Perbandingan Teks Sastra Novel Laila Majnun Karya Syeik Nizami
dengan Novel Siti Nurbaya
Karya Marah Rusli
Oleh: Anis Syarofatun Nisa
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Karya sastra sebagai cerminan
kehidupan masyarakat, merupakan dunia subjektivitas yang diciptakan oleh
pengarang yang di dalamnya terdapat
berbagai aspek kehidupan yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya.
Aspek kehidupan tersebut berupa aspek sosiolologis, psikologis, filsafat,
budaya, dan agama. Keberadaan karya sastra tidak dapat dilepaskan dari diri
pengarang sebagai bagian dari anggota suatu masyarakat. Sehingga dalam
penciptaannya, pengarang tidak dapat terlepas dari lingkungan sosial budaya
yang melatarinya.
Aliran sastra bandingan terbagi ke dalam aliran Prancis dan
aliran Amerika. Kedua aliran sepakat bahwa sastra bandingan merupakan kajian
satra di luar batas sebuah negara. Akan tetapi, Aliran Prancis menganggap bahwa
hubungan sastra dengan disiplin lain bukanlah sastra bandingan, melainkan seni
bandingan.
Sastra
bandingan tidaklah mencakup karya-karya
yang mendapat pengakuan sejagat (universal) tentang kualitas karyanya, karena
kajian sastra bandingan sering kali berkenaan dengan penulis-penulis ternama
yang mewakili suatu zaman. Namun, kajian penulis baru yang belum mendapat
pengakuan dunia pun, masih terklasifikasi dalam sastra bandingan.
Kajian
sastra banding ini mempunyai manfaat yang cukup berpengaruh besar pada
lingkungan nasional secara global. Kajian ini mengarah pada penelaahan antara
sastra asing dengan sastra Umum. Manfaat ini juga dituju dari segi kefanatikan
kebahasaan yang sering menimbulkan banyak masalah, dan dari segi fungsi-fungsi
studi sastra banding sebenarnya menjadikan pembelajaran tentang kebiasaan
khusus atas perbedaan antara apa itu nasional yang melekat dan pendatang yang
menyulusup dan dari segi pemikiran dan kebudayaan.
Menurut
Sapardi Djoko Damono (dalam Robert Escarpit, 2005: viii), sastra adalah
kristalisasi keyakinan nilai-nilai dan norma-norma yang disepakati masyarakat,
setidaknya begitulah yang terjadi di masa lampau ketika kepengarangan tidak
dimasalahkan dan berbagai jenis tradisi lisan dimiliki beramai-ramai oleh
masyarakat, tidak individu
Berdasarkan
hal yang demikian, maka penulis membandingkan Novel Siti
Nurbaya Karya Marah Rusli
terhadap NovelLayla Majnun Karya Syaikh
Nizami. Lalu penulis akan
membandingkan, dan mencari pembelajaran atas pengaruh hal yang demikian.
2.
Rumusan
Masalah
1.
Bagaimanakah persamaan unsur intrinsik dalam Novel Layla
Majnun Karya Syaikh Nizam terhadap NovelSiti Nurbaya Karya Marah Rusli?
2.
Bagaimanakah perbedaan Novel NovelLayla Majnun Karya Syaikh Nizami
terhadap Novel Siti Nurbaya Karya Marah Rusli?
3.
Manfaat
Penelitian
a. Manfaat Praktis
Secara praktis penelitian ini mempunyai manfaat
sebagai berikut
1)
Bagi peneliti, penelitian ini dapat
memperkaya wawasan sastra dan menambah khasanahan penelitian sastra indonesia yang bermanfaat bagi
perkembangan sastra indonesia.
2)
Bagi pembaca, penelitian ini dapat
menambah minat baca dalam mengapresiasiasikan karya sastra, serta menambah
pengetahuan tentang sastra.
b.
Manfaat teoritis
Secara
teoritis penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan memahami karya
sastra.
4.
Objek
Penelitian
Objek penelitian ini ialah cerita
Novel Layla-Majnun karya Syaikh
Nizami dengan noveln.
Siti Nurbaya Karya Marah Rusli
5.
Teori
Sastra
Bandingan:
Sastra Banding (Comparative
Literature) muncul pertama kali di Perancis tahun 1816 yang diambil dari
rangkaian antologi untuk pengajaran sastra yang berjudul Cours de
litterature comparee. Di Jerman, istilah ini dipadankan dengan vergleichende
Literaturgeschichte yang muncul pada tahun 1854. Sementara itu, istilah comparative
literatures muncul di Inggris pada tahun 1848.
Pada awalnya, istilah tersebut menunjuk pada usaha untuk
melacak “pengaruh” seorang penulis
dari suatu negara atau budaya pada penulis di negara atau budaya lain. Namun,
dalam perkembangannya, terdapat kesulitan dalam mencari pengaruh tersebut
karena pikiran dan perasaan yang diungkapkan oleh suatu bahasa berbeda dengan
pikiran dan perasaan yang dinyatakan dengan bahasa lain. Karena itu pada
awalnya, sastra banding hanya dilaksanakan di Eropa.
Menurut
Sapardi Djoko Damono (2005: 1), sastra bandingan adalah sebuah pendekatan dalam
ilmu sastra yang tidak menghasilkan teori sendiri. Dengan kata lain, dalam
kajian ini dapat menggunakan teori apa
saja selama masih dapat bersangkutan dengan sastra.
Pengertian
lain tentang sastra banding diajukan oleh Wellek yang mengemukakan tiga cakupan
makna. Pertama, sastra banding berarti studi yang berkaitan dengan sastra oral,
terutama tema-tema cerita rakyat (folk-tale) dan migrasinya dan tentang
bagaimana dan kapan tema-tema tersebut memasuki sastra yang “artistik” dan
“lebih tinggi”.Kedua, sastra banding membatasi pada studi tentang hubungan
antara dua karya sastra atau lebih. Dalam hal ini, fokus kajian lebih diarahkan
pada pengaruh seorang penulis terhadap penulis lainnya. Ketiga, sastra banding
harus dibedakan dari sastra dunia (world literature) atau sastra
universal/umum. Sastra dunia diharapkan merupakan unifikasi dari seluruh karya
sastra di dunia yang didalamnya semua karya sastra dapat berperan. Namun dalam
kenyataannya, hal ini berubah makna karena sastra dunia ternyata menunjuk pada
karya-karya besar Eropa, seperti karya-karya Homer, Cervantes, Dante,
Shakespeare dan Goethe.
Sementara itu, menurut Rene Wellek
dan Austin Warren ada tiga pengertian mengenai sastra bandingan. Pertama,
penelitian sastra lisan, terutama tema cerita rakyat dan penyebarannya. Kedua,
penyelidikan mengenai hubungan antara dua atau lebih karya sastra, yang menjadi
bahan dan objek penyelidikannya, di antaranya, soal reputasi dan penetrasi,
pengaruh dan kemasyhuran karya besar. Ketiga, penelitian sastra dalam.
Teori Struktural:
Pendekatan struktural dipelopori
oieh kaum formalis Rusia dan strukturalisme. Ia mendapat pengaruh langsung dari
teori Saussur yang mengubah studi linguistik dari pendekatan daikronis ke
singkronis. Masalah unsur dan hubungan antara unsure merupakan hal yang penting
dalam pendekatan struktur. Sebuah karya sastra menurut kaum struktualisme
adalah sebuah totalitaas yang di bangun secara koherensif oleh berbagai unsur
(Nurgiantoro, 1994: 36).
Adapun cara menganalisis novel ini melalui
pendekatan strukturalisme. Pendekatan ini dipandang lebih obyektif karena hanya
berdasarkan sastra itu sendiri. Tanpa campur tangan unsur lain, karya sastra
tersebut akan dilihat sebagaimana cipta estetis (Suwardi, 2011:51 ).
Struktur
berasal dari kata structura (bahasa latin) yang berarti bentuk atau bangunan.
Strukturalisme berarti paham mengenai unsur-unsur yaitu struktur itu sendiri
dengan mekanisme antar hubungannya, Hubungan unsur yang satu dengan yang
lainnya, dan hubungan antar unsur dengan totalitasnya. Strukturalisme sering
digunakan oleh peneliti untuk menganalisis seluruh karya sastra, dimana kita
harus memperhatikan unsur-unsur yang terkandung dalam karya sastra tersebut.
Struktur yang membangun sebuah karya sastra sebagai unsur estetika dalam dunia
karya sastra antara lain: alur, penokohan, sudut pandang, gaya bahasa, tema dan
amanat (Ratna, 2004 : 19-94).
Pendekatan
strukturalisme murni hanya berada di seputar karya sastra itu sendiri.
Prinsipnya jelas : analisis struktural bertujuan untuk membongkar dan
memaparkan secermat, seteliti, sedetail, dan mendalam mungkin keterkaitan dan
keterjalinan semua aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan makna
menyeluruh ( Teeuw, 1984:135 ).
Dalam lingkup karya fiksi, Stanton ( 1965: 11-36, dalam Drs.
Tirto Suwondo, Metodologi Penelitian Sastra, 2001:56 ) mendeskripsikan
unsur-unsur struktur karya sastra seperti berikut. Unsur-unsur pembangun
struktur terdiri atas tema, fakta cerita, dan sarana sastra. Fakta cerita itu
sendiri terdiri atas alur, tokoh, dan latar; sedangkan sarana sastra biasanya
terdiri atas sudut pandang, gaya bahasa dan suasana, simbol-simbol,
imaji-imaji, dan juga cara-cara pemilihan judul. Di dalam karya sastra, fungsi
sarana sastra adalah memadukan fakta sastra dengan tema sehingga makna karya
sastra itu dapat dipahami dengan jelas.
Oleh karena itu, saya menganalisis novel Layla
Majnun dan siti nurbaya dengan menggunakan beberapa unsur intrinsik,
yaitu : tema, alur, tokoh, penokohan, setting atau latar, dan sudut
pandang. Penjelasannya akan saya sajikan per bagian agar jelas dan dapat
dipahami.
B.
PEMBAHASAN
1. Deskripsi Novel yang dibandingkan
1) Sinopsis Novel Laila Majnun Karya
Sheikh Nizami
“Layla-Majnun”
Qays bin Al Mulawwah merupakan tokoh sentral dalam novel ini, bukanlah tokoh
fiktif, ia memang benar-benar hidup pada masa Bani Umayyah, sepeninggal Qays
kisah cinta Qays dengan Layla tersebar dari mulut ke mulut dalam bentuk syair
dalam berbagai versi, kemudian Dalam versi Nizami Qays dan Layla sama-sama
jatuh cinta ketika keduanya bertemu disekolah tempat mereka menuntut ilmu
bersama kisah ini diawali oleh perasaan cinta yang menggila dari seorang pemuda
tampan yang terkenal dikawasan bani Amir Jazirah Arab, bernama Qays. Ia
mencintai Layla dan Laila pun sama, mereka menjalin kisah cinta secara sembunyi
karena pada waktu itu mereka belum saatnya untuk memadu cinta tapi seiring
berjalannya waktu kisah mereka tidak bisa disembunyikan lagi, semua orang pada tau
bahkan keluarganya yang pada akhirnya mereka tidak bisa bertemu lagi. Dalam
perjalanan, Layla dinikahkan secara paksa oleh ayahnya dengan lelaki yang
bernama Ibnu Salam. Namun dia tidak bisa menjamah kegadisan Layla, yang selalu
setia kepada Qais hingga akhir hayatnya, Lama tidak bertemu qais tidak kuat
menahan rasa cinta yang seperti bara, iapun seperti gila, bertingkah dan
berpenampilan aneh hingga orang-orang memanggilnya majnun. Dari rasa
kecintaannya yang mendalam majnun mendapat berita bahwa Layla menikah dan kabar
buruk lain yang lain berita ayahnya yang meninggal, kemudian tidak lama setelah
itu sang Ibu tercintapun mengikuti jejak ayahnya. Inilah puncak kesedihan,
hingga suatu peristiwa yang membuat hati terluka ketika majnun mendengar sang
kekasih meninggal dunia lalu majnun mengunjungi makam Layla Lalu menangis dan
menjerit. Ia memeluk kuburan Layla hingga Majnu menghembuskan nafas terakhirnya
diatas kuburan Layla.Syaikh Nizami (1141-1209) pada tahun 1188 menghimpun dan
menuliskah kisah tersebut.
2) Sinopsis Novel Siti Nurbaya Karya
Marah Rusli
Ibunya
meninggal saat Siti Nurbaya masih kanak-kanak, Maka bisa dikatakan itulah titik
awal penderitaan hidupnya. Sejak saat itu hingga dewasa dan mengerti cinta ia
hanya hidup bersama Baginda Sulaiman ayah yang sangat disayanginya. Ayahnya
adalah seoranga pedagang yang terkemuka di Kota Padang. Sebagian modal usahanya
merupakan uang pinjaman dari seorang rentenir bernama Datuk Maringgi.
Pada
mulanya usaha pedagangan baginda Sulaiman mendapat kemajuan pesat, hal itu
tidak dikehendaki leh rentenir seperti Datuk Maringgi. Maka untuk melampiaskan
keserakahannya Datuk Maringgi menyuruh kaki tangannya membakar semua kios milik
Baginda Sulaiman dengan demikian hancurlah usaha Baginda Sulaiman. Ia jatuh
miskin dan tak sanggup membayar utang-utangnya pada Datuk Maringgih dan inilah
kesempatan yang dinanti-nantikannya Datuk Maringgi mendesak Baginda Sulaiman
yang sudah tak berdaya agar melunasi semua hutang-hutangnya boleh hutang
tersebut dianggap lunas asalkan Baginda Sulaiman mau menyerahkan Siti Nurbaya
putrinya kepada Datuk Maringgi.
Menghadapi
kenyataan seperti itu Baginda Sulaiman yang memang sudah tak sanggup lagi
membayar hutang-hutangnya tidak menemukan pilihan lain selain yang ditawarkan
oleh Datuk Maringgi.
Siti
Nurbaya menangis menghadapi kenyataan bahwa dirinya yang cantik dan muda berlia
harus menikah dengan Datuk Maringgi yang sudah tua bangka dan berkulit kasar
seperti katak. Lebih sedih lagi ketikaIa teringat Samsul Bahri kekasihnya yang
sedang sekolah di Stovia Jakarta. Sungguh berat memang namun demi keselamatan
dan kebahagiaan Ayahandanya ia mau mengorbankan kehormatan dirinya dengan Datuk
Maringgi.
Samsul
Bahri yang ada di Jakarta mengetahui peristiwa yang terjadi di desanya,
Terlebih karena Siti Nurbaya mengirimkan surat yang menceritakan tentang nasib
yang dialami keluarganya. Pada suatu hari ketika Samsul Bahri dalam liburan
kembali ke Padang, Ia dapat bertemu empat mata dengan Siti Nurbaya yang telah
resmi menjadi istri Datuk Maringgi. Pertemuan itu diketahui oleh Datuk Maringgi
sehingga terjadi keributan. Teriakan Siti Nurbaya terdengar oleh ayahnya yang
tengah terbaring karena sakit keras. Baginda Sulaiman berusaha bangkit tetapi
akhirnya jatuh tersungkur dan menghembuskan nafas terakhir.
Mendengar itu Ayah Samsul Bahri yaitu Sultan
Mahmud Syah yang kebetulan menjadi penghulu Kota Padang, malu atas perbuatan
anaknya sehingga Samsul Bahri harus kembali ke Jakarta dan Ia berjanji untuk
tidak kembali lagi kepada keluarganya di Padang. Datuk Maringgi juga tidak
tinggal diam karena Siti Nurbaya di usirnya.
Tak
lama kemuadian Siti Nurbaya meninggal dunia karena memakan lemang beracun yang
sengaja diberikan oleh kaki tangan Datuk Maringgih. Kematian Siti Nurbaya itu
terdengar oleh Samsul Bahri sehingga dia menjadi putus asa dan mencoba
melakukan bunuh diriakan tetapi mujurlah karena ia tak meninggal sejak saat itu
samsul bahri tidak meneruskan sekolahnya dan memasuki dinas militer.
Sepuluh
Tahun kemudian dikisahkan di Kota Padang sering terjadi huru-hara dan tindakan
kejahatan akibat ulah Datuk Maringgi dan orang-orangnya Samsul bahri yang telah
berpangkat Letnan dikirim un tuk melakukan pengamanan. Samsul Bahri yang
mengubah namanya menjadi Letnan Mas segera menyerbu kota padang. Ketika bertemu
dengan Datuk Maringgi dalam suatu keributan tanpa berpikir panjang lagi Samsul
Bahri menembaknya Datuk Maringgi jatuh tersungkur, Namun sebelum tewas Ia
sempat membacok kepala Samsul Bahri dengan parangnya.
Samsul
Bahri alias Letnan Mas Segera dilarikan kerumah sakit pada saat-saat terakhir
menjelang ajalnya, Ia meminta dipertemukan dengan Ayahandanya. Tetapi ajal
lebih dulu merenggut sebelum Samsul Bahri sempat bertemu dengan orang tuanya.
3) Persamaan novel layla majnun karya
syeikh Hakim An-Nizami dengan novel “Siti Nurbaya” karya Marah Rusli
< Persamaan Penggambaran tokoh
|
Teks Sastra Novel Laila Majnun
|
Teks Sastra Siti Nurbaya
|
|
Diantara anak-anak
dari berbagai kabilah, terlihat seorang gadis cantik berusia belasan tahun.
Wajahnya anggun mempesona, lembut sikapnya, dan penampilannya amat bersahaja.
Gadis itu bersinar cerah seperti matahari pagi, tubuhnya laksana pohon
cemara, dan bola matanya hitam laksana mata rusa. Rambutnya hitam, tebal
bergelombang. Gadis yang menjadi buah bibir dan penghias mimpi itu bernama
layla
|
Anak ini pun seorang
gadis,yang dapat dikatakan tidak bercacat,karena bukan rupanya saja yang
cantik tetapi kelakuan dan adatnya, tertibdansopannya,sertakebaikan
hatinya,tiadalah kurang daripada kecantikan parasnya..”
|
Analisis:
Kutipan teks sastra di atas menunjukan
adanya persamaan pada penggambaran tokoh dari dimensi fisik kedua tokoh yakni
laila dalam novel “Laila Majnun” karya syeikh Nizami dan Tokoh Nurbaya dalam
Novel “Siti Nurbaya” karya Marah Rusli digambarkan sebagai sosok gadis cantik
dan baik budi pekertinya banyak orang yang tergila-gila pada kecantikan
keduanaya dapat disimpulkan bahwa kedua tokoh wanita tersebut berwatak protagonist
<. Persamaan Sudut Pandang
|
Teks Sastra Novel Laila Majnun
|
Teks Sastra Novel Siti Nurbaya
|
|
Lihat
dia-dia adalah majnun si gila
|
Bila
dia mati minta dikuburkan antara ibunya dan nurbaya
|
Analisis:
Kutipan teks sastra diatas menunjukkan
adanya persamaan yang terletak pada struktur sudut pandangnya yakni mengunakan
sudut pandang orang ketiga di mana penggarang memposisiskan dirinya pada posisi
pencerita yang mengetahui banyak hal tentang isi cerita serta ditunjukkan
adanya pengunaan kata ganti orang ketiga yakni “Dia” atau penyebutan nama orang
di dalamnya
< Persamaan tokoh wanita menikah
dengan lelaki yang tak dicintainya
|
Teks Sastra Novel Laila Majnun
|
Teks Sastra Novel Siti Nurbaya
|
|
Pernikahan
itu berlangsung cepat orang tua laila
merasa lega karena akhirnya semua cobaan
berat
yang mareka alami akan berakhir.
|
Tatkala ayahku akan
dibawa kedalam penjara,sebagai penjahat besar,gelaplah mataku dan hilanglah
pikiranku, dan dengan tiada yang kuketahui keluarlah aku dan berteriak
“jangan penjarakan ayahku! biarkan aku jadi istri datuk maringgih”
|
Analisis:
Kutipan teks sastra diatas menunjukkan adanya
persamaan yakni tokoh wanita sama-sama menikah dengan lelaki yang tak
dicintainya pada tokoh Laila dalam novel “Laila Majnun” menikah dengan Ibn
Salam seorang bangsawan yang kaya dan berkuasa sedangkan tokoh Nurbaya dalam
novel “Siti Nurbaya’ menikah dengan Datuk Maringgih seoran Lintah darat yang
licik,pelit serta benggis
< Persamaan tokoh dimatikan oleh
penggarang
|
Teks Sastra dalam Novel Laila
Majnun
|
Teks Sastra dalam Novel siti
Nurbaya
|
|
Pada
saat hari peringatan kematian layla ,teman dansanak keluarga layla
menyambanggi kuburan tersebut dan mareka menemukan tubuh terbaring di atas
makam tubuh iyu adalah majnun, majnun kemudian dikubur disamping laila
|
Jika
tiba waktunya tolong kuburkan aku disamping kuburan nurbaya
|
Analisis:
Kutipan Teks Sastra diatas menunjukkan adanya
persamaan yakni dari segi tokoh dimatikan oleh penggarang dengan kata lain
tokoh-tokoh tersebut meninggal dunia serta kuburan mareka pun terletak
disamping kuburan kasih tak sampainya
4)
Perbedaan
novel “Laila Majnun” karyah syeikh Nizami dengan Novel Siti Nurbaya karya Marah
Rusli
Selain adanya beberapa persamaan
adapula perbedaan antara lain:
# Perbedaan Gaya Bahasa
|
Teks Sastra dalamNovel Laila
Majnun
|
Teks Sastra dalam novel Siti
Nurbaya
|
|
''wajahnya seperti nyalanya
lentera''(Layla Majnun 2009 : 22)
''bunga melati
menyampaikan pesan''(Layla Majnun 2009 : 66)
|
Padang panjang
dilingkar bukit
Bukit dilingkar kayu
jati
Kasih sayang bukan
sedikit
Dari
mulut sampai ke hati
|
Analisis:
kutipan
diatas menunjukka bahwa adanya perbedaan pada struktur gaya bahasa bilamana
sastra timur tengah memang khas dengan penggunaan bahasa kiasan, seperti
beberapa kutipan yang telah saya paparkan di atas• Majas simile.''wajahnya
seperti nyalanya lentera''(LaylaMajnun22)
Disebut majas simile karena membandingkan sesuatu sama dengan yang lainya . Perbandingan tersebut dinyatakan secara eksplisit dengan menggunakan seprti, 'bunga melati menyampaikan pesan'' Majnun 2009:66) Disebut personifikasi karena menunjukan kiasan untuk memperlakukan benda-benda mati seolah-olah seperti mempunyai sifat-sifat yang ada pada manusia, disini kelopak mawar seperti manusia yang bisa hidup terlantar dan bunga melati seperti manusia bisa menyampaikan pesan. sedangkan dalam novel siti nurbaya banyak ditulis dalam bahasa baku dan termasuk teknik pecitraan tradisional seperti berbagai pantun serta mengunakan bahasa melayu,.Pantun digunakan oleh Nurbaya dan Samsul untuk menjelaskan perasaan mereka,
Disebut majas simile karena membandingkan sesuatu sama dengan yang lainya . Perbandingan tersebut dinyatakan secara eksplisit dengan menggunakan seprti, 'bunga melati menyampaikan pesan'' Majnun 2009:66) Disebut personifikasi karena menunjukan kiasan untuk memperlakukan benda-benda mati seolah-olah seperti mempunyai sifat-sifat yang ada pada manusia, disini kelopak mawar seperti manusia yang bisa hidup terlantar dan bunga melati seperti manusia bisa menyampaikan pesan. sedangkan dalam novel siti nurbaya banyak ditulis dalam bahasa baku dan termasuk teknik pecitraan tradisional seperti berbagai pantun serta mengunakan bahasa melayu,.Pantun digunakan oleh Nurbaya dan Samsul untuk menjelaskan perasaan mereka,
#
Perbedaan Latar Sosial
|
Teks Sastra dalam Novel Laila
Majnun
|
Teks Sastra dalam Novel Siti
Nurbaya
|
|
Angin
berhemnbus membawa kisah asmara padakeluarga sigadis kabar itu bagai arang
hitam yang membuat bani qhatibiah tersinggung harga diri mareka ternoda
bukankah ada pepatah yang mengatakan lebih baik kehilangan nyawa dari pada
menanggung malu
|
Sebenarnya
pikirku sekali-kali tidak setuju dengan adat berkawin banyak karena terlebih
banyak kejahatanya daripada kebaikannya
|
Analisis:
Kutipan diatas menunjukan adanya perbedaan dari segi latar sosialnya
sosialnya dimana pada teks sastra novel Laila Majnun terpapar jelas dibagian
awal cerita pada saat qays dan laila ketahuan menjalin kasih, ayah laila merasa terhina menanggung malu mungkin social
di arab seperti itu mareka lebih baik kehilangan nyawa daripada harga dirinya
terinjak-injak sehingga laila tidak diperbolehkan bertemu kawan-kawanya
terutama pada qays sedangkan pada pada Novel Siti Nurbaya terpapar ketidak
setujuan sultan mahmud dan Ahmad maula pada poligini—yang dalam islam dibatasi
hanya 4 istri saja—disebabkan kondisi minangkabau pada masa itu oleh kaum
bangsawan poligini dijadikan alat untuk mencari keuntunggan materi sebab dalam
adat minangkabau ,calon istrilah yang membeli seorang laki-laki selain itu adat
minangkabau ,seorang anak bukan tanggung jawab ayahnya melainkan mamaknya.
# Perbedaan dari segi gaya
berpakaian
|
Teks Sastra Novel Laila Majnun
|
Teks Sastra Novel Siti Nurbaya
|
|
Untuk
Menghormati kenanganya aku memakai jubah berwarna biru gelap seperti sekuntum
bunga violet
|
Pakaian
gadis ini pun sebagai pakaian anak belanda rambutnya hitam dan tebal
diikatnya dengan benang sutra ,gaunya terbuat dari kain batis yang berkembang
merah jambu
|
Analisis:
Kutipan teks sastra diatas menunjukkan
adanya perbedaan yang ditinjau dari segi gaya berpakaian bilamana pakaian yang
digunakan tokoh laila dalam novel “Laila Majnun” adalah baju panjang (jubah)
atau yang sering disebut Abaya oleh masyarakat timur tengah yang digunakan
dengan disertai penutup kepala (kerudung) sedangkan pakaian yang dikenakan
tokoh nurbaya dalam novel “Siti Nurbaya” adalah pakaian anak belanda atau biasa
disebut (baju nona-nona)
# Perbedaan dari segi penyebab
kematian
|
Teks Sastra dalam Novel Laila
Majnun
|
Teks sastra dalam Novel Siti
Nurbaya
|
|
Akhirnya
batuk kronis yang dideritanya menyerangnya dengan hebat
|
Pada
keesokan harinya nyatalah kepadanya bahwa nurbaya termakan racun itulah yang
menyebabkan mautnya
|
Analisis:
Kutipan teks sastra diatas menunjukkan adanya
perbedaan dari segi penyebab kematian kedua tokoh tersebut bilamana tokoh Laila
dalam novel “Laila Majnun” meninggal akibat sakit yang dideritanya (batuk
kronis) sedangkan tokoh Nurbaya dalam Novel “Siti Nurbaya” meninggal akibat
memakan lemang yang telah dibubuhi Racun oleh anak buah datuk maringgih.
C.
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Kedua
cerita NovelLayla-Majnun karya Syaikh Nizami dan Novel Siti Nurbaya Cinta karya Marah Rusli di
atas yakni
v memiliki
unsur tema yang hampir sama yaitu tentang perjuangan cinta sejati sepasang
kekasih yang mengalami cobaan atau hambatan namun menyatu dalam sebuah
keabadian
v mengunakan
sudut pandang yang sama yakni sudut pandang orang ketiga dll
selai persamaan
ada juga perbedaan yakni terletak pada
Ø struktur
gaya bahasa
Ø latar
sosial dll
2.
Saran
Perbandingan
antara Novel Layla-Majnun karya Syaikh Nizami dan Novel Siti nurbaya karya
marah rusli sangat menarik untuk diteliti lagi lebih lanjut. Guna meningkatkan kualitas
karya sastra yang dihasilkan oleh sastrawan-sastrawan indonesia dan menjadi
bahan inspiratif bagi kaum pemuda tentang bagaimana mencintai pasangan kita
engan tulus.
DAFTAR PUSTAKA
Escarpit, Robert. 2005. Sosiologi Sastra. Jakarta:
Obor Indonesia.
Nizani,
Syaikh. 2003. Layla Majnun.
Yogyakarta: Navila.
Nurgiantoro,
Burhan. 2007. Teori Struktural ;Yogyakarta:
Gadjah
Ratna,
Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode, dan
Teknik Penelitian sastra. Yogyakarta: Pustaka Jaya.
Rusli,Marah 2011 siti nurbaya (kasih tak sampai) Jakarta
Timur :Balaipustaka
SapardiDjokoDamono. 2005. Pegangan
Penelitian Sastra Bandingan. Jakarta:Depdiknas.
Suwondo Tirto 2001,
Metodologi Penelitian Sastra,:).Jakarta Gramedia Pustaka
Utama.
0 komentar:
Posting Komentar