Selasa, 24 Mei 2016

Perbandingan Teks Sastra Novel Gadis Pantai Karya Pramoedya Ananta Toer Dengan Ilmu Sosial





Perbandingan Teks Sastra Novel Gadis Pantai Karya Pramoedya Ananta Toer Dengan Ilmu Sosial
Oleh: Ahmad Salahuddin Al-Ayubi




A.    PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
            Mendengar kata perempuan, maka pikiran kita akan terkonstruksi pada sosok manusia yang berkulit mulus, berambut panjang, dan bersikap lemah-lembut. Dalam kehidupan sehari-hari yang kita ketahui, dari masa lampau hingga jaman sekarang permasalahan perempuan selalu menjadi topik yang sangat menarik untuk kita perbincangkan, dan pembagian kerja gender sangat jelas dideskripsikan bahwa perempuan biasanya setelah menikah akan dibiarkan terus di dalam rumah, mencuci, memasak, mengurus anak dan melayani suami.
  Salah satu karya sastra yang secara gamblang menggambarkan citra perempuan adalah novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer, novel itu secara garis besar menceritakan citra perempuan melihat kondisi masyarakat di mana wanita mendapatkan berbagai persoalan sulit dalam menjalani kehidupan dan aktivitas karena adanya hukum, aturan, adat istiadat bahkan kodrat yang menjadi belenggu bagi mereka didukung oleh sistem patriarki atau ideologi kekuasaan laki-laki. karena gadis pantai selaku pemeran utama dalam novel tersebut hanya mengabdi dan melayani suaminya, yakni Bendoro salah satu orang terpandang, sekaligus sebagai pemuka agama Islam yang kaya di daerah sekitar tempat ia tumbuh dan berkembang jadi sosok seorang remaja yang elok. Alkisah karena keelokannya itu pula yang memikat hati sang Bendoro untuk memperistrinya di usianya yang masih belia.
Setelah menjadi istri orang pembesar, gadis pantai yang belum melewati masa puber harus rela jadi pelayan dan pengabdi Bendoro, suaminya sendiri. Kebebas-annya direbut oleh sang suami, segala sesuatu harus di bawah keputusan Bendoro, termasuk untuk menemui orang tuanya di kampung Nelayan pun, haruslah seizin Bendoro.
            Berdasarkan hal yang demikian, maka penulis mencoba untuk membandingkan Novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toerdengan kajian ilmu sosial. Sebagai pengembangan dari sastra bandingan versi Amerika. Dalam hal ini diharapkan supaya perempuan sekarang bisa mengerti hak-hak dan kewajiban mereka sebagai perempuan dari pengalaman yang ada di dalam novel tersebut dan bisa mengambil hikmah dari setiap tokoh perempuan yang ada dalam novel tersebut.
2.       Rumusan Masalah
1)      Apa pengertian dari ilmu sosial?
2)      Bagaimana perbandingan teks sastra “gadis pantai” dengan ilmu sosial?

3.       Tujuan
1)      Untuk mengetahui bagaimana citra sosial perempuan dalam novel Gadis Pantai.
2)      Mengetahui persamaan dan perbedaan dalam Novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer.

4.       Objek Penelitian
Objek penelitian ini adalah cerita Novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer dengan ilmu sosial. Karena teks Novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer merupakan karya sastra yang beragama islam. Selain itu, penulis juga merasa ingin belajar tentang kajian islam.
5.       Teori
1) Ilmu Sosial
            Pada zaman Yunani, semua pengetahuan masuk kedalam filsafat alam yang melahirkan ilmu-ilmu alamiah, dan filsafat sosial yang melahirkan ilmu-ilmu sosial.Pada awal abad ke 19 di Eropa Barat terjadi peralihan studi masyarakat dari spekulasi rasional menjadi penelitian empiris yang membuat filsafat terdesak oleh ilmu pengetahuan.
Ilmu sosial yang lahirnya di Eropa kemudian menyebar ke Amerika dan dikembangkan lebih pesat lagi.hasil perkembangan Ilmu sosial kemudian dibandingkan dengan Ilmu sosial yang ada di Eropa. Setelah perang dunia kedua menjadi momentum kemajuan ilmu-ilmu sosial di berbagai wilayah dan mengalami pengujian yang disesuaikan dengan teori dan kondisi sosial setempat. Ilmu sosial merupakan berbagai cara untuk memecahkan masalah melalui aspek-aspek seperti hubungan antar manusia, cara memenuhi kebutuhan materiil, hubungan timbale balik dengan alam, ciptaan akal-budinya, norma dan tata tertib. Ilmu sosial lebih menitikberatkan kepada berbagai kenyataan yang bersama-sama merupakan masalah sosial  yang dapat ditanggapi dengan pendekatan sendiri maupun sebagai pendekatan antar bidang dan adanya keragaman golongan dan kesatuan sosial lain dalam masyarakat yang masing-masing mempunyai kepentingan kebutuhan serta pola pemikiran dan pola tingkah laku sendiri.
Status sosial adalah sekumpulan hak dan kewajian yang dimiliki seseorang dalam masyarakatnya (menurut Ralph Linton). Orang yang memiliki status sosial yang tinggi akan ditempatkan lebih tinggi dalam struktur masyarakat dibandingkan dengan orang yang status sosialnya rendah. Beragamnya orang yang ada di suatu lingkungan akan memunculkan stratifikasi sosial (pengkelas-kelasan) atau diferensiasi sosial (pembeda-bedaan).
Kelas sosial adalah stratifikasi sosial menurut ekonomi (menurut Barger). Ekonomi dalam hal ini cukup luas yaitu meliputi juga sisi pendidikan dan pekerjaan karena pendidikan dan pekerjaan seseorang pada zaman sekarang sangat mempengaruhi kekayaan/ perekonomian individu.
Stratifikasi sosial adalah pengkelasan/penggolongan/pembagian masyarakat secara vertikal atau atas bawah. Contohnya seperti struktur organisasi perusahaan di mana direktur berada pada strata / tingkatan yang jauh lebih tinggi daripada struktur mandor atau supervisor di perusahaan tersebut.
Diferensiasi sosial adalah pengkelasan/penggolongan/pembagian masyarakat secara horisontal atau sejajar. Contohnya seperti pembedaan agama di mana orang yang beragama islam tingkatannya sama dengan pemeluk agama lain seperti agama konghucu, budha, hindu, katolik dan kristen protestan.
Sastra Bandingan:
Sastra Banding (Comparative Literatur e) muncul pertama kali di Perancis tahun 1816 yang diambil dari rangkaian antologi untuk pengajaran sastra yang berjudul Cours de litterature comparee. Di Jerman, istilah ini dipadankan dengan vergleichende Literaturgeschichte yang muncul pada tahun 1854. Sementara itu, istilah comparative literatures muncul di Inggris pada tahun 1848.
Pada awalnya, istilah tersebut menunjuk pada usaha untuk melacak “pengaruh” seorang penulis dari suatu negara atau budaya pada penulis di negara atau budaya lain. Namun, dalam perkembangannya, terdapat kesulitan dalam mencari pengaruh tersebut karena pikiran dan perasaan yang diungkapkan oleh suatu bahasa berbeda dengan pikiran dan perasaan yang dinyatakan dengan bahasa lain. Karena itu pada awalnya, sastra banding hanya dilaksanakan di Eropa. Menurut Sapardi Djoko Damono (2005: 1), sastra bandingan adalah sebuah pendekatan dalam ilmu sastra yang tidak menghasilkan teori sendiri. Dengan kata lain, dalam kajian ini dapat   menggunakan teori apa saja selama masih dapat bersangkutan dengan sastra.


B.     PEMBAHASAN
1.      Deskripsi novel gadis pantai karya Pramoedya Ananta Toer
Gadis Pantai merupakan kisah seorang anak gadis yang lahir dan tumbuh di sebuah kampung nelayan di Jawa Tengah, Kabupaten Rembang, yang kemudian dalam karya satra ini gadis tersebut dinamai Gadis Pantai. Suatu hari pada awal abad duapuluh ketika Gadis Pantai berusia empatbelas tahun, seorang utusan seorang pembesar di keresidenan Jepara Rembang mendatangi tempat kediaman orangtua Gadis Pantai. Dalam waktu hanya beberapa hari saja, utusan tersebut membawa Gadis Pantai, kedua orangtuanya, beserta kepala kampung mereka ke rumah penguasa tersebut. Sejak saat itu Gadis Pantai harus meninggalkan semua yang dikenalnya, dapurnya, suasana kampungnya sendiri dengan bau amis abadinya, jala yang setiap minggu diperbaikinya, layar tua yang tergantung di dapur, dan juga bau laut tanahairnya.
Gadis pantai telah dinikahkan dengan seorang penguasa wilayah setempat yang pada masa itu setiap penguasa residen disebut dengan Bendoro. Tidak seperti pada umumnya pernikahan, Gadis Pantai ketika dinikahkan tidak berhadapan langsung dengan calon suaminya sendiri, melainkan dengan sebilah keris. Sehari setlah menikah, Gadis Pantai akan dibawa ke kota, tempat kediaman Bendoro, penguasa yang telah dinikahinya yang tidak belum pernah dilihatnya seumur hidupnya.
Berbalutkan kain dan kebaya yang tidak pernah dimimpikannya akan ia miliki, seuntai kalung emas tipis dengan gandulan berbentuk jantung yang menghiasi lehernya, dan bedak tebal pada wajahnya, Gadis Pantai berangkat ke kota dengan hati yang gundah dan takut harus pergi meninggalkan semua yang dikenalnya menuju tempat dan sosok yang sama sekali asing. Dua kendaraan berupa delman menjadi alat transportasinya. Ibu, ayah, dan kepala kampung ikut serta.
Setibanya mereka di kediaman Bendoro, hanya kepala kampung yang diijinkan menghadap Bendoro, sedangkan ayah kandungnya sendiri tidak diikutsertakan dalam pembicaraan. Ayah Gadis Pantai dipersilahkan kembali ke kampung pantai setelah mereka menginap semalam dan ibunya menyusul kemudian hanya hitungan beberapa minggu saja. Sejak tiba di kediaman Bendoro yang sangat luas dan terdiri dari beberapa ruang yang luas dengan lorong-lorong yang panjang, Gadis Pantai dilayani seorang bujang wanita paruh baya. Dari bujang paruh baya inilah Gadis Pantai belajar bagaimana bersikap di kediaman tersebut, bagaimana melayani Bendoro, ruangan-ruangan apa saja yang ada rumah besar itu, serta siapa sejumlah anak laki-laki yang sering dilihatnya.
Pada masa itu, seorang bendoro biasa memiliki istri seperti Gadis Pantai, yaitu gadis-gadis yang di bawah derajat ataupun kedudukannya untuk melatih dirinya sendiri menjadi seorang laki-laki atau suami kelak ketika akan menikah dengan wanita yang berasal dari kalangannya sendiri yang sederajat. Gadis-gadis seperti Gadis Pantai hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan biologis para bendoro, yang selanjutnya disebut sebagai Mas Nganten. Ketika seorang Mas Nganten melahirkan seorang bayi, tugas mereka telah selesai. Ia akan diusir dari keresidenan dan bukan lagi sebagai Mas Nganten ataupun istri bendoro. Kalaupun wanita tersebut menjadi bujang di rumah tersebut, wanita itu tetap harus melayani anak mereka sendiri sebagai bendoro kecil. Bayi tersebut akan dibesarkan sebagai anak bendoro sendiri dan akan dididik dan belajar mengaji.
Kegiatan Gadis Pantai di dalam residen tersebut sangat terbatas dan sunyi, ia bekerja hanya untuk melayani dan taat kepada Bendoro. Bujang wanita paruh baya yang sering melayaninya melatih Gadis Pantai untuk siap menerima dan dipakai Bendoro, diajarkannya Gadis Pantai bagaimana bersikap, apa saja yang tidak boleh atau harus diucapkan untuk menyenangkan hati Bendoro. Sosok Bendoro yang halus dan lembut membuat Gadis Pantai menjadi menerima keberadaannya sebagai Mas Nganten Bendoro. Namun keberadaan Bendoro yang sangat jarang membuat Gadis Pantai merasa merindukan Bendoro, suaminya. Pengetahuan yang didapatnya dari bujangnya, membuat Gadis Pantai merasakan cemburu jika ternyata keberadaan Bendoro di kamarnya yang jarang atau Bendoro yang sering keluar residen untuk menemui Mas Nganten-Mas Nganten yang lain ataupun Bendoronya mempunyai Mas Nganten yang baru.
 Suatu peristiwa membuat bujang paruh baya Gadis Pantai diusir dari istana residen dan sebagai gantinya Gadis Pantai dilayani seorang bujang yang masih muda bernama Mardinah. Ketika Gadis Pantai mendapat ijin dari Bendoro untuk mengunjungi orangtuanya di kampung pantai, Bendoro memerintahkan Mardinah sebagai pengiringnya ke kampung halaman. Di kampung pantai, Gadis Pantai mengetahui ternyata Mardinah merupakan utusan seorang bendoro lain untuk membunuh Gadis Pantai, agar Bendoro melupakan Gadis Pantai dan segera memperistri putrinya dan sebagai imbalan akan menjadikan Mardinah sebagai istri kelimanya. Mardinah pun dihukum karena usaha percobaan pembunuhan terhadap Gadis Pantai.
Di usia perkawinannya dengan Bendoro yang ketiga, Gadis Pantai hamil. Ayah Gadis Pantai yang akhirnya mengetahui kedudukan putrinya sebagai Mas Nganten yang ternyata hanya sebagai seorang istri percobaan saja, merasa menyesal dan iba terhadap putrinya. Ketika ayahnya mendatanginya ke kota beberapa bulan setelah kelahiran cucunya, Bendoro menceraikan Gadis Pantai. Bendoro memberikan Gadis Pantai uang pesangon dan memberikan ayahnya uang ganti rugi dan mengusir mereka berdua. Sembilan bulan masa mengandung putrinya, Gadis Pantai merasa sangat sedih harus meninggalkan putrinya yang masih bayi. Ia pun memohon kepada Bendoro untuk dapat membawa serta putrinya karena Bendoro sendiri sudah memiliki banyak anak. Tetapi yang didapat Gadis Pantai adalah pemukulan dan pengusiran secara kasar dari Bendoro.Dalam perjalanan menuju kampung pantai, Gadis Pantai memutuskan untuk tidak kembali ke kampung halamannya karena perasaan malu terhadap orang-orang kampung. Gadis Pantai memutuskan untuk kembali ke kota sebentar dan pergi ke Blora mencari bekas bujang wanitanya yang paruh baya yang dulu diusir oleh Bendoro.
2.      Perbandingan teks sastra “Novel Gadis Pantai Karya Pramoedya Ananta Toer” dengan ilmu sosial.
1)      Persamaan
Teks Sastra Gadis Pantai
Ilmu Sosial
Ia berlutut, membungkuk, berlutut berjalan mundur sampai di pintu ia berhenti sebentar, menebarkan pandang jauh kedepan pada bendoro. (Hal.38)
Menurut Magnis dan Suseno, etika adalah keseluruhan norma dan penilaian yang dipergunakan oleh masyarakat yang bersangkutan untuk mengetahui bagaimana manusia seharusnya menjalankan kehidupannya.

Analisis:
              Terdapat persamaan di dalam teks sastra novel Gadis Pantai dengan Ilmu sosial yang berkaitan dengan tatacara beretika, Dimana teks sastra tersebut memaparkan hubungan antara seorang priyai dengan orang biasa. Maka teks sastra tersebut mengaktualisasi tentang cara beretika seperti orang biasa/memiliki drajat rendah harus menghormati seorang yang memiliki drajat lebih tinggi darinya.

Teks Sastra Gadis Pantai
Ilmu Sosial
Antarkan! Gadis pantai menumbuk lantai dengan kaki sebelah.
Ceh, Ceh, Ceh. Itu tidak layak bagi wanita utama, mas nganten. Wanita utama cukup mengerakkan jari dan semua akan terjadi. Tapi sekarang ini, sahaya inilah yang mengurus mas nganten. (Hal.28)
Menurut Daadang Supardan, Stratifikasi sosial adalah pengkelasan/penggolongan/pembagian masyarakat secara vertikal atau atas bawah. Contohnya seperti struktur organisasi perusahaan di mana direktur berada pada strata/tingkatan yang jauh lebih tinggi daripada struktur mandor atau supervisor di perusahaan tersebut.
Analisis:
Pada teks sasatra Gadis Pantai memiliki kesamaan dengan ilmu sosial, dimana ilmu sosial terdapat Stratifikasi sosial yaitu pengkelasan, penggolongan, dan pembagian masyarakat secara vertikal atau atas bawah, seperti halnya pada teks sastra pada poin ketiga, “Wanita utama cukup mengerakkan jari dan semua akan terjadi. Tapi sekarang ini, sahaya inilah yang mengurus mas nganten”. Maka setiap individu yang berada di kelas/golongan bawa (sahaya) harus menghormati atau melayani orang yang memiliki kelas/golongan atas (bendoro) darinya. Sebaliknya seorang yang memiliki kelas/golongan atas dia hanya bertugas untuk menyuruh agar dilayani orang-orang yang memiliki kelas/golongan bawa.

Perbedaan
Teks Sastra Gadis Pantai
Ilmu Sosial
Hatinya memekik: mengapa aku tak boleh berkawan dengannya? Mengapa ia mesti jadi sahaya bagiku? Siapa aku? Apa kesalaan dia sampai harus jadi sahayaku.(Hal.46)
Menurut Soerjono Soekanto, pengertian kelas sosial hampir sama dengan lapisan sosial tanpa membedakan apakah berdasarkan faktor uang, tanah, atau kekuasaan.
Analisis:
              Pada teks sastra Gadis Pantai tersebut memiliki peredaan dengan ilmu sosial berupa status sosial dimana kelas sosial seorang priyai berbeda dengan seorang sahaya. Hal tersebut terbantahkan oleh pendapat Soerjono Soekanto yang menyatakan bahwa kelas sosial hampir sama dengan lapisan sosial tanpa membedakan apakah berdasarkan faktor uang, tanah, atau kekuasaan.

Teks Sastra Gadis Pantai
Ilmu Sosial
Itulah salahnya, mas nganten, adat priyayi tinggi lagi. Dan ini kota, bukan di tepi pantai.
Ah, lantas apa aku mesti kerjakan di sini? Cuma dua, mas nganten, tidak banyak: mengabdi pada bendoro dan memerinta para sahaya dan semua orang yang ada di sini.(Hal.58)
Menurut Sapriya, Ilmu sosial dasar terdiri dari 8 (delapan) pokok pembahasan.
1. Berbagai masalah kependudukan dalam hubunganya dengan pengembangan masyarakat dan kebudayaan.
2.      Masalah Individu, keluarga dan masyarakat.
3.      Masalah pemuda dan sosialisasi
4.      Masalah hubungan antara Warga Negara dan Negara
5.      Masalah pelapisan sosial dan kesamaan derajat.
6.      Masalah masyarakat perkotaan dan masalah pedesaan.
7.      Masalah pertentangan-pertentangan sosial dan integrasi.
8.      Pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kemakmuran dan keserjahteraan masyarakat
Analisis:
                 Terdapat perbedaan pada teks sastra Gadis Pantai dengan ilmu sosial, karena di dalam teks satra tesebut ada suatu perebedaan kelas sosial yang terjadi antara seorang priyayi dengan seorang sahaya yang mana seorang sahaya harus menghormati dan melakukan apa saja yang diperintahkan bendoro yang memiliki drajat lebih tinggi darinya, selain itu juga terdapat perbedaan kehidupan di desa dengan di kota. seperti pada teks satra berikut, “Ah, lantas apa aku mesti kerjakan di sini? Cuma dua, mas nganten, tidak banyak: mengabdi pada bendoro dan memerinta para sahaya dan semua orang yang ada di sini.”

C.    PENUTUP
1.      Simpulan
           Dari uraian pada Bab I dan II, dapat di ambil kesimpulan bahwa Menggambarkan tentang tokoh utama yaitu seorang perempuan yang berasal dari wilayah pesisir atau wilayah pantai, pedesaan pinggir pantai yang masih sangat terpencil, jauh dari peradaban kota dan hirup pikuk keramaian. Dan kehidupan baru si Gadis Pantai yang menjadi istri dari keturunan ningrat, yang dalam kenyataannya seorang ningrat tidak pernah di anggap sah menikah, ketika mereka menikah bukan dengan perempuan yang sederajat dengan nya. Di istana si Gadis Pantai bertemu dengan berbagai aturan-aturan dan adat istiadat istana.
            Terdapat perbedaan antara golongan/kelas sosial yang terjadi pada masyarakat yakni perilaku atau perbuatan seorang sahaya/ bujang harus sopan dan menjaga etikanya ketika bertemu atau mengahadap priyayi yang derajatnya lebih tinggi.
Daftar Pustaka

Sapriya. 2009. Pendidikan IPS. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset
Soelaeman, M.Munandar. 1986. Imu Sosial Dasar:Teori dan Konsep Ilmu Sosial. Refika Aditama: Bandung.
Supardan, Dadang. (2009). Pengantar Ilmu Sosial. Bandung. PT Bumi Aksara.
Rifal Nurkholiq Rifal Nurkholiq Updated at : 9/19/2015
Cheppy, H.C.(tt). Strategi Ilmu Pengetahuan Sosial. Surabaya Karya Anda.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Rhifaery's Room Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang