Selasa, 24 Mei 2016

Perbandingan Teks Sastra Novel Laila Majnun Karya Syeik Nizami dengan Novel Siti Nurbaya Karya Marah Rusli




Perbandingan Teks Sastra Novel Laila Majnun Karya Syeik Nizami  dengan Novel Siti Nurbaya Karya Marah Rusli
Oleh: Anis Syarofatun Nisa



    A. PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
            Karya sastra sebagai cerminan kehidupan masyarakat, merupakan dunia subjektivi­tas yang diciptakan oleh pengarang yang di dalamnya terdapat  berbagai aspek kehidupan yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Aspek kehidupan tersebut berupa aspek sosiolologis, psikologis, filsafat, budaya, dan agama. Keberadaan karya sastra tidak dapat dilepaskan dari diri pengarang sebagai bagian dari anggota suatu masyarakat. Sehingga dalam penciptaannya, pengarang tidak dapat terlepas dari lingkungan sosial budaya yang melatarinya.
            Aliran sastra bandingan terbagi ke dalam aliran Prancis dan aliran Amerika. Kedua aliran sepakat bahwa sastra bandingan merupakan kajian satra di luar batas sebuah negara. Akan tetapi, Aliran Prancis menganggap bahwa hubungan sastra dengan disiplin lain bukanlah sastra bandingan, melainkan seni bandingan.
            Sastra bandingan tidaklah  mencakup karya-karya yang mendapat pengakuan sejagat (universal) tentang kualitas karyanya, karena kajian sastra bandingan sering kali berkenaan dengan penulis-penulis ternama yang mewakili suatu zaman. Namun, kajian penulis baru yang belum mendapat pengakuan dunia pun, masih terklasifikasi dalam sastra bandingan.
            Kajian sastra banding ini mempunyai manfaat yang cukup berpengaruh besar pada lingkungan nasional secara global. Kajian ini mengarah pada penelaahan antara sastra asing dengan sastra Umum. Manfaat ini juga dituju dari segi kefanatikan kebahasaan yang sering menimbulkan banyak masalah, dan dari segi fungsi-fungsi studi sastra banding sebenarnya menjadikan pembelajaran tentang kebiasaan khusus atas perbedaan antara apa itu nasional yang melekat dan pendatang yang menyulusup dan dari segi pemikiran dan kebudayaan.
            Menurut Sapardi Djoko Damono (dalam Robert Escarpit, 2005: viii), sastra adalah kristalisasi keyakinan nilai-nilai dan norma-norma yang disepakati masyarakat, setidaknya begitulah yang terjadi di masa lampau ketika kepengarangan tidak dimasalahkan dan berbagai jenis tradisi lisan dimiliki beramai-ramai oleh masyarakat, tidak individu
            Berdasarkan hal yang demikian, maka penulis membandingkan Novel Siti Nurbaya Karya Marah Rusli  terhadap NovelLayla Majnun Karya Syaikh Nizami. Lalu penulis akan membandingkan, dan mencari pembelajaran atas pengaruh hal yang demikian.

2.      Rumusan Masalah
1.      Bagaimanakah persamaan unsur intrinsik dalam Novel Layla Majnun Karya Syaikh Nizam terhadap NovelSiti Nurbaya Karya Marah Rusli?
2.      Bagaimanakah perbedaan Novel NovelLayla Majnun Karya Syaikh Nizami terhadap Novel Siti Nurbaya Karya Marah Rusli?

3.      Manfaat Penelitian
a. Manfaat Praktis
Secara praktis penelitian ini mempunyai manfaat sebagai berikut
1)        Bagi peneliti, penelitian ini dapat memperkaya wawasan sastra dan menambah khasanahan penelitian  sastra indonesia yang bermanfaat bagi perkembangan sastra indonesia.
2)      Bagi pembaca, penelitian ini dapat menambah minat baca dalam mengapresiasiasikan karya sastra, serta menambah pengetahuan tentang sastra.
b.      Manfaat teoritis
Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan memahami karya sastra.

4.      Objek Penelitian
Objek penelitian ini ialah cerita Novel Layla-Majnun karya Syaikh Nizami dengan noveln.
Siti Nurbaya Karya Marah Rusli

5.      Teori
Sastra Bandingan:
            Sastra Banding (Comparative Literature) muncul pertama kali di Perancis tahun 1816 yang diambil dari rangkaian antologi untuk pengajaran sastra yang berjudul Cours de litterature comparee. Di Jerman, istilah ini dipadankan dengan vergleichende Literaturgeschichte yang muncul pada tahun 1854. Sementara itu, istilah comparative literatures muncul di Inggris pada tahun 1848.
Pada awalnya, istilah tersebut menunjuk pada usaha untuk melacak “pengaruh” seorang penulis dari suatu negara atau budaya pada penulis di negara atau budaya lain. Namun, dalam perkembangannya, terdapat kesulitan dalam mencari pengaruh tersebut karena pikiran dan perasaan yang diungkapkan oleh suatu bahasa berbeda dengan pikiran dan perasaan yang dinyatakan dengan bahasa lain. Karena itu pada awalnya, sastra banding hanya dilaksanakan di Eropa.
            Menurut Sapardi Djoko Damono (2005: 1), sastra bandingan adalah sebuah pendekatan dalam ilmu sastra yang tidak menghasilkan teori sendiri. Dengan kata lain, dalam kajian ini dapat   menggunakan teori apa saja selama masih dapat bersangkutan dengan sastra.
            Pengertian lain tentang sastra banding diajukan oleh Wellek yang mengemukakan tiga cakupan makna. Pertama, sastra banding berarti studi yang berkaitan dengan sastra oral, terutama tema-tema cerita rakyat (folk-tale) dan migrasinya dan tentang bagaimana dan kapan tema-tema tersebut memasuki sastra yang “artistik” dan “lebih tinggi”.Kedua, sastra banding membatasi pada studi tentang hubungan antara dua karya sastra atau lebih. Dalam hal ini, fokus kajian lebih diarahkan pada pengaruh seorang penulis terhadap penulis lainnya. Ketiga, sastra banding harus dibedakan dari sastra dunia (world literature) atau sastra universal/umum. Sastra dunia diharapkan merupakan unifikasi dari seluruh karya sastra di dunia yang didalamnya semua karya sastra dapat berperan. Namun dalam kenyataannya, hal ini berubah makna karena sastra dunia ternyata menunjuk pada karya-karya besar Eropa, seperti karya-karya Homer, Cervantes, Dante, Shakespeare dan Goethe.
            Sementara itu, menurut Rene Wellek dan Austin Warren ada tiga pengertian mengenai sastra bandingan. Pertama, penelitian sastra lisan, terutama tema cerita rakyat dan penyebarannya. Kedua, penyelidikan mengenai hubungan antara dua atau lebih karya sastra, yang menjadi bahan dan objek penyelidikannya, di antaranya, soal reputasi dan penetrasi, pengaruh dan kemasyhuran karya besar. Ketiga, penelitian sastra dalam.
Teori Struktural:
            Pendekatan struktural dipelopori oieh kaum formalis Rusia dan strukturalisme. Ia mendapat pengaruh langsung dari teori Saussur yang mengubah studi linguistik dari pendekatan daikronis ke singkronis. Masalah unsur dan hubungan antara unsure merupakan hal yang penting dalam pendekatan struktur. Sebuah karya sastra menurut kaum struktualisme adalah sebuah totalitaas yang di bangun secara koherensif oleh berbagai unsur (Nurgiantoro, 1994: 36).
 Adapun cara menganalisis novel ini melalui pendekatan strukturalisme. Pendekatan ini dipandang lebih obyektif karena hanya berdasarkan sastra itu sendiri. Tanpa campur tangan unsur lain, karya sastra tersebut akan dilihat sebagaimana cipta estetis (Suwardi, 2011:51 ).
Struktur berasal dari kata structura (bahasa latin) yang berarti bentuk atau bangunan. Strukturalisme berarti paham mengenai unsur-unsur yaitu struktur itu sendiri dengan mekanisme antar hubungannya, Hubungan unsur yang satu dengan yang lainnya, dan hubungan antar unsur dengan totalitasnya. Strukturalisme sering digunakan oleh peneliti untuk menganalisis seluruh karya sastra, dimana kita harus memperhatikan unsur-unsur yang terkandung dalam karya sastra tersebut. Struktur yang membangun sebuah karya sastra sebagai unsur estetika dalam dunia karya sastra antara lain: alur, penokohan, sudut pandang, gaya bahasa, tema dan amanat (Ratna, 2004 : 19-94).
Pendekatan strukturalisme murni hanya berada di seputar karya sastra itu sendiri. Prinsipnya jelas : analisis struktural bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat, seteliti, sedetail, dan mendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan makna menyeluruh ( Teeuw, 1984:135 ).
Dalam lingkup karya fiksi, Stanton ( 1965: 11-36, dalam Drs. Tirto Suwondo, Metodologi Penelitian Sastra, 2001:56 ) mendeskripsikan unsur-unsur struktur karya sastra seperti berikut. Unsur-unsur pembangun struktur terdiri atas tema, fakta cerita, dan sarana sastra. Fakta cerita itu sendiri terdiri atas alur, tokoh, dan latar; sedangkan sarana sastra biasanya terdiri atas sudut pandang, gaya bahasa dan suasana, simbol-simbol, imaji-imaji, dan juga cara-cara pemilihan judul. Di dalam karya sastra, fungsi sarana sastra adalah memadukan fakta sastra dengan tema sehingga makna karya sastra itu dapat dipahami dengan jelas.
Oleh karena itu, saya menganalisis novel Layla Majnun dan siti nurbaya dengan menggunakan beberapa unsur intrinsik, yaitu : tema, alur, tokoh, penokohan, setting atau latar, dan sudut pandang.  Penjelasannya akan saya sajikan per bagian agar jelas dan dapat dipahami.


B.     PEMBAHASAN
1.      Deskripsi Novel yang dibandingkan
1)      Sinopsis Novel Laila Majnun Karya Sheikh Nizami
     “Layla-Majnun” Qays bin Al Mulawwah merupakan tokoh sentral dalam novel ini, bukanlah tokoh fiktif, ia memang benar-benar hidup pada masa Bani Umayyah, sepeninggal Qays kisah cinta Qays dengan Layla tersebar dari mulut ke mulut dalam bentuk syair dalam berbagai versi, kemudian Dalam versi Nizami Qays dan Layla sama-sama jatuh cinta ketika keduanya bertemu disekolah tempat mereka menuntut ilmu bersama kisah ini diawali oleh perasaan cinta yang menggila dari seorang pemuda tampan yang terkenal dikawasan bani Amir Jazirah Arab, bernama Qays. Ia mencintai Layla dan Laila pun sama, mereka menjalin kisah cinta secara sembunyi karena pada waktu itu mereka belum saatnya untuk memadu cinta tapi seiring berjalannya waktu kisah mereka tidak bisa disembunyikan lagi, semua orang pada tau bahkan keluarganya yang pada akhirnya mereka tidak bisa bertemu lagi. Dalam perjalanan, Layla dinikahkan secara paksa oleh ayahnya dengan lelaki yang bernama Ibnu Salam. Namun dia tidak bisa menjamah kegadisan Layla, yang selalu setia kepada Qais hingga akhir hayatnya, Lama tidak bertemu qais tidak kuat menahan rasa cinta yang seperti bara, iapun seperti gila, bertingkah dan berpenampilan aneh hingga orang-orang memanggilnya majnun. Dari rasa kecintaannya yang mendalam majnun mendapat berita bahwa Layla menikah dan kabar buruk lain yang lain berita ayahnya yang meninggal, kemudian tidak lama setelah itu sang Ibu tercintapun mengikuti jejak ayahnya. Inilah puncak kesedihan, hingga suatu peristiwa yang membuat hati terluka ketika majnun mendengar sang kekasih meninggal dunia lalu majnun mengunjungi makam Layla Lalu menangis dan menjerit. Ia memeluk kuburan Layla hingga Majnu menghembuskan nafas terakhirnya diatas kuburan Layla.Syaikh Nizami (1141-1209) pada tahun 1188 menghimpun dan menuliskah kisah tersebut. 

2)      Sinopsis Novel Siti Nurbaya Karya Marah Rusli
            Ibunya meninggal saat Siti Nurbaya masih kanak-kanak, Maka bisa dikatakan itulah titik awal penderitaan hidupnya. Sejak saat itu hingga dewasa dan mengerti cinta ia hanya hidup bersama Baginda Sulaiman ayah yang sangat disayanginya. Ayahnya adalah seoranga pedagang yang terkemuka di Kota Padang. Sebagian modal usahanya merupakan uang pinjaman dari seorang rentenir bernama Datuk Maringgi.
            Pada mulanya usaha pedagangan baginda Sulaiman mendapat kemajuan pesat, hal itu tidak dikehendaki leh rentenir seperti Datuk Maringgi. Maka untuk melampiaskan keserakahannya Datuk Maringgi menyuruh kaki tangannya membakar semua kios milik Baginda Sulaiman dengan demikian hancurlah usaha Baginda Sulaiman. Ia jatuh miskin dan tak sanggup membayar utang-utangnya pada Datuk Maringgih dan inilah kesempatan yang dinanti-nantikannya Datuk Maringgi mendesak Baginda Sulaiman yang sudah tak berdaya agar melunasi semua hutang-hutangnya boleh hutang tersebut dianggap lunas asalkan Baginda Sulaiman mau menyerahkan Siti Nurbaya putrinya kepada Datuk Maringgi.
            Menghadapi kenyataan seperti itu Baginda Sulaiman yang memang sudah tak sanggup lagi membayar hutang-hutangnya tidak menemukan pilihan lain selain yang ditawarkan oleh Datuk Maringgi.
            Siti Nurbaya menangis menghadapi kenyataan bahwa dirinya yang cantik dan muda berlia harus menikah dengan Datuk Maringgi yang sudah tua bangka dan berkulit kasar seperti katak. Lebih sedih lagi ketikaIa teringat Samsul Bahri kekasihnya yang sedang sekolah di Stovia Jakarta. Sungguh berat memang namun demi keselamatan dan kebahagiaan Ayahandanya ia mau mengorbankan kehormatan dirinya dengan Datuk Maringgi.
            Samsul Bahri yang ada di Jakarta mengetahui peristiwa yang terjadi di desanya, Terlebih karena Siti Nurbaya mengirimkan surat yang menceritakan tentang nasib yang dialami keluarganya. Pada suatu hari ketika Samsul Bahri dalam liburan kembali ke Padang, Ia dapat bertemu empat mata dengan Siti Nurbaya yang telah resmi menjadi istri Datuk Maringgi. Pertemuan itu diketahui oleh Datuk Maringgi sehingga terjadi keributan. Teriakan Siti Nurbaya terdengar oleh ayahnya yang tengah terbaring karena sakit keras. Baginda Sulaiman berusaha bangkit tetapi akhirnya jatuh tersungkur dan menghembuskan nafas terakhir.
             Mendengar itu Ayah Samsul Bahri yaitu Sultan Mahmud Syah yang kebetulan menjadi penghulu Kota Padang, malu atas perbuatan anaknya sehingga Samsul Bahri harus kembali ke Jakarta dan Ia berjanji untuk tidak kembali lagi kepada keluarganya di Padang. Datuk Maringgi juga tidak tinggal diam karena Siti Nurbaya di usirnya.
            Tak lama kemuadian Siti Nurbaya meninggal dunia karena memakan lemang beracun yang sengaja diberikan oleh kaki tangan Datuk Maringgih. Kematian Siti Nurbaya itu terdengar oleh Samsul Bahri sehingga dia menjadi putus asa dan mencoba melakukan bunuh diriakan tetapi mujurlah karena ia tak meninggal sejak saat itu samsul bahri tidak meneruskan sekolahnya dan memasuki dinas militer.
            Sepuluh Tahun kemudian dikisahkan di Kota Padang sering terjadi huru-hara dan tindakan kejahatan akibat ulah Datuk Maringgi dan orang-orangnya Samsul bahri yang telah berpangkat Letnan dikirim un tuk melakukan pengamanan. Samsul Bahri yang mengubah namanya menjadi Letnan Mas segera menyerbu kota padang. Ketika bertemu dengan Datuk Maringgi dalam suatu keributan tanpa berpikir panjang lagi Samsul Bahri menembaknya Datuk Maringgi jatuh tersungkur, Namun sebelum tewas Ia sempat membacok kepala Samsul Bahri dengan parangnya.
            Samsul Bahri alias Letnan Mas Segera dilarikan kerumah sakit pada saat-saat terakhir menjelang ajalnya, Ia meminta dipertemukan dengan Ayahandanya. Tetapi ajal lebih dulu merenggut sebelum Samsul Bahri sempat bertemu dengan orang tuanya.

3)      Persamaan novel layla majnun karya syeikh Hakim An-Nizami dengan novel “Siti Nurbaya” karya Marah Rusli
<  Persamaan Penggambaran tokoh
Teks Sastra Novel Laila Majnun
Teks Sastra Siti Nurbaya
Diantara anak-anak dari berbagai kabilah, terlihat seorang gadis cantik berusia belasan tahun. Wajahnya anggun mempesona, lembut sikapnya, dan penampilannya amat bersahaja. Gadis itu bersinar cerah seperti matahari pagi, tubuhnya laksana pohon cemara, dan bola matanya hitam laksana mata rusa. Rambutnya hitam, tebal bergelombang. Gadis yang menjadi buah bibir dan penghias mimpi itu bernama layla
Anak ini pun seorang gadis,yang dapat dikatakan tidak bercacat,karena bukan rupanya saja yang cantik tetapi kelakuan dan adatnya, tertibdansopannya,sertakebaikan hatinya,tiadalah kurang daripada kecantikan parasnya..”
Analisis:
     Kutipan teks sastra di atas menunjukan adanya persamaan pada penggambaran tokoh dari dimensi fisik kedua tokoh yakni laila dalam novel “Laila Majnun” karya syeikh Nizami dan Tokoh Nurbaya dalam Novel “Siti Nurbaya” karya Marah Rusli digambarkan sebagai sosok gadis cantik dan baik budi pekertinya banyak orang yang tergila-gila pada kecantikan keduanaya dapat disimpulkan bahwa kedua tokoh wanita tersebut berwatak protagonist

<. Persamaan Sudut Pandang
Teks Sastra Novel Laila Majnun
Teks Sastra Novel Siti Nurbaya
Lihat dia-dia adalah majnun si gila
Bila dia mati minta dikuburkan antara ibunya dan nurbaya
Analisis:
   Kutipan teks sastra diatas menunjukkan adanya persamaan yang terletak pada struktur sudut pandangnya yakni mengunakan sudut pandang orang ketiga di mana penggarang memposisiskan dirinya pada posisi pencerita yang mengetahui banyak hal tentang isi cerita serta ditunjukkan adanya pengunaan kata ganti orang ketiga yakni “Dia” atau penyebutan nama orang di dalamnya
< Persamaan tokoh wanita menikah dengan lelaki yang tak dicintainya
Teks Sastra Novel Laila Majnun
Teks Sastra Novel Siti Nurbaya
Pernikahan itu berlangsung cepat orang tua laila
  merasa lega karena akhirnya semua cobaan berat
 yang mareka alami akan berakhir.
Tatkala ayahku akan dibawa kedalam penjara,sebagai penjahat besar,gelaplah mataku dan hilanglah pikiranku, dan dengan tiada yang kuketahui keluarlah aku dan berteriak “jangan penjarakan ayahku! biarkan aku jadi istri datuk maringgih”
Analisis:
  Kutipan teks sastra diatas menunjukkan adanya persamaan yakni tokoh wanita sama-sama menikah dengan lelaki yang tak dicintainya pada tokoh Laila dalam novel “Laila Majnun” menikah dengan Ibn Salam seorang bangsawan yang kaya dan berkuasa sedangkan tokoh Nurbaya dalam novel “Siti Nurbaya’ menikah dengan Datuk Maringgih seoran Lintah darat yang licik,pelit serta benggis
< Persamaan tokoh dimatikan oleh penggarang
Teks Sastra dalam Novel Laila Majnun
Teks Sastra dalam Novel siti Nurbaya
Pada saat hari peringatan kematian layla ,teman dansanak keluarga layla menyambanggi kuburan tersebut dan mareka menemukan tubuh terbaring di atas makam tubuh iyu adalah majnun, majnun kemudian dikubur disamping laila
Jika tiba waktunya tolong kuburkan aku disamping kuburan nurbaya
Analisis:
  Kutipan Teks Sastra diatas menunjukkan adanya persamaan yakni dari segi tokoh dimatikan oleh penggarang dengan kata lain tokoh-tokoh tersebut meninggal dunia serta kuburan mareka pun terletak disamping kuburan kasih tak sampainya
4)      Perbedaan novel “Laila Majnun” karyah syeikh Nizami dengan Novel Siti Nurbaya karya Marah Rusli
Selain adanya beberapa persamaan adapula perbedaan antara lain:
# Perbedaan Gaya Bahasa
Teks Sastra dalamNovel Laila Majnun
Teks Sastra dalam novel Siti Nurbaya
''wajahnya seperti nyalanya
 lentera''(Layla Majnun 2009 : 22)
''bunga melati menyampaikan pesan''(Layla Majnun 2009 : 66)
Padang panjang dilingkar bukit
Bukit dilingkar kayu jati
Kasih sayang bukan sedikit
Dari mulut sampai ke hati
Analisis:
kutipan diatas menunjukka bahwa adanya perbedaan pada struktur gaya bahasa bilamana sastra timur tengah memang khas dengan penggunaan bahasa kiasan, seperti beberapa kutipan yang telah saya paparkan di atas• Majas simile.''wajahnya seperti nyalanya lentera''(LaylaMajnun22)
Disebut majas simile karena membandingkan sesuatu sama dengan yang lainya . Perbandingan tersebut dinyatakan secara eksplisit dengan menggunakan seprti, 'bunga melati menyampaikan pesan'' Majnun 2009:66) Disebut personifikasi karena menunjukan kiasan untuk memperlakukan benda-benda mati seolah-olah seperti mempunyai sifat-sifat yang ada pada manusia, disini kelopak mawar seperti manusia yang bisa hidup terlantar dan bunga melati seperti manusia bisa menyampaikan pesan. sedangkan dalam novel siti nurbaya banyak ditulis dalam bahasa baku dan termasuk teknik pecitraan tradisional seperti berbagai pantun serta mengunakan bahasa melayu,.Pantun digunakan oleh Nurbaya dan Samsul untuk menjelaskan perasaan mereka,
# Perbedaan Latar Sosial
Teks Sastra dalam Novel Laila Majnun
Teks Sastra dalam Novel Siti Nurbaya
Angin berhemnbus membawa kisah asmara padakeluarga sigadis kabar itu bagai arang hitam yang membuat bani qhatibiah tersinggung harga diri mareka ternoda bukankah ada pepatah yang mengatakan lebih baik kehilangan nyawa dari pada menanggung malu
Sebenarnya pikirku sekali-kali tidak setuju dengan adat berkawin banyak karena terlebih banyak kejahatanya daripada kebaikannya
Analisis:
  Kutipan diatas menunjukan adanya perbedaan dari segi latar sosialnya sosialnya dimana pada teks sastra novel Laila Majnun terpapar jelas dibagian awal cerita pada saat qays dan laila ketahuan menjalin kasih, ayah laila  merasa terhina menanggung malu mungkin social di arab seperti itu mareka lebih baik kehilangan nyawa daripada harga dirinya terinjak-injak sehingga laila tidak diperbolehkan bertemu kawan-kawanya terutama pada qays sedangkan pada pada Novel Siti Nurbaya terpapar ketidak setujuan sultan mahmud dan Ahmad maula pada poligini—yang dalam islam dibatasi hanya 4 istri saja—disebabkan kondisi minangkabau pada masa itu oleh kaum bangsawan poligini dijadikan alat untuk mencari keuntunggan materi sebab dalam adat minangkabau ,calon istrilah yang membeli seorang laki-laki selain itu adat minangkabau ,seorang anak bukan tanggung jawab ayahnya melainkan mamaknya.

# Perbedaan dari segi gaya berpakaian
Teks Sastra Novel Laila Majnun
Teks Sastra Novel Siti Nurbaya
Untuk Menghormati kenanganya aku memakai jubah berwarna biru gelap seperti sekuntum bunga violet
Pakaian gadis ini pun sebagai pakaian anak belanda rambutnya hitam dan tebal diikatnya dengan benang sutra ,gaunya terbuat dari kain batis yang berkembang merah jambu
Analisis:
   Kutipan teks sastra diatas menunjukkan adanya perbedaan yang ditinjau dari segi gaya berpakaian bilamana pakaian yang digunakan tokoh laila dalam novel “Laila Majnun” adalah baju panjang (jubah) atau yang sering disebut Abaya oleh masyarakat timur tengah yang digunakan dengan disertai penutup kepala (kerudung) sedangkan pakaian yang dikenakan tokoh nurbaya dalam novel “Siti Nurbaya” adalah pakaian anak belanda atau biasa disebut (baju nona-nona)
# Perbedaan dari segi penyebab kematian
Teks Sastra dalam Novel Laila Majnun
Teks sastra dalam Novel Siti Nurbaya
Akhirnya batuk kronis yang dideritanya menyerangnya dengan hebat
Pada keesokan harinya nyatalah kepadanya bahwa nurbaya termakan racun itulah yang menyebabkan mautnya
Analisis:
  Kutipan teks sastra diatas menunjukkan adanya perbedaan dari segi penyebab kematian kedua tokoh tersebut bilamana tokoh Laila dalam novel “Laila Majnun” meninggal akibat sakit yang dideritanya (batuk kronis) sedangkan tokoh Nurbaya dalam Novel “Siti Nurbaya” meninggal akibat memakan lemang yang telah dibubuhi Racun oleh anak buah datuk maringgih.

C.    PENUTUP
1.      Kesimpulan
Kedua cerita NovelLayla-Majnun karya Syaikh Nizami dan Novel Siti Nurbaya Cinta karya Marah Rusli di atas yakni
v  memiliki unsur tema yang hampir sama yaitu tentang perjuangan cinta sejati sepasang kekasih yang mengalami cobaan atau hambatan namun menyatu dalam sebuah keabadian
v  mengunakan sudut pandang yang sama yakni sudut pandang orang ketiga dll
selai persamaan ada juga perbedaan yakni terletak pada
Ø  struktur gaya bahasa
Ø  latar sosial dll

2.      Saran
Perbandingan antara Novel Layla-Majnun karya Syaikh Nizami dan Novel Siti nurbaya karya marah rusli sangat menarik untuk diteliti lagi lebih lanjut. Guna meningkatkan kualitas karya sastra yang dihasilkan oleh sastrawan-sastrawan indonesia dan menjadi bahan inspiratif bagi kaum pemuda tentang bagaimana mencintai pasangan kita engan tulus.

DAFTAR PUSTAKA

Escarpit, Robert. 2005. Sosiologi Sastra. Jakarta: Obor Indonesia.
Nizani, Syaikh. 2003. Layla Majnun. Yogyakarta: Navila.
Nurgiantoro, Burhan. 2007. Teori Struktural ;Yogyakarta: Gadjah
Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian sastra. Yogyakarta: Pustaka Jaya.
Rusli,Marah 2011 siti nurbaya (kasih tak sampai) Jakarta Timur :Balaipustaka
SapardiDjokoDamono. 2005. Pegangan Penelitian Sastra Bandingan. Jakarta:Depdiknas.
Suwondo Tirto 2001, Metodologi Penelitian Sastra,:).Jakarta Gramedia Pustaka Utama.


0 komentar:

Posting Komentar

 

Rhifaery's Room Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang