Selasa, 24 Mei 2016

Perbandingan Teks Sastra Novel Hujan Karya Tere Liye Dengan Ilmu Sosial





Perbandingan Teks Sastra Novel Hujan Karya Tere Liye Dengan Ilmu Sosial
Oleh: Ahyu Nur Ichsana


A.    PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
            Karya sastra sebagai cerminan kehidupan masyarakat, merupakan dunia subjektivitas yang diciptakan oleh pengarang, yang didalamnya terdapat berbagai aspek kehidupan yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Aspek kehidupan tersebut berupa aspek sosiologis, filsafat, budaya, dan agama. Keberadaan karya sastra tidak dapat dilepaskan dari diri pengarang sebagai bagian dari anggota suatu masyarakat. Sehingga dalam penciptaannya, pengarang tidak dapat terlepas dari lingkungan sosial budaya yang melatarinya.
            Sastra bandingan adalah sebuah studi teks across cultural. Studi ini merupakan upaya interdisipliner, yakni lebih banyak memperhatikan hubungan sastra menurut aspek waktu dan tempat. Dari aspek waktu, sastra bandingan dapat membandingkan dua atau lebih periode yang berbeda. Sedangkan konteks tempat, akan mengikat sastra bandingan menurut wilayah geogravis asatra (Endraswara, 2014:128).
Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak pernah terlepas dari kehidupan sosial, sebuah kehidupan sosial akan membentuk suatu perkumpulan yang disebut masyarakat. antara individu dan kelompok. Oleh sebab itu novel Hujan hadir sebagai sebuah contoh kehidupan sosial yang terjadi dalam kehidupan di masyarakat. Adapun kesengajaan saya menganalisis novel ini berdasarkan nilai sosial yang terkandung di dalamnya adalah untuk membantu menerjemahkan nilai-nilai sosial yang sangat penting untuk kita ketahaui, karena secara tidak sadar kita sudah disinggung besar-besaran oleh novel tersebut.
Nilai dan Norma Sosial setiap manusia memiliki kriteria yang berbeda-beda mengenai baik buruknya sesuatu. Suatu nilai berfungsi sebagai pedoman perilaku dalam masyarakat. Seperti kerja sama, persaudaraan, rasa kekeluargaan, ketaatan, kedisiplinan, kebersihan, ketertiban, dan lain-lain. Begitu pentingnya nilai bagi masyarakat, maka nilai diaktualisasikan dalam bentuk norma-norma sosial yang dilengkapi dengan sanksi-sanksi bagi pelanggarnya. Setelah nilai dan norma disepakati serta diterima, maka nilai dan norma tersebut disosialisasikan kepada warga masyarakat secara turun-temurun. Tujuannya agar warga masyarakat menyesuaikan perilakunya dengan nilai dan norma itu, sehingga tercipta keteraturan sosial.
2.  Rumusan masalah
1)      Apa yang di maksud dengan nilai sosial?
2)      Apa perbedaan dan persamaan nilai sosial dalam novel “Hujan” kayra tere liye?
3. Tujuan pembahasan
1)      Untuk mengetahui maksud nilai sosial.
2)      Untuk mengetahui perbedaan dan persamaan nilai sosial dalam novel “Hujan” kayra tere liye.

B.     PEMBAHASAN
1.      Pengertian Nilai Sosial
Nilai sosial adalah ukuran-ukuran, patokan-patokan, anggapan-anggapan, keyakinan-keyakinan, yang hidup dan berkembang dalam masyarakat serta dianut oleh banyak orang dalam lingkungan masyarakat mengenai apa yang benar, pantas, luhur, dan baik untuk dilakukan. Nilai-nilai sosial merupakan aktualisasi dari kehendak masyarakat mengenai segala sesuatu yang dianggap benar dan baik. Pada intinya, adanya nilai sosial dalam masyarakat bersumber pada tiga hal yaitu dari Tuhan, masyarakat, dan individu.
Pengertian Nilai Sosial Menurut Para Ahli
Kimball Young Mengemukakan pendapat bahwa nilai adalah berupa abstrak dan sering tidak menyadari apa yang dianggap penting dalam masyarakat.
A.W.GreenNilai merupakan kesadaran berjalan relatif dengan emosi terhadap objek.
Woods Menunjukkan bahwa nilai merupakan pedoman umum yang telah berlangsung lama dan perilaku serta kepuasan mengarahkan kepada kehidupan sehari-hari.
M.Z.Lawang Nilai merupakan gagasan tentang apa yang mereka inginkan, yang tepat, berharga, dan dapat mempengaruhi perilaku sosial dari orang-orang yang memenuhi syarat.
Hendropuspito Nilai merupakan menghargai semua masyarakat karena memiliki efisiensi fungsional untuk pengembangan kehidupan manusia.
Karel.J.Veegerso siologi merupakan nilai-nilai sebagai ide (sesuatu di kepala orang) baik atau sebuah tidaknya . Atau dengan kata lain, nilai adalah sebuah hasil dari penilaian atau pertimbangan moral.
Pengertian nilai berdasarkan Kamus Bahasa Indonesia: Nilai adalah, taksiran, sifat-sifat (hal-hal) penting yang dianggap penting atau yang berguna bagi kemanusiaan yang dapat mendorong manusia mancapai tujuannya. (KBBI, Edisi ke-3 hal 783)
Nilai sosial adalah segala sesuatu yang dianggap baik dan benar, yang diidam-idamkan masyarakat. Agar nilai-nilai sosial itu dapat tercipta dalam masyarakat, maka perlu diciptakan norma sosial dengan sanksi-sanksi sosial. Nilai sosial merupakan penghargaan yang diberikan masyarakat kepada segala sesuatu yang baik, penting, luhur, pantas, dan mempunyai daya guna fungsional bagi perkembangan dan kebaikan hidup bersama.
          KesimpulannyaNilai sosial adalah sesuatu pandangan yang dianggap baik dan benar oleh suatu lingkungan masyarakat yang kemudian menjadi pedoman sebagi suatu contoh perilaku yang baik dan diharapkan oleh warga masyarakat. 
            Nilai sosial yang dianut dalam suatu masyarakat akan mberbeda dengan masyarakat lainnya, namun ada pula nilai yang dianut oleh masyarakat secara umum. Biasanya nilai yang dianut secara umum ini terkait dengan kebaikan, etika, dan nilai keagamaan. 
1.      Jenis-Jenis Nilai Sosial
1. Nilai kebenaran, bersumber dari akal manusia (cipta);
2. Nilai keindahan atau estetika, bersumber dari unsur rasa manusia (estetika);
3. Nilai moral atau kebaikan, bersumber dari kehendak manusia (karsa);
4. Nilai religius, bersumber pada ke-Tuhanan.
2. . Ciri-ciri Nilai Sosial
1) Tidak semua hal yang baik di mata masyarakat dapat dianggap sebagai nilai sosial.
2) Merupakan hasil interaksi antaranggota masyarakat.
3) Ditularkan di antara anggota-anggota masyarakat melalui pergaulan.
4) Terbentuk melalui proses belajar yang panjang melalui sosialisasi.
5) Nilai sebagai alat pemuas kebutuhan sosial.
6) Nilai berbeda-beda antara kebudayaan yang satu dengan yang lain.
7) Mempunyai efek yang berbeda terhadap individu.
8) Memengaruhi perkembangan pribadi dalam masyarakat baik positif maupun negatif.
9) Hasil seleksi dari berbagai macam aspek kehidupan di dalam masyarakat.
Manusia pada hakikatnya adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, yang mana manusia itu diberi kemampuan untuk berfikir dalam kegiatan sosial maupun agama. Selo Soemarjan dan Soelaman Soemardi (dalam Soekanto 1982: 18) menyatakan bahwa sosiologi atau ilmu masyarakat adalah ilmu yang mempelajari strruktur sosial dan proses sosial, termasuk perubahan-perubahn sosial. Dan setruktur sosial adalah keseluruhan jalinan antara unsur-unsur sosial yang pokok, yaitu kaidah-kaidah sosial (norma-norma sosial), lembaga-lembaga sosial, kelompok-kelompok sosial serta lapisan-lapisan sosial.
Proses sosial adalah pengaruh timbal balik antara berbagai segi kehidupan bersama, umpanya pengaruh timbal balik antara segi kehidupan ekonomi dengan segi kehidupan politik, antara kehidupan hukum dan segi kehidupan agama, antara kehidupan agama dan segi kehidupan ekonomi dan sebagainya. Sedangkan Roucek dan Werren (dalam Soekanto 1982: 18) menyebutkan bahwa sosiologi adalah iilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok.pengertian tentang interkasi sosial sangat berguna di dalam memperhatikan dan mempelajari berbagai masalah masyarrakat. Umpamanya di Indonesia dapat dibahas mengenai betuk-bentuk interaksi sosial yang berlangsung antara perbagai suku bangsa atau antara golongan terpelajar dengan golongan agama.   
Manusia senantiasa mempunyai naluri yang kuat untuk hidup bersama dengan sesamanya.  Semenjak dilahirkan manuusia sudah mempunyai naluri untuk hidup berkawan sehingga dia disebut sebagai animal sosial. Manusia hidup, tumbuh, dan berkembang dalam lingkungan alam dan budaya-budayanya (Setiadi, 2008: 178).
3. Contoh nilai sosial dalam masyaraka:
1.    Masyarakat sangat menjunjung tinggi nilai keramahan, sehingga bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang ramah.
2.    masyarakat menjunjung tinggi nilai kepedulian sosial, sehingga ketika ada musibah di suatu daerah, bantuan dari berbagai daerah segera datang.
3.    Nilai sosial mencakup kebutuhan hidup seperti kasih sayang, kepercayaan, pengakuan, dan penghargaan.
4.    Masyarakat Indonesia sangat menghargai nilai gotong royong dan nilai musyawarah ini, setiap anggota masyarakat mentaati dan menjaga agar nilai-nilai tersebut tidak hilang. Penghargaan yang mereka berikan terhadap nilai itulah yang disebut dengan nilai sosial.

2.      Deskribsi novel yang di bandingkan
            "Hidup ini memang tentang menunggu. menunggu kita untuk menyadari, kapan kita akan             berhenti menunggu." (hlm. 228)
            "Barangsiapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan, hidup bahagia. Tapi       jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan." (Epilog, hlm. 318)
                        Berlatar tahun 2042-2050, novel ini bisa dibilang bertema science-fiction, namun   cukup ringan untuk dipahami. Tentang dunia di masa depan dimana teknologi sudah     sangat sangat canggih, menggantikan peran manusia. Semuanya serba otomatis. Namun   secanggih-canggihnya teknologi, tidak ada yang dapat menandingi kekuasaan Allah          SWT, yaitu alam semesta ini. Sebuah bencana dahsyat terjadi di Bumi. Letusan gunung             purba disertai gempa bumi menggemparkan seluruh dunia, termasuk di kota tempat           tinggal Lail. Kereta bawah tanah yang ditumpanginya beserta ibunya hancur. Lail melihat         langsung dengan matanya sendiri, ibunya jatuh dari tangga darurat saat mereka mencoba          menyelamatkan diri. Hanya dua orang yang selamat, Lail dan seorang anak laki-laki yang     berusia dua tahun lebih tua darinya, Esok. Hujan menyertai musibah besar hari itu. Hujan yang dulu selalu disukai Lail, kini berubah menjadi kenangan buruk.
                        Sejak kejadian itu, Lail menjadi anak yatim piatu, saat usianya masih menginjak     13 tahun. Esok juga kehilangan keempat saudaranya pada kejadian kereta itu. Namun         beruntung, ibunya Esok ditemukan selamat di toko kue mereka meskipun kakinya harus             diamputasi. Hanya Esok yang mengurus, memperhatian dan menghibur Lail selama di             pengungsian. Bahkan, Esok menyelamatkan Lail saat akan terjadi hujan asam.
                        Setahun kemudian kota mulai berbenah. Infrastruktur dan rumah-rumah penduduk            dibangun kembali. Pengungsian akan ditutup dan mereka akan dipindahkan ke panti             sosial. Esok adalah anak yang pintar dan menonjol selama di pengungsian sehingga ada     orang kaya yang bersedia menjadikannya anak angkat. Esok berat meninggalkan Lail             sendirian, tapi demi pengobatan ibunya dan masa depannya, ia terpaksa menerima         tawaran adopsi itu.
                        Di panti sosial, persahabatan Lail dan Maryam, teman sekamarnya, dimulai.            Berbeda dengan Lail yang merasa hidupnya 'jatuh' setelah bencana, Maryam malah   sebaliknya. Sejak dulu ia yatim piatu dan tinggal di panti asuhan. Tinggal di panti sosial           dengan fasilitas yang lebih baik adalah suatu kemajuan baginya. Maryam anak yang      humoris, membuat Lail merasa sangat nyaman berteman dengannya.
                        Setahun kemudian, Esok diterima di universitas dan jurusan terbaik di Ibu Kota.    Tahun depannya Lail dan Maryam diterima di organisasi relawan sekaligus menjadi yang      termuda. Bulan dan tahun berlalu, Lail dan Esok hanya dapat bertemu beberapa kali, saat    Esok libur semester, walau hanya sehari karena jadwal penelitian yang padat, atau saat Lail menerima penghargaan dari organisasi relawan di Ibu Kota. Selebihnya, Lail             menyibukkan diri dengan kegiatan relawan maupun tugas sekolah untuk menghilangkan    rasa rindu pada sahabat kecilnya itu. Begitu seterusnya, hingga ia diterima di jurusan           keperawatan.
                        Sudah bertahun-tahun berlalu namun akibat dari bencana dahsyat itu masih dapat dirasakan. Beberapa negara subtropis mengalami penurunan suhu signifikan terus-       menerus yang menghambat seluruh aktivitas negara tersebut, sehingga pemerintahnya     memutuskan melakukan intervensi pada lapisan stratosfer. Usaha ini berhasil. Namun, di             daerah tropis seperti kota Lail menjadi dampaknya. Suhu menurun drastis hingga salju     turun, menebal, dan mematikan sektor pertanian dan sektor lainnya. 
                        Penduduk yang merasa terancam melakukan demonstrasi besar-besaran mendesak             pemerintah melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan negara subtropis. Perdebatan terjadi karena itu sangat berbahaya, dapat mempengaruhi iklim dunia.       Kalaupun berhasil, mungkin hanya untuk jangka pendek. Tapi penduduk tidak peduli.             Bagaimana bisa mereka memikirkan jangka panjang kalau untuk jangka pendek saja           mereka tidak bisa bertahan hidup. Akhirnya negaranya mengirimkan pesawat ulang alik     untuk mengintervensi stratosfer, dan berhasil. Suhu membaik setelah itu, tidak ada lagi          salju. Langit biru cerah tanpa awan. Pertanian mulai tumbuh kembali, perekonomian          lancar. Penduduk sangat senang dapat hidup normal kembali tanpa takut mati kelaparan         karena kehabisan pangan. Tidak butuh waktu lama hingga mereka menyadari hujan tidak akan pernah turun lagi.
1.      Persamaan dan perbedaan
a.      Persamaan teks sastra pada novel “Hujan” dengan ilmu sosial di masyarakat.
Teks sastra novel “Hujan”
Ilmu social
Lail dan Maryam menerima penugasan ke dua dari organisasi relawan saat libur antar semester. Tidak lama hanya enam hari. Mereka dikirim ke salah satu daeran kategori sektor dua. Mereka berdua benar-benar menemukan definisi seorang relawan. (Hujan. 2016:144)
Manusia itu pada hakekatnya tidak berdiri sendiri, ia selalu bis mendapatkan bantuan dari sesamanya terutama dari kaum kerabatnya dalam masa kesusahan (koentjaraningrat, 2000;41)
                 Analisis: pada kutipan tersebut ada persamaan antara teks sastra dalam novel “Hujan” karya Tere Liye dengan ilmu sosial yaitu sama-sama mengajarkan menjunjung tinggi nilai kepedulian sosial. Dimana bisa dilihat bahwa menurut masyarakat pada umumnya sangat meujunjung tinggi nilai kepedulian sosial sependapat dengan yang tergambar dalam novel “hujan karya tere liye” yaitu Lail dan Maryam yang menjadi seorang relawan dan mendapat tugas untuk dikirim ke salah satu daerah sector dua.
Teks sastra novel “Hujan”
Ilmu social
Mereka tidak banyak bicara, terus berjalan.Esok dengan sabar membantu Lail melewati hambatan di jalan, memegangi tangannya saat memanjat reruntuhan,menjaganya,dan memastikan Lail baik-baik saja. (Hujan. 2016:37)
Pada hakikatnya amsyarakat tidak dapat hidup sendiri, manusia pasti membutuhkan orang lain untuk menjakankan kehiduanny.gotong royong merupakan suatu nilai dimana manusia suka bekerja sama dan salinh tolonh menolong. (koentjaraningrat. 2000;11)
                                                       
                Analisis: pada kutipan tersebut ada persamaan antara teks sastra dalam novel “Hujan” karya Tere Liye dengan ilmu sosial yaitu sama-sama mengajarkan tentang hidup gotong royong atau saling bantu membantu. Sama halnya dalam kutipan teks pada novel Hujan menyatakan bahwa Esok membantu Lail melewati hanbatan dijalan, memeganginya saat memanjat reruntuhan, menjaganya dan memastikan Lail baik-baik saja.
Teks sastra novel “Hujan”
Ilmu social
Beberapa petugas menyambut hanggat kedatangan calon penghuninya, mendaftar semua orang, sekaligus menentukan lokasi kamar mereka. (Hujan. 2016:77)
Dalam masyarakat yang hidup bersosial sangat menjunjung tinggi nilai keramahan.
                Analisis: pada kutipan tersebut ada persamaan antara teks sastra dalam novel “Hujan” karya Tere Liye dengan ilmu sosial yaitu sama-sama mengajarkan tentang nilai keramahan. Dimana dalam masyarakat yang hidup bersosial sangat menjunjung tinggi nilai keramahan, sama halnya dengan kutipan teks dalam novel Hujan dimana petugas menyambut hangat kedatangan calon penghuni panti sosial.
Teks sastra novel “Hujan”
Ilmu sosial
Setiap lantai panti sosial memiliki dua petugas yang bergantian mengawasi anak-anak. Kedua belas petugas itu dipimpin satu superintendent. (Hujan. 2016:80)
Roucek dan Werren (dalam soekanto 1982:18) menyebutkan bahwa sosiologi adalah hubungan antara manusia dan kelompok-kelompok.
                Analisis: pada kutipan tersebut ada persamaan antara teks sastra dalam novel “Hujan” karya Tere Liye dengan ilmu sosial yaitu sama-sama mengajarkan tentang hubungan manusia dengan kelompok. Sama halnya dengan kutipan dalam novel Hujan bhwa adanya hubungan antara petugas panti dengan superintendent dan penghuni panti sosial.
Teks sastra novel “Hujan”
Ilmu social
Maryam yang yatim piatu sejak bayi, tinggal di panti asuhan, dari keluarga miskin. Dia menanggis terisak.
Lail merangkuh bahu sahabatnya, berjalan menuruni tangga, menuju balik panggung.
“berhenti menanggis maryam.” Lail berbisik.
Mayram tetap menanggis.(Hujan. 2016:175)
Manusia senantiasa mempunyai naluri yang kuat untuk hidup bersama dengan sesamanya.  Semenjak dilahirkan manusia sudah mempunyai naluri untuk hidup berkawan sehingga dia disebut sebagai animal sosial. (Setiadi, 2008: 178).
                Analisis: pada kutipan tersebut ada persamaan antara teks sastra dalam novel “Hujan” karya Tere Liye dengan ilmu sosial yaitu sama-sama mengajarkan untuk hidup bersama dan berkawan dengan sesama manusia. Sama halnya dalam kutipan teks yang ada dalam novel Hujan bahwasanya maryam yang sudan yatim piatu sejak lahir dan tinggal di panti sosial dapat berahabat dengan Lail.
Teks sastra novel “Hujan”
Ilmu social
1.      saat pin relawan disematkan ke 54 peserta, lapangan itu ramai oleh tepuk tangan. Resmi sudah mereka menjadi anggota organisasi. (Hujan. 2016:125)
2.      komite pusat telah mengirimkan kabar pagi ini, kalian berdua menerima penghargaan Dedikasi dan Pengorbanan tingkat pertama. Selamat Lail dan Maryam. Kalian berdua di undang ke Ibu Kota selama tiga hari untuk menerima penghargaan itu di acara puncak peringatan. (Hujan. 2016:164-165)
Nilai sosial mencakup kebutuhan hidup seperti kasih sayang, kepercayaan, pengakuan, dan penghargaan.
                Analisis: pada kutipan tersebut ada persamaan antara teks sastra dalam novel “Hujan” karya Tere Liye dengan ilmu sosial yaitu sama-sama mencakup kebutuhan sosial seperti kasih sayang, kepercayaan, pengakuan dan penghargaan. Dalam teks novel “Huajn” bahwasanya relawan mendapatkan pin yang menandakan bahwa mereka sudan resmi (pengakuan) menjadi anggota organisasi. Dan juga ada teks dalam novel “Hujan” bahwasanya komite memberikan kabar bahwasanya Lail dan Maryam mendapat penghargaan dari komite pusat.
Teks sastra novel “Hujan”
Ilmu social
 “bagus, sekarang terbang, aku memerintahmu.”.
“nona, aku harus memperingatkan, memaksa mobil taksi untuk terbang adalah tindakan pelanggaran protokol keselamatan penumpang, ini sudah dua kali nona melakukannya dalam 8 jam terakhir”.
“hai!hei, bagaimana kamu tau? Kamu bukan mobil yang kunaiki sebelumnya kan?”.
“ seluruh mobil taksi tersambung dalam system yang sama. Kami mengenali setiap penumpang. Sekali lagi nona memaksa mobil taksi untuk terbang, kami akan membawa nona menuju kantor keamanan kota.
(Hujan. 2016:240)
Nilai sosial di aktualisasikan dalam bentuk norma-norma sosial yang dilengkapi dengan ssnksi-sanksi bagi pelanggarnya.
                Analisis: pada kutipan tersebut ada persamaan antara teks sastra dalam novel “Hujan” karya Tere Liye dengan ilmu sosial yaitu adanya sanksi jika ada yang melanggar norma-norma sosial yang sudah ada dalam masyarakat. Dalam novel “Hujan” diterangkan bahwasanya seorang Maryam yang melanggar peraturan yang ada, dia memaksa mobil untuk terbang, dan jika maryam masih saja memaksa maka dia akan dibawa menuju kantor keamanan kota.
b.      Perbedaan teks sastra pada novel “Hujan” dengan ilmu sosial di masyarakat.
Teks sastra novel “Hujan”
Ilmu sosial
Cepat atau lambat, semua Negara hanya peduli dengan penduduknya masing-masing. Tapi bagaimana teknologi akan mengalahkan ambisi rakus manusia? Ketika mereka akhirnya tidak mau mengalah dan saling merusak. Peluncuran pesawat ulak-alik itu jelas tindakan yang merusak. (Hujan. 2016:181).
Pengertian nilai berdasarkan Kamus Bahasa Indonesia: Nilai adalah, taksiran, sifat-sifat (hal-hal) penting yang dianggap penting atau yang berguna bagi kemanusiaan yang dapat mendorong manusia mancapai tujuannya. (KBBI, Edisi ke-3 hal 783)
               Analisis: pada kutipan tersebut ada perbedaan antara teks sastra dalam novel “Hujan” karya Tere Liye dangan ilmu sosial yaitu perbedaan dalam bentuk egoisme. Dimana dalam novel tertera bahwasanya manusia yang tidak mau mengalah dan saling merusak tanpa memikirkan orang dengan cara meluncurkan pesawat ulak-alik untuk merubah iklim dunia. Berbeda sekali dengan pengertian sosial yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam mencapai tujuan bersama.

C.    PENUTUP
1.      Kesimpulan
Setelah dilakukan analisis perbandingan, maka diketahui bahwa terdapat persamaan dan perbedaan dalam Novel “Hujan”. Persamaan dan perbedaan tersebut meliputi nilai-nilai sosial yang ada dalam Novel tersebut. Tapi dalam analisis perbandingan antara Novel “Hujan” dengan ilmu sosial lebih cinderung banyak persamaannya dibandingkan dengan perbedaannya, dari situ dapat di simpulkan bahwa penulis novel “Hujan” (Tere Liye) mengambil nilai sosial dalam masyarakat yang ada ke dalam novelnya.

2.      Saran
Semoga makalah yang berisi perbandingan Novel “Hujan” dengan nilai sosial dapat memberikan manfaat kepada pembaca untuk  meneladani dalam menjalani kehidupan sehari hari.
DAFTAR PUSTAKA
Koentjaraningrat, 2000. Kebudayaan Manusia dan Pembangunan. Jakarta; PT. Gramedia
Sunarto, Kamanto. 1993. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit FE – UI.
Richard Osborne & Borin Van Loon. 1996. Mengenal Sosiologi For Beginner. Bandung: Mizan.
Endraswara, Suwardi. 2014. Metodologi Penelitian Sastra Bandingan. Jakarta:Bukupop
Departemen pendidikan nasional. 2007. Kamus besar bahasa Indonesia. jakarta:Balai pustaka.
Liye, Tere. 2016. Hujan. Jakarta: Gramedia pustaka utama.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Rhifaery's Room Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang