Minggu, 12 Juni 2016

Perbandingan Teks Sastra Novel Saman Karya Ayu Utami Dengan Ilmu Politik





Perbandingan Teks Sastra Novel Saman  Karya Ayu Utami  Dengan Ilmu Politik
Oleh: Elvita Fajrul Firdama







A.    PENDAHULUAN
1.              Latar Belakang        
Runtuhnya rezim orde baru tahun 1998 tidak hanya membawa kebebasan untuk bersuara, berpendapat dan berekspresi, Namun juga turut mempengaruhi perkembangan sastra Indonesia. Perkembangan ini ditandai dengan banyak bermunculan pengarang dan sastrawan baru yang kritis dan lugas dalam mengeluarkan karya-karya sastra yang bersifat experimental dengan menyuarakan kondisi-kondisi sosial yang selama ini menjadi hal tabu untuk dibicarakan untuk diangkat sebagai karya sastra. Banyak karya sastra pada zaman orde baru yang dicekal dan dilarang bahkan untuk menyimpan atau sekadar membaca karena dianggap tidak sesuai dengan rezim. Mungkin itu sebabnya ketika orde baru tumbang dan Soeharto dipaksa turun dari singgasananya dan militer tak bisa terlalu dominan dalam kehidupan politik di negeri ini buku-buku kiri yang tadinya dilarang dan hanya bisa diakses secara sembunyi-sembunyi dengan resiko hukuman penjara diterbitkan kembali secara luas dan ternyata laris manis (Anton Kurnia: 54-55,2004). Kini setelah reformasi orang bebas untuk membaca, memiliki, tanpa takut untuk dan sembunyi-sembunyi dan sekarang banyak kita jumpai serta diperjual-belikan di toko-toko buku. Novel-novel seperti karya Pramoedya Ananta Toer adalah contoh diantaranya, paling sering kena cekal dan dilarang terbit kini banyak kita temui di toko buku dan sangat menjamur.
Kondisi dan situasi itu tak lepas dari pasca reformasi 1998, juga pada munculnya para sastrawan, baik sastrawan yang sudah mempunyai nama maupun sastrawan baru memulai karir. Kondisi itu dimanfaatkan betul untuk mengekspresikan karya-karya mereka yang terinspirasi dari kondisi sosial selama orde baru sampai akhir keruntuhannya. Mulai dari karya sastra yang menyuarakan tentang penindasan perempuan atas laki-laki sampai penindasan rakyat atas pemerintahan. Selain faktor sosial dan politik dimasa orde baru, faktor pergantian generasi sastrawan juga turut mempengaruhi akan lahirnya para seniman dan sastrawan baru untuk berkreasi dan berkarya secara merdeka. Kebebasan yang dimiliki serta adanya Dewan Kesenian sebagai wadah atau fasilitas bagi seniman dan sastrawan turut menciptakan kegairahan dan kesemarakan untuk memunculkan kecenderungan bereksperimen pada para seniman dan sastrawan untuk memulai karir.
Ayu Utami adalah satu diantara sastrawan baru yang memulai karir dalam kesusastraan Indonesia. Namun awal berkarir bukan berarti karyanya tidak termasuk diperhitungkankan. Ini dibuktikan dengan karyanaya pertama berhasil sebagai pemenang sayembara serta mendapat penghargaan. Novel Saman karya pertamanya adalah pemenang sayembara Roman Dewan Kesenian Jakarta 1999. Juga penerima perhanghargaan atas karyanya yang dianggap meluaskan batas penulisan dalam masyarakat. Ia mendapat penghargaan dari Price Claus Award dan Hadiah Sastra Mastera (Majelis Sastra Asia). Demikian juga Novel Saman telah diterjemahkan dalam enam bahasa asing; Inggris, Belanda, Jerman, Jepang, Perancis dan Czech. Dengan alasan itulah penulis sangat tertarik untuk menganalisis novel Saman karya Ayu Utami.
Novel Saman sendiri sebenarnya berjudul “Laila tak Mampir ke New York” dan direncanakan sebagai fragmen dari novel pertama. Namun dari pengerjaan subplot berkembang melalui rencana semula dan menjadi novel terpisah dengan judul “Saman”. Novel lanjutan dari Saman terbit ditahun 2001 berjudul “Larung” sebagai lanjutan Saman.
Novel Saman menceritakan tentang seorang pastor muda dan empat perempuan yang bersahabat Sejak kecil yaitu Shakuntala, Cok, Yasmin dan Laila. Sebelum dikenal dengan nama Saman dia dikenal dengan nama Wisanggeni (Wis) Seorang pastor muda yang mendapat tugas dari Uskup sebagai pastor paroki parid yang melayani di suatu kota kecil Perabumulih dan Karang Endah Palembang. Di kota perabumulih Pastor muda Wisanggeni banyak berinteraksi dan kenal dengan penduduk sekitar yang ternyata kebanyakan adalah kaum transmigran yang bekerja sebagai buruh perkebunan karet. Kondisi para penduduk transmigran seperti digambarkan oleh Wisanggeni jauh dari sejahtera dan masih banyak hidup di bawah garis kemiskinan serta keterbelakangan di balik hingar bingar kota-kota maju.
Konflik terjadi ketika penduduk transmigran sebagai buruh perkebunan karet dengan pengusaha atau pemilik modal yang menginginkan perkebunan karet dijadikan perkebunan kelapa sawit dengan cara membeli paksa tanah perkebunan penduduk dengan harga Sangat murah. Dari konflik ini, Pastor Wis dilanda kesedihan dan kegelisahan untuk membela penduduk transmigran dan menyeret dia pada konflik dengan petugas dan aparat pemerintah. Dengan tuduhan telah menghasut penduduk transmigran untuk membuat rusuh dan pembakaran.
Setelah tertangkap dan dijebloskan ke penjara serta mengalami penyiksaan. Wis berhasil dikeluarkan dari penjara. Namur setelah bebas bukan berarti Wis lepas dari incaran dan mata-mata aparat. Dari kondisi itu akhirnya Wis menghilangkan jejak dan mengganti identitasnya dengan nama samaran yaitu Saman, untuk mengelabuhi aparat dan petugas yang terus mengincarnya.

2. Rumusan Masalah
1)      Bagaimana sinopsis novel “Saman” karya Ayu Utami ?
2)      Dimana letak persamaan novel “Saman”  ditinjau dari segi nilai politik?
3)      Dimana letak perbedaan novel “Saman”  ditinjau dari segi nilai politik?

3. Tujuan
1)      Mendeskripsikan sinopsis novel “Saman” karya Ayu Utami.
2)      Mendeskripsikan persamaan novel “Saman” ditinjau dari segi nilai politik.
3)      Mendeskripsikan perpedaan novel “Saman” ditinjau dari segi nilai politik.

B.     PEMBAHASAN
1.       Sinopsis Novel Saman Karya Ayu Utami
Novel ini bercerita tentang kisah empat orang sahabat yang saling terkait dengan masa lalunya. Yakni Laila, Shakuntala, Cok, dan Yasmin. Mereka berempat bersahabat sejak SD. Mereka sama-sama mempunyai obsesi yang sama terhadap laki-laki. Yasmin, seseorang yang membenci guru dan Laila yang membenci laki-laki. Sementara, Cok tidak bisa menemukan apa yang harus ia benci. Kebencian Laila pada laki-laki lenyap ketika ia jatuh cinta pertama kali pada Wisanggeni yang kala itu sebagai mahasiswa seminari yang ditugaskan membimbing rekoleksi tentang kesadaran sosial di SMP mereka. Sayangnya, keluarga Minang Laila itu melihat putrinya bergaul dengan calon Pastor. Dan Yasmin yang Katolik juga tidak menyetujui itu. Namun, Yasmin pula yang sering membantu pertemuan Laila dengan Wis atas dasar peersahabatan. Semakin berjalannya waktu, semuanya tengah berubah. Laila tidak lagi mencintai Wisanggeni yang sudah mengganti nama menjadi Saman. Kali ini ia mencintai Sihar, seseorang yang sudah beristri. Laila paling kuat mempertahankan keperawanannya dibanding ketiga sahabatnya. Dia juga satu-satunya yang belum menikah.
 Yasmin seorang pengacara handal yang dengan senang hati selalu mebela pihak yang dirugikan tanpa harus meminta suatu imbalan yang besar. Yasmin telah menikah. Namun berbeda dengan Cok yang selalu berganti-ganti pasangan dan dikenal sebagai seorang yang binal. Shakuntala merupakan sahabat Laila, Yasmin, dan Cok yang tinggal di New York lantaran ia mendapat beasiswa di bidang seni tari. Ketiga sahabat ini mempunyai jiwa sosial yang tinggi dan mengakibatkan mereka terlibat dalam suatu masalah bersama Sihar dan Wissanggeni. Laila meminta Yasmin dan Wis untuk menolong Sihar menyelesaikan kasus salah seorang teman Sihar yang meninggal lantaran kecerobohan pimpinan mereka. Sihar dengan di bantu oleh Wis dan Yasmin yang seorang pengacara berusaha menuntaskan kasus tersebut. Laila dan Sihar menjadi sangat akrab lantaran kasus tersebut, hingga mereka pun merencenakan suatu kencan. Namun, kencan tersebut digagalkan oleh Sihar lantaran ia tidak tega terhadap keperawanan yang masih laila sandang.
Wisanggeni ditugaskan sebagai Pator paroki Parid yang melayani kota kecil Perabumulih dan Karang Endah, wilayah keuskupan Palembang. Sebelum sampai pada tempat tugasnya, ia menyempatkan diri ke bekas rumahnya 10 tahun silam. Setelah beberapa kali ke rumah itu, dan akrab dengan sang pemilik rumah, ia mendapat kepercayaan untuk tinggal di situ selama pemiliknya ke Jakarta untuk melahirkan. Ketika tinggal di rumah itu, Wis kembali bisa merasakan hawa-hawa aneh seprti masa kecilnya. Ia juga bisa mendengar suara adik-adiknya serta bercakap-cakap dengan bahasa masing-masing. Tiba-tiba Wis mendengar suara minta gadis tolong dan iapun berlari ke sumber suara sampai di sebuah sumur di tengah hutan. Setelah itu Wis berteriak minta tolong pada warga sekitar. Dan setelah warga berdatangan,ternyata tak seorangpun berani masuk menolong si gadis. Wis memberanikan diri melakukan itu, Ia dan gadis itu selamat. Gadis itu bernama Upi, Ia adalah manusia yang keejiwaanya terganggu dan tidak mengerti bahasa manusia. Ketika Wis mengembalikan Upi kepada orang tuanya, baru ia ketahui bahwa Upi diasingkan oleh ibunya di rumah pemasungan yang sangat kecil, tidak lebih dari baik dari kandang kambing. Merasa tidak tega, dan sedikit demi sedikit muncul rasa sayang dihatinya, Wis membuatkan rumah pasung baru untuk Upi yang lebih besar dan nyaman. Tidak hanya itu yang ia lakukan, Melihat keadaan perkebunan di sana ia merasa prihatin. Ia jug takut jika mereka pindah dari situ Upi tidak akan mendapat rumah yang lebih baik dari sekarang. Kemudian dengan izin dari Uskup untuk berkarya di perkebunan, Wis membuat tempat pengolahan karet sederhana untuk wilayah Lubukrantau itu dan membuat pembangkit listrik.
Suatu ketika, kerusuhan terjadi. Pembangkit listrik buatan Wis dirusak orang. Dan ternyata orang tersebut adalah orang suruhan perusahaan kelapa sawit yang ingin membeli lahan perkebunan karet dan hanya Wis beserta keluarga Upi sangat kokoh untuk tidak menjual lahan mereka. Para pembeli itu merasa geram, mereka mengumpulkan perempuan dan anak kecil dalam surau kemudian membakar seluruh rumah warga dan menculik Wis ke penjara pengasingan. Di situ Wis disiksa habis-habisan dan dipaksa mengakui apa yang tidak ia lakukan. Ia terpasa mengarang cerita untuk mengurangi penyiksaan bahwa ia adalah komunis yang hendak mengkristenkan para petani Lubukrantau, membuat Sorga di bumi dan ingin mengganti presiden. Ia terus melakukan itu sampai suatu hari, tempat penyekapannya itu terbakar. Ia merasa terjebak oleh api, namun setelah mendengar suara-suara masa kecilnya, tanpa ia ketahui caranya, ia selamat dari lahapan api itu, dan Ia dibawa ke rumah sakit oleh Anson dan kemudian dirawat oleh suster-suster gereja. Namun keberadaanya di sembunyikan sampai ia sembuh setelah dirawat selama tiga bulan.Dia mengganti kartu identitasnya sampai kasusu itu selesai sekitar dua tahun kemudian ia mengganti namanya menjadi Saman.
            Kemudian ia pun mengririm surat pada ayahnya, agar ayahnya mempercayainya dan meminta maaf atas segala yang terjadi dan berita berita yang beredar tidak mengenakan dan meminta sejumlah uang untuk keperluan usahanya untuk kegiatan sosialnya. Kemudian Wis kembali terlibat masalah di medan yang membuatnya menjadi buronan, dan akhirnya Yasmin pun menolong Wis atas usul semua temannya di Palembang. Dia mengusulkan untuk agar Wis pergi dari Indonesia. Ia pun membantu semua persiapan yang dibutuhkan atas penyamaran Wis. Bersama Cok ia berhasil melarikan Wis tanpa seorang pun yang tahu. Namun di tengah perjalan itu, Yasmin tak kuasa menahan perasaan sedihnya terhadap kepergian Wis. Mereka akhirnya melakukan hubungan terlarang yang tidak seharusnya dilakukan.
Akhirnya Wis yang berhasil melarikan diri. Dia pun kini menjadi sangat dekat dengan Yasmin dan sangat mencintai Yasmin. Perasaan dan nafsu yang selama ini di pendam selam ia menjadi pastor, kini berubah menjadi perasaan penuh cinta terhadap Yasmin.

2.       Persamaan Teks Novel “Saman” Ditinjau dari Segi Nilai Politik
Teks Novel “Saman”
Nilai Politik
“ Persoalan itu Bapak tanyakan saja pada Bapak-Bapak di perusahaan. Kami cuma bertugas menjalankan perintah Bapak Gubernur.” (Saman, hal. 90)

Nilai politik yang berhubungan dengan negara dengan mengritik kinerja aparat Orde Baru yang kurang becus dalam mengurus masyarakatnya.
Analisis :
            Dari teks tersebut terlihat adap persamaan teks sastra novel “Saman” karya Ayu Utami dengan ranah nilai politik, yaitu meskipun penggambarannya tidak secara terang terangan, namun duduk persoalan dalam novel ini sebenarnya mengandung persoalan politik dan kekuasaan. Yang ditunjukan denagn jelas dalam kasus perusahaan perkebunan karet. Dimana para aparat mengklaim tanah tanah penduduk Lubukrantau sebagai tanah perusahaan. Demi membenarkan tindakan itu, para aparat menunjukan surat pengantar dari bapak Gubernur.

Teks Novel “Saman”
NilaiPolitik
“PersoalanituBapaktanyakansajapadaBapak-Bapak di perusahaan. Kami CumabertugasmenjalankanperintahBapakGubernur.” (Saman, hal. 90)

Nilaipolitik yang berhubungandenganNegaradenganmengritikkinerjaaparatOrdeBaru yang kurangbecus dalam mengurusmasyarakatnya.
Analisis :
            Dari tekstersebutterlihatadappersamaantekssastra novel “Saman” karyaAyuUtamidenganranahnilaipolitik, yaitumeskipunpenggambarannya tidak secaraterangterangan, namundudukpersoalan dalam novel inisebenarnyamengandungpersoalanpolitikdankekuasaan. Yang ditunjukandenagnjelas dalam kasusperusahaanperkebunankaret. Dimana para aparatmengklaimtanahtanahpendudukLubukrantausebagaitanahperusahaan. Demi membenarkantindakanitu, para aparatmenunjukansuratpengantardaribapakGubernur.
Teks Novel “Saman”
NilaiPolitik
“Inisoalkehormatan. Merekasamasajadenganbelandakitadisuruhnyamenanamapa yang merekasuka! Kita harusmemertahankanhakkita.” (Saman, hal. 98)
Nilaipolitiksesuaidengan UUD 1945 pasal 30 ayat 1 yang berisitiap-tiapwarga Negara berhakdanwajibikutserta dalam pertahanandankeamanannegara.
Analisis :
     Dari kutipantekstersebutterlihatadapersamaantekssastra novel ‘’Saman” karyaAyuUtamidenganranahpolitikyaknisamasamamempertahankandanmembelatanah air. Setiapwarga Negara memilikihakuntukmendapatkankeamanandari Negara danmempunyaikewajibanuntukmelakukanupayauntukpertahanan Negara, upayapertahanandankeamananharuslahmenjamintercegahnyahal-hal yang langsungatau tidak langsung dapat mengganggujalannyapembangunannasional.
3.      PerbedaanTeks Novel “Saman” DitinjaudariSegiNilaiPolitik
Teks Novel “Saman”
NilaiPolitik
“ Kamisemuamendugapadapermulaantexcoilberusahamenutupikasusinidenganmenyogokpolisidanjaksa agar perkaraini tidak diusut.” (Saman, hal. 35)
Nilaipolitik yang berhubungandengan UUD No.3 tahun 1980 tentangtindakpidanasuappasal UUD tersebutmenyatakanbarangsiapamenerimasesuatuataujanjisedangkaniamengetahuiataupatut dapat menduga bahwa pemberiansuatuataujanjiitudimaksudkansupayaiaberbuatsesuatu dalam tugasnya yang berlawanandengankewenanganataukewajiban yang menyangkutkepentinganumum .
Analisis :
     Dari kutipantekstersebutterlihatadaperbedaantekssastra novel “Saman” KaryaAyuUtamidenganranahnilaipolitikyaknidalam teks novel “saman” membenarkantindakansuapsedangkannilaipolitikmelakukantindakpidanasuap yang dilakukansecarasengajaakandipidana .penjera 3 tahunatau di dendasebanyak 15 juta rupiah jelas bahwa tindakaninimelanggarhukum yang ada.
Teks Novel “Saman”
NilaiPolitik
“pohon-pohonbaru yang kami tanam, telahbisadisadap. (Saman, hal. 93)
Nilaipolitik yang berhubungandenganpelakutindakpidanapenebangan liar (illegal logging) menurutuunomer 41/1999 tentangkehutananakandipidana, baikpidanapenjara, denda, atauperampasanbenda yang digunakanuntukmelakukanperbuatansecarakumulatif.
Analisis :
      Dari kutipantekstersebutterlihatadaperbedaantekssastra novel “Saman” karyaAyuUtamidenganranahnilaipolitikyakni dalam teks novel membenarkantindakanpenyadapansedangkan dalam nilaipolitikdiharuskanmelakukanupayauntukmempertahankanhutankhususnyakebunkaretsecaralestaridanuntukmemberikanefekjerabagipelanggarhokumdibidangkehutanantersebut
C.    PENUTUP
1.      Kesimpulan
Dari kutipan teks tersebut terlihat ada beberapa persamaan dan beberapa perbedaan dari teks sastra novel “Saman” karya Ayu Utami dengan ranah nilai politik.
1)      Pemikiran yang jernih tentang system politik dan menanggapi aspirasi yang disuarakan rakyat.
2)      Dapat mengerti dan mengetahui tentang perilaku politik yang sesuai atau tidak dengan aturan yang berlaku.
3)      Kita dapat mengetahui beberapa sistim politik.
DAFTAR PUSTAKA
Amiruddin. 1990. Sekitar Maslalah Sastra. Madang : Yayasan Asih Asah Asuh.
Nurgiyantoro. Burhan. 2000. Teori Kajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada Universty Press.
Nasikun. 1984. Sistem Politik Indonesia. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Utami, Ayu. 1998. Saman. Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramed

0 komentar:

Posting Komentar

 

Rhifaery's Room Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang