Perbandingan Teks Sastra Novel Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer Dengan Ilmu Politik
Oleh: Adeelah Bueraheng
. A.
PENDAHULUAN
1. Latar
Belakang
Sastra adalah roh kebudayaan, sastra
lahir dari proses kegelisahan sastrawan atas kondisi masyarakat dan terjadinya
ketegangan atas kebudayaan. Sastra sering juga di tempatkan sebagai potret yang
mampu mengungkapkan kondisi masyarakat pada masa tertentu dan dapat memancarkan semangat zamannya. Dari
sinilah, sastra memberi pemahaman yang khas atas situasi sosial, kepercayaan,
ideologi, dan harapan-harapan individu yang sesungguhnya merepresentasikan
kebudayaan bangsa.
Asumsi di atas memberikan gambaran
bahwa karya sastra yang berbentuk prosa dalam hal ini novel yang hadir di
tengah masyarakat merupakan representasi dari realitas kehidupan sosial, taradisi,
kepercayaan, dan ideologi. Oleh karena itu, narasi yang kemudian hadir dalam
konstruksi-konstruksi novel adalah pengejawantahan dari situasi yang sedang
terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Menanggapi
karya-karya Pramoedya, Sastrawati (2003: 119) mengatakan bahwa hampir semua
karya Pramodya berbau politik.Secara klasik Politik sebagai suatu takti atau
strategi untuk melakukan suatu hal dalam rangka mejatuhkan lawan untuk
memperoleh kemenangan, kedudukan, dan jabatan. Namun, dalam arti luas politik
dapat diasumsikan bahwa segala kebijakan yang dikeluarkan oleh elit politik
yang berhubungan langsung dengan kepentingan masyarakat baik dengan tujuan
untuk meraih kekuasaan maupun sebagai bentuk mempertahankan eksistensi hegemoni
atau dominasi kekuasaan. Misalnya, kebijakan dalam dunia pendidikan, ekonomi,
pertanian, pangan, dan lain-lain.
Berdasarkan
latar belakang masalah di atas penulis mengangkat judul Analisis
Perbandingan Novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer dengan Ilmu
politik,, dengan alasan bahwa nilai sosial politik dalam novel tersebut
memiliki nilai-nilai edukatif yang erat hubungannya kehidupan pembaca dan
kehidupan sosial masyarakat pada umumnya.
2.
Rumusan
Masalah
1) Bagaimana Perbandingan Novel Bumi Manusia Karya Pramoedya ananta Toerdengan ilmu politik?
3.
Tujuan
Penulisan
1) Untuk Membandingkan Novel Bumi Manusia Karya Pramoedya ananta Toerdengan ilmu politik.
B.
LANDASAN
TEORI
1.
Pengertian
Satra Bandingan
Dalam kamus Webster
dikemukakan bahwa sastra bandingan mempelajari hubungan timbal balik karya
sastra dari dua atau lebih kebudayaan nasional yang biasanya berlainan bahasa,
dan terutama pengaruh karya sastra yang satu terhadap karya sastra yang lain.
Rene Wellek dan
Austin Warren mendefinisikan tiga pengertian dari sastra bandingan. Pertama,
penelitian sastra lisan, terutama tema cerita rakyat dan penyebarannya, disini
istilah sastra bandingan dipakai untuk studi sastra lisan. Terutama
cerita-cerita rakyat dan migrasinya, serta bagaimana dan kapan cerita rakyat
masuk ke dalam penulisan sastra yang lebih artistik. Sastra lisan pada dasarnya
merupakan bagian integral dari sastra tulis.
Kedua, penyelidikan
mengenai hubungan antara dua atau lebih karya sastra, yang menjadi bahan dan
objek penyelidikannya, diantaranya soal reputasi dan penetrasi, pengaruh dan
kemasyuran karya besar, atau dengan kata lain istilah sastra bandingan mencakup
studi hubungan antara dua kesusastraan atau lebih. Pendekatan ini dipelopori
ilmuwan Perancis, yang disebut comparatistes, digagas oleh Ferdinand
Baldensperger, yang diulas yaitu soal reputasi, pengaruh, dan ketenaran Goethe
di Perancis dan Inggris.
Aspek yang dipelajari antara lain:
(a) citra dan konsep pengarang dan pada waktu
tertentu,
(b) faktor penerjemahan,
(c) faktor penerimaan (receiving factor),
(d) suasana dan situasi sastra pada masa
tertentu.
Dan yang Ketiga,
penelitian sastra dalam keseluruhan sastra dunia, sastra umum dan sastra
universal. Istilah sastra bandingan disamakan dengan studi sastra menyeluruh.
Istilah sastra dunia menyiratkan bahwa yang dipelajari adalah sastra lima
benua, mulai dari Selandia Baru sampai Islandia. Sastra umum mempelajari
gerakan dan aliran sastra yang melampaui batas nasional. Konsepsi sastra
universal melihat bahwa sastra tetap perlu dilihat sebagai suatu totalitas.
Sedangkan, Remak
mengungkapkan bahwa “Sastra bandingan adalah studi sastra yang melewati
batas-batas suatu negara serta hubungan antara sastra dan bidang pengetahuan
dan kepercayaan lain”, dengan kata lain sastra bandingan adalah perbandingan
karya sastra yang satu dengan satu atau beberapa karya sastra lain, serta
perbandingan karya sastra dengan ekspresi manusia dalam bidang lain. Lebih
lanjut Remak menekankan, bahwa perbandingan antara karya sastra dan bidang di
luar sastra hanya dapat diterima sebagai sastra bandingan, jika perbandingan
keduanya dilakukan secara sistematis dan bidang di luar sastra itu dapat
dipisahkan dan mempunyai pertalian logis.
Lain halnya dengan
Maman S. Mahayana, menurutnya Membandingkan dua karya sastra atau lebih dari
sedikitnya dua negara yang berbeda, termasuk wilayah kajian sastra bandingan.
Karya sastra yang dibandingkan, setidaknya mempunyai tiga perbedaan, mencakup:
(a) Bahasa, (b) Wilayah, (c) Idiologi/politik. Dengan melihat perbedaan antara
dua karya sastra sebagai bahan perbandingan akan memungkinkan munculnya
“perbedaan latar belakang sosial budaya”. Latar sosial budaya, seperti lokasi,
tradisi, dan pengaruh melingkupi
diri masing-masing pengarang. Kondisi tersebut akan tercermin dalam karya yang
dihasilkan.
Sehingga,
pengertian sastra bandingan jika ingin disimpulkan secara sederhana yaitu
perbandingan antara karya sastra yang satu dengan karya sastra yang lainnya.
Terlepas apakah karya sastra yang diperbandingkan itu sastra dunia, sastra umum
dan sastra universal dengan tujuan untuk mencari perbedaan, persamaan atau
kesatuan antara karya sastra yang satu dengan karya sastra yang lainnya.
2.
Pengertian
Politik
Secara etimologis,
politik bersal dari bahasa Yunani yaitu polis yang berarti kota atau negara
kota. Kemudian arti itu berkembang menjadi polites yang berarti warganegara,
politea yang berarti semua yang berhubungan dengan negara. Ditinjau dari
presfektif sejarah Aristoteles dapat dianggap sebagai orang pertama yang
memperkenalkan kata politik melalui pengamatannya tentang manusia yang ia sebut
zoon politikon dengan istilah ini ia ingin menjelaskan bahwa hakikat kehidupan
sosial adalah politik dan interaksi antara dua orang atau lebih sudah pasti
akan melibatkan hubungan politik.
Menurut Mitchel,
politik adalah pengambilan keputusan kolektif atau pembuatan kebijakan umum
untuk seluruh masyarakat. Sedangkan menurut Duetch, bahwa politik adalah
pengambilan keputusan melalui sarana umum. Berbeda dengan ke dua tokoh di atas,
Budiarjo (dalam Philipus, 2008: 90) mendefinisikan politik sebagai berbagai
macam kegiatan yang terjadi di suatu negara, yang menyangkut proses menentukan
tujuan dan berbagai cara mencapai tujuan itu. Ramlan (dalam Philipus, 2008: 92)
mengemukakan bahwa sekurang-kurangnya ada lima pandangan tentang politik.
Pertama, politik adalah usaha-usaha yang ditempuh warga negara untuk
membicarakan dan mewujudkan kebaikan bersama. Kedua, politik ialah segala yang
berkaitan dengan penyelenggaraan negara dan pemerintah. Ketiga, politik ialah
segala kegiatan yang diarahkan untuk mencapai dan mempertahankan kekuasaan dalam masyarakat.
Keempat, politik adalah segala kegiatan yang berkaitan dengan perumusan dan
pelaksanaan kebijakan umum.Kelima, politik sebagai konflik dalam rangka mencari
dan atau mempertanyakan sumber-sumber
yang dianggap penting.
Sesuai dengan
definisi politik yang dikemukakan Aristoteles dalam memandang masyarakat
sebagai zoom politikon, maka jelas bahwa seluru aktivitas masyarakat tidak bisa
terlepas dari wilaya politik. Politik yang dimaksud tidak hanya dalam bentuk
struktur kenegaraan tetapi politik yang dimaksud adalah kebijakan yang
mempengaruhi dan mengatur seluruh aktivitas masyarakat baik dari aspek
pendidikan, ekonomi, hukum, budaya, dan lain-lain.
Menurut Toer (dalam Boef, 2008: 142) bahwa semua politik
adalah panglima. Kita adalah warga negara, hal itu merupakan politik, kita
membayar pajak, hal itu juga merupakan politik. Uraian tersebut mempertegas
pandangan politiknya bahwa kehidupan manusia dalam lingkup masyarakat tidak
bisah terlepas dari kehidupa politik. Oleh karena itu, hampir seluruh karyanya
berbau politik yang sifatnya humanis dan sangat edukatif dalam memandang
dinamika politik di Indonesia serta hubungannya dengan fungsi karya sastra.
C.
PEMBAHASAN
1.
Deskripsi Novel “Bumi Manusia” Karya Pramoedya
Ananta Toer
Sebagai sebuah
novel yang kental dengan nilai politik, novel “Bumi Manusia” sangat cocok
didekati dengan pendekatan ilmu politik.
Pramoedya Ananta Toer lahir di Blora
pada tahun 1925. Dia adalah seorang penulis Indonesia yang sangat memuja
seorang tokoh sosialis Rusia, Lenin. Menurut hematnya, berkat Lenin-lah kala
itu Rusia dapat menjadi sebuah “surga dunia” (Moeljanto, 1995: 70). Akibat
kekagumannya yang besar ini, Pram tak segan-segan mempropagandakan Lenin
melalui tindakan konkretnya, yakni menjadi anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat
(Lekra)—sebuah organisasi sayap kiri di Indonesia.
Hal ini pun berdampak pada
karya-karya sastra Pram. Karya-karyanya beraliran realisme-sosialis. Dengan
kata lain, Pram mempraktikkan sosialisme di bidang kreasi sastra. Politik
banyak digunakan dalam karya-karyanya karena politik merupakan realitas sosial
bagi sosialis. Sebagai konsekuensinya, Pram terpaksa hidup dalam tahanan selama
belasan tahun (3 tahun pada masa kolonial, 1 tahun pada masa orde lama, dan 14
tahun pada masa orde baru).
2. Persamaan
Teks Sastra Novel “Bumi Manusia” Karya Pramoedya Ananta Toer dengan Ilmu Politik
|
No.
|
Teks Sastra Novel “Bumi Manusia”
|
Ilmu Politik
|
|
1.
|
“Kau punya pergaulan bebas dengan Belanda. Ayahandamu tidak. Kau pasti
jadi bupati kelak.”
“Tidak, Bunda, sahaya tidak ingin. Sahaya hanya ingin jadi manusia bebas,
tidak diperintah, tidak memerintah, Bunda. Kepriyayian bukan
duniaku.” (Toer, 2011: 190)
|
Nilai politik dalam novel ini
menggambarkan bahwa politik yaitu segala kegiatan yang diarahkan untuk
memcapai dan mempertahankan kekuasaan dalam masyarakat.
(Ramlan dalam Philipus, 2008: 92)
|
Analisis: Berdasarkan teksnovel “Bumi Manusia” karya Pramoedya Ananta
Toer dengan ilmu politik terdapat persamaan yaitu bahwa budaya korupsi, kolusi,
dan nepotisme (KKN) sudah ada sejak dahulu. Nepotisme terlihat jelas dalam Bumi
Manusia. Minke yang anak seorang bupati sudah digariskan akan menjadi bupati
juga oleh ayahnya. Pram juga menggambarkan kondisi pemerintahan Indonesia pada
saat itu. Ternyata KKN sudah mengakar kuat pada bangsa Indonesia sejak zaman
dahulu.
|
2.
|
“Apa guna belajar ilmu dan pengetahuan Eropa, bergaul
dengan orang Eropa, kalau akhirnya toh harus merangkak, beringsut seperti
keong dan menyembah seorang raja kecil yang barangkali buta huruf pula? Ya
Allah, kau nenek moyang, kau, apa sebab kau ciptakan adat yang menghina
martabat turunanmu begini macam? Mengapa kau sampai hati mewariskan adat
semacam ini?” (Toer, 2011: 179 dan 181)
|
Nilai politik
yang tergambar dalam novel ialah sosial politik. Menurut Maran (2001: 62),
Entitas kultural berbeda menurut periode sejarah dan lokasi-lokasi geografis
ada periode dimana kelompok suku atau etnik yang kecil membentuk entitas
kultural dasar. Dengan demikian tampak adanya korelasi antara hakikat entitas
kultural dan karakter kelompok-kelompok sosial yang mempunyai organisasi
politik yang paling kuat.
|
Analisis:Berdasarkan teksnovel “Bumi Manusia” karya Pramoedya Ananta Toer dengan
ilmu politik terdapat persamaan yaitu Tak hanya harus merendahkan diri,
orang-orang yang berstatus lebih rendah biasanya harus menuruti segala
keinginan orang-orang yang berstatus lebih tinggi dan membuat mereka senang.
Pram mengkritik sikap para pejabat pemerintah dan masyarakat yang pada saat itu
menganut prinsip “asal Bapak senang”.
|
3.
|
“jean Marais: peranan berpindah-pindah, dari generasi ke generasi yang
lain, dari bangsa satu ke bangsa yang lain. Dahulu kulit berwarna menjajah
kulit putih. Sekarng kulit putih memjajah kulit berwarna.” (Toer, 2005: 170)
|
Menurut Kosasih Djahiri, setiap individu tidak dapat lepas dari
kekuasaan, sebab memengaruhi seseorang atau sekelompok orang yang dapat
menampilkan laku seperti yang diinginkan oleh seseorang atau pihak yang memengaruhi.
|
Analisis: Berdasarkan
teksnovel “Bumi Manusia” karya Pramoedya Ananta Toer dengan ilmu politik
terdapat persamaan yaitu Masyarakat dan politik merupakan dua dimensi yang
tidak bisa terpisahkan dan saling memgpengaruhi, seperti kutipan dalam novel
tersebut bahwa peranan dalam masyarakat itu berubah-ubah.
3. PerbedaanTeks Sastra
Novel “Bumi Manusia” Karya Pramoedya Ananta Toer dengan Ilmu Politik
|
No.
|
Teks Sastra Novel “Bumi Manusia”
|
Ilmu Politik
|
|
1.
|
“Kata-katanya
menyakitkan. Ya setiap kali ujud Jawa disakiti orang luar, perasaanku ikut
tersakit. Aku merasa sepenuhnya Jawa. Pada waktu ketidaktahuan dan kebodohan
Jawa disinggah, aku merasa sebagai orang Eropa. Begitulah pesan-pesan yang
menimbulkan banyak pikiran itu aku bawa serta dalam hati, aku bawa serta
dalam kereta cepat, yang membawa aku kembali ke surabaya.”(Toer, 2011: 220)
|
Pada abad
ke-19 Hindia Belanda menerapkan politik etis dengan didirikannya
sekolah-sekolah tidak untuk mencerdaskan orang Indonesia, tetapi disebabkan
oleh kebutuhan Pemerintah Belanda dan pengusaha asing akan pegawai-pegawaI
rendahan yang murah Indonesia yang dijadikan daerah penghasil bahan mentah,
rakyatnya harus tetap bodoh. Rakyat yang bodoh kebutuhannya sedikit.
Kemendikbud (Notosusanto dan Basri).
|
Analisis: Berdasarkan
teksnovel “Bumi Manusia” karya Pramoedya Ananta Toer dengan ilmu politik
terdapat perbedaan yaitu pertentangan antara sosial politik Belanda dengan teks
yang terdapat dalam novel Bumi Manusia. Dalam kutipan disebutkan bahwa Minke
merasa sakit hati ketika ia diolok sebagai orang Jawa rendah dan hina.
D.
PENUTUP
1. Kesimpulan
Perbandingan persamaan dan perbedaan teks sastra novel Bumi
Manusia karya Pramodya Ananta Toer dengan ilmu politik ternyata dapat
diketahui dari berbagai hal, terutama pada kutipan-kutipan yang telah
dianalisis dengan ilmu politik, banyak hal yang perlu kita ketahui dan kita
pelajari untuk menjalani kehidupan masyarat, dan untuk mengetahui kebijakan-kebijakan yang di keluarkan oleh elit politik
atau penguasa (pemerintah) baik dari aspek pendidikan, ekonomi, maupun
aspek-aspek lain dalam kehidupan masyarakat yang langsung mempengaruhi
sendi-sendi kehidupan sosial masayarakat.
2. Saran
Saran
peneliti kepada peneliti lain, setelah penelitian ini diharapkan lebih kreatif
dalam meneliti dan menelaah kajian sastra dengan ilmu politik. Inovasi-inovasi
lain pun diharapkan akan hadir untuk melengkapi penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Toer, Pramoedya
Ananta. 2011. Bumi Manusia. Jakarta Timur:Lentera Dipantara.
Maran, Rafael Raga. 2001. Pengantar Sosiologi Politik.
Jakarta: Rineka Cipta.
Philipus dan Aini, Nurul. 2008. Sosiologi dan Politik.
Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.
Notosusanto Nugroho dan Basri Yusma. 1981. Sejarah
Nasional Indonesia. Jakarta : Masa
Baru.

0 komentar:
Posting Komentar