Selasa, 04 Oktober 2016

Perbandingan Teks Sastra Novel Si Utun Sang Penolong Karya Matia Madjiah Dengan Dongeng Abu Nawas Oleh: Jamilah Seng



Perbandingan Teks Sastra Novel Si Utun Sang Penolong Karya Matia Madjiah Dengan Dongeng Abu Nawas
Oleh: Jamilah Seng




A.    PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
                        Karya sastra sebagai cerminan kehidupan masyarakat, merupakan dunia subjektivi­tas yang diciptakan oleh pengarang yang di dalamnya terdapat berbagai aspek kehidupan yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Aspek kehidupan tersebut berupa aspek sosiolologis, psikologis, filsafat, budaya, dan agama. Keberadaan karya sastra tidak dapat dilepaskan dari diri pengarang sebagai bagian dari anggota suatu masyarakat. Sehingga dalam penciptaannya, pengarang tidak dapat terlepas dari lingkungan sosial budaya yang melatarinya.
                        Menurut Burhan Nurgiyanto (2000: 37), analisis struktural karya sastra, yang dalam hal ini fiksi, dapat dilakukan dengan mengidentifikasi, mengkaji, dan mendeskripsikan fungsi dan hubungan antar unsur intrinsik. Sehingga analisis yang digunakan dalam membandingkan kedua cerita tersebut adalah dengan menggunakan teori struktural.
                        Dalam penelitian ini menggunakan sastra bandingan folkloristik yaitu sastra bandingan yang lebih terkait dengan kisah-kisah, dongeng dan sejumlah tradisi lisan. sastra lisan juga dapat diambil dari ritual dan tradisi lisan lain yang memiliki varian kesamaan. Bandingan juga menekankan bagaimana persebaran ceritanya. Studi bandingan cenderung menuju kearah migrasi atau kearah transmisi cerita dari waktu ke waktu dan dari wilayah ke wilayah.
                        Di Negara-negara Asia dan Afrika sastra lisan atau kesusastraan ini sangat berperan penting dalam masyarakat, sebab masyarakat masih banyak yang buta huruf (umumnya para petani pendesaan). Dengan begitu, apa yang dinamakan dalam masyarakat sastra tulis trasdisional (yang ada di istana-istana, pusat-pusat agama, dan lain-lain). Serta sastra modern (buku-buku cetakan yang banyak dijumpai di kota) hanya merupakan sebagian kecil dari kehidupnan satra.
                        Cerita lisan atau dongen Abu Nawas merupakan salah satu contoh cerita atau dongeng Indonesia yang mirip dengan novel seri “Si Utun Sang Penolong” Karya Matia Madjiah. Menurut Danandjaja (1997) dongeng biasa adalah jenis dongeng yang ditokohi manusia dan biasanya adalah kisah suka duka seseorang. Dongeng biasanya banyak yang mempunyai kesamaan cerita maupun tema, tidak hanya di Indonesia namun juga diluar negeri. Persamaan Cerita lisan atau dongen Abu Nawas dengan novel seri “Si Utun Sang Penolong” Karya Matia Madjiah yaitu bersifat paranorma yang  hampir sama. Kedua cerita tersebut sama-sama mempunyai karakter yang cerdas, bukan saja otaknya cerdas, tetapi filsafatnya tajam, pandai bicara dan suka homor, kedua-dua tokohnya juga suka menolong.
2.      Rumusan Masalah
           Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang akan dibahas pada makalah ini adalah sebagai berikut:
1)   Bagaimana persamaan unsur intrinsik dalam novel “Si Utun Sang Penolong” Karya  Matia Madjiah dengan dongeng Abu Nawas?
2)   Bagaimana pebedaan unsur intrinsik dalam novel “Si Utun Sang Penolong” Karya Matia Madjiah dengan dongeng Abu Nawas?
3.    Tujuan Penelitian
     Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan pembahasan dalam tulisan ini adalah sebagai berikut:
1)      Mendeskripsikan persamaan unsur intrinsik dalam novel “Si Utun Sang Penolong” Karya Matia Madjiah dengan dongeng Abu Nawas?
2)      Mendeskripsikan pebedaan unsur intrinsik dalam novel “Si Utun Sang Penolong” Karya Matia Madjiah dengan dongeng Abu Nawas?

B.     LADASAN TEORI
Sastra Bandingan Menurut Sapardi Djoko Damono (2005: 1), sastra bandingan adalah sebuah pendekatan dalam ilmu sastra yang tidak menghasilkan teori sendiri. Dengan kata lain, dalam kajian ini dapat menggunakan teori apa saja selama masih dapat bersangkutan dengan sastra.
1.      Pendekatan Struktural
            Munculnya strukturalisme sebagai teori sastra diawali dengan pandangan bahwa karya sastra merupakan unsur-unsur yang kompleks dan bersistem (Endraswara,2008:49). Unsur-unsur yang ada di dalam karya sastra tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Hubungan anrarunsur itulah, yang merupakan kriteria untuk menentukan baik dan buruknya karya satra. Keunggulan dari karya sastra dapat dilihat pada jalinan antarunsur yang saling melengkapi. Structural adalah konsep yang memandang sesuatu berdasarkan unsur-unsurnya.
            Teori struktural adalah teori yang memandang teks karya sastra berdasarkan unsur-unsur yang ada didalamnya untuk diidentifikasi dan dipahami relasinya sebagai satu kesatuan yang kompleks. Teori ini bermula dari pandangan Ferdinand de Sausure yang memandang adanya sistem di dalam bahasa. Pandangan ini kemudian diperluaskan dengan asumsi bahwa sistem itu juga ada di dalam sastra.
            Unsur intrinsik dipahami sebagai unsur pembangun yang berada di dalam teks sastra. Untuk melihat adanya unsur intrinsik ini dapat terlihat pada bagian yang tampak di dalam teks itu. Menurut Rene Wellek dan Austin Waeeen unsur intrinsik itu diantaranya alur, tokoh, dan latar. Sebenarnya, memang masih banyak bagian lain, yang dapat diposisikan sebagai unsur intrinsik seperti adanya sudut pandang pengarang, amanat, dan gaya bahasa. Namun, mengacu pada kepentingan dari analisis yang umum, maka alur, tokoh, dan latar sudah merepresentasikan untuk mengungkap mengenai relasi antar struktur yang ada di dalam karya sastra, belum lagi harus menghubungkan dengan unsur ekstrinsik (Sutardi,2011: 113).
2.      Karya Sastra
            Karya sastra adalah ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat, keyakinan dalam suatu bentuk gambaran kehidupan, yang dapat membangkitkan pesona dengan alat bahasa dan dilukiskan dalam bentuk tulisan. Jakop Sumardjo dalam bukunya yang berjudul "Apresiasi Kesusastraan" mengatakan bahwa karya sastra adalah sebuah usaha merekam isi jiwa sastrawannya. Rekaman ini menggunakan alat bahasa. Sastra adalah bentuk rekaman dengan bahasa yang akan disampaikan kepada orang lain.      
            Menurut Sumardjo dan Sumaini, salah satu pengertian sastra adalah seni bahasa. Maksudnya adalah, lahirnya sebuah karya sastra adalah untuk dapat dinikmati oleh pembaca. Untuk dapat menikmati suatu karya sastra secara sungguh-sungguh dan baik diperlukan pengetahuan tentang sastra. Tanpa pengetahuan yang cukup, penikmatan akan sebuah karya sastra hanya bersifat dangkal dan sepintas karena kurangnya pemahaman yang tepat. Sebelumnya, patutlah semua orang tahu apa yang dimaksud dengan karya sastra. Karya sastra bukanlah ilmu. Karya sastra adalah seni, di mana banyak unsur kemanusiaan yang masuk di dalamnya, khususnya perasaan, sehingga sulit diterapkan untuk metode keilmuan. Perasaan, semangat, kepercayaan, keyakinan sebagai unsur karya sastra sulit dibuat batasannya.
1)      Sastra  Lisan
            Sastra lisan adalah kesusastraan yang mencakup ekspresi kesusastraan warga suatu kebudayaan yang disebarkan dan diturun temurunkan secara lisan (dari muluy ke mulut). Pada dasarnya sastra lisan dalam bahasa indonesia berasal dari bahasa inggris oral literature. Ada pula yang mengatakan berasal dari bahasa belanda orale letterkuade. Kedua pendapat mengenai istilah sastra lisan di atas dapat dibenarkan. Akan tetapi, yang menjadi persoalan adalah istilah itu dalam dirinya sendiri mengandung kontradiksi.
            Di Negara-negara Asia dan Afrika sastra lisan atau kesusastraan ini sangat berperan penting dalam masyarakat, sebab masyarakat  masih banyak yang buta huruf (umumnya para petani pendesaan). Dengan begitu, apa  yang dinamakan dalam masyarakat sastra tulis trasdisional (yang ada di istana-istana , pusat-pusat agama,  dan lain-lain). Serta sastra modern (buku-buku cetakan yang banyak dijumpai di kota) hanya merupakan sebagian kecil dari kehidupnan satra.
2)      Sastra Tulis
            Sastra tulis dianggap sebagai ciri sastra modern karena bahasa tulisan dianggap sebagai refleksi peradaban masyarakat yang lebih maju. Menurut Ayu Sutarto (2004) dan Daniel Dakhidae (1996) tradisi sastra lisan menjadi penghambat bagi kemajuan bangsa. Maka, tradisi lisan harus diubah menjadi tradisi menulis. Karena budaya tulis-menulis selalu identik dengan kemajuan peradaban keilmuan. Pendapat ini mungkin tidak keliru. Tapi, bukan berarti kita dengan begitu saja mengabaikan atau bahkan meninggalkan tradisi sastra lisan yang sudah mengakar dan menjadi identitas kultural masing-masing suku dan daerah di seluruh kepulauan Indonesia.

C.    PEMBAHASAN
1.      Persamaan unsur intrinsik dalam novel seri “Si Utun Sang Penolong” Karya Matia Madjiah dengan dongeng Abu Nawas
            Unsur intrinsik dipahami sebagai unsur pembangun yang berada di dalam teks sastra. Untuk melihat adanya unsur intrinsik ini dapat terlihat pada bagian yang tampak di dalam teks itu. Menurut Rene Wellek dan Austin Waeeen unsur intrinsik itu diantaranya alur, tokoh, dan latar. Sebenarnya, memang masih banyak bagian lain, yang dapat diposisikan sebagai unsur intrinsik seperti adanya sudut pandang pengarang, amanat, dan gaya bahasa. Namun, mengacu pada kepentingan dari analisis yang umum, maka alur, tokoh, dan latar sudah merepresentasikan untuk mengungkap mengenai relasi antar struktur yang ada di dalam karya sastra, belum lagi harus menghubungkan dengan unsur ekstrinsik (Sutardi,2011: 113).
            Korpus data di bawah ini merupakan mendiskripsian beberapa persamaan unsur  intrinsik yang menemui dalam novel seri “Si Utun Sang Penolong” Karya Matia Madjiah dengan dongeng Abu Nawas.
1.      Persamaan Tema
Teks Sastra Novel Si Utun
Teks Sastra Lisan Abu Nawas
“Pada suatu hari Pak Taranghawu menyuruh Si Utun membeli 25 batang coklat. Maka dari itu, sebelum kesekolah, ia mampir ke toko”. (Si Utun: 10).
“Baik Baginda, masjid ini akan saya pikul di pundak saya,” kata Abu Nawas.
(Cerita Abu Nawas).

            Analisis: Berdasarkan teks novel seri “Si Utun Sang Penolong” Karya Matia Madjiah dan teks sastra lisan atau dongeng Abu Nawas tersebut dapat disimpulkan bahwa kedua cerita tersebut memiliki persamaan tema yaitu Si Utun dan Abu Nawas adalah    pribadinya kesatria yang suka menolong atau membantu.
2.      Persamaan Penokohan/ Karakter Tokoh
Teks Sastra Novel Si Utun
Teks dongeng Abu Nawas
“Seketika itu juga coklat yang dua puluh lima batang itu diserbu. Anak-anak ramai tertawa-tawa”. (Si Utun: 10).
“Sejurus kemudian ia tenang kembali. Agaknya ia telah tahu apa yang harus dilakukan. Ia tidak marah kepada Si Udin, malah sebaliknya, sangat ramah, sehingga Udin menjadi bertanya-tanya dalam hati”. (Si Utun: 11).
“Abu Nawas kemudian mengadu kepada raja, "Baginda, bukan salahku tidak bisa memindahkan masjid. Orang-orang tidak mau membantu saya untuk mengangkat masjid ke pundak saya," kata Abu Nawas”. (Cerita Abu Nawas).


            Analisis: Berdasarkan teks novel seri “Si Utun Sang Penolong” Karya Matia Madjiah dan teks sastra lisan atau dongeng Abu Nawas tersebut         dapat disimpulkan bahwa kedua cerita tersebut memiliki persamaan dalam hal penokohan yaitu pribadinya sama-sama           memiliki karakter penokohan yang cerdik dan cerdas.

2.      Perbedaan unsur intrinsik dalam novel seri “Si Utun Sang Penolong” Karya Matia Madjiah dengan dongeng Abu Nawas
            Korpus data di bawah ini merupakan mendiskripsian beberapa perbedaan unsur  intrinsik yang menemui dalam novel seri “Si Utun Sang Penolong” Karya Matia Madjiah dengan cerita lisan atau dongeng Abu Nawas.
1.      Perbedaan Latar/Setting
Teks Sastra Novel Si Utun
Teks Sastra Lisan Abu Nawas
“Di kelas, ketika ia mengeluarkan buku pelajaran, bungkusan coklat itu terlihat oleh temannya sebangku yang terkenal paling badung, Udin”. (Si Utun: 10).
Setelah pesta usai, raja pun mengingatkan Abu Nawas, "Wahai Abu Nawas, Kini saatnya engkau melaksanakan pekerjaanmu," ujar raja. Tak lupa, Baginda berkata kepada rakyatnya, "Kalian semua akan menyaksikan sesuatu yang sangat luar biasa hari ini. Abu Nawas akan memindahkan masjid ke tempat yang baru," ujar raja. (Cerita Abu Nawas).

Analisis: Berdasarkan teks novel seri “Si Utun Sang Penolong” Karya Matia Madjiah dan teks sastra lisan atau dongeng Abu Nawas tersebut dapat disimpulkan bahwa kedua cerita tersebut memilik perbedaan latar/setting, pada novel seri “Si Utun Sang Penolong” Karya Matia Madjiah tersebut berlatar di kelas. Sedangkan cerita lisan atau dongeng Abu Nawas yang berlatar di masjid.

2.      Perbedaan Tokoh
Teks Sastra Novel Si Utun
Teks Sastra Lisan Abu Nawas
1)      Si Utun: “Udin,” katanya dengan wajah dan nada sedih. “Selamat berpisah, Udin. Kalau ada kesalahan, besar atau kecil, disengaja atau tidak, engkau maafkanlah aku.” (Si Utun: 11).
2)      Burung: ia pun melepaskan burung itu sambil berkata “Pulang kau!”. (Si Utun: 6).
3)      Pak Tranghawu: “Biarkan saja ia tidur dulu. Adatnya memang begitu,” (Si Utun: 7).
4)      Si Udin: “Hai kawan-kawan!”  Si Udin minta perhatian dengan mengacungkan tangan. “Hari ini Si Utun berulang tahun. Ini aku diminta membagikan coklat. Siapa mau!?” (Si Utun: 10).
5)      Ketua kelas: “Heran, perilaku Si Utun hari ini agak lain. Mengapa ya?!” kata Udin kepada ketua kelas. “Mungkin ia terpengaruh mimpinya, Udin,” kata sang ketua. (Si Utun: 11).
6)      Pak Tranghawu: “Biarkan saja ia tidur dulu. Adatnya memang begitu,” (Si Utun: 7).
7)      Tamu: “Wah, rupanya Si Utun sudah tahu kedatangan kita,”. (Si Utun: 6-7).
8)      Pak Guru: “Anak-anakku! Siapa pun yang merasa bersalah, harap segera mengaku. Ingat, lebih baik mengaku dan mintak maaf daripada nanti menanggung akibatnya. Mari, anak-anak, siapa yang merasa bersalah, harap berdiri!”. (Si Utun: 18).
9)      Si Buyung: “Ampun! Ampun!” Si Buyung segera berlutut di kaki Si Utun. Diciumnya kaki Si Utun sambil menangis minta ampun. (Si Utun: 19).
1)      Raja Harun: "Setelah melaksanakan salat Jumat besok, kalian jangan pulang terlebih dahulu karena saya akan membuat pengumuman yang sangat penting." (Cerita Abu Nawas).

2)      Abu Nawas: "Saya akan memindahkan masjid, tapi saya mempunyai satu syarat, Baginda?". (Cerita Abu Nawas).
3)      Rakyat: "Wahai Abu Nawas, apa kamu gila, kami semua pasti tidak akan mampu mengangkatnya," ujar salah satu hadir. (Cerita Abu Nawas).

Analisis: Berdasarkan teks novel seri “Si Utun Sang Penolong” Karya Matia Madjiah dan teks sastra lisan atau dongeng Abu Nawas tersebut dapat disimpulkan bahwa kedua cerita tersebut mempunyai perbedaan dalam jumlah tokoh, novel seri “Si Utun Sang Penolong” Karya Matia Madjiah semua tokoh berjulah 9 tokoh. Dan sastra lisan atau dongeng Abu Nawas berjumlah hanya 3 tokoh.


D.    PENUTUP
1.      Kesimpulan
                        Kedua cerita di atas memiliki unsur tema yang hampir sama yaitu pribadi kesatria yang suka menolong atau membantu orang lain dan kedua cerita tersebut juga memiliki persamaan dalam hal penokohan, pribadinya sama-sama memiliki karakter penokohan yang cerdik dan cerdas. Namun dari sisi kehidupan dari kedua cerita tersebut menggambarkan kehidupan yang dinamis sehingga memberi kesan tersendiri bagi pembaca untuk memilih makna yang terkandung dalam cerita tersebut.
2.      Saran
            Setelah penelitian sastra bandingan antara sastra lisan dengan sasatra tulis. Penulis berharap semoga makalah penelitian sasatra bandingan ini dapat menambah pengetahuan baru dan akan menjadi bahan pertimbangan bagi peneliti satara bandingan yang membandingkan antara sastara lisan dengan satra tulis.


DAFTAR PUSTAKA
Burhan Nurgiyanto. (2000). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada
       University Press.
Sutardi, S.S., M Pd.( 2011). Apresiasi Sastra. CV. Pustaka Ilalang Group.
http://ithasartika91.blogspot.co.id/2011/04/perbedaan-ragam-bahasa-lisan-dan-ragam.html






























Lampiran :
Sinopsis Novel Seri “Si Utun Sang Penolong” Karya Matia Madjiah
            Di daerah Banteng, ada orang tua zaman dulu yang sudah berusia lebih dari 100 tahun, bahkan 150 tahun. Konon, mereka itu orang yang berilmu tinggi. Bahkan, kabarnya, mereka juga…sakti. Dalam kehidupan sehari-hari, yang dilakukan meraka tidak lain hanyalah beramal ibadah amal kepada sesame manusia dan ibadah kepada Tuhan.
            Karena ilmunya tinggi, nama meraka cukup terkenal, bukan saja di daerah Banteng, melainkan juga sampai keluar daerah. Oleh sebab itu, tidak jarang meraka mendapatkan kunjungan tamu dari luar jawa. Mereka umumnya dipangil dengan sebutan buyut atau embah.
            Di daerah Tanggerang, ada dua yang mendapatkan julukkan buyut, kakak-beradek. Yang datu buyut awal, yang buyut akhir. Di banteng, ada beberapa orang yang biasa dipangil buyut, yakni buyut salam, buyut Sangun, dan buyut Sartu.
            Meski orang tua-tua itu dikatakan berilmu tinggi dan sakti, peri kehidupan mereka sama juga dengan manusia biasa, punya rumah tangga dan anak istri. Sala satu diantaranya memiliki anak yang biasa di pangil Utun. Konon, ia dinamakan demikian, karena pada masa kecil ia senang bermain dengan lutung yang sering datang dari hutan di belakang rumah.
            Utun itu sebenarnya hanya nama julukan. Di Jawa Barat, anak lelaki biasa diberi nama pangilan kesayangan, misalnya Entong, Aceng, Encep, Ujang, atau Utun.
            Si Utun, setelah lulus SD, oleh orang tuanya di sekolahkan di Jakarta, dititipkan kepada seorang sahabat, Pak Taranghawu. Karena tidak punya anak, Pak Taranghawu menyayangi Utun seperti mengasihi anak kandungnya sendiri.
            Pada waktu cerita ini ditulis, Utun sudah duduk dibangku SMA. Otaknya cerdas. Tampangnta cukup ganteng. Postur tubuhnya sedang, tetapi perutnya gendut. Yang lebih menarik rambut disekitar user-user sudah diatur, disisir dan diminyaki tidak mau tunduk, sehingga tampak Utun seperti berkuncung.
            Ada beberapa kelebihan Utun di banding teman sekelas dan sebayanya. Bukan saja otaknya cerdas, tetapi pirasatnya tajam. Akalnya banyak. Ia pandai bicara dan suka humor. Banyak dongengnya. Ia suka menolong. Dan…kabarnya ia punya bakat para normal.
            Akan tetapi, kadang-kadang ia suka jahil, bukan jahil dalam arti jahat melainkan dalam arti iseng yang berbau humor. Kelemahannya yang menonjol hanya satu, agak malas, karena matanya sukar sekali dikendalikan. Ia gampang sekali jatuh pulas.
            Kelemahannya yang lain ialah makan. Si Utun tukang makan dan kalau makan , maunya yang enak-enak saja. Gembulnya bukan main, seakan-akan baginya taka da hal yang lebih penting kecuali makan. Kelemahan prihal makan ini lama kelamaan dapat juga diperbaiki.
            Mengenai kegemarannya, Utun senang sekali berburu dan mincing. Dirumah, ia memelihara burung. Burung kutilang kesayangannya seakan-akan mengerti diajak bicara.
            Akan halnya keberanian, singkat saja, ia boleh dibanggakan. Utun tidak takut binatang buas, tidak takut jin atau hantu, tidak takut tempat angker, kuburan, atau keramat. Juga ia tidak takut berkelahi karena ia dibekali ilmu silat yang ampuh oleh orang tuanya dan juga…Pak Tranghawu. Yang ditakutinya hanya ular, ulat, lintah, dan sebangsa binatang melata.
            Kelemahannya yang lain lagi ialah ia tidak bisa memanjat pohon. Kalu memanjat pohon kakinya suka gemetar.
            Karena orang tuanya terkenal, Si Utun sebagai orang tuanya terkenal, Si Utun sebagai anaknya jadi ikut terkenal. Orang tuanya sering dikunjungi orang yang minta tolong. Utun juga.
            Dalam memberikan pertolongan kepada tamu, jika dilihat sepintas lalu tampak mirip perdukunan, tetapi sebenarnya tidak. Tiap persoalan yang dihadapinya selalu dipecahkan dengan akal sehat, hanya saja kadang-kadang tampak seperti diselubungi.
            Ada kala Si Utun tidak memberikan pertolongan kepada tamunya, melainkan semacam hukuman. Jika sedang capak atau baru pulang sekolah, sering Utun ogah-ogahan melayani tamunya, sehingga Pak Taranghawu sering harus bersusah payah membujuknya.

Sinopsis Dongeng Abu Nawas
           Pada suatu hari yang cerah, Raja Harun berbicara di depan rakyatnya. "Setelah melaksanakan salat Jumat besok, kalian jangan pulang terlebih dahulu karena saya akan membuat pengumuman yang sangat penting." Rakyat yang hadir berbisik-bisik kiranya pengumuman apa yang akan disampaikan oleh raja mereka. Setelah salat Jumat selesai, raja membacakan pengumuman. "Tempat di sekitar masjid kita ini sangatlah ramai dan penuh sesak. Jadi, saya akan memindahkan masjid kita ini ke lokasi lain. Siapapun orangnya yang bisa memindahkan masjid ini, maka akan aku beri hadiah sekarung emas." Abu Nawas terkejut juga, dan beliau menjawab, "Saya akan memindahkan masjid, tapi saya mempunyai satu syarat, Baginda?" "Apa itu, katakanlah," jawab Baginda. "Sebelumnya setelah salat Jumat besok, Baginda mengadakan pesta jamuan untuk rakyat," jelas Abu Nawas. "Baiklah kalau memang begitu syaratnya," jawab Baginda. Semua yang hadir di situ terdiam seribu bahasa. Merekan heran sekali dengan kesanggupan yang dilontarkan oleh Abu Nawas. Mereka tak bisa membayangkan bagaimana Abu Nawas memindahkan masjid.
            Akhirnya, hari Jumat yang ditunggu-tunggu telah tiba. Setelah selesai melaksanakan shalat Jumat di masjid, mereka semua menyantap hidangan yang lezat-lezat yang telah disiapkan oleh raja. Setelah pesta usai, raja pun mengingatkan Abu Nawas, "Wahai Abu Nawas, kini saatnya engkau melaksanakan pekerjaanmu," ujar raja. Tak lupa, Baginda berkata kepada rakyatnya, "Kalian semua akan menyaksikan sesuatu yang sangat luar biasa hari ini. Abu Nawas akan memindahkan masjid ke tempat yang baru," ujar raja. "Baik Baginda, masjid ini akan saya pikul di pundak saya," kata Abu Nawas. Orang yang hadir terdiam, menanti apa yang akan dilakukan Abu Nawas. Abu Nawas kemudian maju ke depan orang-orang, kemudian berhenti, lalu membungkuk sambil menyingsingkan lengan baju serta celananya. Abu Nawas meminta orang-orang agar mengangkat masjid untuk diletakkan di pundaknya agar Abu Nawas bisa memindahkan masjid ke tempat lain. Para hadirin terkejut dengan ucapan Abu Nawas tersebut. Mereka saling berpandangan satu sama lain tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. "Wahai Tuan-Tuan, jumlah kalian sangatlah banyak, kira-kira sampai dua ratus orang dan kalian semua sudah makan, pasti kuat. Tolong bantu saya mengangkat masjid ini ke pundak saya, " ujar Abu Nawas. "Wahai Abu Nawas, apa kamu gila, kami semua pasti tidak akan mampu mengangkatnya," ujar salah satu yang hadir. Abu Nawas kemudian mengadu kepada raja, "Baginda, bukan salahku tidak bisa memindahkan masjid. Orang-orang tidak mau membantu saya untuk mengangkat masjid ke pundak saya," kata Abu Nawas. Raja pun tersenyum mendengar ucapan Abu Nawas. Namun raja memberikan acungan jempol atas cara yang digunakan Abu Nawas untuk berkeli








0 komentar:

Posting Komentar

 

Rhifaery's Room Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang