Perbandingan Teks Sastra Novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata
dengan Novel Parwana Karya
Deborah Ellis
Oleh: Enis Fitria
A.
PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang
Karya sastra lahir akibat adanya
proses kreatif seorang pengarang dalam menanggapi keadaan di sekitarnya. Oleh
karena itu, karya sastra terkadang dapat mewakili kehidupan yang nyata. Adapun
salah satu definisi sastra menurut Semi (1993:8) mengemukakan bahwa sebagai
karya kreatif, sastra harus mampu melahirkan suatu kreasi yang indah dan
berusaha menyalurkan kebutuhan keindahan manusia, di samping itu sastra harus
mampu menjadi wadah penyampaian ide-ide yang dipikirkan dan dirasakan oleh
sastrawan tentang kehidupan umat manusia.
Karya sastra, apa pun jenis atau
genre-nya, yang lahir dari tangan kreatif pengarang, pada dasarnya selalu
berada di tengah-tengah konteks atau tradisi kebudayaannya. Atau dengan kata
lain, bagaimanapun karya sastra tidak lahir dari situasi kosong budaya (Teeuw,
1980:11). Proses kreatif pengarang sendiri sangat besar pengaruhnya dalam
pembuatan karya sastra. Biografi pengarang, keadaan sosial pengarang, kondisi
psikologi pengarang, pandangan hidup pengarang, dan sebagainya akan
mempengaruhi arah karya sastranya akan dikemanakan. Karena pengarang berperan
sebagai penyampai pesan kepada pembaca melalui karyanya. Menurut Holman, sastra bandingan adalah studi
sastra yang memiliki perbedaan bahasa dan asal negara dengan suatu tujuan untuk
mengetahui dan menganalisis hubungan dan pengaruhnya antara karya yang satu
terhadap karya yang lain. Dalam hal ini, penulis
ingin membandingan dua buah karya sastra. Karya sastra tersebut berbentuk
novel. Novel yang pertama berjudul “Sang Pemimpi” karya Andrea Hirata dan novel
kedua berjudul “Parvana” karya
Deborah Ellis. Alasan penulis memilih kedua novel tersebut ialah karena penulis
ingin mengetahui persamaan dan perbedaan dari kedua novel tersebut.
2.
Rumusan Masalah
Saya sebagai penulis membatasi masalah yang akan
saya bahas dalam pembahasan
makalah ini saya hanya akan membahas mengenai:
1
Bagaimana
persamaan novel “Sang Pemimpi” karya Andrea Hirata dengan novel “Parvana” karya Deborah Ellis?
2
Bagaimana
perbedaan novel “Sang Pemimpi” karya Andrea Hirata dengan novel “Parvana” karya Deborah Ellis?
3.
Tujuan
1
Mendeskripsikan
persamaan novel “Sang Pemimpi” karya Andrea Hirata dengan novel “Parvana” karya Deborah Ellis.
2
Mendeskripsikan
perbedaan novel “Sang Pemimpi” karya Andrea Hirata dengan novel “Parvana” karya Deborah Ellis.
B.
LANDASAN TEORI
1.
Landasan Teori
Ilmu sastra menjadi pijakan sastra
bandingan. Oleh karena, melalui ilmu sastra tersebut akan dapat dilihat apakah
karya sastra satu dengan yang lain saling bersinggungan atau tidak. Teori-teori
tentang gaya bahasa, naratologi, estetika dan sebagainya amat bermanfaat bagi
studi sastra perbandingan. Tanpa ilmu dan atau teori mendasar, seorang peneliti
tak mungkin membandingkan karya sastra secara cermat. Apalagi kalau karya
sastra yang dibandingkan itu sangat halus kemiripannya.
Sastra bandingan, awalnya memang
berkembang di Perancis, Inggris, Jerman, dan negara-negara Eropa lainnya.
Selanjutnya, sastra bandingan juga melebarkan sayap ke Amerika dan Asia pada
umumnya. Sejak tahun 1970-an sastra bandingan mulai berkembang dengan mengkaji
karya-karya Andre Malraug, William Somerset Maughnam dan Franz Kafka. Pada
awalnya, sastra bandingan sekedar membandingkan karya sastra dengan karya
sastra, untuk mencari kefavoritan dan keoriginalitasan karya sastra. Dari
perbandingan ini, akan ditemukan karya-karya yang bertaraf nasional dan bahkan
taraf dunia.
Kajian konsep pengaruh, merupakan
titik terpenting bagi studi sastra bandingan. Karya yang terpengaruh dengan
karya sebelumnya, tentu akan memiliki identitas tersendiri. Dari proses
pengaruh-mempengaruhi itu akan terdapat berbagai aspek bandingan yang disebut
varian. Dalam konteks ini, memang karya sebelumnya dianggap karya “super”,
artinya bisa mempengaruhi karya berikutnya. Seberapa jauh keterpengaruhan
tersebut, tergantung kemampuan pengarang.
Keterpengaruhan ini jelas akan
dipengaruhi oleh berbagai hal, antara lain : (a) perkembangan karir pengarang,
(b) proses penciptaan pengarang, (c) tradisi atau budaya pengarang. Dari tiga
hal ini, manakala pengarang berikutnya bersikap ceroboh, tentu akan terdapat
pengaruh yang langsung atau semakin jelas. Berbeda dengan pengarang yang
kreatif, tentu pengaruh tersebut semakin halus dan hampir tersembunyi.
Pengarang yang banyak membaca karya lain dan sering bermigrasi ke mana-mana,
seringkali terpengaruh sumber.
Metode sastra bandingan tidak jauh
berbeda dengan metode kritik sastra, yang obyeknya lebih darti satu karya.
Penekanan sastra bandingan adalah pada aspek kesejarahan teks. Itulah ebabnya,
menurut Yaapar (Santosa, 2003:99) sastra bandingan bersifat positivistik.
Kajiannya bercorak binari (duaan) dan bertumpu pada rapport defaits, artinya
perhubungan faktual antara dua buah teks yang diteliti secara pasti. Kegiatan
yang dilakukan juga menganalisis, menafsirkan dan menilai. Karena obyeknya
lebih dari satu, setiap obyek harus ditelaah, barulah hasil telaah tersebut
diperbandingkan. Bisa saja, peneliti melakukan analisis struktural kedua karya,
baru diperbandingkan. Dengan cara ini akan mempermudah peneliti melakjukan
bandingan. Setidaknya akan mudah ditemukan unsur persamaan dan perbedaan setiap
karya sastra.
2.
Sinopsis Novel Sang Pemimpi.
Andrea
Hirata kembali memukau pembaca dengan novel keduanya yakni Sang Pemimpi. Novel
ini merupakan rangkaian kedua dalam seri tetralogi Laskar Pelangi. Apa yang diusung
Andrea Hirata dalam novel kedua ini? Masih sama sebenrarnya dengan Laskar
Pelangi, kisah tentang kekuatan mimpi, dinamika persahabatan, ambisi, cara
memaknai hidup dan lainnya. Sebagai tetralogi, penyambung kisah novel pertama
dengan novel kedua ini adalah tokoh Ikal. Jika pada Laskar Pelangi, kisah yang
diusung adalah kehidupak kesepuluh anak-anak Laskar Pelangi, maka dalam Sang
Pemimpi, Andrea membesut kisah persahabatan antara Ikal dan tokoh sentral
lainnya bernama Arai. Mimpi mereka dimulai dari desa kecil di Belitong dan
mereka impikan bermuara di Eropa, tepatnya di Perancis.
Kisah dalam novel ini dimulai dengan kehidupan tokoh
ikal di Belitong pada saat ia masih SMA. Ia bersama saudara jauhnya yakni Ikal
menjalani masa SMA yang menyenangkan meski berat sebab tuntutan ekonomi membuat
mereka dewasa sebelum waktunya. Untuk tetap besekolah dan hidup, keduanya
bekerja sebagai kuli di sebuah pelabuhan ikan. Waktu kerja mereka dini hari
sehingga waktu sekolah tidak terganggu. Kegigihan mereka pada akhirnya terbayar
saat mereka dewasa kelak. Ikal sendiri berhasil mendapatkan gelar sarjana
ekonomi dari Universitas Indonesia, sementara Arai yang pada akhirnya kuliah di
Kalimantan, menjadi seorang ahli biologi.
Selain Ikal dan Arai, ada tokoh sentral lain dalam
novel Sang Pemimpi ini. Ia adalah Jimbron. Ia sendiri adalah anak yatim piatu
yang diceritakan diasuh oleh seseorang bernama Geovanny. Ia berwajah bayi
dengan tubuh gembur. Pemikirannya lurus, cenderung naïf dan polos. Jimbron
sangat menyukai kuda dan tahu seluk beluk hewan tangkas tersebut. Jimbron
menjadi perekat hubungan Ikal dan Arai, oleh sebab keluguannya, ia mudah
disayangi dan mendapat simpati. Persahabatan mereka juga tentang bagaimana
melindungi Jimbron. Namun, selepas SMA, ketiga sahabat ini berpisah. Mereka
berbeda rute dan dipisahkan kota.
Ada banyak tokoh pembantu lainnya dalam cerita ini
antara lain Pak Mustar, Pak Drs. Julian Ichsan Balia, Nurmalala, Lakshmi,
Taikong Hamim, Bang Zaitun dan masih banyak lagi lainnya. Kesemua tokoh ini
mewarnai dinamika perjuangan Arai juga Ikal meraih mimpi. Novel ini menarik
dengan bahasa yang tentu apik khas Andrea Hirata. Meski memang tak sefeonomenas
Laskar Pelangi, namun Sang Pemimpi ini seperti sebuah “penuntasan” dari apa
yang dikosongkan Laskar Pelangi. Sama seperti cerita tetralogi lainnya, saat
Anda membaca buku pertama, maka seyogyanya Anda juga menuntaskkan novel
lanjutannya.
Novel ini sangat direkomendasikan bagi mereka yang
mencintai mimpi. Ada banyak quote membangun yang sederhana namun penuh kekuatan.
Membaca Sang Pemimpi akan membuat Anda berani menyongsong mimpi Anda sendiri.
Ada satu quote yang cukup memorable dari buku
ini, yakni: “Kita tak kan pernah mendahului nasib!” teriak Arai.
“Kita akan sekolah ke Prancis, menjelajahi Eropa sampai ke Afrika! Apa pun yang terjadi!”
“Kita akan sekolah ke Prancis, menjelajahi Eropa sampai ke Afrika! Apa pun yang terjadi!”
3.
Sinopsis Novel Parvana.
Afghanistan pada masa rezim Taliban
tahun 1996-2001, kotanya porakporanda akibat perang berkepanjangan.
Kesewenangan penguasa membuyarkan denyut kehidupan warga. Sekolah baik formal
ataupun nonformal dibubarkan, segala bentuk hiburan ditiadakan, dan perempuan
dilarang keluar rumah sendiri tanpa Burqa yang menutupi seluruh tubuhnya.
Keadaannya nyaris tanpa kehidupan, Kota Kabul menjadi kota yang mati. Perumahan
dan perkebunan dibombardir, hanya puing-puing dan ketakutan yang tersisa. Para
suami yang dicurigai berkiblat ke Amerika ditangkap dan dipenjarakan tanpa
fasilitas yang layak dan tanpa peradilan. Sepanjang jalan kini tinggal
puing-puing belaka, dan bagi Parvana sangat sulit untuk membayangkan apa yang
diceritakan oleh Nooria. Kondisi ini menimpa keluarga Parvana, gadis kecil
berumur 11 tahun yang terpaksa harus menyamar menjadi laki-laki demi menghidupi
keluarganya, seorang Ibu, Kakak perempuannya Nooria serta 2 adiknya; Maryam dan
Ali. Hidup di sebuah petak apartemen yang sudah retak-retak, jauh dari tetangga
karena saling mencurigai dan demi menghindari mata-mata, namun beruntung masih
ada sumber air bersih didekatnya yang dijadikan sebagai sumber kehidupan.
Parvana menjadi tulang punggung keluarga, mengangkut air untuk seluruh
keluarga; mandi, cuci, dan keperluan memasak. Ia juga menjadi satu-satunya yang
diharapkan dapat mencari penghasilan untuk kelangsungan hidup seluruh
keluarganya, karena perempuan bekerja keluar rumah tanpa seorang suami atau
anak laki-laki dilarang oleh rezim Taliban. Setelah ayahnya dipenjara, Parvana
meniru apa yang sering dilakukan ayahnya untuk mencari uang. Beruntung datang
Guru Parvana yang juga teman Ibunya, Parvana dijadikannya sebagai anak-laki,
rambutnya dipotong pendek.
Di Kabul, masih jarang orang yang
dapat membaca, Afghanistan termasuk kota termiskin di Dunia. Beruntung Parvana
memiliki orang tua yang berpendidikan sehingga menularkannya kepadanya.
Berbekal kepandaiannya membaca, yang ilmunya ia dapatkan saat masih sekolah,
Parvana setiap hari menggelar selimut di pasar menunggu orang-orang yang
memerlukan jasanya untuk membacakan/ menulis surat. Awalnya ia takut, namun
setelah bertemu dengan Shauzia, teman sekolah yang juga menyamar menjadi
laki-laki akhirnya ia percaya diri. Mencari uang tidak mudah. Dalam bisnis, selalu
ada hari yang baik dan buruk. Terkadang Parvana duduk berjam-jam tanpa satupun
pelanggan. Ia menghasilkan lebih sedikit uang dibandingkan ayahnya, tapi
keluarga mereka masih butuh makan.
Setiap hari berkeliling bersama Shauzia,
kadang di pasar, kadang di lapangan bola, kadang di stasiun bis. Kadang parvana
merasa lelah dan hanya ingin duduk di sekolah, ia tidak ingin tau lebih banyak
tentang kematian, atau darah, perempuan dengan burqa yang mengemis dengan
bayi-bayi di pangkuannya, namun faktanya hal tersebut adalah kehidupan normal
di Kabul.
C. PEMBAHASAN
1.
persamaan novel “Sang Pemimpi” karya Andrea Hirata
dengan novel “Parvana” karya Deborah
Ellis novel.
Ada beberapa persamaan antara novel “Sang Pemimpi”
karya Andrea Hirata dengan novel “Parvana”
karya Deborah Ellis diantaranya sebagai berikit.
1.1
Persamaan
dari segi kehidupan ekonomi tokoh utamanya.
|
Teks
Novel Sang Pemimpi
|
Teks
Novel Parvana
|
|
Seperti
kebanyakan anak-anak Melayu miskin di kampung kami yang mulai bekerja sejak
remaja, Aria-lah
yang mengajariku mencari akar banar untuk dijual di pasar. (Sang Pemimpi :26)
|
“kita
sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dijual. Apa yang Parvana hasilkan
memang cukup untuk roti nan, beras, dan teh, tapi tidak lebih dari itu. kita butuh
uang untuk membayar sewa, untuk metana, untuk minyak tanah. Jika ia bisa
menghasilkan uang dengan cara itu, dan ia menginginkannya, menurutku ia harus di
izinkan. (Parvana :82).
|
Analisis: Dari dua penggalan teks novel di atas, dapat kita simpulkan
bahwa kehidupan ekonomi dalam keluarga Ikal dan Parvana memiliki kesamaan yaitu
sama-sama keluarga yang kurang mampu, sehingga membuat mereka yang masih dalam
usia remaja juga harus membantu ekonomi keluarga mereka dengan bekerja.
1.2
Persamaan
dari segi tempat impian.
|
Teks
Novel Sang Pemimpi
|
Teks
Novel Parvana
|
|
Pada
saat itu, Aku, Arai dan Jimbron mengikrarkan satu harapan ambisius: kami
ingin dan harus sekolah ke prancis! Ingin menginjakkan kaki di altar
suci almamater Sorbonne, ingin menjelajahi Eropa sampai afrika. Begitu tinggi
cita-cita kami. (Sang Pemimpi :62)
|
“di
puncak menara Eiffel di paris. Aku kan sudah memberitahumu aku akan ke
paris.” Parwana tertawa. “aku akan di sana” ia berujar. Kita tidak akan
mengucapkan selamat tinggal kalau begitu. Untuk saat ini, kita hanya akan mengatakan
sampai jumpa.” (parvana: 118)
|
Analisis : Dari penggalan teks novel di atas, dapat
kita ambil kesimpulan bahwa tokoh Ikal dalam novel “Sang Pemimpi” dengan tokoh
Parvana dalam novel “Parvana”, keduanya
sama-sama berkeinginan untuk pergi menuju Negara menara Eiffel yaitu Prancis.
1.3
Persamaan
dari kasih sayang ayahnya.
|
Teks
Novel Sang Pemimpi
|
Teks
Novel Parvana
|
|
Aku
berhasil menyusul ayah ketika dia sudah berada di tengah Jembatan Linggang.
Saat aku berlari di samping sepedanya, ayah terkejut dan tersenyum. Sebuah
senyuman lembut penuh kebanggaan. (Sang Pemimpi :144)
|
“Apakah
aku bepergian sebagai
seorang anak laki-laki atau sebagai anak perempuan ayah?” Parvana bertanya.
“Kau
yang memeutuskan” jawab Ayahnya. “Apapun keputusanmu kau akan selalu menjadi
malaikat kecilku.” (Parvana
:117).
|
Analisis : Dari penggalan teks novel di atas, dapat
kita ambil kesimpulan bahwa kedua tokoh utama dalam novel-novel tersebut, yaitu
Ikal dan Parvana
memiliki seorang ayah yang menyayangi mereka, tidak peduli seperti apa mereka,
apa yang mereka lakukan, ayah mereka akan tetap sama bangganya kepada mereka
setiap saat.
2.
Perbedaan novel “Sang Pemimpi” karya Andrea Hirata
dengan novel “Parvana” karya Deborah
Ellis.
Selain adanya beberapa persamaan antara novel “Sang Pemimpi” karya Andrea Hirata
dengan novel “Parvana” karya Deborah
Ellis. Terdapat pula beberapa perbedaan antara kedua Novel tersebut, seperti:
2.1
Perbedaan
dari segi kondisi lingkungan atau suasana lingkungan.
|
Teks
Novel Sang Pemimpi
|
Teks
Novel Parvana
|
|
Aku
hafal betul lingkungan ini karena sebenarnya Aku, Arai dan Jimbron tinggal di
salah satu kamar kontrakan di pasar kumuh ini. (Sang Pemimpi :03)
|
Meskipun
bom masih sering berjatuhan dari langit Kabul, mereka tidak lagi jatuh
sesering dulu. Peperangan terjadi di bagian utara Afganistan, dan di
daerah itulah kebanyakan korban tewas belakangan ini. (Parvana :06)
|
Analisis: dari pengalan teks novel tersebut dapat
kita simpulkan bagaimana perbedaan kondisi lingkungan dari kedua tokoh utama novel tersebut. Tokoh
Ikal dalam novel
“Sang Pemimpi” hanya menderita
hidup di lingkungan yang kumuh, sementara tokoh Parvana dalam novel “Parvana” tersiksa
sebab hidup di lingkungan yang sedang aktif berperang.
2.2
Perbedaan
dari segi pendidikan tokoh utama.
|
Teks
Novel Sang Pemimpi
|
Teks
Novel Parvana
|
|
Akhirnya,
aku berhasil menyelesaikan kuliah. Salah satu perpisahan yang paling menyedihkanku
karena selesainya studi itu adalah berpisah dengan kereta yang hampir empat tahun kunaiki
demi menuntut ilmu. (Sang Pemimpi : 235).
|
Parvana
terpaksa berhenti sekolah ketika ia kelas enam dan kakaknyya Nooria juga
tidak diperbolehkan ke sekolahnya yang sudah tingkat akhir. (Parvana :02)
|
Analisis : perbedaan yang terlihat jelas dalam kedua
teks novel tersebut ialah
tingkat pendidikan kedua tokoh utamanya, Tokoh Ikal dalam novel “Sang Pemimpi”
mampu bersekolah hingga menyelesaikan S1 kuliahnya, sementara Tokoh Parvana
dalam novel Parvana hanya bisa
bersekolah hingga kelas Enam saja akibat Peraturan yang melarang siapapun pergi
ke sekolah.
2.3
Perbedaan
dari segi pendidikan orang
tua Tokoh utama.
|
Teks
Novel Sang Pemimpi
|
Teks
Novel Parvana
|
|
Ibuku
mungkin lebih pintar dari pada ayahku. ibuku, paling tidak, bisa menulisan
kan namannya dengan huruf latin. Ayahku, hanya mampu menuliskan namanya
dengan huruf Arab, huruf Arab Gundul. (Sang Pemimpi :75).
|
Kebanyakan
penduduk Afganistan tidak dapat membaca dan menulis. Parvana salah satu dari
mereka yang beruntung. Kedua orangtuanya lulusan Universitas dan mereka
percaya pendidikan merupakan hak setiap orang, termasuk perempuan. (Parvana
:03)
|
Analisis : perbedaan yang dapat kita temukan dari
pengalan teks novel
di atas adalah dari segi pendidikan
orang tua tokoh utama novel-novel tersebut. Orang tua Ikal dalam novel “Sang Pemimpi”
tidak pernah bersekolah atau bisa dibilang
tidak berpendidikan sementara orangtua Parvana dalam novel “Parvana” adalah
lulusan Universitas yang tentunya mereka berpendidikan tinggi.
D.
PENUTUP
1.
Simpulan
Dari pembahasan yangn
telah dipaparkan di atas dan dengan mengunakan teori perbandingan aliran
Prancis, yaitu membandingkan karya sastra novel dengan novel dan kedua karya
tercipta di dua Negara yang berbeda dapat diambil kesimpulan bahwa novel “Sang
Pemimpi” karya Andrea Hirata dan Novel “Parvana”
karya Debora Ellis M memiliki beberapa kesaam yang halus.
Selain terdapat persamaan juga
terdapat banyak perbedaan dari kedua karya novel tersebut. Namun kedua karya
novel tersebut tetaplah memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing dan
tetap menjadi karya novel yang baik dan enak untuk dinikmati para pecinta novel
bergenre petualangan.
Daftar Pustaka
Hirata, Andrea. 2012. “Sang Pemimpi”. Yogyakarta: Bentang Pustaka.
Ellis, Deborah. 2011. “Parvana” terjemahan “The
Breadwinner”. Jakarta: Granmadia.
Endaswara, suwardi.2014. “Metodologi Penelitian Sastra Bandingan” . Jakarta: Bukupop.
0 komentar:
Posting Komentar