Selasa, 04 Oktober 2016

Perbandingan Teks Sastra Dongeng Timun Emas dengan Ilmu Budaya Oleh: Khoriyoh Waha








Perbandingan Teks Sastra Dongeng Timun Emas dengan  Ilmu Budaya
Oleh: Khoriyoh Waha





A.    PENDAHULUAN
1.Latar Belakang
Dongeng merupakan cerita tradisional yang tumbuh di masyarakat sejak zaman dahulu, dan berasal dari generasi terdahulu. peristiwa yang diceritakan dalam dongeng adalah peristiwa peristiwa yang terjadi di masa lampau. dongeng termasuk dalam golongan folklor lisan dengan genre cerita (prosa) rakyat. hampir setiap negara memiliki dongeng yang disampaikan secara turun temurun dari generasi ke generasi.
Dalam buku folklor indonesia (1986), Danandjaja menjelaskan bahwa cerita dalam dongeng merupakan cerita prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi yang diceritakan terutama untuk hiburan, walaupun banyak juga yang melukiskan kebenaran, berisikan pelajaran (moral) atau bahkan sindiran (danandjaja,1986:83) dongeng seringkali mempunyai unsur-unsur cerita yang sama antara satu daerah dengan daerah lainnya di suatu negara, bahkan juga di antara Negara negara yang letaknya berjauhan. Menurut danandjaja, pada dasarnya persamaan itu hanya dapat diterangkan dengan dua kemungkinan, yakni: (1) monogenesis, yaitu suatu penemuan diikuti proses difusi (diffusion) atau penyebaran, (2) poligenesis, yang disebabkan oleh penemuan-penemuan yang sendiri (independent invention) atau sejajar (parallel invention) dari motif-motif cerita yang sama, di tempat-tempat yang berlainan serta dalam masa yang berlainan maupun bersamaan. (danandjaja, 1986 : 56) sebagai sastra lisan, sebagian besar prosa rakyat, termasuk dongeng, tidak mempunyai aturan penceritaan yang baku. dengan demikian, setiap penutur dapat dengan leluasa memberikan judul, atau pun tambahan lain yang dianggap perlu pada cerita yang dibawakannya, sehingga sebuah cerita yang sama bisa mempunyai nama yang berbeda di setiap daerah.
Drama-drama Yunani klasik seperti Oedipus Rex dan Electra adalah salah satu contoh cerita yang diciptakan berdasarkan dongeng yang beredar di masyarakat. Kisah-kisah itu bertahan terus sampai sekarang, bahkan berkembang ke dalam berbagai bentuk sastra modern. Kisah sejenis Oedipus diturunkan dalam berbagai bentuk, dimanapun. Dalam kebudayaan Jawa, kisah itu dikenal sebagai Prabu Watu Gunung, sementara di tatar Sunda dikenal sebagai Sangkuriang. Jenis kisah lain yang juga populer di kalangan rakyat adalah cinta yang tak kesampaian. Dalam budaya Barat dikenal sebagai kisah Romeo-Juliet, sedangkan di tanah Jawa dikenal dengan cerita Roro Mendut-Pranacitra. (Damono, 2005 : 20-21).
Dalam penelitian ini kami mencoba membandingkan dongeng Timun emas dengan ilmu budaya, untuk menemukan persamaan dan perbedaan antara keduan kajian tersebut. Sehingga diharapkan hasilnya mampu menjadi sebuah referensi bagi pembaca umumnya dan peneliti khusunya.

2.Rumusan Masalah
1)      Bagaimana perbandingan dongeng Timun Emas dengan ilmu budaya?

1.      Tujuan Penelitian
1)      Untuk membandingkan dongeng Timun Emas dengan ilmu budaya.

2.      Manfaat Penelitian
1)      Mampu mengetahui perbandingan dongeng Timun Emas dengan ilmu budaya.

A.    LANDASAN TEORI
1.      Pengertian Sastra  Bandingan

Sapardi Djoko Damono (2005: 2) menyatakan bahwa sastra bandingan meruakan pendekatan dalam ilmu sastra yang tidak menghasilkan teori tersendiri.
          Menurut Remak (1990, 1) Sastra bandingan adalah kajian sastra di luar batas-batas sebuah negara dan kajian hubungan di antara sastra dengan bidang ilmu serta kepercayaan yang lain seperti seni (misalnya, seni lukis, seni ukir, seni drama dan seni musik), filsasfat, sejarah, dan sains sosial (misal politik, ekonomi, sosiologi) sain, agama, dll.
Menurut Nada (1999,9), sastra bandingan adalah suatu studi atau kajian sastra suatu banggsa yang mempunyai kaitan kesejarahan dengan sastra bangsa lain, bagaimana terjalin proses saling mempengaruhi antara satu dengan lainnya, apa yan telah diambil suatu sastra, dan apa pua yan telah disumbangkanya.
Benedecto Crose (Giffo, 1995:1) study sastra banding adalah kajian yang berupa eksplorasi perubahan, penggantian, pengembangan, dan perbedaan timbal balik antara diantara dua karya atau lebih.
Sastra banding adalah wilayah keilmuan sastra yang mempelajari keterkaitan antara sastra dan perbandingan sastra dengan bidang lain.
Sastra banding adalah sebuah teks across cultural.
2.      Pengertian Budaya
              Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.
Dengan demikian budaya dapat diartikan hal-hal yang bersangkutan  dengan akal dan cara hidup yang selalu berubah dan berkembang dari waktu ke waktu. Ada pendapat lain yang mengupas kata budaya sebagai suatu perkembangan dari kata majemuk budi-daya yang berarti daya dari budi.

B.     PEMBAHASAN
1.      Deskripsi dongeng Timun Emas
Dongeng merupakan sebuah cerita dari mulut ke mulut oleh masyarakat yang disampaikan kepada anak-anak, yang biasanya menyimpan pesan yang ditujukan kepada pendengarnya. Dalam dongeng terdapat nilai budi pekerti luhur masyarakat yang meliputi nilai sosial dan budayanya.
Seperti diketahui, Timun Emas adalah salah satu dongeng yang berasal dari daerah Jawa Tengah. Dongeng ini bercerita tentang seorang wanita yang hidup seorang diri dan menginginkan seorang anak agar mampu merawatnya kelak saat dia tua. Hingga pada suatu saat datanglah seorang Buto Ijo bernama Buto Ijo, yang berjanji akan mengabulkan keinginan wanita tersebut dengan memberikan biji  mentimun agar ditanamnya. Namun Buto Ijo memberikan syarat yang berat, yaitu ketika nanti anak yang berasal dari timun itu besar ia akan datang untuk mengambilnya. Memang benar, pada saat tanaman timun itu berbuah, seorang anak perempuan lahir dan diberilah nama Timun Emas. Seiring berjalannya waktu, Timun Emas pun dewasa dan buto ijo pun dating menagih janji. Maka, mbok Rondo pun tak mau memberikan anaknya kepada Buto ijo, akhirnya Timun Emas pun disuruh lari menyelamatkan diri dari Buto Ijo yang akan memakannya, dengan menggunakan benda-benda ajaib pemberian seorang pertapa. Dengan benda-benda tersebut Timun Emas berhasil lolos dan mengalahkan Buto Ijo, sehingga dapat kembali ke rumah ibunya.
2.      Persamaan Dongeng Timun Emas Dengan Ilmu Budaya
No.
Dongeng Timun Emas
Ilmu Budaya
1.
Dalam dongeng Timun emas, Mbok Rondo yang menginginkan anak, rela meminta kepada Buto Ijo agar diberi anak.
“…manusi sebagai makhluk hidup, hidupnya penuh dengan perjuangan. Ia harus dapat bekerja keras untuk kelangsungan hidupnya (Sujarwa, 2010 : 78).
Analisis:  Dalam dongeng Timun emas ditemukan ilmu budaya yaitu  kebiasaan masyarakat yang melakukan apa pun untuk memenuhi keinginannya. Apabila manusia melalaikan salah satu daripadanya, atau kurang sungguh-sungguh menghadapinya, akibatnya manusia akan menderita. Untuk itulah, manusia harus bekerja keras agar terlepas dari penderitaan. Dalam pernyataan tersebut tercermin kepada tokoh yang bernama Mbok Rondo, ia mengusahakan sebisa mungkin agar bisa mendapatkan anak.

2.
Mbok Rondo yang menginginkan anak membuat kesepakatan dengan Buto Ijo, namun akhirnya Mbok Rondo menyalahi kesepakatan dengan tidak mau menyerahkan Timun Emas  saat usianya dewasa.
Orang yang menempati janji atau menempati kesanggupan, baik yang telah terlahir dalam kata-kata maupun yang masih dalam hati (niat) dapat pula dikatakan jujur (Sujarwa, 2010 : 64).
Analisis: Dalam dongeng Timun emas ditemukan kebiasaan buruk masyarakat yang masih enggan menepati janji dikarenakan  saking sayangnya dengan hartanya yang dalam dongeng tersebut dimaksudkan kepada Timun emas.

3.
Untuk menyelamatkan anak yang disayanginya Mbok Rondo pergi ke Pertapa agar diberikan jimat untuk mengalahkan Buto Ijo.
Dalam suatu budaya masyarakat Jawa, banyak masyarakat yang masih percaya dengan benda-benda yang berkekuatan ghaib dan dianggap bertuah.
Onealgodiel mengatakan bahwa orang Jawa per-caya bahwa Tuhan adalah pusat alam, baik alam nyata maupun alam gaib (makrokosmos).

Analisis: Dalam dongeng Timun emas menggambarkan budaya/kebiasaan masyarakat masih percaya pada benda bertuah seperti halnya budaya pada masyarakat Indonesia pada umumnya.
4.
Dalam dongeng Timun emas sosok jahat digambarkan dengan Buto Ijo bernama Buto Ijo.
Budaya masyarakat selalu menggambarkan hal-hal negatif dengan sosok yang buruk dan menyeramkan/menakutkan.
Sujarwa (2010 : 70) mengatakan orang jawa melalui seni pewayangan menggambarkan tokoh baik ada pada Pandawa dan Rama, sedangkan tokoh buruk ada pada Kurawa dan Rahwana.
Analisis : Dongeng Timun emas memiliki persamaan budaya dengan masyarakat Indonesia, khususnya. Dalam hal penggambaran tokoh jahat dengan sosok yang kejam, bringas, dan seram.

3.    Perbedaan Dongeng Timun Emas Dengan Ilmu Budaya
No.
Timun Emas
Ilmu Budaya
1.
Mbok Rondo mencoba menyem-bunyikan Timun emas agar tidak dimakan Buto Ijo.
Orang yang menempati janji atau menempati kesanggupan, baik yang telah terlahir dalam kata-kata maupun yang masih dalam hati (niat) dapat pula dikatakan jujur (Sujarwa, 2010 : 64).
2.
Mbok Rondo tinggal sendiri di pinggir hutan.
Masyarakat tinggal bersama dalam lingkup sosial untuk saling berin-teraksi dan bantu-membantu.
Sujarwa (2010 : 26) mengatakan manusia tak dapat hidup tanpa bu-daya yang memuat ancaman bagi dirinya sendiri, dan seterusnya.

C.     Simpulan
            Perbandingan antara dongeng Timun emas dengan ilmu budaya memiliki banyak persamaan. Namun persamaan tersebut lebih pada budaya masyarakat Jawa. Hal itu dikarenakan karena dongeng Timun Emas memang berasal dari Jawa (Jawa Tengah). Dalam kaitannya dengan ilmu budaya lain dongeng Timun Emas mempunyai persamaan dalam hal penggambaran sosok jahat dengan karakter yang menyeramkan.
DAFTAR PUSTAKA
Danandjaja, James. 1986. Folklor Indonesia. Jakarta: Grafiti Press.
Damono, Supardi Djoko. 2005. Pegangan Penelitian Sastra Bandingan.                             Jakarta: Pusat Bahasa Depdiknas.
Remak, Henry A. A. 1990. “Sastra Bandingan; Takrif dan Fungsi” dalam  Newton. P. Stallknecht dan Horst Frenz. Sastra Perbandingan,  Kaidah dan Perspektif, Edisi Semakan. Kuala Lumpur: Dewan    Bahasa dan Pustakka.
Sujarwa.2010. “Ilmu Sosial Budaya Dasar”. Yogyakarta: Pustaka Pelaj
Lampiran:
Dongeng Timun Emas
            Di sebuah desa hiduplah seorang perempuan tua bernama Mbok Rondo. Ia hidup sebatang kara. Mbok Rondo ingin sekali memiliki seorang anak, agar dapat merawat dirinya yang sudah mulai tua. Namun, itu semua mustahil karena ia tidak mempunyai suami.
Setiap hari Mbok Rondo pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. Pada suatu hari, di tengah hutan. Ia bertemu dengan seorang Buto Ijo yang sangat menyeramkan. Tubuh Buto Ijo itu lebih tinggi dari pohon. Kulitnya penuh dengan bulu yang kasar. Kulitnya gelap. Mulutnya terdapat sepasang taring yang sagat tajam. Kukunya panjang dan kontor.
Mbok Rondo sangat ketakutan. Tubuhnya gemetaran melihat mahluk yang sangat besar itu. Buto Ijo itu berkata dengan suara yang sangat membahana,  “Hei, perempuan tua? Jangan takut, aku tidak akan memakanmu. Kamu sudah terlalu tua. Dagingmu keras dan tidak enak. Aku datang kesini hanya ingin memberikan sesuatu padamu.”
Buto Ijo itu memberikan beberapa butir benih tanaman dan berkata, “Tanamlah benih ini dan rawatlah dengan baik dan kau akan mendapatkan semua yang kau inginkan selama ini.. tapi ingat, kau tidak boleh menikmatnya seorang diri. Kau harus memberikannya kepadaku juga sebagai tanda terima kasih.”
Mbok Rondo hanya mengangguk. Ia langsung pulang ke rumahnya. Setiba Mbok Rondo dirumah, sesuai dengan petunjuk si Buto Ijo it, di tanam lah benih tersebut. Ajaibnya, keesokan harinya, benih tanaman itu telah tumbuh menjadi tanaman mentimun. Buah-buahnya besar-besar. Jika terkena sinar matahari, warnanya besinar seperti emas.
Karena penasaran dengan dengan bua mentimun itu, akhirnya di petiklah satu yang paling besar. Ketika di belah, Mbok Rondo sangat terkejut. Di dalam timun tersebut ada seorang bayi perempuan yang sangat cantik.
“Jadi ini maksud dari ucapan si Buto Ijo.” ujarnya dalam hati.
Betapa senangnya Mbok Rondo. Tidak pernah terbayangkan akan mempunyai seorang anak perempuan yang sangat cantik. Karena lahir dari buah mentimun berwarna keemasan. Anak itu di beri nama Timun Mas.
Keesokan harinya, di hutan, Mbok Rondo bertemu kembali dengan si Buto Ijo. Buto Ijo itu berkata, “Engakau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan selama ini. Sesuai dengan janjimu, engkau harus membaginya denganku.”
Mbok Rondo bingung, ia bertanya, “Bagaimna mungkin bayi perempuan bisa dibagi?”
“Tidak usah bingung perempuan tua. Kau boleh memilikinya sampai usia 17 tahun. Selanjutnya. Anak itu akan menjadi santapanku.” Jelas Buto Ijo.
“Baiklah Buto Ijo. Aku akan merawat anak itu, dan menganggap ank itu anakku sendiri sampai usia 17 tahun,” ujar Mbok Rondo.
Timun Mas tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat baik hati dan cantik jelita. Kulitnya kuning langsat. Tubuhnya tinggi semampai. Rambutnya hitam berkilau. Semakin hari kecantikannya, semakin terlihat.
Timun Mas juga sangat rajin membantu ibunya. Ia selalu menemani ibunya mencari kayu bakar di hutan. Kebaikan hati Timun Mas membuat Mbok Rondo khawatir kehilangannya. Ia sangat menyayangi Timun Mas untuk menjadi santapan si Buto Ijo.
Tahun demi tahun terus berganti. Kini, Timun Mas sudah menginjak usia 17 tahun. Sudah waktunya bagi Buto Ijo itu untuk mengambil Timun Mas. Mbok Rondo menyuruh Timun Mas bersembunyi di dalam kamar. Tiba-tiba, terdengar suara dentuman yang sangat keras. Itu adalah suara langkah kaki si Buto Ijo. Mbok Rondo gemetar ketakutan.
“Hai perempuan tua! Mana anak perempuanmu yang telah kau janjikan untukku?” teriak Buto Ijo itu.
“Ia sedang mandi di kali, Tuan Buto Ijo. Tubuhnya sangat bau. Kau pasti tidak akan suka memakannya.” Ujar Mbok Rondo
“Baiklah. Aku akan kembali seminggu lagi. Pastikan ketika aku kembali ia sudah siap untuk ku bawa ke hutan.” Ujar Buto Ijo.
“Tentu saja. Tuan. Aku tak akan mengecewakanmu.” Ujar Mbok Rondo.
Maka pergilah Buto Ijo itu kembali ke hutan. Mbok Rondo dan Timun Mas sangat lega. Mereka masih punya waktu semiggu untuk bersama. Namun, setelah seminggu berlalu dan Buto Ijo itu datang kembali, ibu dan anak ini tetap tidak mau berpisah. Timun Mas kemali bersembunyi. Kali ini di dapur, di dalam tempayan air yang kosong.
“Hai perempuan tua. Aku kembali untuk menagih janjimu! Cepat serahkan anak perempuanmu.” Teriak si Buto Ijo.
“Maaf, Tuan Buto Ijo. Timun Mas sedang menjual kayu ke kampung. Bila saja engkau datang lebih pagi, engkau pasti bertemu dengan dia.” Ujar Mbok Rondo
Dengan setengah marah Buto Ijo itu berteriak. “Baiklah, ku beri waktu 1 minggu lagi. Jika anakmu tidak kau serahkan kepadaku. Akan ku hancurkan rumahmu.”
Mbok Rondo semakin ketakutan dan bingung denngan ancaman si Buto Ijo. Ia sungguh tidak rela anak perempuanya yang sangat cantik menjadi santapan si Buto Ijo yang kejam itu. Melihat keadaan ibunya. Timun Mas berkata. “Ibu, janganlah bersedih. Relakanlah aku menjadi santapan Buto Ijo itu.” Ujar Timun Mas.
“Tidak anakku. Ibu tidak akan membiarkanmu menjadi mangsa Buto Ijo jahat itu. Ibu akan melakukan apapun untuk menyelamatkanmu.” Ujar Mbok Rondo.
Kemudian Mbok Rondo pergi menemui seorang kakek yang sakti tinggal di gunung. Kakek sakti itu memberikan benih mentimun, sebuah duri, sebutir garam, dan sepotong terasi.
Seminggu kemudian, Buto Ijo itu datang lagi. Kali ini, si Buto Ijo udah tidak dapat menahan emosinya. Kakinya yang besar, di hentak-hentakan ke tanah sehingga bumi bergetar.
“Cepat serahkan anakmu atau ku hancurkan rumah beserta ddirimu! Aku sudah sangat lapar!” teriak Buto Ijo.
“Maaf, Tua Buto Ijo. Anakku sudah berjalan ke hutan. Kembalilah engkau ke hutan tempat tinggalmu. Timun Mas sudah berada di sana.” Kata Mbok Rondo berbohong.
Pada saat itu. Timun Mas sudah keluar rumah melalui pintu belakang. Ia membawa semua benda yang di berikan oleh kakek sakti dari gunung itu. Ketika akan kembali ke hutan, si Buto Ijo melihat Timun Mas berlari dari belakangrumah. Di kejarnya Timun Mas. Meskipun panic. Timun Ma masih mengingat perintah ibunya untuk melempar sebutir benih mentimun. Benih mentimun itu langsung berubah menjadi lading mentimun dengan buah yang besar-besar. Karena kelaparan, si Buto Ijo memakan mentimun-mentimun di ladang itu. Setelah keyang. Ia kembali mengejar Timun Mas. Meskipun perutnya yang kekenyangan membuat jalannya menjadi lambat. Buto Ijo itu tetap bisa mengejar Timun Mask arena langkah kakinya yang panjang. Ketika si Buto Ijo sudah dekat. Timun Mas melemparkan sebuah duri. Duri itu berubah menjadi sebuah hutan bamboo. Hutan bamboo itu memperlambat jalan Buto Ijo itu. Tubuhnya menjadi penuh luka karena tertusuk batang bambu. Namun, Buto Ijo itu tidak menyerah. Ia tetap mengejar mangsanya. Kali ini, Timun Mas melemparkan sebutir garam. Garam itu berubah menjadi sebuah lautan yang luas. Buto Ijo itu harus berenang untuk mengejar Timun Mas. Ia berhasil, tetapi tubuhnya sudah sangat lelah. Buto Ijo it uterus mengejar Timun Mas meskipun sudah kelelahan. Timun Mas melempar sepong terasi. Kali ini terasi tersebut berubah menjadi lumpur hisap. Buto Ijo itu berteriak meminta tolong ketika tubuhnya terhisap lumpur.
Tubuh Buto Ijo yang besar tidak mampu melawan hisapan lumpur karena kelelahan. Ia pun tewas terhisap lumpur. Maka, tamatlah riwayat Buto Ijo jahat itu. Setelah bebas dari Buto Ijo jahat itu. Kehidupan Timun Mas dan Mbok Rondo membaik.Timun Mas bertemu dengan seorang pangeran dari negeri seberang. Pangeran itu jatuh cinta kepadanya. Merekapun menikah. Timun Mas dan Mbok Rondo diboyong oleh pangeran itu ke istananya. Mereka hidup bahagia selamanya.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Rhifaery's Room Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang