Selasa, 24 Mei 2016

Perbandingan Teks Sastra Novel Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer Dengan Ilmu Politik

Perbandingan Teks Sastra Novel Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer Dengan Ilmu Politik
Oleh: Adeelah Bueraheng



.   A. 
PENDAHULUAN
1.    Latar Belakang        
            Sastra adalah roh kebudayaan, sastra lahir dari proses kegelisahan sastrawan atas kondisi masyarakat dan terjadinya ketegangan atas kebudayaan. Sastra sering juga di tempatkan sebagai potret yang mampu mengungkapkan kondisi masyarakat pada masa tertentu dan  dapat memancarkan semangat zamannya. Dari sinilah, sastra memberi pemahaman yang khas atas situasi sosial, kepercayaan, ideologi, dan harapan-harapan individu yang sesungguhnya merepresentasikan kebudayaan bangsa.
            Asumsi di atas memberikan gambaran bahwa karya sastra yang berbentuk prosa dalam hal ini novel yang hadir di tengah masyarakat merupakan representasi dari realitas kehidupan sosial, taradisi, kepercayaan, dan ideologi. Oleh karena itu, narasi yang kemudian hadir dalam konstruksi-konstruksi novel adalah pengejawantahan dari situasi yang sedang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
            Menanggapi karya-karya Pramoedya, Sastrawati (2003: 119) mengatakan bahwa hampir semua karya Pramodya berbau politik.Secara klasik Politik sebagai suatu takti atau strategi untuk melakukan suatu hal dalam rangka mejatuhkan lawan untuk memperoleh kemenangan, kedudukan, dan jabatan. Namun, dalam arti luas politik dapat diasumsikan bahwa segala kebijakan yang dikeluarkan oleh elit politik yang berhubungan langsung dengan kepentingan masyarakat baik dengan tujuan untuk meraih kekuasaan maupun sebagai bentuk mempertahankan eksistensi hegemoni atau dominasi kekuasaan. Misalnya, kebijakan dalam dunia pendidikan, ekonomi, pertanian, pangan, dan lain-lain.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas penulis mengangkat judul Analisis Perbandingan Novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer dengan Ilmu politik,, dengan alasan bahwa nilai sosial politik dalam novel tersebut memiliki nilai-nilai edukatif yang erat hubungannya kehidupan pembaca dan kehidupan sosial masyarakat pada umumnya.

2.      Rumusan Masalah
1)   Bagaimana Perbandingan Novel Bumi Manusia Karya Pramoedya ananta Toerdengan ilmu politik?

3.      Tujuan Penulisan
1)   Untuk Membandingkan Novel Bumi Manusia Karya Pramoedya ananta Toerdengan ilmu politik.

B.     LANDASAN TEORI
1.      Pengertian Satra Bandingan
Dalam kamus Webster dikemukakan bahwa sastra bandingan mempelajari hubungan timbal balik karya sastra dari dua atau lebih kebudayaan nasional yang biasanya berlainan bahasa, dan terutama pengaruh karya sastra yang satu terhadap karya sastra yang lain.
Rene Wellek dan Austin Warren mendefinisikan tiga pengertian dari sastra bandingan. Pertama, penelitian sastra lisan, terutama tema cerita rakyat dan penyebarannya, disini istilah sastra bandingan dipakai untuk studi sastra lisan. Terutama cerita-cerita rakyat dan migrasinya, serta bagaimana dan kapan cerita rakyat masuk ke dalam penulisan sastra yang lebih artistik. Sastra lisan pada dasarnya merupakan bagian integral dari sastra tulis.
Kedua, penyelidikan mengenai hubungan antara dua atau lebih karya sastra, yang menjadi bahan dan objek penyelidikannya, diantaranya soal reputasi dan penetrasi, pengaruh dan kemasyuran karya besar, atau dengan kata lain istilah sastra bandingan mencakup studi hubungan antara dua kesusastraan atau lebih. Pendekatan ini dipelopori ilmuwan Perancis, yang disebut comparatistes, digagas oleh Ferdinand Baldensperger, yang diulas yaitu soal reputasi, pengaruh, dan ketenaran Goethe di Perancis dan Inggris.
Aspek yang dipelajari antara lain:
  (a)   citra dan konsep pengarang dan pada waktu tertentu,
  (b)   faktor penerjemahan,
  (c)    faktor penerimaan (receiving factor),
  (d)   suasana dan situasi sastra pada masa tertentu.
Dan yang Ketiga, penelitian sastra dalam keseluruhan sastra dunia, sastra umum dan sastra universal. Istilah sastra bandingan disamakan dengan studi sastra menyeluruh. Istilah sastra dunia menyiratkan bahwa yang dipelajari adalah sastra lima benua, mulai dari Selandia Baru sampai Islandia. Sastra umum mempelajari gerakan dan aliran sastra yang melampaui batas nasional. Konsepsi sastra universal melihat bahwa sastra tetap perlu dilihat sebagai suatu totalitas.
Sedangkan, Remak mengungkapkan bahwa “Sastra bandingan adalah studi sastra yang melewati batas-batas suatu negara serta hubungan antara sastra dan bidang pengetahuan dan kepercayaan lain”, dengan kata lain sastra bandingan adalah perbandingan karya sastra yang satu dengan satu atau beberapa karya sastra lain, serta perbandingan karya sastra dengan ekspresi manusia dalam bidang lain. Lebih lanjut Remak menekankan, bahwa perbandingan antara karya sastra dan bidang di luar sastra hanya dapat diterima sebagai sastra bandingan, jika perbandingan keduanya dilakukan secara sistematis dan bidang di luar sastra itu dapat dipisahkan dan mempunyai pertalian logis.
Lain halnya dengan Maman S. Mahayana, menurutnya Membandingkan dua karya sastra atau lebih dari sedikitnya dua negara yang berbeda, termasuk wilayah kajian sastra bandingan. Karya sastra yang dibandingkan, setidaknya mempunyai tiga perbedaan, mencakup: (a) Bahasa, (b) Wilayah, (c) Idiologi/politik. Dengan melihat perbedaan antara dua karya sastra sebagai bahan perbandingan akan memungkinkan munculnya “perbedaan latar belakang sosial budaya”. Latar sosial budaya, seperti lokasi, tradisi, dan pengaruh       melingkupi diri masing-masing pengarang. Kondisi tersebut akan tercermin dalam karya yang dihasilkan.
Sehingga, pengertian sastra bandingan jika ingin disimpulkan secara sederhana yaitu perbandingan antara karya sastra yang satu dengan karya sastra yang lainnya. Terlepas apakah karya sastra yang diperbandingkan itu sastra dunia, sastra umum dan sastra universal dengan tujuan untuk mencari perbedaan, persamaan atau kesatuan antara karya sastra yang satu dengan karya sastra yang lainnya.

2.      Pengertian Politik
Secara etimologis, politik bersal dari bahasa Yunani yaitu polis yang berarti kota atau negara kota. Kemudian arti itu berkembang menjadi polites yang berarti warganegara, politea yang berarti semua yang berhubungan dengan negara. Ditinjau dari presfektif sejarah Aristoteles dapat dianggap sebagai orang pertama yang memperkenalkan kata politik melalui pengamatannya tentang manusia yang ia sebut zoon politikon dengan istilah ini ia ingin menjelaskan bahwa hakikat kehidupan sosial adalah politik dan interaksi antara dua orang atau lebih sudah pasti akan melibatkan hubungan politik.
Menurut Mitchel, politik adalah pengambilan keputusan kolektif atau pembuatan kebijakan umum untuk seluruh masyarakat. Sedangkan menurut Duetch, bahwa politik adalah pengambilan keputusan melalui sarana umum. Berbeda dengan ke dua tokoh di atas, Budiarjo (dalam Philipus, 2008: 90) mendefinisikan politik sebagai berbagai macam kegiatan yang terjadi di suatu negara, yang menyangkut proses menentukan tujuan dan berbagai cara mencapai tujuan itu. Ramlan (dalam Philipus, 2008: 92) mengemukakan bahwa sekurang-kurangnya ada lima pandangan tentang politik. Pertama, politik adalah usaha-usaha yang ditempuh warga negara untuk membicarakan dan mewujudkan kebaikan bersama. Kedua, politik ialah segala yang berkaitan dengan penyelenggaraan negara dan pemerintah. Ketiga, politik ialah segala kegiatan yang diarahkan untuk mencapai dan  mempertahankan kekuasaan dalam masyarakat. Keempat, politik adalah segala kegiatan yang berkaitan dengan perumusan dan pelaksanaan kebijakan umum.Kelima, politik sebagai konflik dalam rangka mencari dan  atau mempertanyakan sumber-sumber yang dianggap penting.
Sesuai dengan definisi politik yang dikemukakan Aristoteles dalam memandang masyarakat sebagai zoom politikon, maka jelas bahwa seluru aktivitas masyarakat tidak bisa terlepas dari wilaya politik. Politik yang dimaksud tidak hanya dalam bentuk struktur kenegaraan tetapi politik yang dimaksud adalah kebijakan yang mempengaruhi dan mengatur seluruh aktivitas masyarakat baik dari aspek pendidikan, ekonomi, hukum, budaya, dan lain-lain.
Menurut Toer (dalam Boef, 2008: 142) bahwa semua politik adalah panglima. Kita adalah warga negara, hal itu merupakan politik, kita membayar pajak, hal itu juga merupakan politik. Uraian tersebut mempertegas pandangan politiknya bahwa kehidupan manusia dalam lingkup masyarakat tidak bisah terlepas dari kehidupa politik. Oleh karena itu, hampir seluruh karyanya berbau politik yang sifatnya humanis dan sangat edukatif dalam memandang dinamika politik di Indonesia serta hubungannya dengan fungsi karya sastra.

C.    PEMBAHASAN
1.       Deskripsi Novel “Bumi Manusia” Karya Pramoedya Ananta Toer
Sebagai sebuah novel yang kental dengan nilai politik, novel “Bumi Manusia” sangat cocok didekati dengan pendekatan ilmu politik.
Pramoedya Ananta Toer lahir di Blora pada tahun 1925. Dia adalah seorang penulis Indonesia yang sangat memuja seorang tokoh sosialis Rusia, Lenin. Menurut hematnya, berkat Lenin-lah kala itu Rusia dapat menjadi sebuah “surga dunia” (Moeljanto, 1995: 70). Akibat kekagumannya yang besar ini, Pram tak segan-segan mempropagandakan Lenin melalui tindakan konkretnya, yakni menjadi anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra)—sebuah organisasi sayap kiri di Indonesia.
Hal ini pun berdampak pada karya-karya sastra Pram. Karya-karyanya beraliran realisme-sosialis. Dengan kata lain, Pram mempraktikkan sosialisme di bidang kreasi sastra. Politik banyak digunakan dalam karya-karyanya karena politik merupakan realitas sosial bagi sosialis. Sebagai konsekuensinya, Pram terpaksa hidup dalam tahanan selama belasan tahun (3 tahun pada masa kolonial, 1 tahun pada masa orde lama, dan 14 tahun pada masa orde baru).
2.      Persamaan Teks Sastra Novel “Bumi Manusia” Karya Pramoedya Ananta Toer dengan Ilmu Politik
No.
Teks Sastra Novel “Bumi Manusia
Ilmu Politik
1.
“Kau punya pergaulan bebas dengan Belanda. Ayahandamu tidak. Kau pasti jadi bupati kelak.”
“Tidak, Bunda, sahaya tidak ingin. Sahaya hanya ingin jadi manusia bebas, tidak diperintah, tidak memerintah, Bunda. Kepriyayian bukan duniaku.” (Toer, 2011: 190)
Nilai politik dalam novel ini menggambarkan bahwa politik yaitu segala kegiatan yang diarahkan untuk memcapai dan mempertahankan kekuasaan dalam masyarakat.
(Ramlan dalam Philipus, 2008: 92)

Analisis: Berdasarkan teksnovel “Bumi Manusia” karya Pramoedya Ananta Toer dengan ilmu politik terdapat persamaan yaitu bahwa budaya korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) sudah ada sejak dahulu. Nepotisme terlihat jelas dalam Bumi Manusia. Minke yang anak seorang bupati sudah digariskan akan menjadi bupati juga oleh ayahnya. Pram juga menggambarkan kondisi pemerintahan Indonesia pada saat itu. Ternyata KKN sudah mengakar kuat pada bangsa Indonesia sejak zaman dahulu.
2.
“Apa guna belajar ilmu dan pengetahuan Eropa, bergaul dengan orang Eropa, kalau akhirnya toh harus merangkak, beringsut seperti keong dan menyembah seorang raja kecil yang barangkali buta huruf pula? Ya Allah, kau nenek moyang, kau, apa sebab kau ciptakan adat yang menghina martabat turunanmu begini macam? Mengapa kau sampai hati mewariskan adat semacam ini?” (Toer, 2011: 179 dan 181)
Nilai politik yang tergambar dalam novel ialah sosial politik. Menurut Maran (2001: 62), Entitas kultural berbeda menurut periode sejarah dan lokasi-lokasi geografis ada periode dimana kelompok suku atau etnik yang kecil membentuk entitas kultural dasar. Dengan demikian tampak adanya korelasi antara hakikat entitas kultural dan karakter kelompok-kelompok sosial yang mempunyai organisasi politik yang paling kuat.

Analisis:Berdasarkan teksnovel “Bumi Manusia” karya Pramoedya Ananta Toer dengan ilmu politik terdapat persamaan yaitu Tak hanya harus merendahkan diri, orang-orang yang berstatus lebih rendah biasanya harus menuruti segala keinginan orang-orang yang berstatus lebih tinggi dan membuat mereka senang. Pram mengkritik sikap para pejabat pemerintah dan masyarakat yang pada saat itu menganut prinsip “asal Bapak senang”.
   3.
“jean Marais: peranan berpindah-pindah, dari generasi ke generasi yang lain, dari bangsa satu ke bangsa yang lain. Dahulu kulit berwarna menjajah kulit putih. Sekarng kulit putih memjajah kulit berwarna.” (Toer, 2005: 170)

Menurut Kosasih Djahiri, setiap individu tidak dapat lepas dari kekuasaan, sebab memengaruhi seseorang atau sekelompok orang yang dapat menampilkan laku seperti yang diinginkan oleh seseorang atau pihak yang memengaruhi.



Analisis: Berdasarkan teksnovel “Bumi Manusia” karya Pramoedya Ananta Toer dengan ilmu politik terdapat persamaan yaitu Masyarakat dan politik merupakan dua dimensi yang tidak bisa terpisahkan dan saling memgpengaruhi, seperti kutipan dalam novel tersebut bahwa peranan dalam masyarakat itu berubah-ubah.

3.    PerbedaanTeks Sastra Novel “Bumi Manusia” Karya Pramoedya Ananta Toer dengan Ilmu Politik
No.
Teks Sastra Novel “Bumi Manusia
Ilmu Politik
    1.
“Kata-katanya menyakitkan. Ya setiap kali ujud Jawa disakiti orang luar, perasaanku ikut tersakit. Aku merasa sepenuhnya Jawa. Pada waktu ketidaktahuan dan kebodohan Jawa disinggah, aku merasa sebagai orang Eropa. Begitulah pesan-pesan yang menimbulkan banyak pikiran itu aku bawa serta dalam hati, aku bawa serta dalam kereta cepat, yang membawa aku kembali ke surabaya.”(Toer, 2011: 220)
Pada abad ke-19 Hindia Belanda menerapkan politik etis dengan didirikannya sekolah-sekolah tidak untuk mencerdaskan orang Indonesia, tetapi disebabkan oleh kebutuhan Pemerintah Belanda dan pengusaha asing akan pegawai-pegawaI rendahan yang murah Indonesia yang dijadikan daerah penghasil bahan mentah, rakyatnya harus tetap bodoh. Rakyat yang bodoh kebutuhannya sedikit. Kemendikbud (Notosusanto dan Basri).

Analisis: Berdasarkan teksnovel “Bumi Manusia” karya Pramoedya Ananta Toer dengan ilmu politik terdapat perbedaan yaitu pertentangan antara sosial politik Belanda dengan teks yang terdapat dalam novel Bumi Manusia. Dalam kutipan disebutkan bahwa Minke merasa sakit hati ketika ia diolok sebagai orang Jawa rendah dan hina.

D.    PENUTUP
1.       Kesimpulan
       Perbandingan persamaan dan perbedaan teks sastra novel Bumi Manusia karya Pramodya Ananta Toer dengan ilmu politik ternyata dapat diketahui dari berbagai hal, terutama pada kutipan-kutipan yang telah dianalisis dengan ilmu politik, banyak hal yang perlu kita ketahui dan kita pelajari untuk menjalani kehidupan masyarat, dan untuk mengetahui kebijakan-kebijakan yang di keluarkan oleh elit politik atau penguasa (pemerintah) baik dari aspek pendidikan, ekonomi, maupun aspek-aspek lain dalam kehidupan masyarakat yang langsung mempengaruhi sendi-sendi kehidupan sosial masayarakat.

2.      Saran
       Saran peneliti kepada peneliti lain, setelah penelitian ini diharapkan lebih kreatif dalam meneliti dan menelaah kajian sastra dengan ilmu politik. Inovasi-inovasi lain pun diharapkan akan hadir untuk melengkapi penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA
Toer, Pramoedya Ananta. 2011. Bumi Manusia. Jakarta Timur:Lentera Dipantara.
Maran, Rafael Raga. 2001. Pengantar Sosiologi Politik. Jakarta: Rineka Cipta.
Philipus dan Aini, Nurul. 2008. Sosiologi dan Politik. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.
Notosusanto Nugroho dan Basri Yusma. 1981. Sejarah Nasional Indonesia. Jakarta : Masa   
Baru.




0 komentar:

Posting Komentar

 

Rhifaery's Room Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang