Perbandingan Teks Sastra Novel Hujan Karya Tere Liye Dengan Ilmu Sosial
Oleh: Ahyu Nur Ichsana
A.
PENDAHULUAN
1.
Latar
Belakang
Karya sastra
sebagai cerminan kehidupan masyarakat, merupakan dunia subjektivitas yang
diciptakan oleh pengarang, yang didalamnya terdapat berbagai aspek kehidupan
yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Aspek kehidupan tersebut berupa
aspek sosiologis, filsafat, budaya, dan agama. Keberadaan karya sastra tidak
dapat dilepaskan dari diri pengarang sebagai bagian dari anggota suatu
masyarakat. Sehingga dalam penciptaannya, pengarang tidak dapat terlepas dari
lingkungan sosial budaya yang melatarinya.
Sastra bandingan adalah sebuah studi
teks across cultural. Studi ini merupakan upaya interdisipliner, yakni lebih
banyak memperhatikan hubungan sastra menurut aspek waktu dan tempat. Dari aspek
waktu, sastra bandingan dapat membandingkan dua atau lebih periode yang
berbeda. Sedangkan konteks tempat, akan mengikat sastra bandingan menurut
wilayah geogravis asatra (Endraswara, 2014:128).
Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak pernah terlepas dari kehidupan
sosial, sebuah kehidupan sosial akan membentuk suatu perkumpulan yang disebut
masyarakat. antara individu dan kelompok. Oleh sebab itu novel Hujan hadir
sebagai sebuah contoh kehidupan sosial yang terjadi dalam kehidupan di
masyarakat. Adapun kesengajaan saya menganalisis novel ini berdasarkan nilai
sosial yang terkandung di dalamnya adalah untuk membantu menerjemahkan
nilai-nilai sosial yang sangat penting untuk kita ketahaui, karena secara tidak
sadar kita sudah disinggung besar-besaran oleh novel tersebut.
Nilai dan
Norma Sosial setiap manusia memiliki kriteria yang berbeda-beda mengenai baik
buruknya sesuatu. Suatu nilai berfungsi sebagai pedoman perilaku dalam
masyarakat. Seperti kerja sama, persaudaraan, rasa kekeluargaan, ketaatan,
kedisiplinan, kebersihan, ketertiban, dan lain-lain. Begitu pentingnya nilai
bagi masyarakat, maka nilai diaktualisasikan dalam bentuk norma-norma sosial
yang dilengkapi dengan sanksi-sanksi bagi pelanggarnya. Setelah nilai dan norma
disepakati serta diterima, maka nilai dan norma tersebut disosialisasikan
kepada warga masyarakat secara turun-temurun. Tujuannya agar warga masyarakat
menyesuaikan perilakunya dengan nilai dan norma itu, sehingga tercipta
keteraturan sosial.
2. Rumusan masalah
1)
Apa yang di
maksud dengan nilai sosial?
2)
Apa perbedaan
dan persamaan nilai sosial dalam novel “Hujan” kayra tere liye?
3. Tujuan
pembahasan
1)
Untuk
mengetahui maksud nilai sosial.
2)
Untuk
mengetahui perbedaan dan persamaan nilai sosial dalam novel “Hujan” kayra tere
liye.
B.
PEMBAHASAN
1.
Pengertian
Nilai Sosial
Nilai sosial
adalah ukuran-ukuran, patokan-patokan, anggapan-anggapan, keyakinan-keyakinan,
yang hidup dan berkembang dalam masyarakat serta dianut oleh banyak orang dalam
lingkungan masyarakat mengenai apa yang benar, pantas, luhur, dan baik untuk
dilakukan. Nilai-nilai sosial merupakan aktualisasi dari
kehendak masyarakat mengenai segala sesuatu yang dianggap benar dan baik. Pada
intinya, adanya nilai sosial dalam masyarakat bersumber pada tiga hal yaitu
dari Tuhan, masyarakat, dan individu.
Pengertian
Nilai Sosial Menurut Para Ahli
Kimball
Young Mengemukakan pendapat bahwa nilai adalah
berupa abstrak dan sering tidak menyadari apa yang dianggap penting dalam
masyarakat.
A.W.GreenNilai
merupakan kesadaran berjalan relatif dengan emosi terhadap objek.
Woods
Menunjukkan
bahwa nilai merupakan pedoman umum yang telah berlangsung lama dan perilaku
serta kepuasan mengarahkan kepada kehidupan sehari-hari.
M.Z.Lawang
Nilai
merupakan gagasan tentang apa yang mereka inginkan, yang tepat, berharga, dan
dapat mempengaruhi perilaku sosial dari orang-orang yang memenuhi syarat.
Hendropuspito
Nilai
merupakan menghargai semua masyarakat karena memiliki efisiensi fungsional
untuk pengembangan kehidupan manusia.
Karel.J.Veegerso
siologi merupakan nilai-nilai sebagai ide (sesuatu di kepala orang) baik atau
sebuah tidaknya . Atau dengan kata lain, nilai adalah sebuah hasil dari
penilaian atau pertimbangan moral.
Pengertian nilai berdasarkan Kamus
Bahasa Indonesia: Nilai adalah, taksiran, sifat-sifat (hal-hal) penting yang
dianggap penting atau yang berguna bagi kemanusiaan yang dapat mendorong
manusia mancapai tujuannya. (KBBI, Edisi ke-3 hal 783)
Nilai sosial adalah segala sesuatu yang
dianggap baik dan benar, yang diidam-idamkan masyarakat. Agar nilai-nilai
sosial itu dapat tercipta dalam masyarakat, maka perlu diciptakan norma sosial
dengan sanksi-sanksi sosial. Nilai sosial merupakan penghargaan yang diberikan
masyarakat kepada segala sesuatu yang baik, penting, luhur, pantas, dan
mempunyai daya guna fungsional bagi perkembangan dan kebaikan hidup bersama.
KesimpulannyaNilai sosial adalah sesuatu pandangan yang
dianggap baik dan benar oleh suatu lingkungan masyarakat yang kemudian menjadi
pedoman sebagi suatu contoh perilaku yang baik dan diharapkan oleh warga
masyarakat.
Nilai sosial yang dianut dalam suatu masyarakat akan
mberbeda dengan masyarakat lainnya, namun ada pula nilai yang dianut oleh
masyarakat secara umum. Biasanya nilai yang dianut secara umum ini terkait
dengan kebaikan, etika, dan nilai keagamaan.
1. Jenis-Jenis Nilai Sosial
1.
Nilai kebenaran, bersumber dari akal manusia (cipta);
2. Nilai keindahan atau estetika,
bersumber dari unsur rasa manusia (estetika);
3.
Nilai moral atau kebaikan, bersumber dari kehendak manusia (karsa);
4.
Nilai religius, bersumber pada ke-Tuhanan.
2. .
Ciri-ciri Nilai Sosial
1) Tidak semua hal yang baik di mata
masyarakat dapat dianggap sebagai nilai sosial.
2)
Merupakan hasil interaksi antaranggota masyarakat.
3)
Ditularkan di antara anggota-anggota masyarakat melalui pergaulan.
4)
Terbentuk melalui proses belajar yang panjang melalui sosialisasi.
5)
Nilai sebagai alat pemuas kebutuhan sosial.
6)
Nilai berbeda-beda antara kebudayaan yang satu dengan yang lain.
7)
Mempunyai efek yang berbeda terhadap individu.
8) Memengaruhi perkembangan pribadi
dalam masyarakat baik positif maupun negatif.
9) Hasil seleksi dari berbagai macam
aspek kehidupan di dalam masyarakat.
Manusia pada
hakikatnya adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, yang mana manusia
itu diberi kemampuan untuk berfikir dalam kegiatan sosial maupun agama. Selo
Soemarjan dan Soelaman Soemardi (dalam Soekanto 1982: 18) menyatakan bahwa
sosiologi atau ilmu masyarakat adalah ilmu yang mempelajari strruktur sosial
dan proses sosial, termasuk perubahan-perubahn sosial. Dan setruktur sosial
adalah keseluruhan jalinan antara unsur-unsur sosial yang pokok, yaitu
kaidah-kaidah sosial (norma-norma sosial), lembaga-lembaga sosial,
kelompok-kelompok sosial serta lapisan-lapisan sosial.
Proses sosial
adalah pengaruh timbal balik antara berbagai segi kehidupan bersama, umpanya
pengaruh timbal balik antara segi kehidupan ekonomi dengan segi kehidupan
politik, antara kehidupan hukum dan segi kehidupan agama, antara kehidupan
agama dan segi kehidupan ekonomi dan sebagainya. Sedangkan Roucek dan Werren
(dalam Soekanto 1982: 18) menyebutkan bahwa sosiologi adalah iilmu yang
mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok.pengertian tentang
interkasi sosial sangat berguna di dalam memperhatikan dan mempelajari berbagai
masalah masyarrakat. Umpamanya di Indonesia dapat dibahas mengenai betuk-bentuk
interaksi sosial yang berlangsung antara perbagai suku bangsa atau antara
golongan terpelajar dengan golongan agama.
Manusia
senantiasa mempunyai naluri yang kuat untuk hidup bersama dengan
sesamanya. Semenjak dilahirkan manuusia sudah mempunyai naluri untuk
hidup berkawan sehingga dia disebut sebagai animal sosial. Manusia
hidup, tumbuh, dan berkembang dalam lingkungan alam dan budaya-budayanya
(Setiadi, 2008: 178).
3. Contoh nilai sosial dalam masyaraka:
1.
Masyarakat
sangat menjunjung tinggi nilai keramahan, sehingga bangsa Indonesia dikenal
sebagai bangsa yang ramah.
2.
masyarakat
menjunjung tinggi nilai kepedulian sosial, sehingga ketika ada musibah di suatu
daerah, bantuan dari berbagai daerah segera datang.
3.
Nilai
sosial mencakup kebutuhan hidup seperti kasih sayang, kepercayaan, pengakuan,
dan penghargaan.
4.
Masyarakat
Indonesia sangat menghargai nilai gotong royong dan nilai musyawarah ini,
setiap anggota masyarakat mentaati dan menjaga agar nilai-nilai tersebut tidak
hilang. Penghargaan yang mereka berikan terhadap nilai itulah yang disebut
dengan nilai sosial.
2. Deskribsi
novel yang di bandingkan
"Hidup ini memang tentang
menunggu. menunggu kita untuk menyadari, kapan kita akan berhenti menunggu." (hlm. 228)
"Barangsiapa yang bisa
menerima, maka dia akan bisa melupakan, hidup bahagia. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak
akan pernah bisa melupakan." (Epilog, hlm. 318)
Berlatar tahun 2042-2050,
novel ini bisa dibilang bertema science-fiction, namun cukup ringan untuk dipahami. Tentang dunia di masa depan dimana
teknologi sudah sangat sangat canggih,
menggantikan peran manusia. Semuanya serba otomatis. Namun secanggih-canggihnya teknologi, tidak ada yang
dapat menandingi kekuasaan Allah SWT,
yaitu alam semesta ini. Sebuah bencana dahsyat terjadi di Bumi. Letusan gunung purba disertai gempa bumi
menggemparkan seluruh dunia, termasuk di kota tempat tinggal Lail. Kereta bawah tanah yang ditumpanginya beserta
ibunya hancur. Lail melihat langsung
dengan matanya sendiri, ibunya jatuh dari tangga darurat saat mereka mencoba menyelamatkan diri. Hanya dua orang
yang selamat, Lail dan seorang anak laki-laki yang berusia dua tahun lebih tua darinya, Esok. Hujan menyertai
musibah besar hari itu. Hujan yang dulu
selalu disukai Lail, kini berubah menjadi kenangan buruk.
Sejak kejadian itu, Lail
menjadi anak yatim piatu, saat usianya masih menginjak 13 tahun. Esok juga kehilangan keempat saudaranya pada kejadian
kereta itu. Namun beruntung,
ibunya Esok ditemukan selamat di toko kue mereka meskipun kakinya harus diamputasi. Hanya Esok yang
mengurus, memperhatian dan menghibur Lail selama di pengungsian. Bahkan, Esok menyelamatkan Lail saat akan
terjadi hujan asam.
Setahun kemudian kota
mulai berbenah. Infrastruktur dan rumah-rumah penduduk dibangun kembali. Pengungsian akan ditutup dan mereka akan
dipindahkan ke panti sosial.
Esok adalah anak yang pintar dan menonjol selama di pengungsian sehingga ada orang kaya yang bersedia menjadikannya anak
angkat. Esok berat meninggalkan Lail sendirian,
tapi demi pengobatan ibunya dan masa depannya, ia terpaksa menerima tawaran adopsi itu.
Di panti sosial,
persahabatan Lail dan Maryam, teman sekamarnya, dimulai. Berbeda dengan Lail yang merasa
hidupnya 'jatuh' setelah bencana, Maryam malah sebaliknya.
Sejak dulu ia yatim piatu dan tinggal di panti asuhan. Tinggal di panti sosial dengan fasilitas yang lebih baik
adalah suatu kemajuan baginya. Maryam anak yang humoris, membuat Lail merasa sangat nyaman berteman dengannya.
Setahun kemudian, Esok
diterima di universitas dan jurusan terbaik di Ibu Kota. Tahun depannya Lail dan Maryam diterima di
organisasi relawan sekaligus menjadi yang termuda.
Bulan dan tahun berlalu, Lail dan Esok hanya dapat bertemu beberapa kali, saat Esok libur semester, walau hanya sehari
karena jadwal penelitian yang padat, atau saat Lail
menerima penghargaan dari organisasi relawan di Ibu Kota. Selebihnya, Lail menyibukkan diri dengan kegiatan
relawan maupun tugas sekolah untuk menghilangkan rasa rindu pada sahabat kecilnya itu. Begitu seterusnya, hingga ia
diterima di jurusan keperawatan.
Sudah bertahun-tahun
berlalu namun akibat dari bencana dahsyat itu masih dapat dirasakan. Beberapa negara subtropis mengalami
penurunan suhu signifikan terus- menerus
yang menghambat seluruh aktivitas negara tersebut, sehingga pemerintahnya memutuskan melakukan intervensi pada lapisan
stratosfer. Usaha ini berhasil. Namun, di daerah
tropis seperti kota Lail menjadi dampaknya. Suhu menurun drastis hingga salju turun, menebal, dan mematikan sektor
pertanian dan sektor lainnya.
Penduduk yang merasa
terancam melakukan demonstrasi besar-besaran mendesak pemerintah melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan
negara subtropis. Perdebatan terjadi
karena itu sangat berbahaya, dapat mempengaruhi iklim dunia. Kalaupun berhasil, mungkin hanya untuk
jangka pendek. Tapi penduduk tidak peduli. Bagaimana
bisa mereka memikirkan jangka panjang kalau untuk jangka pendek saja mereka tidak bisa bertahan hidup.
Akhirnya negaranya mengirimkan pesawat ulang alik untuk mengintervensi stratosfer, dan berhasil. Suhu membaik
setelah itu, tidak ada lagi salju.
Langit biru cerah tanpa awan. Pertanian mulai tumbuh kembali, perekonomian lancar. Penduduk sangat senang dapat
hidup normal kembali tanpa takut mati kelaparan karena kehabisan pangan. Tidak butuh waktu lama hingga mereka
menyadari hujan tidak akan pernah turun
lagi.
1.
Persamaan
dan perbedaan
a.
Persamaan teks sastra pada novel
“Hujan” dengan ilmu sosial di masyarakat.
|
Teks sastra novel “Hujan”
|
Ilmu
social
|
|
Lail dan Maryam menerima penugasan ke dua dari organisasi relawan saat
libur antar semester. Tidak lama hanya enam hari. Mereka dikirim ke salah
satu daeran kategori sektor dua. Mereka berdua benar-benar menemukan definisi
seorang relawan. (Hujan. 2016:144)
|
Manusia itu pada hakekatnya
tidak berdiri sendiri, ia selalu bis mendapatkan bantuan dari sesamanya
terutama dari kaum kerabatnya dalam masa kesusahan (koentjaraningrat,
2000;41)
|
Analisis:
pada kutipan tersebut ada persamaan antara teks sastra dalam novel “Hujan”
karya Tere Liye dengan ilmu sosial yaitu sama-sama mengajarkan menjunjung
tinggi nilai kepedulian sosial. Dimana bisa dilihat bahwa menurut masyarakat
pada umumnya sangat meujunjung tinggi nilai kepedulian sosial sependapat dengan
yang tergambar dalam novel “hujan karya tere liye” yaitu Lail dan Maryam yang
menjadi seorang relawan dan mendapat tugas untuk dikirim ke salah satu daerah
sector dua.
|
Teks
sastra novel “Hujan”
|
Ilmu
social
|
|
Mereka tidak banyak bicara, terus berjalan.Esok
dengan sabar membantu Lail melewati hambatan di jalan, memegangi tangannya
saat memanjat reruntuhan,menjaganya,dan memastikan Lail baik-baik saja. (Hujan.
2016:37)
|
Pada hakikatnya amsyarakat
tidak dapat hidup sendiri, manusia pasti membutuhkan orang lain untuk
menjakankan kehiduanny.gotong royong merupakan suatu nilai dimana manusia
suka bekerja sama dan salinh tolonh menolong. (koentjaraningrat. 2000;11)
|
Analisis: pada kutipan tersebut
ada persamaan antara teks sastra dalam novel “Hujan” karya Tere Liye dengan
ilmu sosial yaitu sama-sama mengajarkan tentang hidup gotong royong atau saling
bantu membantu. Sama halnya dalam kutipan teks pada novel Hujan menyatakan
bahwa Esok membantu Lail melewati hanbatan dijalan, memeganginya saat memanjat
reruntuhan, menjaganya dan memastikan Lail baik-baik saja.
|
Teks sastra novel “Hujan”
|
Ilmu
social
|
|
Beberapa petugas menyambut hanggat kedatangan calon penghuninya,
mendaftar semua orang, sekaligus menentukan lokasi kamar mereka. (Hujan.
2016:77)
|
Dalam masyarakat yang hidup bersosial sangat menjunjung tinggi nilai
keramahan.
|
Analisis: pada kutipan tersebut
ada persamaan antara teks sastra dalam novel “Hujan” karya Tere Liye dengan
ilmu sosial yaitu sama-sama mengajarkan tentang nilai keramahan. Dimana dalam
masyarakat yang hidup bersosial sangat menjunjung tinggi nilai keramahan, sama
halnya dengan kutipan teks dalam novel Hujan dimana petugas menyambut hangat
kedatangan calon penghuni panti sosial.
|
Teks sastra novel “Hujan”
|
Ilmu
sosial
|
|
Setiap lantai panti sosial memiliki dua petugas
yang bergantian mengawasi anak-anak. Kedua belas petugas itu dipimpin satu superintendent.
(Hujan. 2016:80)
|
Roucek dan Werren (dalam soekanto 1982:18) menyebutkan bahwa sosiologi
adalah hubungan antara manusia dan kelompok-kelompok.
|
Analisis: pada kutipan tersebut
ada persamaan antara teks sastra dalam novel “Hujan” karya Tere Liye dengan
ilmu sosial yaitu sama-sama mengajarkan tentang hubungan manusia dengan
kelompok. Sama halnya dengan kutipan dalam novel Hujan bhwa adanya hubungan antara
petugas panti dengan superintendent dan penghuni panti sosial.
|
Teks sastra novel “Hujan”
|
Ilmu
social
|
|
Maryam yang yatim piatu sejak bayi, tinggal di panti asuhan, dari
keluarga miskin. Dia menanggis terisak.
Lail merangkuh bahu sahabatnya, berjalan menuruni
tangga, menuju balik panggung.
“berhenti menanggis maryam.” Lail berbisik.
Mayram tetap menanggis.(Hujan. 2016:175)
|
Manusia senantiasa mempunyai
naluri yang kuat untuk hidup bersama dengan sesamanya. Semenjak
dilahirkan manusia sudah mempunyai naluri untuk hidup berkawan sehingga dia
disebut sebagai animal sosial. (Setiadi, 2008: 178).
|
Analisis: pada kutipan tersebut
ada persamaan antara teks sastra dalam novel “Hujan” karya Tere Liye dengan
ilmu sosial yaitu sama-sama mengajarkan untuk hidup bersama dan berkawan dengan
sesama manusia. Sama halnya dalam kutipan teks yang ada dalam novel Hujan
bahwasanya maryam yang sudan yatim piatu sejak lahir dan tinggal di panti
sosial dapat berahabat dengan Lail.
|
Teks sastra novel “Hujan”
|
Ilmu
social
|
|
1.
saat pin
relawan disematkan ke 54 peserta, lapangan itu ramai oleh tepuk tangan. Resmi
sudah mereka menjadi anggota organisasi.
(Hujan. 2016:125)
2.
komite
pusat telah mengirimkan kabar pagi ini, kalian berdua menerima penghargaan
Dedikasi dan Pengorbanan tingkat pertama. Selamat Lail dan Maryam. Kalian
berdua di undang ke Ibu Kota selama tiga hari untuk menerima penghargaan itu
di acara puncak peringatan. (Hujan. 2016:164-165)
|
Nilai sosial mencakup kebutuhan hidup seperti kasih sayang,
kepercayaan, pengakuan, dan penghargaan.
|
Analisis: pada kutipan tersebut
ada persamaan antara teks sastra dalam novel “Hujan” karya Tere Liye dengan
ilmu sosial yaitu sama-sama mencakup kebutuhan sosial seperti kasih sayang,
kepercayaan, pengakuan dan penghargaan. Dalam teks novel “Huajn” bahwasanya
relawan mendapatkan pin yang menandakan bahwa mereka sudan resmi (pengakuan)
menjadi anggota organisasi. Dan juga ada teks dalam novel “Hujan” bahwasanya
komite memberikan kabar bahwasanya Lail dan Maryam mendapat penghargaan dari
komite pusat.
|
Teks sastra novel “Hujan”
|
Ilmu
social
|
|
“bagus, sekarang terbang, aku
memerintahmu.”.
“nona, aku harus memperingatkan, memaksa mobil
taksi untuk terbang adalah tindakan pelanggaran protokol keselamatan
penumpang, ini sudah dua kali nona melakukannya dalam 8 jam terakhir”.
“hai!hei, bagaimana kamu tau? Kamu bukan mobil
yang kunaiki sebelumnya kan?”.
“ seluruh mobil taksi tersambung dalam system yang
sama. Kami mengenali setiap penumpang. Sekali lagi nona memaksa mobil taksi
untuk terbang, kami akan membawa nona menuju kantor keamanan kota.
(Hujan. 2016:240)
|
Nilai
sosial di aktualisasikan dalam bentuk norma-norma sosial yang dilengkapi
dengan ssnksi-sanksi bagi pelanggarnya.
|
Analisis: pada kutipan tersebut
ada persamaan antara teks sastra dalam novel “Hujan” karya Tere Liye dengan
ilmu sosial yaitu adanya sanksi jika ada yang melanggar norma-norma sosial yang
sudah ada dalam masyarakat. Dalam novel “Hujan” diterangkan bahwasanya seorang
Maryam yang melanggar peraturan yang ada, dia memaksa mobil untuk terbang, dan
jika maryam masih saja memaksa maka dia akan dibawa menuju kantor keamanan
kota.
b. Perbedaan teks sastra pada novel
“Hujan” dengan ilmu sosial di masyarakat.
|
Teks sastra novel “Hujan”
|
Ilmu
sosial
|
|
Cepat atau lambat, semua Negara hanya peduli dengan penduduknya
masing-masing. Tapi bagaimana teknologi akan mengalahkan ambisi rakus
manusia? Ketika mereka akhirnya tidak mau mengalah dan saling merusak.
Peluncuran pesawat ulak-alik itu jelas tindakan yang merusak. (Hujan.
2016:181).
|
Pengertian
nilai berdasarkan Kamus Bahasa Indonesia: Nilai adalah, taksiran, sifat-sifat
(hal-hal) penting yang dianggap penting atau yang berguna bagi kemanusiaan
yang dapat mendorong manusia mancapai tujuannya. (KBBI, Edisi ke-3 hal
783)
|
Analisis: pada kutipan tersebut ada
perbedaan antara teks sastra dalam novel “Hujan” karya Tere Liye dangan ilmu
sosial yaitu perbedaan dalam bentuk egoisme. Dimana dalam novel tertera
bahwasanya manusia yang tidak mau mengalah dan saling merusak tanpa memikirkan
orang dengan cara meluncurkan pesawat ulak-alik untuk merubah iklim dunia.
Berbeda sekali dengan pengertian sosial yang menjunjung tinggi nilai
kemanusiaan dalam mencapai tujuan bersama.
C. PENUTUP
1.
Kesimpulan
Setelah dilakukan analisis perbandingan,
maka diketahui bahwa terdapat persamaan dan perbedaan dalam Novel “Hujan”.
Persamaan dan perbedaan tersebut meliputi nilai-nilai sosial yang ada dalam
Novel tersebut. Tapi dalam analisis perbandingan antara Novel “Hujan” dengan
ilmu sosial lebih cinderung banyak persamaannya dibandingkan dengan
perbedaannya, dari situ dapat di simpulkan bahwa penulis novel “Hujan” (Tere
Liye) mengambil nilai sosial dalam masyarakat yang ada ke dalam novelnya.
2. Saran
Semoga makalah yang berisi perbandingan
Novel “Hujan” dengan nilai sosial dapat memberikan manfaat kepada pembaca
untuk meneladani dalam menjalani
kehidupan sehari hari.
DAFTAR PUSTAKA
Koentjaraningrat,
2000. Kebudayaan Manusia dan Pembangunan.
Jakarta; PT. Gramedia
Sunarto, Kamanto. 1993. Pengantar
Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit FE – UI.
Richard Osborne & Borin Van Loon.
1996. Mengenal Sosiologi For Beginner. Bandung: Mizan.
Endraswara, Suwardi. 2014. Metodologi Penelitian
Sastra Bandingan. Jakarta:Bukupop
Departemen pendidikan nasional. 2007. Kamus besar
bahasa Indonesia. jakarta:Balai pustaka.
Liye, Tere. 2016. Hujan.
Jakarta: Gramedia pustaka utama.

0 komentar:
Posting Komentar