Minggu, 12 Juni 2016

Perbandingan Teks Sastra Novel Saman Karya Ayu Utami Dengan Ilmu Politik





Perbandingan Teks Sastra Novel Saman  Karya Ayu Utami  Dengan Ilmu Politik
Oleh: Elvita Fajrul Firdama







A.    PENDAHULUAN
1.              Latar Belakang        
Runtuhnya rezim orde baru tahun 1998 tidak hanya membawa kebebasan untuk bersuara, berpendapat dan berekspresi, Namun juga turut mempengaruhi perkembangan sastra Indonesia. Perkembangan ini ditandai dengan banyak bermunculan pengarang dan sastrawan baru yang kritis dan lugas dalam mengeluarkan karya-karya sastra yang bersifat experimental dengan menyuarakan kondisi-kondisi sosial yang selama ini menjadi hal tabu untuk dibicarakan untuk diangkat sebagai karya sastra. Banyak karya sastra pada zaman orde baru yang dicekal dan dilarang bahkan untuk menyimpan atau sekadar membaca karena dianggap tidak sesuai dengan rezim. Mungkin itu sebabnya ketika orde baru tumbang dan Soeharto dipaksa turun dari singgasananya dan militer tak bisa terlalu dominan dalam kehidupan politik di negeri ini buku-buku kiri yang tadinya dilarang dan hanya bisa diakses secara sembunyi-sembunyi dengan resiko hukuman penjara diterbitkan kembali secara luas dan ternyata laris manis (Anton Kurnia: 54-55,2004). Kini setelah reformasi orang bebas untuk membaca, memiliki, tanpa takut untuk dan sembunyi-sembunyi dan sekarang banyak kita jumpai serta diperjual-belikan di toko-toko buku. Novel-novel seperti karya Pramoedya Ananta Toer adalah contoh diantaranya, paling sering kena cekal dan dilarang terbit kini banyak kita temui di toko buku dan sangat menjamur.
Kondisi dan situasi itu tak lepas dari pasca reformasi 1998, juga pada munculnya para sastrawan, baik sastrawan yang sudah mempunyai nama maupun sastrawan baru memulai karir. Kondisi itu dimanfaatkan betul untuk mengekspresikan karya-karya mereka yang terinspirasi dari kondisi sosial selama orde baru sampai akhir keruntuhannya. Mulai dari karya sastra yang menyuarakan tentang penindasan perempuan atas laki-laki sampai penindasan rakyat atas pemerintahan. Selain faktor sosial dan politik dimasa orde baru, faktor pergantian generasi sastrawan juga turut mempengaruhi akan lahirnya para seniman dan sastrawan baru untuk berkreasi dan berkarya secara merdeka. Kebebasan yang dimiliki serta adanya Dewan Kesenian sebagai wadah atau fasilitas bagi seniman dan sastrawan turut menciptakan kegairahan dan kesemarakan untuk memunculkan kecenderungan bereksperimen pada para seniman dan sastrawan untuk memulai karir.
Ayu Utami adalah satu diantara sastrawan baru yang memulai karir dalam kesusastraan Indonesia. Namun awal berkarir bukan berarti karyanya tidak termasuk diperhitungkankan. Ini dibuktikan dengan karyanaya pertama berhasil sebagai pemenang sayembara serta mendapat penghargaan. Novel Saman karya pertamanya adalah pemenang sayembara Roman Dewan Kesenian Jakarta 1999. Juga penerima perhanghargaan atas karyanya yang dianggap meluaskan batas penulisan dalam masyarakat. Ia mendapat penghargaan dari Price Claus Award dan Hadiah Sastra Mastera (Majelis Sastra Asia). Demikian juga Novel Saman telah diterjemahkan dalam enam bahasa asing; Inggris, Belanda, Jerman, Jepang, Perancis dan Czech. Dengan alasan itulah penulis sangat tertarik untuk menganalisis novel Saman karya Ayu Utami.
Novel Saman sendiri sebenarnya berjudul “Laila tak Mampir ke New York” dan direncanakan sebagai fragmen dari novel pertama. Namun dari pengerjaan subplot berkembang melalui rencana semula dan menjadi novel terpisah dengan judul “Saman”. Novel lanjutan dari Saman terbit ditahun 2001 berjudul “Larung” sebagai lanjutan Saman.
Novel Saman menceritakan tentang seorang pastor muda dan empat perempuan yang bersahabat Sejak kecil yaitu Shakuntala, Cok, Yasmin dan Laila. Sebelum dikenal dengan nama Saman dia dikenal dengan nama Wisanggeni (Wis) Seorang pastor muda yang mendapat tugas dari Uskup sebagai pastor paroki parid yang melayani di suatu kota kecil Perabumulih dan Karang Endah Palembang. Di kota perabumulih Pastor muda Wisanggeni banyak berinteraksi dan kenal dengan penduduk sekitar yang ternyata kebanyakan adalah kaum transmigran yang bekerja sebagai buruh perkebunan karet. Kondisi para penduduk transmigran seperti digambarkan oleh Wisanggeni jauh dari sejahtera dan masih banyak hidup di bawah garis kemiskinan serta keterbelakangan di balik hingar bingar kota-kota maju.
Konflik terjadi ketika penduduk transmigran sebagai buruh perkebunan karet dengan pengusaha atau pemilik modal yang menginginkan perkebunan karet dijadikan perkebunan kelapa sawit dengan cara membeli paksa tanah perkebunan penduduk dengan harga Sangat murah. Dari konflik ini, Pastor Wis dilanda kesedihan dan kegelisahan untuk membela penduduk transmigran dan menyeret dia pada konflik dengan petugas dan aparat pemerintah. Dengan tuduhan telah menghasut penduduk transmigran untuk membuat rusuh dan pembakaran.
Setelah tertangkap dan dijebloskan ke penjara serta mengalami penyiksaan. Wis berhasil dikeluarkan dari penjara. Namur setelah bebas bukan berarti Wis lepas dari incaran dan mata-mata aparat. Dari kondisi itu akhirnya Wis menghilangkan jejak dan mengganti identitasnya dengan nama samaran yaitu Saman, untuk mengelabuhi aparat dan petugas yang terus mengincarnya.

2. Rumusan Masalah
1)      Bagaimana sinopsis novel “Saman” karya Ayu Utami ?
2)      Dimana letak persamaan novel “Saman”  ditinjau dari segi nilai politik?
3)      Dimana letak perbedaan novel “Saman”  ditinjau dari segi nilai politik?

3. Tujuan
1)      Mendeskripsikan sinopsis novel “Saman” karya Ayu Utami.
2)      Mendeskripsikan persamaan novel “Saman” ditinjau dari segi nilai politik.
3)      Mendeskripsikan perpedaan novel “Saman” ditinjau dari segi nilai politik.

B.     PEMBAHASAN
1.       Sinopsis Novel Saman Karya Ayu Utami
Novel ini bercerita tentang kisah empat orang sahabat yang saling terkait dengan masa lalunya. Yakni Laila, Shakuntala, Cok, dan Yasmin. Mereka berempat bersahabat sejak SD. Mereka sama-sama mempunyai obsesi yang sama terhadap laki-laki. Yasmin, seseorang yang membenci guru dan Laila yang membenci laki-laki. Sementara, Cok tidak bisa menemukan apa yang harus ia benci. Kebencian Laila pada laki-laki lenyap ketika ia jatuh cinta pertama kali pada Wisanggeni yang kala itu sebagai mahasiswa seminari yang ditugaskan membimbing rekoleksi tentang kesadaran sosial di SMP mereka. Sayangnya, keluarga Minang Laila itu melihat putrinya bergaul dengan calon Pastor. Dan Yasmin yang Katolik juga tidak menyetujui itu. Namun, Yasmin pula yang sering membantu pertemuan Laila dengan Wis atas dasar peersahabatan. Semakin berjalannya waktu, semuanya tengah berubah. Laila tidak lagi mencintai Wisanggeni yang sudah mengganti nama menjadi Saman. Kali ini ia mencintai Sihar, seseorang yang sudah beristri. Laila paling kuat mempertahankan keperawanannya dibanding ketiga sahabatnya. Dia juga satu-satunya yang belum menikah.
 Yasmin seorang pengacara handal yang dengan senang hati selalu mebela pihak yang dirugikan tanpa harus meminta suatu imbalan yang besar. Yasmin telah menikah. Namun berbeda dengan Cok yang selalu berganti-ganti pasangan dan dikenal sebagai seorang yang binal. Shakuntala merupakan sahabat Laila, Yasmin, dan Cok yang tinggal di New York lantaran ia mendapat beasiswa di bidang seni tari. Ketiga sahabat ini mempunyai jiwa sosial yang tinggi dan mengakibatkan mereka terlibat dalam suatu masalah bersama Sihar dan Wissanggeni. Laila meminta Yasmin dan Wis untuk menolong Sihar menyelesaikan kasus salah seorang teman Sihar yang meninggal lantaran kecerobohan pimpinan mereka. Sihar dengan di bantu oleh Wis dan Yasmin yang seorang pengacara berusaha menuntaskan kasus tersebut. Laila dan Sihar menjadi sangat akrab lantaran kasus tersebut, hingga mereka pun merencenakan suatu kencan. Namun, kencan tersebut digagalkan oleh Sihar lantaran ia tidak tega terhadap keperawanan yang masih laila sandang.
Wisanggeni ditugaskan sebagai Pator paroki Parid yang melayani kota kecil Perabumulih dan Karang Endah, wilayah keuskupan Palembang. Sebelum sampai pada tempat tugasnya, ia menyempatkan diri ke bekas rumahnya 10 tahun silam. Setelah beberapa kali ke rumah itu, dan akrab dengan sang pemilik rumah, ia mendapat kepercayaan untuk tinggal di situ selama pemiliknya ke Jakarta untuk melahirkan. Ketika tinggal di rumah itu, Wis kembali bisa merasakan hawa-hawa aneh seprti masa kecilnya. Ia juga bisa mendengar suara adik-adiknya serta bercakap-cakap dengan bahasa masing-masing. Tiba-tiba Wis mendengar suara minta gadis tolong dan iapun berlari ke sumber suara sampai di sebuah sumur di tengah hutan. Setelah itu Wis berteriak minta tolong pada warga sekitar. Dan setelah warga berdatangan,ternyata tak seorangpun berani masuk menolong si gadis. Wis memberanikan diri melakukan itu, Ia dan gadis itu selamat. Gadis itu bernama Upi, Ia adalah manusia yang keejiwaanya terganggu dan tidak mengerti bahasa manusia. Ketika Wis mengembalikan Upi kepada orang tuanya, baru ia ketahui bahwa Upi diasingkan oleh ibunya di rumah pemasungan yang sangat kecil, tidak lebih dari baik dari kandang kambing. Merasa tidak tega, dan sedikit demi sedikit muncul rasa sayang dihatinya, Wis membuatkan rumah pasung baru untuk Upi yang lebih besar dan nyaman. Tidak hanya itu yang ia lakukan, Melihat keadaan perkebunan di sana ia merasa prihatin. Ia jug takut jika mereka pindah dari situ Upi tidak akan mendapat rumah yang lebih baik dari sekarang. Kemudian dengan izin dari Uskup untuk berkarya di perkebunan, Wis membuat tempat pengolahan karet sederhana untuk wilayah Lubukrantau itu dan membuat pembangkit listrik.
Suatu ketika, kerusuhan terjadi. Pembangkit listrik buatan Wis dirusak orang. Dan ternyata orang tersebut adalah orang suruhan perusahaan kelapa sawit yang ingin membeli lahan perkebunan karet dan hanya Wis beserta keluarga Upi sangat kokoh untuk tidak menjual lahan mereka. Para pembeli itu merasa geram, mereka mengumpulkan perempuan dan anak kecil dalam surau kemudian membakar seluruh rumah warga dan menculik Wis ke penjara pengasingan. Di situ Wis disiksa habis-habisan dan dipaksa mengakui apa yang tidak ia lakukan. Ia terpasa mengarang cerita untuk mengurangi penyiksaan bahwa ia adalah komunis yang hendak mengkristenkan para petani Lubukrantau, membuat Sorga di bumi dan ingin mengganti presiden. Ia terus melakukan itu sampai suatu hari, tempat penyekapannya itu terbakar. Ia merasa terjebak oleh api, namun setelah mendengar suara-suara masa kecilnya, tanpa ia ketahui caranya, ia selamat dari lahapan api itu, dan Ia dibawa ke rumah sakit oleh Anson dan kemudian dirawat oleh suster-suster gereja. Namun keberadaanya di sembunyikan sampai ia sembuh setelah dirawat selama tiga bulan.Dia mengganti kartu identitasnya sampai kasusu itu selesai sekitar dua tahun kemudian ia mengganti namanya menjadi Saman.
            Kemudian ia pun mengririm surat pada ayahnya, agar ayahnya mempercayainya dan meminta maaf atas segala yang terjadi dan berita berita yang beredar tidak mengenakan dan meminta sejumlah uang untuk keperluan usahanya untuk kegiatan sosialnya. Kemudian Wis kembali terlibat masalah di medan yang membuatnya menjadi buronan, dan akhirnya Yasmin pun menolong Wis atas usul semua temannya di Palembang. Dia mengusulkan untuk agar Wis pergi dari Indonesia. Ia pun membantu semua persiapan yang dibutuhkan atas penyamaran Wis. Bersama Cok ia berhasil melarikan Wis tanpa seorang pun yang tahu. Namun di tengah perjalan itu, Yasmin tak kuasa menahan perasaan sedihnya terhadap kepergian Wis. Mereka akhirnya melakukan hubungan terlarang yang tidak seharusnya dilakukan.
Akhirnya Wis yang berhasil melarikan diri. Dia pun kini menjadi sangat dekat dengan Yasmin dan sangat mencintai Yasmin. Perasaan dan nafsu yang selama ini di pendam selam ia menjadi pastor, kini berubah menjadi perasaan penuh cinta terhadap Yasmin.

2.       Persamaan Teks Novel “Saman” Ditinjau dari Segi Nilai Politik
Teks Novel “Saman”
Nilai Politik
“ Persoalan itu Bapak tanyakan saja pada Bapak-Bapak di perusahaan. Kami cuma bertugas menjalankan perintah Bapak Gubernur.” (Saman, hal. 90)

Nilai politik yang berhubungan dengan negara dengan mengritik kinerja aparat Orde Baru yang kurang becus dalam mengurus masyarakatnya.
Analisis :
            Dari teks tersebut terlihat adap persamaan teks sastra novel “Saman” karya Ayu Utami dengan ranah nilai politik, yaitu meskipun penggambarannya tidak secara terang terangan, namun duduk persoalan dalam novel ini sebenarnya mengandung persoalan politik dan kekuasaan. Yang ditunjukan denagn jelas dalam kasus perusahaan perkebunan karet. Dimana para aparat mengklaim tanah tanah penduduk Lubukrantau sebagai tanah perusahaan. Demi membenarkan tindakan itu, para aparat menunjukan surat pengantar dari bapak Gubernur.

Teks Novel “Saman”
NilaiPolitik
“PersoalanituBapaktanyakansajapadaBapak-Bapak di perusahaan. Kami CumabertugasmenjalankanperintahBapakGubernur.” (Saman, hal. 90)

Nilaipolitik yang berhubungandenganNegaradenganmengritikkinerjaaparatOrdeBaru yang kurangbecus dalam mengurusmasyarakatnya.
Analisis :
            Dari tekstersebutterlihatadappersamaantekssastra novel “Saman” karyaAyuUtamidenganranahnilaipolitik, yaitumeskipunpenggambarannya tidak secaraterangterangan, namundudukpersoalan dalam novel inisebenarnyamengandungpersoalanpolitikdankekuasaan. Yang ditunjukandenagnjelas dalam kasusperusahaanperkebunankaret. Dimana para aparatmengklaimtanahtanahpendudukLubukrantausebagaitanahperusahaan. Demi membenarkantindakanitu, para aparatmenunjukansuratpengantardaribapakGubernur.
Teks Novel “Saman”
NilaiPolitik
“Inisoalkehormatan. Merekasamasajadenganbelandakitadisuruhnyamenanamapa yang merekasuka! Kita harusmemertahankanhakkita.” (Saman, hal. 98)
Nilaipolitiksesuaidengan UUD 1945 pasal 30 ayat 1 yang berisitiap-tiapwarga Negara berhakdanwajibikutserta dalam pertahanandankeamanannegara.
Analisis :
     Dari kutipantekstersebutterlihatadapersamaantekssastra novel ‘’Saman” karyaAyuUtamidenganranahpolitikyaknisamasamamempertahankandanmembelatanah air. Setiapwarga Negara memilikihakuntukmendapatkankeamanandari Negara danmempunyaikewajibanuntukmelakukanupayauntukpertahanan Negara, upayapertahanandankeamananharuslahmenjamintercegahnyahal-hal yang langsungatau tidak langsung dapat mengganggujalannyapembangunannasional.
3.      PerbedaanTeks Novel “Saman” DitinjaudariSegiNilaiPolitik
Teks Novel “Saman”
NilaiPolitik
“ Kamisemuamendugapadapermulaantexcoilberusahamenutupikasusinidenganmenyogokpolisidanjaksa agar perkaraini tidak diusut.” (Saman, hal. 35)
Nilaipolitik yang berhubungandengan UUD No.3 tahun 1980 tentangtindakpidanasuappasal UUD tersebutmenyatakanbarangsiapamenerimasesuatuataujanjisedangkaniamengetahuiataupatut dapat menduga bahwa pemberiansuatuataujanjiitudimaksudkansupayaiaberbuatsesuatu dalam tugasnya yang berlawanandengankewenanganataukewajiban yang menyangkutkepentinganumum .
Analisis :
     Dari kutipantekstersebutterlihatadaperbedaantekssastra novel “Saman” KaryaAyuUtamidenganranahnilaipolitikyaknidalam teks novel “saman” membenarkantindakansuapsedangkannilaipolitikmelakukantindakpidanasuap yang dilakukansecarasengajaakandipidana .penjera 3 tahunatau di dendasebanyak 15 juta rupiah jelas bahwa tindakaninimelanggarhukum yang ada.
Teks Novel “Saman”
NilaiPolitik
“pohon-pohonbaru yang kami tanam, telahbisadisadap. (Saman, hal. 93)
Nilaipolitik yang berhubungandenganpelakutindakpidanapenebangan liar (illegal logging) menurutuunomer 41/1999 tentangkehutananakandipidana, baikpidanapenjara, denda, atauperampasanbenda yang digunakanuntukmelakukanperbuatansecarakumulatif.
Analisis :
      Dari kutipantekstersebutterlihatadaperbedaantekssastra novel “Saman” karyaAyuUtamidenganranahnilaipolitikyakni dalam teks novel membenarkantindakanpenyadapansedangkan dalam nilaipolitikdiharuskanmelakukanupayauntukmempertahankanhutankhususnyakebunkaretsecaralestaridanuntukmemberikanefekjerabagipelanggarhokumdibidangkehutanantersebut
C.    PENUTUP
1.      Kesimpulan
Dari kutipan teks tersebut terlihat ada beberapa persamaan dan beberapa perbedaan dari teks sastra novel “Saman” karya Ayu Utami dengan ranah nilai politik.
1)      Pemikiran yang jernih tentang system politik dan menanggapi aspirasi yang disuarakan rakyat.
2)      Dapat mengerti dan mengetahui tentang perilaku politik yang sesuai atau tidak dengan aturan yang berlaku.
3)      Kita dapat mengetahui beberapa sistim politik.
DAFTAR PUSTAKA
Amiruddin. 1990. Sekitar Maslalah Sastra. Madang : Yayasan Asih Asah Asuh.
Nurgiyantoro. Burhan. 2000. Teori Kajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada Universty Press.
Nasikun. 1984. Sistem Politik Indonesia. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Utami, Ayu. 1998. Saman. Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramed

Perbandingan Teks Sastra Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck Karya Hamkadengan Sastra Lisan Panji Laras-Liris



Perbandingan Teks Sastra Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck Karya Hamkadengan Sastra Lisan Panji Laras-Liris
Oleh: Eka Ratna Jamilah





A.    PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang

            Karya sastra sebagai cerminan kehidupan masyarakat, merupakan dunia subjektivi­tas yang diciptakan oleh pengarang yang di dalamnya terdapat  berbagai aspek kehidupan yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Aspek kehidupan tersebut berupa aspek sosiolologis, psikologis, filsafat, budaya, dan agama. Keberadaan karya sastra tidak dapat dilepaskan dari diri pengarang sebagai bagian dari anggota suatu masyarakat. Sehingga dalam penciptaannya, pengarang tidak dapat terlepas dari lingkungan sosial budaya yang melatarinya.
            Aliran sastra bandingan terbagi ke dalam aliran Prancis dan aliran Amerika. Kedua aliran sepakat bahwa sastra bandingan merupakan kajian satra di luar batas sebuah negara. Akan tetapi, Aliran Prancis menganggap bahwa hubungan sastra dengan disiplin lain bukanlah sastra bandingan, melainkan seni bandingan.
Menurut Sapardi Djoko Damono (dalam Robert Escarpit, 2005: viii), sastra adalah kristalisasi keyakinan nilai-nilai dan norma-norma yang disepakati masyarakat, setidaknya begitulah yang terjadi di masa lampau ketika kepengarangan tidak dimasalahkan dan berbagai jenis tradisi lisan dimiliki beramai-ramai oleh masyarakat, tidak individu.
Kajian sastra banding ini  tidak menelaah karya-karya sastra semata-mata, melainkan membicarakan hubungan antara isi karya sastra dengan berbagai disiplin ilmu pengetahuan, agama, dan bahkan juga karya-karya seni.
Berdasarkan hal yang demikian, maka penulis membandingkan teks sastra novel “Tenggelamnya kapal van der wijck” karya HAMKA dengan cerita rakyat “Panji Laras-Liris”
2.      Rumusan Masalah
1)      Bagaimana sinopsis novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk dan cerita rakyat Panji Laras-Liris?
2)      Dimanakah letak perbandingan kedua cerita tersebut?
3)      Dimanakah letak persamaan dari kedua cerita tersebut?
3.      Manfaat Penelitian
a. Manfaat Praktis
1)        Bagi peneliti, penelitian ini dapat memperkaya wawasan sastra dan menambah khasanahan penelitian  sastra indonesia yang bermanfaat bagi perkembangan sastra indonesia.
2)      Bagi pembaca, penelitian ini dapat menambah minat baca dalam mengapresiasiasikan karya sastra, serta menambah pengetahuan tentang sastra.
b. Manfaat teoritis
Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan memahami karya sastra

4.      Objek Penelitian
Objek penelitian ini ialah cerita novel “Tenggelamnya kapal van der wijk” karya HAMKA dengan cerita rakyat “Panji Laras-Liris”
5.      Teori
            Sastra Banding (Comparative Literature) muncul pertama kali di Perancis tahun 1816 yang diambil dari rangkaian antologi untuk pengajaran sastra yang berjudul Cours de litterature comparee. Di Jerman, istilah ini dipadankan dengan vergleichende Literaturgeschichte yang muncul pada tahun 1854. Sementara itu, istilah comparative literatures muncul di Inggris pada tahun 1848.
Pada awalnya, istilah tersebut menunjuk pada usaha untuk melacak “pengaruh” seorang penulis dari suatu negara atau budaya pada penulis di negara atau budaya lain. Namun, dalam perkembangannya, terdapat kesulitan dalam mencari pengaruh tersebut karena pikiran dan perasaan yang diungkapkan oleh suatu bahasa berbeda dengan pikiran dan perasaan yang dinyatakan dengan bahasa lain. Karena itu pada awalnya, sastra banding hanya dilaksanakan di Eropa.
            Menurut Sapardi Djoko Damono (2005: 1), sastra bandingan adalah sebuah pendekatan dalam ilmu sastra yang tidak menghasilkan teori sendiri. Dengan kata lain, dalam kajian ini dapat   menggunakan teori apa saja selama masih dapat bersangkutan dengan sastra.

B.     PEMBAHASAN
1.      Diskripsi novel yang dibandingkan
1)      Sinopsis Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk
Sejak berumur 9 bulan, Zainuddin telah ditinggalkan Daeng Habibah, ibunya. Kemudian menyusul ayahnya yang bernama Pendekar Sutan. Zainuddin tinggal bersama bujangnya, Mak Base, Kira-kira 30 tahun yang lalu, ayahnya punya perkara dengan Datuk Mantari Labih mamaknya, soal warisan. Dalam suatu pertengkaran Datuk Mantari terbunuh. Pendekar Sutan kemudian dibuang ke Cilacap selama 15 tahun. Setelah selesai masa hukumannya, ia dikirim ke Bugis untuk menumpas pemberontakan yang melawan Belanda. Di sanalah Pendekar Sutan bertemu dengan Daeng Habibah. Untuk mencari keluarga ayahnya, Zainuddin pergi ke desa Batipuh di Padang. Di Padang ia tinggal di rumah saudara ayahnya, Made Jamilah.
Sebagai seorang pemuda yang datang dari Makasar, ia merasa asing di Padang. Apalagi tanggapan saudara-saudaranya demikian. Demikian pula ketika ia dapat berkenalan dengan Hayati karena meminjamkan payungnya pada gadis itu. Hubungan antara Zainuddin dan Hayati makin hari tersiar ke seluruh dusun dan Zainuddin tetap dianggap orang asing bagi keluarga Hayati maupun orang-orang di Batipuh.
Untuk menjaga nama baik kedua orang muda dan keluarga mereka masing-masing, Zainuddin disuruh meninggalkan Batipuh oleh mamak Hayati. Dengan berat hati Zainuddin meninggalkan Batipuh menuju Padang Panjang. Di tengah jalan Hayati menemuinya dan mengatakan bahwa cintanya hanya untuk Zainuddin.
Zainuddin menerima kabar bahwa Hayati akan pergi ke Padang Panjang untuk melihat pacuan kuda atas undangan sahabat Hayati yang bemama Khadijah. Zainuddin hanya dapat bertemu pandang di tempat itu karena bersama orang banyak ia terusir dari pagar tribun. Pertemuan yang sekejap itu membuat Hayati mendapat ejekan dari Khadijah. Khadijah sendiri sebenamya bermaksud menjodohkan Hayati dengan Aziz, kakak Khadijah sendiri. Karena merasa cukup mempunyai kekayaan warisan dari orang tuanya setelah Mak Base meninggal,
Zainuddin mengirim surat lamaran pada Hayati. Temyata surat Zainuddin bersamaan dengan lamaran Aziz. Setelah diminta untuk memilih, Hayati memutuskan memilih Aziz sebagai calon suaminya. Zainuddin kemudian sakit selama dua bulan karena Hayati menolaknya. Atas bantuan dan nasehat Muluk, anak induk semangnya, Zainuddin dapat merubah pikirannya. Bersama Muluk, Zainuddin pergi ke Jakarta.
Dengan nama samaran “Z”, Zainuddin kemudian berhasil menjadi pengarang yang amat disukai pembacanya. la mendirikan perkumpulan tonil “Andalas”, dan kehidupannya telah berubah menjadi orang terpandang karena pekerjaannya. Zainuddin melanjutkan usahanya di Surabaya dengan mendirikan penerbitan buku-buku.
Karena pekeriaan Aziz dipindahkan ke Surabaya, Hayati pun mengikuti suaminya. Suatu kali, Hayati mendapat sebuah undangan dari perkumpulan sandiwara yang dipimpin dan disutradarai oleh Tuan Shabir atau “Z”. Karena ajakan Hayati Aziz bersedia menonton pertunjukkan itu. Di akhir pertunjukan baru mereka ketahui bahwa Tuan Shabir atau “Z” adalah Zainuddin.
Hubungan mereka tetap baik, juga hubungan Zainuddin dengan Aziz. Perkembangan selanjutnya Aziz dipecat dari tempatnya bekerja karena hutang yang menumpuk dan harus meninggalkan rumah sewanya karena sudah tiga bulan tidak membayar, bahkan barang-barangnya disita untuk melunasi hutang. Selama Aziz di Surabaya, ia telah menunjukkan sifat-sifatnya yang tidak baik. la sering keluar malam bersama perempuan jalang, berjudi, mabuk-mabukan, serta tak lagi menaruh cinta pada Hayati. Akibatnya, setelah mereka tidak berumah lagi. Mereka terpaksa menumpang di rumah Zainuddin.
Setelah sebulan tinggal serumah, Aziz pergi ke Banyuwangi meninggalkan isterinya bersama Zainuddin. Sepeninggal Aziz, Zainuddin sendiri pun jarang pulang, kecuali untuk tidur. Suatu ketika Muluk memberitahu pada Hayati bahwa Zainuddin masih mencintainya. Di dalam kamar kerja Zainuddin terdapat gambar Hayati sebagai bukti bahwa Zainuddin masih mencintainya.
Beberapa hari kemudian diperoleh kabar bahwa Aziz telah menceraikan Hayati. Aziz meminta supaya Hayati hidup bersama Zainuddin. Dan kemudian datang pula berita dari sebuah surat kabar bahwa Aziz telah bunuh diri meminum obat tidur di sebuah hotel di Banyuwangi.
Hayati meminta kesediaan Zainuddin untuk menerimanya sebagai apa saja, asalkan ia dapat bersama-sama serumah dengan Zainuddin. Permintaan itu tidak diterima baik oleh Zainuddin, ia bahkan amat marah dan tersinggung karena lamarannya dulu pemah ditolak Hayati, dan sekarang Hayati ingin menjadi isterinya. la tidak dapat menerima periakuan Hayati.
Dengan kapal Van Der Wijck, Hayati pulang atas biaya Zainuddin. Namun Zainuddin kemudian berpikir lagi bahwa ia sebenamya tidak dapat hidup bahagia tanpa Hayati. Oleh sebab itulah setelah keberangkatan Hayati ia berniat menyusul Hayati untuk dijadikan isterinya. Zainuddin kemudian menyusul naik kereta api malam ke Jakarta.
Harapan Zainuddin temyata tak tercapai. Kapal Van Der Wijck yang ditumpangi Hayati tenggelam di perairan dekat Tuban. Hayati tak dapat diselamatkan. Karena luka-luka di kepala dan di kakinya akhimya ia meninggal dunia. Jenazahnya dimakamkan di Surabaya.
Sepeninggal Hayati, kehidupan Zainuddin menjadi sunyi dan kesehatannya tidak terjaga. Akhimya pengarang terkenal itu meninggal dunia. Ia dimakamkan di sisi makam Hayati.

2)      Deskripsi Cerita Rakyat Panji Laras-Liris
Dalam riwayat Panji Laras Liris tersebut diungkapkan, sekitar tahun 1640 – 1665 Kabupaten Lamongan dipimpin bupati ketiga bernama Raden Panji Puspa Kusuma dengan gelar Kanjeng Gusti Adipati. Bupati tersebut mempunyai dua putra bernama Panji Laras dan Panji Liris yang terkenal rupawan. Ketampanan kedua pemuda Lamongan tersebut membuat jatuh hati dua putri Adipati Wirasaba (wilayahnya sekitar Kertosono Nganjuk) bernama Dewi Andanwangi dan Dewi Andansari.
Karena terus didesak putrinya, meski dengan berat hati (karena pihak perempuan harus melamar ke pihak laki-laki) Adipati Wirasaba menuruti keinginan putrinya dengan meminang Panji Laras dan Panji Liris di Lamongan. “Saat itu warga Wirasaba masih belum memeluk Islam, sedangkan di Lamongan Islam sudah sangat mengakar,” ungkap Yari.

Menyikapi kondisi itu, Panji Laras dan Liris minta hadiah berupa dua genuk (tempat air) dari batu dan dua tikar dari batu. Benda-benda tersebut harus dibawa sendiri oleh Dewi Andansari dan Andanwangi. “Hadiah itu sebenarnya mengandung isyarat agar dewi andansari dan andanwangi mau masuk Islam. Sebab genuk mengandung isyarat tempat untuk wudlu dan tikar untuk sholat. Kedua benda tersebut saat ini tersimpan di Masjid Agung Lamongan,” ungkap Yari.
Permintaan itu dinilai sangat berat oleh Adipati Wirasaba. Meski begitu tetap dijanjikan akan dipenuhi. Selanjutnya benda-benda itu dibawa sendiri oleh kedua perempuan itu ke Lamongan dengan pengawalan satu pasukan prajurit dengan naik perahu menyusuri Kali Lamong.
Kedatangan Dewi Andansari dan Andanwangi disambut Panji Laras Liris di pinggir Kali Lamongan yang saat ini masuk wilayah Kecamatan Mantup. Kedua pemuda tersebut juga dikawal pasukan prajurit dari Lamongan dipimpin patih Mbah Sabilan.
Ketika akan turun dari perahu tanpa sadar kain panjang Dewi Andansari dan Andanwangi tersingkap dan kelihatan betisnya. Melihat betis kedua perempuan itu Panji Laras-Liris terbelalak dan ketakutan. Sebab betis kedua perempuan itu penuh dengan bulu lebat yang menakutkan. Spontan Panji laras Liris-liris menolak membatalkan perjodohan.
Mendengar kabar pembatalan perjodohan sontak Dewi Andansari Andanwangi merasa terhina dan malu sehingga mereka melakukan bunuh diri saat itu juga dihadapan panji laras-liris. Melihat junjungan mereka dihina dan dipermalukan sehingga sampai bunuh diri, orang-orang Kediri itu akhirnya sangat marah dan ingin membunuh panji laras-liris, sehingga perang pun tak bisa terhindarkan lagi.
Melihat nyawa Panji Laras-liris dalam bahay, maka Ki Patih Mbah Sabilan berjuang mati-matian melidungi mereka, sehingga akhirnya Ki Patih Mbah Sabilan harus tewas dalam rangka melindungi nyawa Panji Laras-liris. Setelah patinya tewas, orang-orang Lamongan pun semakin terdesak dan akhirnya Panji Laris-liris pun ikut kut tewas tanpa diketahui jenazahnya.
Tidak puas hanya menewaskan Ki Patih Mbah Sabilan serta panji laras-liris, orang-orang Kediri pun semakin merangsekmaju bahkan sampai ke pendopo kadipaten. Dalam pertempuran di pendopo kadipaten tersebut, Bupati Lamongan ikut gugur namun sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, Bupati Lamongan sempat berpesan agar menikah dengan orang Kediri.
3)      Letak persamaan pada cerita novel tenggelamnay kapal van der wijk dan cerita rakyat panji laras-liris
       Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya HAMKA dengan cerita rakyat Panji Laras-Liris memiliki persamaan yang terletak pada:
a.    Tema

No.
Teks novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Teks cerita rakyat Panji Laras-Liris
1.
Di zaman sekarang haruslah suami penumpangkan hidup itu seorang yang tentu pencaharian, tentu asa-usul. Jika perkawinan dengan orang yang demikian langsung, dan engkau beroleh anak, ke manakah anak itu Kn berbako? Tidaklah engkau tahu bahwa Gunung Merapi masih tegak dengan teguhnya? Adat masih berdiri dengan kuat, tak boleh lapuk oleh hujan, takboleh lekang oleh panas? (hal. 53)
Ketika akan turun dari perahu tanpa sadar kain panjang dewi Andansari dan Andanwangi tersingkap dan kelihatan betisnya. Melihat betis kedua perempuan itu Panji Laras-Liris terbelalak dan ketakutan. Sebab betis kedua perempuan itu penuh dengan bulu lebat yang menakutkan. Spontan Panji laras Liris lari meninggalkan kedua perempuan itu.

Analisis:
Pada novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan cerita rakyat Panji Laras-Liris memiliki persamaan yakni kisah wanita yang cinta kasihnya tak tersampaikan kepda seorang yang dicintai dan kasihinya. Hal tersebut terjadi dikarenakan oleh budaya adat istiadat bahwa seorang terpandang tidak sembarangan dalam memilih jodoh, dengan kata lain pada kedua cerita tersebut menganut asas kesamaan dalam strata sosial.
4) Perbedaan Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk dengan Cerita Rakyat Panji Laras-Liris
Selain memiliki persamaan, kedua cerita tersebut memiliki perbedaan, yakni:
a.    Tokoh
No
Teks novel tenggelamnya kapal van der wijk
Teks cerita rakyat panji laras-liris

1.
 “mula-mula Hayati berkenalan dengan dia, adalah seketika hari hujan lebat, sebab daerah Padang Panjang itu, lebih banyak hujan-hujan lebat turun seketika mereka ada di ekor lubuk. Zainuddin ada membawa payung dan Hayati bersama seorang temannya kebetulan tidak berpayung.” (hal. 24).
tokoh dewi andanwangi dan dewi andansari putri kembar dari adipati kediri dengan lawan tokoh panji laras dan panji liris putra kembar dari Bupati Lamongan.
Analisis:
            Pada kedua cerita tersebut memiliki perbedaan tokoh. Yang mana pada cerita Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck memiliki dua tokoh utama yakni Zainuddin dan Hayati. Sedangkan pada cerita rakyat Panji Laras-Liris memiliki empat tokoh utama pembangun cerita ialah Dewi Andanwangi dan Dewi Andansari putri kembar dari Adipati Kediri dengan lawan tokoh Panji Laras dan Panji Liris putra kembar dari Bupati Lamongan.  .
b.    Latar
No.
Teks novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Teks cerita rakyat Panji Laras-Liris
1.
“tiga dan empat tahun dia bergaul dengan istri yang setia itu, dia beroleh seorang anak laki-laki, anak tunggal, itulah dia Zainuddin, yang termenung di rumah bentuk Mengkasar, di jendel yang menghadap ke laut di Kampung Baru yang dikisahkan pada permulaan cerita ini.” (hal. 9)
tiba pada harinya, Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi diiringi dengan rombongan besar orang-orang Kediri datang ke Lamongan.
2.
“Dia tahu akan gadis-gadis itu, orang sekampungnya sama-sama orang Batipuh.....” (hal. 24)

3.
“Zainuddin baru saja sampai ke rumah bakonya. Mande Jamilah telah menyambutnya dengan muka pucat pula. Belum selesai dia makan, Mande Jamilah telah berkata: Lebih baik engkau tinggalkan Batipuh ini, tinggallah di Padang Panjang. Sebab namamu disebut-sebut orang banyak sekali. Tadi sore Mande mendengar beberapa anak muda hendak bermaksud jahat kepadamu.” (hal. 54)

4.
“Ditinggalkanlah Pulau Sumatra, masuk ke Tanah Jawa, medan perjuangan penghidupan yang lebih luas. Sesampainya di Jakarta, disewanya sebuah rumah kecil di suatu kampung yang sepi, bersama sahabatnya Muluk.” (hal. 145)

5.
“Setelah dia tahu bahwa buah penanya telah menjadi perhatian umum, mengertilah ia bahwa inilah tujuan yang tetap dari hidupnya. Oleh karena kota Surabaya lebih dekat dengan Mengkasar, dan di sana penerbitan buku-buku masih sepi, maka bermaksudlah dia hendak berpindah ke Surabaya, akan mengeluarkan buku-buku hikayat bikinan sendiri dengan modal sendiri, dikirim ke seluruh Indonesia.” (hal. 146)

6.
“...kapal tersebut tenggelam 15 mil jauhnya dari sebelah utara Tanjung Pakis.
“....sayang di sini perkakas tidak cukup. Baru aja dipesankanke surabaya, beberapa dokter akan datang membantu kemari.”

Analisis:
Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck memiliki latar tempat Mengkasar (tempat Zainuddin dilahirkan), Dusun Batipuh (tempat Hayati tinggal dan bertemu dengan Zainuddin pertama kali), Padang Panjang (tempat Zainuddin pindah dari Batipuh untuk mendalami ilmu, tempat khadijah tinggal, tempat adanya pacuan kuda dan pasar malam), Jakarta/Batavia (tempat Zainuddin dan menjadi penulis bersama sahabatnya Muluk, tempat pindahan kerja Azis dan Hayati), Lamongan (di rumah sakit, tempat terakhir kalinya Zainuddin dan Hayati berdialog sebelum meninggal). Sedangkan pada cerita Panji Laras-Liris berlatarkan tempat di bumi kota Lamongan.

c.    Kisah Cinta Antar Kedua Cerita
No
Teks novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Teks cerita rakyat Panji Laras-Liris
1.
“sejak zainuddin berkenalan dengan hayati, dia tidak merasa sunyi lagi di tanah minangkabau yang memandangnya orang asing itu. Minangkabau telah lain dalam pemandanganya sekarang telah ramai, telah mengalirkan penghargaan yang baru dalam hidupnya. Di sinilah keduam makhluk itu mempersambungkan tali jiwa, sebelum mempersambungkan mulut. Keluuhan dan tarikan nafas yang panjang, kegugupan menentang muka orang yang dihadapi, telah cukup menjadi lukisan dari kata-kata hati”. (hal. 30)
Sampai suatu ketika Adipati Kediri mendengar kabar bahwa bupati lamongan mempunyai dua orang putra kembar, sehingga Adipati Kediri berniatan untuk menikahkahkan kedua putri kembarnya dengan putra kembar Bupati Lamongan sekaligus sebagai langkah awal untuk melakukan koalisi.
Analisis:
Kisah cinta kedua cerita Tenggelemnya Kapal Van Der Wijck dan Panji Laras-Liris memilki perbedaan. Pada kisah cinta Hayati dan Zainuddin ialah rasa cinta murni dari hati seorang insan yang berlainan jenis, sedangkan pada awal cerita cinta Panji Laras-Liris dengan Dewi Andansari Andanwangi memiliki beberapa unsur tujuan tertentu, yakni bertujuan membangun koalisi yang akan dibangun oleh pihak Adipati Kediri dengan cara menjodohkan putri kembar Adipati Kediri dengan putra kembar Bupati Lamongan. Dengan maksud lain mempermudah Adipati Kediri untuk mengambil alih kekuasaan dari Majapahit
d.   Konflik antar kisah percintaan pada kedua cerita
No.
Teks novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Teks cerita rakyat Panji Laras-Liris
1.
Di zaman sekarang haruslah suami penumpangkan hidup itu seorang yang tentu pencaharian, tentu asa-usul. Jika perkawinan dengan orang yang demikian langsung, dan engkau beroleh anak, ke manakah anak itu Kn berbako? Tidaklah engkau tahu bahwa Gunung Merapi masih tegak dengan teguhnya? Adat masih berdiri dengan kuat, tak boleh lapuk oleh hujan, takboleh lekang oleh panas? (hal. 53)
Pada saat itu Lamongan sedang mengalami bencana banjir, sehingga mau tak mau Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi mengangkat kainnya sampai ke paha agar kain yang dikenakannya tidak basah. Celakanya, karena hal itu panji laras-liris bisa melihat bahwa ternyata kaki dewi andansari andanwangi ternyata berbulu lebat seperti bulu kuda. Sehingg Panji Laras-liris menolak untuk menikahi dewi andansari andanwangi serta meminta agar rencana pernikahan tersebut dibatalkan saja.
Analisis:
            Dapat dianalisis bahwa konflik percintaan kedua cerita tersebut berbeda. Kegagalan  percintaan Hayati dan Zainuddin disebabkan oleh budaya lokal yang menganggap Zainuddin bukan orang Padang asli karena ibunya bukan kelahiran Batipuh. Selain itu, juga karena Zainuddin adalah anak yatim piatu sehingga harus mendapatkan tantangan yang besar dalam menjalin hubungan cinta kasih dengan Hayati. Sedangkan pada Panji Laras-liris ialah disebabkan oleh bulu tebal pada Dewi Andansari Andanwangi yang menjadinya alasan membatalkan perjodohan.
e.    Kisah Kematian Tokoh Utama
No.
Teks novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Teks cerita rakyat Panji Laras-liris
1.
“Tiga Kali Zainuddin membacakan kalimat Syahadat itu, diturutkannya yang mula-mula itu dengan lidahnya, yang kedua dengan isyarat matanya, dan yang ketiga.. dia sudah tak ada lagi!”
Mendergar kabar pembatalan perjodohan sontak Dewi Andansari Andanwangi merasa terhina dan malu sehingga mereka melakukan bunuh diri saat itu juga dihadapan panji laras-liris.
Analisis:
Akhir tragis dari percintaan hayati pada zainuddin harus berakhir dengan kematian hayati pada tragedi tenggelamnya kapal van der wijck yang ditumpanginya saat perjalan pulang ke batipuh. Sedangkan pada akhir cerita  Panji Laras-liris berakhir dengan kematian Dewi Andansari Andanwangi secara bunuh diri.
           

C.    PENUTUP

1.      Kesimpulan
Perbandingan antara karya sastra tulis Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan karya sastra lisan Panji Laras-Liris di atas memiliki tujuan memberikan pandangan masyarakat akan budaya yang ada di Indonesia antara lain budaya yang terjadi antara Kediri dan Lamongan atas larangan menikahkan anak putra Lamongan dengan putri Kediri. Begitupun dengan budaya Minang yang hanya boleh menikahkan keturunan Minang dengan keturunan Minang. Dengan berbagai persamaan dan perbedaan yang ada, menjadikan kedua karya sastra tersebut menarik untuk dikaji sebab pada keduanya memuat sebuah cerita adat istiadat yang sama, yang hingga saat ini masih dipertahankan sebagian masyarakat.
2.      Saran
Saran peneliti kepada peneliti lain, diharapkan nantinya ada kelanjutan dari analisis saat ini dengan lebih kratif dalam menelaah karya sastra tulis Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan karya sastra lisan Panji Laras-Liris yang memiliki versi cerita yang berbeda-beda.


DAFTAR PUSTAKA

Damono, Sapardi Djoko. 2005. Pegangan Penelitian Sastra Bandingan. Jakarta: Depdiknas
Endraswara, Suwardi. 2014. Metodologi Penelitian Sastra Bandingan. Jakarta: Bukupop
HAMKA. 1999. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Jakarta: PT Bulan Bintang


 

Rhifaery's Room Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang