Perbandingan Teks Sastra Novel Si Utun Sang Penolong Karya Matia
Madjiah Dengan Dongeng Abu Nawas
Oleh: Jamilah Seng
A. PENDAHULUAN
1.
Latar
Belakang
Karya
sastra sebagai cerminan kehidupan masyarakat, merupakan dunia subjektivitas
yang diciptakan oleh pengarang yang di dalamnya terdapat berbagai aspek
kehidupan yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Aspek kehidupan
tersebut berupa aspek sosiolologis, psikologis, filsafat, budaya, dan agama.
Keberadaan karya sastra tidak dapat dilepaskan dari diri pengarang sebagai
bagian dari anggota suatu masyarakat. Sehingga dalam penciptaannya, pengarang
tidak dapat terlepas dari lingkungan sosial budaya yang melatarinya.
Menurut Burhan Nurgiyanto (2000:
37), analisis struktural karya sastra, yang dalam hal ini fiksi, dapat
dilakukan dengan mengidentifikasi, mengkaji, dan mendeskripsikan fungsi dan
hubungan antar unsur intrinsik. Sehingga analisis yang digunakan dalam
membandingkan kedua cerita tersebut adalah dengan menggunakan teori struktural.
Dalam penelitian ini menggunakan sastra bandingan
folkloristik yaitu sastra bandingan yang lebih terkait dengan kisah-kisah,
dongeng dan sejumlah tradisi lisan. sastra lisan juga dapat diambil dari ritual
dan tradisi lisan lain yang memiliki varian kesamaan. Bandingan juga menekankan
bagaimana persebaran ceritanya. Studi bandingan cenderung menuju kearah migrasi
atau kearah transmisi cerita dari waktu ke waktu dan dari wilayah ke wilayah.
Di
Negara-negara Asia dan Afrika sastra lisan atau kesusastraan ini sangat
berperan penting dalam masyarakat, sebab masyarakat masih banyak yang buta
huruf (umumnya para petani pendesaan). Dengan begitu, apa yang dinamakan dalam
masyarakat sastra tulis trasdisional (yang ada di istana-istana, pusat-pusat
agama, dan lain-lain). Serta sastra modern (buku-buku cetakan yang banyak
dijumpai di kota) hanya merupakan sebagian kecil dari kehidupnan satra.
Cerita
lisan atau dongen Abu Nawas merupakan salah satu contoh cerita atau dongeng
Indonesia yang mirip dengan novel seri “Si Utun Sang Penolong”
Karya Matia Madjiah. Menurut Danandjaja (1997) dongeng biasa adalah jenis dongeng
yang ditokohi manusia dan biasanya adalah kisah suka duka seseorang. Dongeng
biasanya banyak yang mempunyai kesamaan cerita maupun tema, tidak hanya di
Indonesia namun juga diluar negeri. Persamaan Cerita lisan atau dongen Abu
Nawas dengan novel seri “Si Utun Sang Penolong”
Karya Matia Madjiah
yaitu bersifat paranorma yang hampir
sama. Kedua cerita
tersebut sama-sama mempunyai karakter yang cerdas, bukan saja otaknya cerdas,
tetapi filsafatnya tajam, pandai bicara dan suka homor, kedua-dua tokohnya juga
suka menolong.
2.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas, maka masalah yang akan dibahas pada makalah ini adalah sebagai berikut:
1) Bagaimana persamaan unsur
intrinsik dalam novel “Si Utun Sang Penolong” Karya Matia Madjiah dengan dongeng Abu Nawas?
2) Bagaimana pebedaan unsur intrinsik
dalam novel “Si Utun Sang Penolong” Karya Matia Madjiah dengan dongeng
Abu Nawas?
3.
Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka
tujuan pembahasan dalam tulisan ini adalah sebagai berikut:
1) Mendeskripsikan persamaan unsur
intrinsik dalam novel “Si Utun Sang Penolong” Karya Matia Madjiah dengan
dongeng Abu Nawas?
2) Mendeskripsikan
pebedaan unsur intrinsik dalam novel “Si Utun Sang Penolong” Karya Matia
Madjiah dengan dongeng Abu Nawas?
B. LADASAN TEORI
Sastra Bandingan Menurut Sapardi Djoko Damono (2005:
1), sastra bandingan adalah sebuah pendekatan dalam ilmu sastra yang tidak
menghasilkan teori sendiri. Dengan kata lain, dalam kajian ini dapat
menggunakan teori apa saja selama masih dapat bersangkutan dengan sastra.
1. Pendekatan Struktural
Munculnya
strukturalisme sebagai teori sastra diawali dengan pandangan bahwa karya sastra
merupakan unsur-unsur yang kompleks dan bersistem (Endraswara,2008:49).
Unsur-unsur yang ada di dalam karya sastra tidak dapat dipisahkan satu dengan
yang lainnya. Hubungan anrarunsur itulah, yang merupakan kriteria untuk
menentukan baik dan buruknya karya satra. Keunggulan dari karya sastra dapat
dilihat pada jalinan antarunsur yang saling melengkapi. Structural adalah
konsep yang memandang sesuatu berdasarkan unsur-unsurnya.
Teori struktural adalah teori yang
memandang teks karya sastra berdasarkan unsur-unsur yang ada didalamnya untuk
diidentifikasi dan dipahami relasinya sebagai satu kesatuan yang kompleks.
Teori ini bermula dari pandangan Ferdinand de Sausure yang memandang adanya
sistem di dalam bahasa. Pandangan ini kemudian diperluaskan dengan asumsi bahwa
sistem itu juga ada di dalam sastra.
Unsur intrinsik dipahami sebagai
unsur pembangun yang berada di dalam teks sastra. Untuk melihat adanya unsur
intrinsik ini dapat terlihat pada bagian yang tampak di dalam teks itu. Menurut
Rene Wellek dan Austin Waeeen unsur intrinsik itu diantaranya alur, tokoh, dan
latar. Sebenarnya, memang masih banyak bagian lain, yang dapat diposisikan
sebagai unsur intrinsik seperti adanya sudut pandang pengarang, amanat, dan
gaya bahasa. Namun, mengacu pada kepentingan dari analisis yang umum, maka
alur, tokoh, dan latar sudah merepresentasikan untuk mengungkap mengenai relasi
antar struktur yang ada di dalam karya sastra, belum lagi harus menghubungkan
dengan unsur ekstrinsik (Sutardi,2011: 113).
2. Karya Sastra
Karya sastra adalah ungkapan pribadi
manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat, keyakinan
dalam suatu bentuk gambaran kehidupan, yang dapat membangkitkan pesona dengan
alat bahasa dan dilukiskan dalam bentuk tulisan. Jakop Sumardjo dalam bukunya
yang berjudul "Apresiasi Kesusastraan" mengatakan bahwa karya sastra
adalah sebuah usaha merekam isi jiwa sastrawannya. Rekaman ini menggunakan alat
bahasa. Sastra adalah bentuk rekaman dengan bahasa yang akan disampaikan kepada
orang lain.
Menurut Sumardjo dan Sumaini, salah
satu pengertian sastra adalah seni bahasa. Maksudnya adalah, lahirnya sebuah
karya sastra adalah untuk dapat dinikmati oleh pembaca. Untuk dapat menikmati
suatu karya sastra secara sungguh-sungguh dan baik diperlukan pengetahuan
tentang sastra. Tanpa pengetahuan yang cukup, penikmatan akan sebuah karya
sastra hanya bersifat dangkal dan sepintas karena kurangnya pemahaman yang
tepat. Sebelumnya, patutlah semua orang tahu apa yang dimaksud dengan karya
sastra. Karya sastra bukanlah ilmu. Karya sastra adalah seni, di mana banyak
unsur kemanusiaan yang masuk di dalamnya, khususnya perasaan, sehingga sulit
diterapkan untuk metode keilmuan. Perasaan, semangat, kepercayaan, keyakinan
sebagai unsur karya sastra sulit dibuat batasannya.
1)
Sastra Lisan
Sastra
lisan adalah kesusastraan yang mencakup ekspresi kesusastraan warga suatu
kebudayaan yang disebarkan dan diturun temurunkan secara lisan (dari muluy ke
mulut). Pada dasarnya sastra lisan dalam bahasa indonesia berasal dari bahasa
inggris oral literature. Ada pula yang mengatakan berasal dari bahasa belanda
orale letterkuade. Kedua pendapat mengenai istilah sastra lisan di atas dapat
dibenarkan. Akan tetapi, yang menjadi persoalan adalah istilah itu dalam
dirinya sendiri mengandung kontradiksi.
Di
Negara-negara Asia dan Afrika sastra lisan atau kesusastraan ini sangat
berperan penting dalam masyarakat, sebab masyarakat masih banyak yang buta huruf (umumnya para
petani pendesaan). Dengan begitu, apa
yang dinamakan dalam masyarakat sastra tulis trasdisional (yang ada di
istana-istana , pusat-pusat agama, dan
lain-lain). Serta sastra modern (buku-buku cetakan yang banyak dijumpai di
kota) hanya merupakan sebagian kecil dari kehidupnan satra.
2)
Sastra
Tulis
Sastra
tulis dianggap sebagai ciri sastra modern karena bahasa tulisan dianggap
sebagai refleksi peradaban masyarakat yang lebih maju. Menurut Ayu Sutarto
(2004) dan Daniel Dakhidae (1996) tradisi sastra lisan menjadi penghambat bagi
kemajuan bangsa. Maka, tradisi lisan harus diubah menjadi tradisi menulis.
Karena budaya tulis-menulis selalu identik dengan kemajuan peradaban keilmuan.
Pendapat ini mungkin tidak keliru. Tapi, bukan berarti kita dengan begitu saja
mengabaikan atau bahkan meninggalkan tradisi sastra lisan yang sudah mengakar
dan menjadi identitas kultural masing-masing suku dan daerah di seluruh
kepulauan Indonesia.
C. PEMBAHASAN
1. Persamaan unsur intrinsik dalam novel
seri “Si Utun Sang Penolong” Karya Matia Madjiah dengan dongeng Abu
Nawas
Unsur
intrinsik dipahami sebagai unsur pembangun yang berada di dalam teks sastra.
Untuk melihat adanya unsur intrinsik ini dapat terlihat pada bagian yang tampak
di dalam teks itu. Menurut Rene Wellek dan Austin Waeeen unsur intrinsik itu
diantaranya alur, tokoh, dan latar. Sebenarnya, memang masih banyak bagian
lain, yang dapat diposisikan sebagai unsur intrinsik seperti adanya sudut
pandang pengarang, amanat, dan gaya bahasa. Namun, mengacu pada kepentingan
dari analisis yang umum, maka alur, tokoh, dan latar sudah merepresentasikan
untuk mengungkap mengenai relasi antar struktur yang ada di dalam karya sastra,
belum lagi harus menghubungkan dengan unsur ekstrinsik (Sutardi,2011: 113).
Korpus data di bawah ini merupakan
mendiskripsian beberapa persamaan unsur
intrinsik yang menemui dalam novel seri “Si Utun Sang Penolong” Karya
Matia Madjiah dengan dongeng Abu Nawas.
1.
Persamaan
Tema
|
Teks
Sastra Novel Si Utun
|
Teks
Sastra Lisan Abu Nawas
|
|
“Pada suatu hari Pak
Taranghawu menyuruh Si Utun membeli 25 batang coklat. Maka dari itu, sebelum
kesekolah, ia mampir ke toko”. (Si Utun: 10).
|
“Baik Baginda, masjid
ini akan saya pikul di pundak saya,” kata Abu Nawas.
(Cerita Abu Nawas). |
Analisis: Berdasarkan
teks novel seri “Si Utun Sang Penolong” Karya Matia Madjiah dan teks
sastra lisan atau dongeng Abu Nawas tersebut dapat disimpulkan bahwa kedua
cerita tersebut memiliki persamaan tema yaitu Si Utun dan Abu Nawas adalah pribadinya kesatria yang suka menolong atau
membantu.
2.
Persamaan
Penokohan/ Karakter Tokoh
|
Teks
Sastra Novel Si Utun
|
Teks
dongeng Abu Nawas
|
|
“Seketika itu juga
coklat yang dua puluh lima batang itu diserbu. Anak-anak ramai tertawa-tawa”.
(Si Utun: 10).
“Sejurus
kemudian ia tenang kembali. Agaknya ia telah tahu apa yang harus dilakukan.
Ia tidak marah kepada Si Udin, malah sebaliknya, sangat ramah, sehingga Udin
menjadi bertanya-tanya dalam hati”. (Si Utun: 11).
|
“Abu Nawas
kemudian mengadu kepada raja, "Baginda, bukan salahku tidak bisa
memindahkan masjid. Orang-orang tidak mau membantu saya untuk mengangkat
masjid ke pundak saya," kata Abu Nawas”. (Cerita Abu Nawas).
|
Analisis: Berdasarkan teks
novel seri “Si Utun Sang Penolong” Karya Matia Madjiah dan teks sastra
lisan atau dongeng Abu Nawas tersebut dapat
disimpulkan bahwa kedua cerita tersebut memiliki persamaan dalam hal penokohan
yaitu pribadinya sama-sama memiliki
karakter penokohan yang cerdik dan cerdas.
2. Perbedaan unsur intrinsik dalam novel
seri “Si Utun Sang Penolong” Karya Matia Madjiah dengan dongeng Abu
Nawas
Korpus data di bawah ini merupakan
mendiskripsian beberapa perbedaan unsur
intrinsik yang menemui dalam novel seri “Si Utun Sang Penolong” Karya
Matia Madjiah dengan cerita lisan atau dongeng Abu Nawas.
1. Perbedaan Latar/Setting
|
Teks
Sastra Novel Si Utun
|
Teks
Sastra Lisan Abu Nawas
|
|
“Di kelas, ketika ia
mengeluarkan buku pelajaran, bungkusan coklat itu terlihat oleh temannya
sebangku yang terkenal paling badung, Udin”. (Si Utun: 10).
|
Setelah
pesta usai, raja pun mengingatkan Abu Nawas, "Wahai Abu Nawas, Kini
saatnya engkau melaksanakan pekerjaanmu," ujar raja. Tak lupa, Baginda
berkata kepada rakyatnya, "Kalian semua akan menyaksikan sesuatu yang
sangat luar biasa hari ini. Abu Nawas akan memindahkan masjid ke tempat yang
baru," ujar raja. (Cerita Abu Nawas).
|
Analisis:
Berdasarkan teks novel seri “Si Utun
Sang Penolong” Karya Matia Madjiah dan teks sastra lisan atau dongeng
Abu Nawas tersebut dapat disimpulkan bahwa kedua cerita tersebut memilik
perbedaan latar/setting, pada novel seri “Si Utun Sang Penolong” Karya Matia
Madjiah tersebut berlatar di kelas. Sedangkan cerita lisan atau dongeng Abu
Nawas yang berlatar di masjid.
2.
Perbedaan Tokoh
|
Teks
Sastra Novel Si Utun
|
Teks
Sastra Lisan Abu Nawas
|
|
1) Si Utun: “Udin,” katanya dengan wajah
dan nada sedih. “Selamat berpisah, Udin. Kalau ada kesalahan, besar atau
kecil, disengaja atau tidak, engkau maafkanlah aku.” (Si Utun: 11).
2) Burung: ia pun melepaskan burung itu
sambil berkata “Pulang kau!”. (Si Utun: 6).
3) Pak Tranghawu: “Biarkan saja ia tidur
dulu. Adatnya memang begitu,” (Si Utun: 7).
4) Si
Udin: “Hai kawan-kawan!” Si Udin minta perhatian dengan mengacungkan
tangan. “Hari ini Si Utun berulang tahun. Ini aku diminta membagikan coklat.
Siapa mau!?” (Si Utun: 10).
5) Ketua kelas: “Heran, perilaku Si Utun
hari ini agak lain. Mengapa ya?!” kata Udin kepada ketua kelas. “Mungkin ia
terpengaruh mimpinya, Udin,” kata sang ketua. (Si Utun: 11).
6) Pak Tranghawu: “Biarkan saja ia tidur
dulu. Adatnya memang begitu,” (Si Utun: 7).
7) Tamu: “Wah, rupanya Si Utun sudah tahu
kedatangan kita,”. (Si Utun: 6-7).
8) Pak Guru: “Anak-anakku! Siapa pun yang
merasa bersalah, harap segera mengaku. Ingat, lebih baik mengaku dan mintak
maaf daripada nanti menanggung akibatnya. Mari, anak-anak, siapa yang merasa
bersalah, harap berdiri!”. (Si Utun: 18).
9) Si Buyung: “Ampun! Ampun!” Si Buyung
segera berlutut di kaki Si Utun. Diciumnya kaki Si Utun sambil menangis minta
ampun. (Si Utun: 19).
|
1) Raja
Harun: "Setelah melaksanakan salat Jumat
besok, kalian jangan pulang terlebih dahulu karena saya akan membuat
pengumuman yang sangat penting." (Cerita Abu Nawas).
2) Abu
Nawas: "Saya akan memindahkan masjid,
tapi saya mempunyai satu syarat, Baginda?". (Cerita Abu Nawas).
3) Rakyat:
"Wahai Abu Nawas, apa kamu gila, kami semua
pasti tidak akan mampu mengangkatnya," ujar salah satu hadir. (Cerita
Abu Nawas).
|
Analisis: Berdasarkan
teks novel seri “Si Utun Sang Penolong” Karya Matia Madjiah dan teks
sastra lisan atau dongeng Abu Nawas tersebut dapat disimpulkan bahwa kedua
cerita tersebut mempunyai perbedaan dalam jumlah tokoh, novel seri “Si Utun
Sang Penolong” Karya Matia Madjiah semua tokoh berjulah 9 tokoh. Dan
sastra lisan atau dongeng Abu Nawas berjumlah hanya 3 tokoh.
D. PENUTUP
1. Kesimpulan
Kedua
cerita di atas memiliki unsur tema
yang hampir sama yaitu pribadi kesatria yang suka menolong atau membantu orang
lain dan kedua cerita tersebut juga memiliki persamaan dalam hal penokohan,
pribadinya sama-sama memiliki karakter penokohan yang cerdik dan cerdas. Namun
dari sisi kehidupan dari kedua cerita tersebut menggambarkan kehidupan yang
dinamis sehingga memberi kesan tersendiri bagi
pembaca untuk memilih makna yang terkandung dalam cerita tersebut.
2. Saran
Setelah penelitian sastra bandingan
antara sastra lisan dengan sasatra tulis. Penulis berharap semoga makalah
penelitian sasatra bandingan ini dapat menambah pengetahuan baru dan akan
menjadi bahan pertimbangan bagi peneliti satara bandingan yang membandingkan
antara sastara lisan dengan satra tulis.
DAFTAR
PUSTAKA
Burhan
Nurgiyanto. (2000). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press.
Sutardi, S.S., M Pd.( 2011). Apresiasi
Sastra. CV. Pustaka Ilalang Group.
http://ithasartika91.blogspot.co.id/2011/04/perbedaan-ragam-bahasa-lisan-dan-ragam.html
Lampiran :
Sinopsis
Novel Seri “Si Utun Sang Penolong” Karya Matia Madjiah
Di daerah Banteng, ada orang tua zaman dulu yang sudah
berusia lebih dari 100 tahun, bahkan 150 tahun. Konon, mereka itu orang yang
berilmu tinggi. Bahkan, kabarnya, mereka juga…sakti. Dalam kehidupan
sehari-hari, yang dilakukan meraka tidak lain hanyalah beramal ibadah amal
kepada sesame manusia dan ibadah kepada Tuhan.
Karena ilmunya tinggi, nama meraka cukup terkenal, bukan
saja di daerah Banteng, melainkan juga sampai keluar daerah. Oleh sebab itu,
tidak jarang meraka mendapatkan kunjungan tamu dari luar jawa. Mereka umumnya
dipangil dengan sebutan buyut atau embah.
Di daerah Tanggerang, ada dua yang mendapatkan julukkan
buyut, kakak-beradek. Yang datu buyut awal, yang buyut akhir. Di banteng, ada
beberapa orang yang biasa dipangil buyut, yakni buyut salam, buyut Sangun, dan
buyut Sartu.
Meski orang tua-tua itu dikatakan berilmu tinggi dan
sakti, peri kehidupan mereka sama juga dengan manusia biasa, punya rumah tangga
dan anak istri. Sala satu diantaranya memiliki anak yang biasa di pangil Utun.
Konon, ia dinamakan demikian, karena pada masa kecil ia senang bermain dengan
lutung yang sering datang dari hutan di belakang rumah.
Utun itu sebenarnya hanya nama julukan. Di Jawa Barat,
anak lelaki biasa diberi nama pangilan kesayangan, misalnya Entong, Aceng,
Encep, Ujang, atau Utun.
Si Utun, setelah lulus SD, oleh orang tuanya di
sekolahkan di Jakarta, dititipkan kepada seorang sahabat, Pak Taranghawu.
Karena tidak punya anak, Pak Taranghawu menyayangi Utun seperti mengasihi anak
kandungnya sendiri.
Pada waktu cerita ini ditulis, Utun sudah duduk dibangku
SMA. Otaknya cerdas. Tampangnta cukup ganteng. Postur tubuhnya sedang, tetapi
perutnya gendut. Yang lebih menarik rambut disekitar user-user sudah diatur,
disisir dan diminyaki tidak mau tunduk, sehingga tampak Utun seperti
berkuncung.
Ada beberapa kelebihan Utun di banding teman sekelas dan
sebayanya. Bukan saja otaknya cerdas, tetapi pirasatnya tajam. Akalnya banyak.
Ia pandai bicara dan suka humor. Banyak dongengnya. Ia suka menolong.
Dan…kabarnya ia punya bakat para normal.
Akan tetapi, kadang-kadang ia suka jahil, bukan jahil
dalam arti jahat melainkan dalam arti iseng yang berbau humor. Kelemahannya
yang menonjol hanya satu, agak malas, karena matanya sukar sekali dikendalikan.
Ia gampang sekali jatuh pulas.
Kelemahannya yang lain ialah makan. Si Utun tukang makan
dan kalau makan , maunya yang enak-enak saja. Gembulnya bukan main, seakan-akan
baginya taka da hal yang lebih penting kecuali makan. Kelemahan prihal makan
ini lama kelamaan dapat juga diperbaiki.
Mengenai kegemarannya, Utun senang sekali berburu dan
mincing. Dirumah, ia memelihara burung. Burung kutilang kesayangannya
seakan-akan mengerti diajak bicara.
Akan halnya keberanian, singkat saja, ia boleh
dibanggakan. Utun tidak takut binatang buas, tidak takut jin atau hantu, tidak
takut tempat angker, kuburan, atau keramat. Juga ia tidak takut berkelahi
karena ia dibekali ilmu silat yang ampuh oleh orang tuanya dan juga…Pak
Tranghawu. Yang ditakutinya hanya ular, ulat, lintah, dan sebangsa binatang
melata.
Kelemahannya yang lain lagi ialah ia tidak bisa memanjat
pohon. Kalu memanjat pohon kakinya suka gemetar.
Karena orang tuanya terkenal, Si Utun sebagai orang
tuanya terkenal, Si Utun sebagai anaknya jadi ikut terkenal. Orang tuanya
sering dikunjungi orang yang minta tolong. Utun juga.
Dalam memberikan pertolongan kepada tamu, jika dilihat
sepintas lalu tampak mirip perdukunan, tetapi sebenarnya tidak. Tiap persoalan
yang dihadapinya selalu dipecahkan dengan akal sehat, hanya saja kadang-kadang
tampak seperti diselubungi.
Ada kala Si Utun tidak memberikan pertolongan kepada
tamunya, melainkan semacam hukuman. Jika sedang capak atau baru pulang sekolah,
sering Utun ogah-ogahan melayani tamunya, sehingga Pak Taranghawu sering harus
bersusah payah membujuknya.
Sinopsis
Dongeng Abu Nawas
Pada
suatu hari yang cerah, Raja Harun berbicara di depan rakyatnya. "Setelah
melaksanakan salat Jumat besok, kalian jangan pulang terlebih dahulu karena
saya akan membuat pengumuman yang sangat penting." Rakyat yang hadir
berbisik-bisik kiranya pengumuman apa yang akan disampaikan oleh raja mereka.
Setelah salat Jumat selesai, raja membacakan pengumuman. "Tempat di
sekitar masjid kita ini sangatlah ramai dan penuh sesak. Jadi, saya akan
memindahkan masjid kita ini ke lokasi lain. Siapapun orangnya yang bisa
memindahkan masjid ini, maka akan aku beri hadiah sekarung emas." Abu
Nawas terkejut juga, dan beliau menjawab, "Saya akan memindahkan masjid,
tapi saya mempunyai satu syarat, Baginda?" "Apa itu,
katakanlah," jawab Baginda. "Sebelumnya setelah salat Jumat besok,
Baginda mengadakan pesta jamuan untuk rakyat," jelas Abu Nawas. "Baiklah
kalau memang begitu syaratnya," jawab Baginda. Semua yang hadir di situ
terdiam seribu bahasa. Merekan heran sekali dengan kesanggupan yang dilontarkan
oleh Abu Nawas. Mereka tak bisa membayangkan bagaimana Abu Nawas memindahkan
masjid.
Akhirnya, hari Jumat yang ditunggu-tunggu telah tiba.
Setelah selesai melaksanakan shalat Jumat di masjid, mereka semua menyantap
hidangan yang lezat-lezat yang telah disiapkan oleh raja. Setelah pesta usai,
raja pun mengingatkan Abu Nawas, "Wahai Abu Nawas, kini saatnya engkau
melaksanakan pekerjaanmu," ujar raja. Tak lupa, Baginda berkata kepada
rakyatnya, "Kalian semua akan menyaksikan sesuatu yang sangat luar biasa
hari ini. Abu Nawas akan memindahkan masjid ke tempat yang baru," ujar
raja. "Baik Baginda, masjid ini akan saya pikul di pundak saya," kata
Abu Nawas. Orang yang hadir terdiam, menanti apa yang akan dilakukan Abu Nawas.
Abu Nawas kemudian maju ke depan orang-orang, kemudian berhenti, lalu
membungkuk sambil menyingsingkan lengan baju serta celananya. Abu Nawas meminta
orang-orang agar mengangkat masjid untuk diletakkan di pundaknya agar Abu Nawas
bisa memindahkan masjid ke tempat lain. Para hadirin terkejut dengan ucapan Abu
Nawas tersebut. Mereka saling berpandangan satu sama lain tanpa mengeluarkan
suara sedikitpun. "Wahai Tuan-Tuan, jumlah kalian sangatlah banyak,
kira-kira sampai dua ratus orang dan kalian semua sudah makan, pasti kuat.
Tolong bantu saya mengangkat masjid ini ke pundak saya, " ujar Abu Nawas.
"Wahai Abu Nawas, apa kamu gila, kami semua pasti tidak akan mampu mengangkatnya,"
ujar salah satu yang hadir. Abu Nawas kemudian mengadu kepada raja,
"Baginda, bukan salahku tidak bisa memindahkan masjid. Orang-orang tidak
mau membantu saya untuk mengangkat masjid ke pundak saya," kata Abu Nawas.
Raja pun tersenyum mendengar ucapan Abu Nawas. Namun raja memberikan acungan
jempol atas cara yang digunakan Abu Nawas untuk berkeli
0 komentar:
Posting Komentar