Perbandingan Teks Sastra Novel Saman Karya Ayu Utami Dengan Ilmu Politik
Oleh: Elvita Fajrul Firdama
A.
PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang
Runtuhnya rezim orde baru
tahun 1998 tidak hanya membawa kebebasan untuk bersuara, berpendapat dan
berekspresi, Namun juga turut mempengaruhi perkembangan sastra Indonesia.
Perkembangan ini ditandai dengan banyak bermunculan pengarang dan sastrawan
baru yang kritis dan lugas dalam mengeluarkan karya-karya sastra yang bersifat
experimental dengan menyuarakan kondisi-kondisi sosial yang selama ini menjadi
hal tabu untuk dibicarakan untuk diangkat sebagai karya sastra. Banyak karya
sastra pada zaman orde baru yang dicekal dan dilarang bahkan untuk menyimpan
atau sekadar membaca karena dianggap tidak sesuai dengan rezim. Mungkin itu
sebabnya ketika orde baru tumbang dan Soeharto dipaksa turun dari singgasananya
dan militer tak bisa terlalu dominan dalam kehidupan politik di negeri ini
buku-buku kiri yang tadinya dilarang dan hanya bisa diakses secara
sembunyi-sembunyi dengan resiko hukuman penjara diterbitkan kembali secara luas
dan ternyata laris manis (Anton Kurnia: 54-55,2004). Kini setelah reformasi
orang bebas untuk membaca, memiliki, tanpa takut untuk dan sembunyi-sembunyi
dan sekarang banyak kita jumpai serta diperjual-belikan di toko-toko buku.
Novel-novel seperti karya Pramoedya Ananta Toer adalah contoh diantaranya,
paling sering kena cekal dan dilarang terbit kini banyak kita temui di toko
buku dan sangat menjamur.
Kondisi dan situasi itu tak
lepas dari pasca reformasi 1998, juga pada munculnya para sastrawan, baik
sastrawan yang sudah mempunyai nama maupun sastrawan baru memulai karir.
Kondisi itu dimanfaatkan betul untuk mengekspresikan karya-karya mereka yang
terinspirasi dari kondisi sosial selama orde baru sampai akhir keruntuhannya.
Mulai dari karya sastra yang menyuarakan tentang penindasan perempuan atas
laki-laki sampai penindasan rakyat atas pemerintahan. Selain faktor sosial dan
politik dimasa orde baru, faktor pergantian generasi sastrawan juga turut
mempengaruhi akan lahirnya para seniman dan sastrawan baru untuk berkreasi dan
berkarya secara merdeka. Kebebasan yang dimiliki serta adanya Dewan Kesenian
sebagai wadah atau fasilitas bagi seniman dan sastrawan turut menciptakan
kegairahan dan kesemarakan untuk memunculkan kecenderungan bereksperimen pada
para seniman dan sastrawan untuk memulai karir.
Ayu Utami adalah satu
diantara sastrawan baru yang memulai karir dalam kesusastraan Indonesia. Namun
awal berkarir bukan berarti karyanya tidak termasuk diperhitungkankan. Ini
dibuktikan dengan karyanaya pertama berhasil sebagai pemenang sayembara serta
mendapat penghargaan. Novel Saman karya pertamanya adalah pemenang sayembara
Roman Dewan Kesenian Jakarta 1999. Juga penerima perhanghargaan atas karyanya
yang dianggap meluaskan batas penulisan dalam masyarakat. Ia mendapat
penghargaan dari Price Claus Award dan Hadiah Sastra Mastera (Majelis Sastra
Asia). Demikian juga Novel Saman telah diterjemahkan dalam enam bahasa asing;
Inggris, Belanda, Jerman, Jepang, Perancis dan Czech. Dengan alasan itulah
penulis sangat tertarik untuk menganalisis novel Saman karya Ayu Utami.
Novel Saman sendiri
sebenarnya berjudul “Laila tak Mampir ke New York” dan direncanakan sebagai
fragmen dari novel pertama. Namun dari pengerjaan subplot berkembang melalui
rencana semula dan menjadi novel terpisah dengan judul “Saman”. Novel lanjutan
dari Saman terbit ditahun 2001 berjudul “Larung” sebagai lanjutan Saman.
Novel Saman menceritakan
tentang seorang pastor muda dan empat perempuan yang bersahabat Sejak kecil
yaitu Shakuntala, Cok, Yasmin dan Laila. Sebelum dikenal dengan nama Saman dia
dikenal dengan nama Wisanggeni (Wis) Seorang pastor muda yang mendapat tugas
dari Uskup sebagai pastor paroki parid yang melayani di suatu kota kecil
Perabumulih dan Karang Endah Palembang. Di kota perabumulih Pastor muda
Wisanggeni banyak berinteraksi dan kenal dengan penduduk sekitar yang ternyata
kebanyakan adalah kaum transmigran yang bekerja sebagai buruh perkebunan karet.
Kondisi para penduduk transmigran seperti digambarkan oleh Wisanggeni jauh dari
sejahtera dan masih banyak hidup di bawah garis kemiskinan serta
keterbelakangan di balik hingar bingar kota-kota maju.
Konflik terjadi ketika
penduduk transmigran sebagai buruh perkebunan karet dengan pengusaha atau
pemilik modal yang menginginkan perkebunan karet dijadikan perkebunan kelapa
sawit dengan cara membeli paksa tanah perkebunan penduduk dengan harga Sangat
murah. Dari konflik ini, Pastor Wis dilanda kesedihan dan kegelisahan untuk
membela penduduk transmigran dan menyeret dia pada konflik dengan petugas dan
aparat pemerintah. Dengan tuduhan telah menghasut penduduk transmigran untuk
membuat rusuh dan pembakaran.
Setelah tertangkap dan
dijebloskan ke penjara serta mengalami penyiksaan. Wis berhasil dikeluarkan
dari penjara. Namur setelah bebas bukan berarti Wis lepas dari incaran dan
mata-mata aparat. Dari kondisi itu akhirnya Wis menghilangkan jejak dan
mengganti identitasnya dengan nama samaran yaitu Saman, untuk mengelabuhi
aparat dan petugas yang terus mengincarnya.
2. Rumusan Masalah
1) Bagaimana
sinopsis novel “Saman” karya Ayu Utami ?
2) Dimana
letak persamaan novel “Saman” ditinjau
dari segi nilai politik?
3) Dimana
letak perbedaan novel “Saman” ditinjau
dari segi nilai politik?
3. Tujuan
1) Mendeskripsikan
sinopsis novel “Saman” karya Ayu Utami.
2) Mendeskripsikan
persamaan novel “Saman” ditinjau dari segi nilai politik.
3) Mendeskripsikan
perpedaan novel “Saman” ditinjau dari segi nilai politik.
B. PEMBAHASAN
1.
Sinopsis Novel Saman Karya Ayu Utami
Novel ini bercerita tentang kisah empat orang sahabat yang
saling terkait dengan masa lalunya. Yakni Laila, Shakuntala, Cok, dan Yasmin.
Mereka berempat bersahabat sejak SD. Mereka sama-sama mempunyai obsesi yang
sama terhadap laki-laki. Yasmin, seseorang yang membenci guru dan Laila yang
membenci laki-laki. Sementara, Cok tidak bisa menemukan apa yang harus ia
benci. Kebencian Laila pada laki-laki lenyap ketika ia jatuh cinta pertama kali
pada Wisanggeni yang kala itu sebagai mahasiswa seminari yang ditugaskan
membimbing rekoleksi tentang kesadaran sosial di SMP mereka. Sayangnya,
keluarga Minang Laila itu melihat putrinya bergaul dengan calon Pastor. Dan
Yasmin yang Katolik juga tidak menyetujui itu. Namun, Yasmin pula yang sering membantu
pertemuan Laila dengan Wis atas dasar peersahabatan. Semakin berjalannya waktu,
semuanya tengah berubah. Laila tidak lagi mencintai Wisanggeni yang sudah
mengganti nama menjadi Saman. Kali ini ia mencintai Sihar, seseorang yang sudah
beristri. Laila paling kuat mempertahankan keperawanannya dibanding ketiga
sahabatnya. Dia juga satu-satunya yang belum menikah.
Yasmin seorang
pengacara handal yang dengan senang hati selalu mebela pihak yang dirugikan
tanpa harus meminta suatu imbalan yang besar. Yasmin telah menikah. Namun
berbeda dengan Cok yang selalu berganti-ganti pasangan dan dikenal sebagai
seorang yang binal. Shakuntala merupakan sahabat Laila, Yasmin, dan Cok yang
tinggal di New York lantaran ia mendapat beasiswa di bidang seni tari. Ketiga sahabat
ini mempunyai jiwa sosial yang tinggi dan mengakibatkan mereka terlibat dalam
suatu masalah bersama Sihar dan Wissanggeni. Laila meminta Yasmin dan Wis untuk
menolong Sihar menyelesaikan kasus salah seorang teman Sihar yang meninggal
lantaran kecerobohan pimpinan mereka. Sihar dengan di bantu oleh Wis dan Yasmin
yang seorang pengacara berusaha menuntaskan kasus tersebut. Laila dan Sihar
menjadi sangat akrab lantaran kasus tersebut, hingga mereka pun merencenakan
suatu kencan. Namun, kencan tersebut digagalkan oleh Sihar lantaran ia tidak
tega terhadap keperawanan yang masih laila sandang.
Wisanggeni ditugaskan sebagai Pator paroki Parid yang
melayani kota kecil Perabumulih dan Karang Endah, wilayah keuskupan Palembang.
Sebelum sampai pada tempat tugasnya, ia menyempatkan diri ke bekas rumahnya 10
tahun silam. Setelah beberapa kali ke rumah itu, dan akrab dengan sang pemilik
rumah, ia mendapat kepercayaan untuk tinggal di situ selama pemiliknya ke
Jakarta untuk melahirkan. Ketika tinggal di rumah itu, Wis kembali bisa
merasakan hawa-hawa aneh seprti masa kecilnya. Ia juga bisa mendengar suara
adik-adiknya serta bercakap-cakap dengan bahasa masing-masing. Tiba-tiba Wis
mendengar suara minta gadis tolong dan iapun berlari ke sumber suara sampai di
sebuah sumur di tengah hutan. Setelah itu Wis berteriak minta tolong pada warga
sekitar. Dan setelah warga berdatangan,ternyata tak seorangpun berani masuk
menolong si gadis. Wis memberanikan diri melakukan itu, Ia dan gadis itu
selamat. Gadis itu bernama Upi, Ia adalah manusia yang keejiwaanya terganggu
dan tidak mengerti bahasa manusia. Ketika Wis mengembalikan Upi kepada orang
tuanya, baru ia ketahui bahwa Upi diasingkan oleh ibunya di rumah pemasungan
yang sangat kecil, tidak lebih dari baik dari kandang kambing. Merasa tidak
tega, dan sedikit demi sedikit muncul rasa sayang dihatinya, Wis membuatkan
rumah pasung baru untuk Upi yang lebih besar dan nyaman. Tidak hanya itu yang
ia lakukan, Melihat keadaan perkebunan di sana ia merasa prihatin. Ia jug takut
jika mereka pindah dari situ Upi tidak akan mendapat rumah yang lebih baik dari
sekarang. Kemudian dengan izin dari Uskup untuk berkarya di perkebunan, Wis
membuat tempat pengolahan karet sederhana untuk wilayah Lubukrantau itu dan
membuat pembangkit listrik.
Suatu ketika, kerusuhan terjadi. Pembangkit listrik buatan
Wis dirusak orang. Dan ternyata orang tersebut adalah orang suruhan perusahaan
kelapa sawit yang ingin membeli lahan perkebunan karet dan hanya Wis beserta
keluarga Upi sangat kokoh untuk tidak menjual lahan mereka. Para pembeli itu
merasa geram, mereka mengumpulkan perempuan dan anak kecil dalam surau kemudian
membakar seluruh rumah warga dan menculik Wis ke penjara pengasingan. Di situ
Wis disiksa habis-habisan dan dipaksa mengakui apa yang tidak ia lakukan. Ia
terpasa mengarang cerita untuk mengurangi penyiksaan bahwa ia adalah komunis
yang hendak mengkristenkan para petani Lubukrantau, membuat Sorga di bumi dan
ingin mengganti presiden. Ia terus melakukan itu sampai suatu hari, tempat
penyekapannya itu terbakar. Ia merasa terjebak oleh api, namun setelah
mendengar suara-suara masa kecilnya, tanpa ia ketahui caranya, ia selamat dari
lahapan api itu, dan Ia dibawa ke rumah sakit oleh Anson dan kemudian dirawat
oleh suster-suster gereja. Namun keberadaanya di sembunyikan sampai ia sembuh
setelah dirawat selama tiga bulan.Dia mengganti kartu identitasnya sampai
kasusu itu selesai sekitar dua tahun kemudian ia mengganti namanya menjadi
Saman.
Kemudian ia pun mengririm surat pada
ayahnya, agar ayahnya mempercayainya dan meminta maaf atas segala yang terjadi
dan berita berita yang beredar tidak mengenakan dan meminta sejumlah uang untuk
keperluan usahanya untuk kegiatan sosialnya. Kemudian Wis kembali terlibat
masalah di medan yang membuatnya menjadi buronan, dan akhirnya Yasmin pun
menolong Wis atas usul semua temannya di Palembang. Dia mengusulkan untuk agar
Wis pergi dari Indonesia. Ia pun membantu semua persiapan yang dibutuhkan atas
penyamaran Wis. Bersama Cok ia berhasil melarikan Wis tanpa seorang pun yang
tahu. Namun di tengah perjalan itu, Yasmin tak kuasa menahan perasaan sedihnya
terhadap kepergian Wis. Mereka akhirnya melakukan hubungan terlarang yang tidak
seharusnya dilakukan.
Akhirnya Wis yang berhasil melarikan
diri. Dia pun kini menjadi sangat dekat dengan Yasmin dan sangat mencintai
Yasmin. Perasaan dan nafsu yang selama ini di pendam selam ia menjadi pastor,
kini berubah menjadi perasaan penuh cinta terhadap Yasmin.
2.
Persamaan Teks Novel “Saman” Ditinjau dari
Segi Nilai Politik
|
Teks Novel “Saman”
|
Nilai Politik
|
|
“ Persoalan itu Bapak tanyakan
saja pada Bapak-Bapak di perusahaan. Kami cuma bertugas menjalankan perintah
Bapak Gubernur.” (Saman, hal. 90)
|
Nilai politik yang berhubungan
dengan negara dengan mengritik kinerja aparat Orde Baru yang kurang becus
dalam mengurus masyarakatnya.
|
Analisis :
Dari teks tersebut terlihat adap
persamaan teks sastra novel “Saman” karya Ayu Utami dengan ranah nilai politik,
yaitu meskipun penggambarannya tidak
secara terang terangan, namun duduk persoalan dalam novel ini sebenarnya
mengandung persoalan politik dan kekuasaan. Yang ditunjukan denagn jelas dalam
kasus perusahaan perkebunan karet. Dimana para aparat mengklaim tanah tanah
penduduk Lubukrantau sebagai tanah perusahaan. Demi membenarkan tindakan itu,
para aparat menunjukan surat pengantar dari bapak Gubernur.
|
Teks Novel “Saman”
|
NilaiPolitik
|
|
“PersoalanituBapaktanyakansajapadaBapak-Bapak di
perusahaan. Kami CumabertugasmenjalankanperintahBapakGubernur.” (Saman, hal.
90)
|
Nilaipolitik yang berhubungandenganNegaradenganmengritikkinerjaaparatOrdeBaru
yang kurangbecus dalam mengurusmasyarakatnya.
|
Analisis :
Dari
tekstersebutterlihatadappersamaantekssastra novel “Saman”
karyaAyuUtamidenganranahnilaipolitik, yaitumeskipunpenggambarannya tidak secaraterangterangan,
namundudukpersoalan dalam novel
inisebenarnyamengandungpersoalanpolitikdankekuasaan. Yang ditunjukandenagnjelas
dalam kasusperusahaanperkebunankaret. Dimana para
aparatmengklaimtanahtanahpendudukLubukrantausebagaitanahperusahaan. Demi membenarkantindakanitu,
para aparatmenunjukansuratpengantardaribapakGubernur.
|
Teks Novel “Saman”
|
NilaiPolitik
|
|
“Inisoalkehormatan.
Merekasamasajadenganbelandakitadisuruhnyamenanamapa yang merekasuka! Kita
harusmemertahankanhakkita.” (Saman, hal. 98)
|
Nilaipolitiksesuaidengan UUD 1945
pasal 30 ayat 1 yang berisitiap-tiapwarga Negara berhakdanwajibikutserta
dalam pertahanandankeamanannegara.
|
Analisis :
Dari kutipantekstersebutterlihatadapersamaantekssastra novel ‘’Saman”
karyaAyuUtamidenganranahpolitikyaknisamasamamempertahankandanmembelatanah air.
Setiapwarga Negara memilikihakuntukmendapatkankeamanandari Negara
danmempunyaikewajibanuntukmelakukanupayauntukpertahanan Negara,
upayapertahanandankeamananharuslahmenjamintercegahnyahal-hal yang langsungatau tidak
langsung dapat mengganggujalannyapembangunannasional.
3.
PerbedaanTeks
Novel “Saman” DitinjaudariSegiNilaiPolitik
|
Teks
Novel “Saman”
|
NilaiPolitik
|
|
“
Kamisemuamendugapadapermulaantexcoilberusahamenutupikasusinidenganmenyogokpolisidanjaksa
agar perkaraini tidak diusut.” (Saman, hal. 35)
|
Nilaipolitik yang
berhubungandengan UUD No.3 tahun 1980 tentangtindakpidanasuappasal UUD
tersebutmenyatakanbarangsiapamenerimasesuatuataujanjisedangkaniamengetahuiataupatut
dapat menduga bahwa pemberiansuatuataujanjiitudimaksudkansupayaiaberbuatsesuatu
dalam tugasnya yang berlawanandengankewenanganataukewajiban yang
menyangkutkepentinganumum .
|
Analisis
:
Dari
kutipantekstersebutterlihatadaperbedaantekssastra novel “Saman”
KaryaAyuUtamidenganranahnilaipolitikyaknidalam teks novel “saman”
membenarkantindakansuapsedangkannilaipolitikmelakukantindakpidanasuap
yang dilakukansecarasengajaakandipidana .penjera 3 tahunatau di dendasebanyak
15 juta rupiah jelas bahwa tindakaninimelanggarhukum yang ada.
|
Teks Novel “Saman”
|
NilaiPolitik
|
|
“pohon-pohonbaru
yang kami tanam, telahbisadisadap. (Saman, hal. 93)
|
Nilaipolitik yang
berhubungandenganpelakutindakpidanapenebangan liar (illegal logging)
menurutuunomer 41/1999 tentangkehutananakandipidana, baikpidanapenjara,
denda, atauperampasanbenda yang
digunakanuntukmelakukanperbuatansecarakumulatif.
|
Analisis :
Dari
kutipantekstersebutterlihatadaperbedaantekssastra novel “Saman”
karyaAyuUtamidenganranahnilaipolitikyakni dalam teks novel
membenarkantindakanpenyadapansedangkan dalam nilaipolitikdiharuskanmelakukanupayauntukmempertahankanhutankhususnyakebunkaretsecaralestaridanuntukmemberikanefekjerabagipelanggarhokumdibidangkehutanantersebut
C. PENUTUP
1. Kesimpulan
Dari kutipan teks tersebut terlihat ada beberapa persamaan dan beberapa
perbedaan dari teks sastra novel “Saman” karya Ayu Utami dengan ranah nilai
politik.
1)
Pemikiran yang jernih tentang
system politik dan menanggapi aspirasi yang disuarakan rakyat.
2)
Dapat mengerti dan mengetahui
tentang perilaku politik yang sesuai atau tidak dengan aturan yang berlaku.
3)
Kita dapat mengetahui beberapa
sistim politik.
DAFTAR
PUSTAKA
Amiruddin. 1990.
Sekitar Maslalah Sastra. Madang : Yayasan Asih Asah Asuh.
Nurgiyantoro.
Burhan. 2000. Teori Kajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada Universty Press.
Nasikun. 1984.
Sistem Politik Indonesia. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
