Perbandingan Teks Sastra Dongeng Timun Emas dengan Ilmu Budaya
Oleh: Khoriyoh Waha
A.
PENDAHULUAN
1.Latar Belakang
Dongeng merupakan cerita
tradisional yang tumbuh di masyarakat sejak zaman dahulu, dan
berasal dari generasi terdahulu. peristiwa yang diceritakan dalam
dongeng adalah peristiwa peristiwa
yang terjadi di masa lampau.
dongeng termasuk dalam golongan folklor lisan dengan genre cerita (prosa) rakyat.
hampir setiap negara memiliki dongeng yang disampaikan secara
turun temurun dari generasi ke generasi.
Dalam buku folklor indonesia (1986), Danandjaja
menjelaskan bahwa cerita dalam dongeng merupakan cerita prosa rakyat yang tidak
dianggap benar-benar terjadi yang diceritakan terutama untuk hiburan, walaupun
banyak juga yang melukiskan kebenaran, berisikan pelajaran (moral) atau bahkan sindiran
(danandjaja,1986:83) dongeng seringkali mempunyai unsur-unsur cerita yang sama
antara satu daerah dengan daerah lainnya di suatu negara, bahkan juga di antara
Negara negara yang letaknya berjauhan. Menurut
danandjaja, pada dasarnya
persamaan itu hanya dapat
diterangkan dengan dua kemungkinan, yakni: (1) monogenesis, yaitu suatu penemuan diikuti
proses difusi (diffusion) atau
penyebaran, (2) poligenesis,
yang disebabkan oleh penemuan-penemuan yang sendiri (independent invention)
atau sejajar (parallel invention) dari motif-motif
cerita yang sama, di tempat-tempat yang berlainan serta dalam masa yang berlainan
maupun bersamaan. (danandjaja, 1986 : 56) sebagai sastra lisan,
sebagian besar prosa rakyat, termasuk dongeng, tidak mempunyai aturan penceritaan yang baku.
dengan demikian, setiap penutur
dapat dengan leluasa memberikan judul,
atau pun tambahan lain yang
dianggap perlu pada cerita yang dibawakannya, sehingga sebuah cerita yang sama bisa
mempunyai nama yang berbeda di setiap daerah.
Drama-drama Yunani klasik seperti Oedipus Rex dan
Electra adalah salah satu
contoh cerita yang diciptakan
berdasarkan dongeng yang beredar di masyarakat. Kisah-kisah itu bertahan
terus sampai
sekarang, bahkan berkembang
ke dalam berbagai bentuk sastra modern. Kisah sejenis Oedipus diturunkan dalam
berbagai bentuk, dimanapun. Dalam kebudayaan Jawa, kisah itu dikenal sebagai Prabu
Watu Gunung, sementara di tatar Sunda dikenal sebagai Sangkuriang. Jenis kisah lain yang
juga populer di kalangan rakyat
adalah cinta yang tak kesampaian. Dalam budaya Barat dikenal sebagai kisah
Romeo-Juliet, sedangkan di tanah Jawa dikenal dengan cerita Roro Mendut-Pranacitra.
(Damono, 2005 : 20-21).
Dalam penelitian ini kami mencoba membandingkan
dongeng Timun emas dengan ilmu budaya, untuk menemukan persamaan dan perbedaan
antara keduan kajian tersebut. Sehingga diharapkan hasilnya mampu menjadi
sebuah referensi bagi pembaca umumnya dan peneliti khusunya.
2.Rumusan Masalah
1) Bagaimana perbandingan dongeng Timun
Emas dengan ilmu budaya?
1.
Tujuan Penelitian
1) Untuk membandingkan dongeng Timun Emas
dengan ilmu budaya.
2.
Manfaat Penelitian
1) Mampu mengetahui perbandingan dongeng
Timun Emas dengan ilmu budaya.
A.
LANDASAN TEORI
1.
Pengertian Sastra
Bandingan
Sapardi Djoko Damono (2005: 2) menyatakan bahwa
sastra bandingan meruakan pendekatan dalam ilmu sastra yang tidak menghasilkan
teori tersendiri.
Menurut Remak (1990, 1) Sastra bandingan adalah kajian sastra di luar batas-batas sebuah negara dan kajian hubungan di antara sastra dengan bidang ilmu serta kepercayaan yang lain seperti seni (misalnya, seni lukis, seni ukir, seni drama dan seni musik), filsasfat, sejarah, dan sains sosial (misal politik, ekonomi, sosiologi) sain, agama, dll.
Menurut Remak (1990, 1) Sastra bandingan adalah kajian sastra di luar batas-batas sebuah negara dan kajian hubungan di antara sastra dengan bidang ilmu serta kepercayaan yang lain seperti seni (misalnya, seni lukis, seni ukir, seni drama dan seni musik), filsasfat, sejarah, dan sains sosial (misal politik, ekonomi, sosiologi) sain, agama, dll.
Menurut Nada (1999,9), sastra bandingan adalah suatu
studi atau kajian sastra suatu banggsa yang mempunyai kaitan kesejarahan dengan
sastra bangsa lain, bagaimana terjalin proses saling mempengaruhi antara satu
dengan lainnya, apa yan telah diambil suatu sastra, dan apa pua yan telah
disumbangkanya.
Benedecto Crose (Giffo, 1995:1) study sastra banding
adalah kajian yang berupa eksplorasi perubahan, penggantian, pengembangan, dan
perbedaan timbal balik antara diantara dua karya atau lebih.
Sastra banding adalah wilayah keilmuan sastra yang
mempelajari keterkaitan antara sastra dan perbandingan sastra dengan bidang
lain.
Sastra banding adalah sebuah teks across cultural.
2.
Pengertian Budaya
Budaya
adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah
kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari
banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat,
bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga
budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak
orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang
berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan
perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.
Dengan
demikian budaya dapat diartikan hal-hal yang bersangkutan dengan akal dan cara hidup yang selalu
berubah dan berkembang dari waktu ke waktu. Ada pendapat lain yang mengupas
kata budaya sebagai suatu perkembangan dari kata majemuk budi-daya yang berarti
daya dari budi.
B.
PEMBAHASAN
1.
Deskripsi dongeng Timun Emas
Dongeng
merupakan sebuah cerita dari mulut ke mulut oleh masyarakat yang disampaikan
kepada anak-anak, yang biasanya menyimpan pesan yang ditujukan kepada
pendengarnya. Dalam dongeng terdapat nilai budi pekerti luhur masyarakat yang
meliputi nilai sosial dan budayanya.
Seperti diketahui, Timun Emas adalah salah satu dongeng yang
berasal dari
daerah Jawa Tengah. Dongeng ini bercerita tentang seorang wanita yang hidup
seorang diri dan menginginkan seorang anak agar mampu merawatnya kelak saat dia
tua. Hingga pada suatu saat datanglah seorang Buto Ijo bernama Buto Ijo, yang
berjanji akan mengabulkan keinginan wanita tersebut dengan memberikan biji mentimun agar ditanamnya. Namun Buto Ijo
memberikan syarat yang berat, yaitu ketika nanti anak yang berasal dari timun
itu besar ia akan datang untuk mengambilnya. Memang benar, pada saat tanaman
timun itu berbuah, seorang anak perempuan lahir dan diberilah nama Timun Emas.
Seiring berjalannya waktu, Timun Emas pun dewasa dan buto ijo pun dating
menagih janji. Maka, mbok Rondo pun tak mau memberikan anaknya kepada Buto ijo,
akhirnya Timun Emas pun disuruh lari menyelamatkan diri dari Buto Ijo yang akan memakannya, dengan
menggunakan benda-benda ajaib pemberian seorang pertapa. Dengan
benda-benda tersebut Timun Emas
berhasil lolos dan mengalahkan Buto Ijo, sehingga dapat kembali ke rumah ibunya.
2.
Persamaan Dongeng Timun Emas Dengan Ilmu Budaya
|
No.
|
Dongeng Timun Emas
|
Ilmu Budaya
|
|
1.
|
Dalam
dongeng Timun emas, Mbok Rondo yang menginginkan anak, rela meminta kepada
Buto Ijo agar diberi anak.
|
“…manusi
sebagai makhluk hidup, hidupnya penuh dengan perjuangan. Ia harus dapat
bekerja keras untuk kelangsungan hidupnya (Sujarwa, 2010 : 78).
|
|
Analisis: Dalam dongeng Timun emas ditemukan ilmu
budaya yaitu kebiasaan masyarakat yang
melakukan apa pun untuk memenuhi keinginannya. Apabila manusia melalaikan
salah satu daripadanya, atau kurang sungguh-sungguh menghadapinya, akibatnya
manusia akan menderita. Untuk itulah, manusia harus bekerja keras agar
terlepas dari penderitaan. Dalam pernyataan tersebut tercermin kepada tokoh
yang bernama Mbok Rondo, ia mengusahakan sebisa mungkin agar bisa mendapatkan
anak.
|
||
|
2.
|
Mbok
Rondo yang menginginkan anak membuat kesepakatan dengan Buto Ijo, namun
akhirnya Mbok Rondo menyalahi kesepakatan dengan tidak mau menyerahkan Timun
Emas saat usianya dewasa.
|
Orang
yang menempati janji atau menempati kesanggupan, baik yang telah terlahir
dalam kata-kata maupun yang masih dalam hati (niat) dapat pula dikatakan
jujur (Sujarwa, 2010 : 64).
|
|
Analisis: Dalam
dongeng Timun emas ditemukan kebiasaan buruk masyarakat yang masih enggan
menepati janji dikarenakan saking
sayangnya dengan hartanya yang dalam dongeng tersebut dimaksudkan kepada
Timun emas.
|
||
|
3.
|
Untuk
menyelamatkan anak yang disayanginya Mbok Rondo pergi ke Pertapa agar
diberikan jimat untuk mengalahkan Buto Ijo.
|
Dalam
suatu budaya masyarakat Jawa, banyak masyarakat yang masih percaya dengan
benda-benda yang berkekuatan ghaib dan dianggap bertuah.
Onealgodiel
mengatakan bahwa orang Jawa per-caya bahwa Tuhan adalah pusat alam, baik alam
nyata maupun alam gaib (makrokosmos).
|
|
Analisis: Dalam
dongeng Timun emas menggambarkan budaya/kebiasaan masyarakat masih percaya
pada benda bertuah seperti halnya budaya pada masyarakat Indonesia pada
umumnya.
|
||
|
4.
|
Dalam
dongeng Timun emas sosok jahat digambarkan dengan Buto Ijo bernama Buto Ijo.
|
Budaya
masyarakat selalu menggambarkan hal-hal negatif dengan sosok yang buruk dan
menyeramkan/menakutkan.
Sujarwa
(2010 : 70) mengatakan orang jawa melalui seni pewayangan menggambarkan tokoh
baik ada pada Pandawa dan Rama, sedangkan tokoh buruk ada pada Kurawa dan
Rahwana.
|
|
Analisis : Dongeng
Timun emas memiliki persamaan budaya dengan masyarakat Indonesia, khususnya.
Dalam hal penggambaran tokoh jahat dengan sosok yang kejam, bringas, dan
seram.
|
||
3.
Perbedaan Dongeng Timun Emas Dengan Ilmu Budaya
|
No.
|
Timun Emas
|
Ilmu Budaya
|
|
1.
|
Mbok
Rondo mencoba menyem-bunyikan Timun emas agar tidak dimakan Buto Ijo.
|
Orang
yang menempati janji atau menempati kesanggupan, baik yang telah terlahir
dalam kata-kata maupun yang masih dalam hati (niat) dapat pula dikatakan
jujur (Sujarwa, 2010 : 64).
|
|
2.
|
Mbok
Rondo tinggal sendiri di pinggir hutan.
|
Masyarakat
tinggal bersama dalam lingkup sosial untuk saling berin-teraksi dan
bantu-membantu.
Sujarwa
(2010 : 26) mengatakan manusia tak dapat hidup tanpa bu-daya yang memuat
ancaman bagi dirinya sendiri, dan seterusnya.
|
C. Simpulan
Perbandingan antara dongeng Timun
emas dengan ilmu budaya memiliki banyak persamaan. Namun persamaan tersebut
lebih pada budaya masyarakat Jawa. Hal itu dikarenakan karena dongeng Timun
Emas memang berasal dari Jawa (Jawa Tengah). Dalam kaitannya dengan ilmu budaya
lain dongeng Timun Emas mempunyai persamaan dalam hal penggambaran sosok jahat
dengan karakter yang menyeramkan.
DAFTAR
PUSTAKA
Danandjaja, James.
1986. Folklor Indonesia. Jakarta: Grafiti Press.
Damono, Supardi Djoko. 2005. Pegangan Penelitian
Sastra Bandingan. Jakarta:
Pusat Bahasa Depdiknas.
Remak,
Henry A. A. 1990. “Sastra Bandingan; Takrif dan Fungsi” dalam Newton. P. Stallknecht dan Horst Frenz. Sastra
Perbandingan, Kaidah dan Perspektif, Edisi Semakan.
Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan
Pustakka.
Sujarwa.2010. “Ilmu Sosial Budaya Dasar”. Yogyakarta: Pustaka Pelaj
Lampiran:
Dongeng
Timun Emas
Di sebuah desa hiduplah seorang perempuan tua bernama
Mbok Rondo. Ia hidup sebatang kara. Mbok Rondo ingin sekali memiliki seorang
anak, agar dapat merawat dirinya yang sudah mulai tua. Namun, itu semua
mustahil karena ia tidak mempunyai suami.
Setiap
hari Mbok Rondo pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. Pada suatu hari, di
tengah hutan. Ia bertemu dengan seorang Buto Ijo yang sangat menyeramkan. Tubuh
Buto Ijo itu lebih tinggi dari pohon. Kulitnya penuh dengan bulu yang kasar.
Kulitnya gelap. Mulutnya terdapat sepasang taring yang sagat tajam. Kukunya
panjang dan kontor.
Mbok
Rondo sangat ketakutan. Tubuhnya gemetaran melihat mahluk yang sangat besar
itu. Buto Ijo itu berkata dengan suara yang sangat membahana, “Hei, perempuan tua? Jangan takut, aku tidak
akan memakanmu. Kamu sudah terlalu tua. Dagingmu keras dan tidak enak. Aku
datang kesini hanya ingin memberikan sesuatu padamu.”
Buto
Ijo itu memberikan beberapa butir benih tanaman dan berkata, “Tanamlah benih
ini dan rawatlah dengan baik dan kau akan mendapatkan semua yang kau inginkan
selama ini.. tapi ingat, kau tidak boleh menikmatnya seorang diri. Kau harus
memberikannya kepadaku juga sebagai tanda terima kasih.”
Mbok
Rondo hanya mengangguk. Ia langsung pulang ke rumahnya. Setiba Mbok Rondo
dirumah, sesuai dengan petunjuk si Buto Ijo it, di tanam lah benih tersebut.
Ajaibnya, keesokan harinya, benih tanaman itu telah tumbuh menjadi tanaman
mentimun. Buah-buahnya besar-besar. Jika terkena sinar matahari, warnanya
besinar seperti emas.
Karena
penasaran dengan dengan bua mentimun itu, akhirnya di petiklah satu yang paling
besar. Ketika di belah, Mbok Rondo sangat terkejut. Di dalam timun tersebut ada
seorang bayi perempuan yang sangat cantik.
“Jadi ini maksud dari
ucapan si Buto Ijo.” ujarnya dalam hati.
Betapa
senangnya Mbok Rondo. Tidak pernah terbayangkan akan mempunyai seorang anak
perempuan yang sangat cantik. Karena lahir dari buah mentimun berwarna
keemasan. Anak itu di beri nama Timun Mas.
Keesokan
harinya, di hutan, Mbok Rondo bertemu kembali dengan si Buto Ijo. Buto Ijo itu
berkata, “Engakau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan selama ini. Sesuai
dengan janjimu, engkau harus membaginya denganku.”
Mbok Rondo bingung, ia
bertanya, “Bagaimna mungkin bayi perempuan bisa dibagi?”
“Tidak usah bingung
perempuan tua. Kau boleh memilikinya sampai usia 17 tahun. Selanjutnya. Anak
itu akan menjadi santapanku.” Jelas Buto Ijo.
“Baiklah Buto Ijo. Aku
akan merawat anak itu, dan menganggap ank itu anakku sendiri sampai usia 17
tahun,” ujar Mbok Rondo.
Timun Mas tumbuh
menjadi seorang gadis yang sangat baik hati dan cantik jelita. Kulitnya kuning
langsat. Tubuhnya tinggi semampai. Rambutnya hitam berkilau. Semakin hari
kecantikannya, semakin terlihat.
Timun Mas juga sangat
rajin membantu ibunya. Ia selalu menemani ibunya mencari kayu bakar di hutan.
Kebaikan hati Timun Mas membuat Mbok Rondo khawatir kehilangannya. Ia sangat
menyayangi Timun Mas untuk menjadi santapan si Buto Ijo.
Tahun demi tahun terus
berganti. Kini, Timun Mas sudah menginjak usia 17 tahun. Sudah waktunya bagi
Buto Ijo itu untuk mengambil Timun Mas. Mbok Rondo menyuruh Timun Mas
bersembunyi di dalam kamar. Tiba-tiba, terdengar suara dentuman yang sangat
keras. Itu adalah suara langkah kaki si Buto Ijo. Mbok Rondo gemetar ketakutan.
“Hai perempuan tua!
Mana anak perempuanmu yang telah kau janjikan untukku?” teriak Buto Ijo itu.
“Ia sedang mandi di
kali, Tuan Buto Ijo. Tubuhnya sangat bau. Kau pasti tidak akan suka
memakannya.” Ujar Mbok Rondo
“Baiklah. Aku akan
kembali seminggu lagi. Pastikan ketika aku kembali ia sudah siap untuk ku bawa
ke hutan.” Ujar Buto Ijo.
“Tentu saja. Tuan. Aku
tak akan mengecewakanmu.” Ujar Mbok Rondo.
Maka
pergilah Buto Ijo itu kembali ke hutan. Mbok Rondo dan Timun Mas sangat lega.
Mereka masih punya waktu semiggu untuk bersama. Namun, setelah seminggu berlalu
dan Buto Ijo itu datang kembali, ibu dan anak ini tetap tidak mau berpisah.
Timun Mas kemali bersembunyi. Kali ini di dapur, di dalam tempayan air yang
kosong.
“Hai perempuan tua. Aku
kembali untuk menagih janjimu! Cepat serahkan anak perempuanmu.” Teriak si Buto
Ijo.
“Maaf, Tuan Buto Ijo.
Timun Mas sedang menjual kayu ke kampung. Bila saja engkau datang lebih pagi,
engkau pasti bertemu dengan dia.” Ujar Mbok Rondo
Dengan
setengah marah Buto Ijo itu berteriak. “Baiklah, ku beri waktu 1 minggu lagi.
Jika anakmu tidak kau serahkan kepadaku. Akan ku hancurkan rumahmu.”
Mbok
Rondo semakin ketakutan dan bingung denngan ancaman si Buto Ijo. Ia sungguh
tidak rela anak perempuanya yang sangat cantik menjadi santapan si Buto Ijo
yang kejam itu. Melihat keadaan ibunya. Timun Mas berkata. “Ibu, janganlah
bersedih. Relakanlah aku menjadi santapan Buto Ijo itu.” Ujar Timun Mas.
“Tidak anakku. Ibu
tidak akan membiarkanmu menjadi mangsa Buto Ijo jahat itu. Ibu akan melakukan
apapun untuk menyelamatkanmu.” Ujar Mbok Rondo.
Kemudian
Mbok Rondo pergi menemui seorang kakek yang sakti tinggal di gunung. Kakek
sakti itu memberikan benih mentimun, sebuah duri, sebutir garam, dan sepotong
terasi.
Seminggu
kemudian, Buto Ijo itu datang lagi. Kali ini, si Buto Ijo udah tidak dapat
menahan emosinya. Kakinya yang besar, di hentak-hentakan ke tanah sehingga bumi
bergetar.
“Cepat serahkan anakmu
atau ku hancurkan rumah beserta ddirimu! Aku sudah sangat lapar!” teriak Buto
Ijo.
“Maaf, Tua Buto Ijo.
Anakku sudah berjalan ke hutan. Kembalilah engkau ke hutan tempat tinggalmu.
Timun Mas sudah berada di sana.” Kata Mbok Rondo berbohong.
Pada
saat itu. Timun Mas sudah keluar rumah melalui pintu belakang. Ia membawa semua
benda yang di berikan oleh kakek sakti dari gunung itu. Ketika akan kembali ke
hutan, si Buto Ijo melihat Timun Mas berlari dari belakangrumah. Di kejarnya
Timun Mas. Meskipun
panic. Timun Ma masih mengingat perintah ibunya untuk melempar sebutir benih
mentimun. Benih mentimun itu langsung berubah menjadi lading mentimun dengan
buah yang besar-besar. Karena kelaparan, si Buto Ijo memakan mentimun-mentimun
di ladang itu. Setelah keyang. Ia kembali mengejar Timun Mas. Meskipun perutnya
yang kekenyangan membuat jalannya menjadi lambat. Buto Ijo itu tetap bisa
mengejar Timun Mask arena langkah kakinya yang panjang. Ketika si Buto Ijo
sudah dekat. Timun Mas melemparkan sebuah duri. Duri itu berubah menjadi sebuah
hutan bamboo. Hutan bamboo itu memperlambat jalan Buto Ijo itu. Tubuhnya
menjadi penuh luka karena tertusuk batang bambu. Namun, Buto Ijo itu
tidak menyerah. Ia tetap mengejar mangsanya. Kali ini, Timun Mas melemparkan
sebutir garam. Garam itu berubah menjadi sebuah lautan yang luas. Buto Ijo itu
harus berenang untuk mengejar Timun Mas. Ia berhasil, tetapi tubuhnya sudah
sangat lelah. Buto
Ijo it uterus mengejar Timun Mas meskipun sudah kelelahan. Timun Mas melempar
sepong terasi. Kali ini terasi tersebut berubah menjadi lumpur hisap. Buto Ijo
itu berteriak meminta tolong ketika tubuhnya terhisap lumpur.
Tubuh
Buto Ijo yang besar tidak mampu melawan hisapan lumpur karena kelelahan. Ia pun
tewas terhisap lumpur. Maka, tamatlah riwayat Buto Ijo jahat itu. Setelah bebas
dari Buto Ijo jahat itu. Kehidupan Timun Mas dan Mbok Rondo membaik.Timun Mas
bertemu dengan seorang pangeran dari negeri seberang. Pangeran itu jatuh cinta
kepadanya. Merekapun menikah. Timun Mas dan Mbok Rondo diboyong oleh pangeran
itu ke istananya. Mereka hidup bahagia selamanya.
0 komentar:
Posting Komentar