Perbandingan Teks Sastra Novel Gadis Pantai Karya Pramoedya Ananta Toer Dengan Ilmu Sosial
Oleh: Ahmad Salahuddin Al-Ayubi
A.
PENDAHULUAN
1. Latar
Belakang
Mendengar kata perempuan, maka
pikiran kita akan terkonstruksi pada sosok manusia yang berkulit mulus,
berambut panjang, dan bersikap lemah-lembut. Dalam kehidupan sehari-hari yang
kita ketahui, dari masa lampau hingga jaman sekarang permasalahan perempuan
selalu menjadi topik yang sangat menarik untuk kita perbincangkan, dan
pembagian kerja gender sangat jelas dideskripsikan bahwa perempuan biasanya
setelah menikah akan dibiarkan terus di dalam rumah, mencuci, memasak, mengurus
anak dan melayani suami.
Salah satu karya sastra yang secara gamblang
menggambarkan citra perempuan adalah novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta
Toer, novel itu secara garis besar menceritakan citra perempuan melihat kondisi
masyarakat di mana wanita mendapatkan berbagai persoalan sulit dalam menjalani
kehidupan dan aktivitas karena adanya hukum, aturan, adat istiadat bahkan
kodrat yang menjadi belenggu bagi mereka didukung oleh sistem patriarki atau
ideologi kekuasaan laki-laki. karena gadis pantai selaku pemeran utama dalam novel
tersebut hanya mengabdi dan melayani suaminya, yakni Bendoro salah satu orang terpandang, sekaligus sebagai pemuka agama
Islam yang kaya di daerah sekitar tempat ia tumbuh dan berkembang jadi sosok
seorang remaja yang elok. Alkisah karena keelokannya itu pula yang memikat hati
sang Bendoro untuk memperistrinya di usianya yang masih belia.
Setelah
menjadi istri orang pembesar, gadis pantai yang belum melewati masa puber harus
rela jadi pelayan dan pengabdi Bendoro, suaminya sendiri. Kebebas-annya direbut
oleh sang suami, segala sesuatu harus di bawah keputusan Bendoro, termasuk
untuk menemui orang tuanya di kampung Nelayan pun, haruslah seizin Bendoro.
Berdasarkan hal yang demikian, maka
penulis mencoba untuk membandingkan Novel Gadis Pantai
karya Pramoedya Ananta Toerdengan kajian ilmu sosial. Sebagai
pengembangan dari sastra bandingan versi Amerika. Dalam hal
ini diharapkan supaya perempuan sekarang bisa mengerti hak-hak dan kewajiban
mereka sebagai perempuan dari pengalaman yang ada di dalam novel tersebut dan
bisa mengambil hikmah dari setiap tokoh perempuan yang ada dalam novel
tersebut.
2. Rumusan Masalah
1) Apa
pengertian dari ilmu sosial?
2) Bagaimana
perbandingan teks sastra “gadis pantai” dengan ilmu sosial?
3.
Tujuan
1)
Untuk mengetahui bagaimana citra sosial perempuan
dalam novel Gadis Pantai.
2)
Mengetahui persamaan dan perbedaan
dalam Novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer.
4.
Objek Penelitian
Objek
penelitian ini adalah cerita Novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer
dengan ilmu sosial. Karena teks Novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer merupakan
karya sastra yang beragama islam. Selain itu, penulis juga merasa ingin belajar
tentang kajian islam.
5. Teori
1) Ilmu Sosial
Pada zaman Yunani, semua pengetahuan
masuk kedalam filsafat alam yang melahirkan ilmu-ilmu alamiah, dan filsafat
sosial yang melahirkan ilmu-ilmu sosial.Pada awal abad ke 19 di Eropa Barat
terjadi peralihan studi masyarakat dari spekulasi rasional menjadi penelitian
empiris yang membuat filsafat terdesak oleh ilmu pengetahuan.
Ilmu sosial yang lahirnya di Eropa
kemudian menyebar ke Amerika dan dikembangkan lebih pesat lagi.hasil
perkembangan Ilmu sosial kemudian dibandingkan dengan Ilmu sosial yang ada di
Eropa. Setelah perang dunia kedua menjadi momentum kemajuan ilmu-ilmu sosial di
berbagai wilayah dan mengalami pengujian yang disesuaikan dengan teori dan
kondisi sosial setempat. Ilmu sosial merupakan berbagai cara untuk memecahkan
masalah melalui aspek-aspek seperti hubungan antar manusia, cara memenuhi
kebutuhan materiil, hubungan timbale balik dengan alam, ciptaan akal-budinya,
norma dan tata tertib. Ilmu sosial lebih menitikberatkan kepada berbagai
kenyataan yang bersama-sama merupakan masalah sosial yang dapat ditanggapi dengan pendekatan
sendiri maupun sebagai pendekatan antar bidang dan adanya keragaman golongan
dan kesatuan sosial lain dalam masyarakat yang masing-masing mempunyai
kepentingan kebutuhan serta pola pemikiran dan pola tingkah laku sendiri.
Status
sosial adalah sekumpulan hak dan kewajian yang dimiliki seseorang dalam
masyarakatnya (menurut Ralph Linton). Orang yang memiliki status sosial yang
tinggi akan ditempatkan lebih tinggi dalam struktur masyarakat dibandingkan
dengan orang yang status sosialnya rendah. Beragamnya orang yang ada di suatu
lingkungan akan memunculkan stratifikasi sosial (pengkelas-kelasan) atau
diferensiasi sosial (pembeda-bedaan).
Kelas sosial
adalah stratifikasi sosial menurut ekonomi (menurut Barger). Ekonomi dalam hal
ini cukup luas yaitu meliputi juga sisi pendidikan dan pekerjaan karena
pendidikan dan pekerjaan seseorang pada zaman sekarang sangat mempengaruhi
kekayaan/ perekonomian individu.
Stratifikasi
sosial adalah pengkelasan/penggolongan/pembagian masyarakat secara vertikal
atau atas bawah. Contohnya seperti struktur organisasi perusahaan di mana
direktur berada pada strata / tingkatan yang jauh lebih tinggi daripada
struktur mandor atau supervisor di perusahaan tersebut.
Diferensiasi
sosial adalah pengkelasan/penggolongan/pembagian masyarakat secara horisontal
atau sejajar. Contohnya seperti pembedaan agama di mana orang yang beragama
islam tingkatannya sama dengan pemeluk agama lain seperti agama konghucu, budha,
hindu, katolik dan kristen protestan.
Sastra
Bandingan:
Sastra Banding (Comparative Literatur e) muncul
pertama kali di Perancis tahun 1816 yang diambil dari rangkaian antologi untuk
pengajaran sastra yang berjudul Cours de litterature comparee. Di
Jerman, istilah ini dipadankan dengan vergleichende Literaturgeschichte
yang muncul pada tahun 1854. Sementara itu, istilah comparative literatures
muncul di Inggris pada tahun 1848.
Pada awalnya, istilah tersebut menunjuk pada usaha untuk
melacak “pengaruh” seorang penulis
dari suatu negara atau budaya pada penulis di negara atau budaya lain. Namun,
dalam perkembangannya, terdapat kesulitan dalam mencari pengaruh tersebut
karena pikiran dan perasaan yang diungkapkan oleh suatu bahasa berbeda dengan pikiran
dan perasaan yang dinyatakan dengan bahasa lain. Karena itu pada awalnya,
sastra banding hanya dilaksanakan di Eropa. Menurut Sapardi Djoko Damono (2005:
1), sastra bandingan adalah sebuah pendekatan dalam ilmu sastra yang tidak
menghasilkan teori sendiri. Dengan kata lain, dalam kajian ini dapat menggunakan teori apa saja selama masih
dapat bersangkutan dengan sastra.
B.
PEMBAHASAN
1. Deskripsi
novel gadis pantai karya Pramoedya Ananta Toer
Gadis Pantai merupakan kisah seorang anak gadis yang lahir dan tumbuh
di sebuah kampung nelayan di Jawa Tengah, Kabupaten Rembang, yang kemudian
dalam karya satra ini gadis tersebut dinamai Gadis Pantai. Suatu hari pada awal
abad duapuluh ketika Gadis Pantai berusia empatbelas tahun, seorang utusan
seorang pembesar di keresidenan Jepara Rembang mendatangi tempat kediaman
orangtua Gadis Pantai. Dalam waktu hanya beberapa hari saja, utusan tersebut
membawa Gadis Pantai, kedua orangtuanya, beserta kepala kampung mereka ke rumah
penguasa tersebut. Sejak saat itu Gadis Pantai harus meninggalkan semua yang
dikenalnya, dapurnya, suasana kampungnya sendiri dengan bau amis abadinya, jala
yang setiap minggu diperbaikinya, layar tua yang tergantung di dapur, dan juga
bau laut tanahairnya.
Gadis pantai telah dinikahkan dengan seorang penguasa wilayah setempat
yang pada masa itu setiap penguasa residen disebut dengan Bendoro. Tidak
seperti pada umumnya pernikahan, Gadis Pantai ketika dinikahkan tidak
berhadapan langsung dengan calon suaminya sendiri, melainkan dengan sebilah
keris. Sehari setlah menikah, Gadis Pantai akan dibawa ke kota, tempat kediaman
Bendoro, penguasa yang telah dinikahinya yang tidak belum pernah dilihatnya
seumur hidupnya.
Berbalutkan kain dan kebaya yang tidak pernah dimimpikannya akan ia
miliki, seuntai kalung emas tipis dengan gandulan berbentuk jantung yang
menghiasi lehernya, dan bedak tebal pada wajahnya, Gadis Pantai berangkat ke
kota dengan hati yang gundah dan takut harus pergi meninggalkan semua yang
dikenalnya menuju tempat dan sosok yang sama sekali asing. Dua kendaraan berupa
delman menjadi alat transportasinya. Ibu, ayah, dan kepala kampung ikut serta.
Setibanya mereka di kediaman Bendoro, hanya kepala kampung yang
diijinkan menghadap Bendoro, sedangkan ayah kandungnya sendiri tidak
diikutsertakan dalam pembicaraan. Ayah Gadis Pantai dipersilahkan kembali ke
kampung pantai setelah mereka menginap semalam dan ibunya menyusul kemudian
hanya hitungan beberapa minggu saja. Sejak tiba di kediaman Bendoro yang sangat
luas dan terdiri dari beberapa ruang yang luas dengan lorong-lorong yang
panjang, Gadis Pantai dilayani seorang bujang wanita paruh baya. Dari bujang
paruh baya inilah Gadis Pantai belajar bagaimana bersikap di kediaman tersebut,
bagaimana melayani Bendoro, ruangan-ruangan apa saja yang ada rumah besar itu,
serta siapa sejumlah anak laki-laki yang sering dilihatnya.
Pada masa itu, seorang bendoro biasa memiliki istri seperti Gadis
Pantai, yaitu gadis-gadis yang di bawah derajat ataupun kedudukannya untuk
melatih dirinya sendiri menjadi seorang laki-laki atau suami kelak ketika akan
menikah dengan wanita yang berasal dari kalangannya sendiri yang sederajat.
Gadis-gadis seperti Gadis Pantai hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan biologis
para bendoro, yang selanjutnya disebut sebagai Mas Nganten. Ketika seorang Mas
Nganten melahirkan seorang bayi, tugas mereka telah selesai. Ia akan diusir
dari keresidenan dan bukan lagi sebagai Mas Nganten ataupun istri bendoro.
Kalaupun wanita tersebut menjadi bujang di rumah tersebut, wanita itu tetap
harus melayani anak mereka sendiri sebagai bendoro kecil. Bayi tersebut akan
dibesarkan sebagai anak bendoro sendiri dan akan dididik dan belajar mengaji.
Kegiatan Gadis Pantai di dalam residen tersebut sangat terbatas dan
sunyi, ia bekerja hanya untuk melayani dan taat kepada Bendoro. Bujang wanita
paruh baya yang sering melayaninya melatih Gadis Pantai untuk siap menerima dan
dipakai Bendoro, diajarkannya Gadis Pantai bagaimana bersikap, apa saja yang
tidak boleh atau harus diucapkan untuk menyenangkan hati Bendoro. Sosok Bendoro
yang halus dan lembut membuat Gadis Pantai menjadi menerima keberadaannya
sebagai Mas Nganten Bendoro. Namun keberadaan Bendoro yang sangat jarang
membuat Gadis Pantai merasa merindukan Bendoro, suaminya. Pengetahuan yang
didapatnya dari bujangnya, membuat Gadis Pantai merasakan cemburu jika ternyata
keberadaan Bendoro di kamarnya yang jarang atau Bendoro yang sering keluar
residen untuk menemui Mas Nganten-Mas Nganten yang lain ataupun Bendoronya
mempunyai Mas Nganten yang baru.
Suatu peristiwa membuat bujang
paruh baya Gadis Pantai diusir dari istana residen dan sebagai gantinya Gadis
Pantai dilayani seorang bujang yang masih muda bernama Mardinah. Ketika Gadis
Pantai mendapat ijin dari Bendoro untuk mengunjungi orangtuanya di kampung
pantai, Bendoro memerintahkan Mardinah sebagai pengiringnya ke kampung halaman.
Di kampung pantai, Gadis Pantai mengetahui ternyata Mardinah merupakan utusan
seorang bendoro lain untuk membunuh Gadis Pantai, agar Bendoro melupakan Gadis
Pantai dan segera memperistri putrinya dan sebagai imbalan akan menjadikan
Mardinah sebagai istri kelimanya. Mardinah pun dihukum karena usaha percobaan
pembunuhan terhadap Gadis Pantai.
Di usia perkawinannya dengan Bendoro yang ketiga, Gadis Pantai hamil.
Ayah Gadis Pantai yang akhirnya mengetahui kedudukan putrinya sebagai Mas
Nganten yang ternyata hanya sebagai seorang istri percobaan saja, merasa
menyesal dan iba terhadap putrinya. Ketika ayahnya mendatanginya ke kota
beberapa bulan setelah kelahiran cucunya, Bendoro menceraikan Gadis Pantai.
Bendoro memberikan Gadis Pantai uang pesangon dan memberikan ayahnya uang ganti
rugi dan mengusir mereka berdua. Sembilan bulan masa mengandung putrinya, Gadis
Pantai merasa sangat sedih harus meninggalkan putrinya yang masih bayi. Ia pun
memohon kepada Bendoro untuk dapat membawa serta putrinya karena Bendoro
sendiri sudah memiliki banyak anak. Tetapi yang didapat Gadis Pantai adalah
pemukulan dan pengusiran secara kasar dari Bendoro.Dalam perjalanan menuju
kampung pantai, Gadis Pantai memutuskan untuk tidak kembali ke kampung
halamannya karena perasaan malu terhadap orang-orang kampung. Gadis Pantai
memutuskan untuk kembali ke kota sebentar dan pergi ke Blora mencari bekas
bujang wanitanya yang paruh baya yang dulu diusir oleh Bendoro.
2. Perbandingan
teks sastra “Novel Gadis Pantai Karya Pramoedya Ananta Toer” dengan ilmu
sosial.
1) Persamaan
Teks Sastra Gadis
Pantai
|
Ilmu Sosial
|
Ia berlutut, membungkuk, berlutut
berjalan mundur sampai di pintu ia berhenti sebentar, menebarkan pandang jauh
kedepan pada bendoro. (Hal.38)
|
Menurut
Magnis dan Suseno, etika adalah keseluruhan norma dan penilaian yang
dipergunakan oleh masyarakat yang bersangkutan untuk mengetahui bagaimana
manusia seharusnya menjalankan kehidupannya.
|
Analisis:
Terdapat persamaan di dalam
teks sastra novel Gadis Pantai dengan Ilmu sosial yang berkaitan dengan
tatacara beretika, Dimana teks sastra tersebut memaparkan hubungan antara
seorang priyai dengan orang biasa. Maka teks sastra tersebut mengaktualisasi
tentang cara beretika seperti orang biasa/memiliki drajat rendah harus
menghormati seorang yang memiliki drajat lebih tinggi darinya.
|
|
Teks Sastra Gadis
Pantai
|
Ilmu Sosial
|
Antarkan!
Gadis pantai menumbuk lantai dengan kaki sebelah.
Ceh,
Ceh, Ceh. Itu tidak layak bagi wanita utama, mas nganten. Wanita utama cukup
mengerakkan jari dan semua akan terjadi. Tapi sekarang ini, sahaya inilah
yang mengurus mas nganten. (Hal.28)
|
Menurut Daadang Supardan, Stratifikasi sosial adalah
pengkelasan/penggolongan/pembagian masyarakat secara vertikal atau atas
bawah. Contohnya seperti struktur organisasi perusahaan di mana direktur
berada pada strata/tingkatan yang jauh lebih tinggi daripada struktur mandor
atau supervisor di perusahaan tersebut.
|
Analisis:
Pada
teks sasatra Gadis Pantai memiliki kesamaan dengan ilmu sosial, dimana ilmu
sosial terdapat Stratifikasi sosial yaitu pengkelasan, penggolongan,
dan pembagian masyarakat secara vertikal atau atas bawah,
seperti halnya pada teks sastra pada poin ketiga, “Wanita utama cukup
mengerakkan jari dan semua akan terjadi. Tapi sekarang ini, sahaya inilah
yang mengurus mas nganten”. Maka setiap individu yang berada di kelas/golongan
bawa (sahaya) harus menghormati atau melayani orang yang memiliki
kelas/golongan atas (bendoro) darinya. Sebaliknya seorang yang memiliki
kelas/golongan atas dia hanya bertugas untuk menyuruh agar dilayani
orang-orang yang memiliki kelas/golongan bawa.
|
|
Perbedaan
Teks Sastra Gadis
Pantai
|
Ilmu Sosial
|
Hatinya
memekik: mengapa aku tak boleh berkawan dengannya? Mengapa ia mesti jadi
sahaya bagiku? Siapa aku? Apa kesalaan dia sampai harus jadi
sahayaku.(Hal.46)
|
Menurut
Soerjono Soekanto, pengertian kelas sosial hampir sama dengan lapisan sosial
tanpa membedakan apakah berdasarkan faktor uang, tanah, atau kekuasaan.
|
Analisis:
Pada teks sastra Gadis Pantai
tersebut memiliki peredaan dengan ilmu sosial berupa status sosial dimana
kelas sosial seorang priyai berbeda dengan seorang sahaya. Hal tersebut
terbantahkan oleh pendapat Soerjono
Soekanto yang menyatakan bahwa kelas sosial hampir sama dengan lapisan
sosial tanpa membedakan apakah berdasarkan faktor uang, tanah, atau
kekuasaan.
|
|
Teks Sastra Gadis
Pantai
|
Ilmu Sosial
|
Itulah
salahnya, mas nganten, adat priyayi tinggi lagi. Dan ini kota, bukan di tepi
pantai.
Ah,
lantas apa aku mesti kerjakan di sini? Cuma dua, mas nganten, tidak banyak:
mengabdi pada bendoro dan memerinta para sahaya dan semua orang yang ada di
sini.(Hal.58)
|
Menurut
Sapriya, Ilmu sosial dasar terdiri dari 8 (delapan) pokok pembahasan.
1. Berbagai
masalah kependudukan dalam hubunganya dengan pengembangan masyarakat dan
kebudayaan.
2. Masalah
Individu, keluarga dan masyarakat.
3. Masalah
pemuda dan sosialisasi
4. Masalah
hubungan antara Warga Negara dan Negara
5. Masalah
pelapisan sosial dan kesamaan derajat.
6. Masalah
masyarakat perkotaan dan masalah pedesaan.
7. Masalah
pertentangan-pertentangan sosial dan integrasi.
8. Pemanfaatan
ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kemakmuran dan keserjahteraan masyarakat
|
Analisis:
Terdapat perbedaan pada teks
sastra Gadis Pantai dengan ilmu sosial, karena di dalam teks satra tesebut
ada suatu perebedaan kelas sosial yang terjadi antara seorang priyayi dengan
seorang sahaya yang mana seorang sahaya harus menghormati dan melakukan apa
saja yang diperintahkan bendoro yang memiliki drajat lebih tinggi darinya,
selain itu juga terdapat perbedaan kehidupan di desa dengan di kota. seperti
pada teks satra berikut, “Ah, lantas apa aku mesti kerjakan di sini? Cuma
dua, mas nganten, tidak banyak: mengabdi pada bendoro dan memerinta para
sahaya dan semua orang yang ada di sini.”
|
|
C. PENUTUP
1. Simpulan
Dari uraian pada Bab I dan II, dapat di ambil
kesimpulan bahwa Menggambarkan tentang tokoh utama yaitu seorang
perempuan yang berasal dari wilayah pesisir atau wilayah pantai, pedesaan
pinggir pantai yang masih sangat terpencil, jauh dari peradaban kota dan hirup
pikuk keramaian. Dan kehidupan baru si Gadis Pantai yang menjadi istri dari
keturunan ningrat, yang dalam kenyataannya seorang ningrat tidak pernah di
anggap sah menikah, ketika mereka menikah bukan dengan perempuan yang sederajat
dengan nya. Di istana si Gadis Pantai bertemu dengan berbagai aturan-aturan dan
adat istiadat istana.
Terdapat
perbedaan antara golongan/kelas sosial yang terjadi pada masyarakat yakni perilaku
atau perbuatan seorang sahaya/ bujang harus sopan dan menjaga etikanya ketika
bertemu atau mengahadap priyayi yang derajatnya lebih tinggi.
Daftar
Pustaka
Sapriya. 2009. Pendidikan
IPS. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset
Soelaeman, M.Munandar. 1986. Imu Sosial Dasar:Teori dan Konsep Ilmu Sosial. Refika Aditama:
Bandung.
Supardan,
Dadang. (2009). Pengantar Ilmu Sosial. Bandung. PT Bumi Aksara.
Cheppy,
H.C.(tt). Strategi Ilmu Pengetahuan Sosial. Surabaya Karya Anda.

0 komentar:
Posting Komentar