keluarga sangatlah kacau atau bahkan penuh dengan ketidak harmonisan, itu akan membentuk kepribadian anak yang kacau juga. Bahkan dari keluarga yang seperti itulah biasanya sifat kenakalan akan terbentuk.







DAFTAR PUSTAKA

Kinasih, Esti. 2011. Jingga dalam Elegi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Kinasih, Esti. 2009. Jingga dan  Senja. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Sariban.2009. Teori dan Penrapan Sastra. Surabaya: Lentera Cindekia.
Sutardi. 2011. Apresiasi Sastra: Teori, Implikasi dan Pembelajarannya. Lamongan:Pustaka Ilalang.

           






0 komentar:

Posting Komentar

 

Rhifaery's Room Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang