Selasa, 04 Oktober 2016

Perbandingan Teks Sastra Novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata dengan Novel Parwana Karya Deborah Ellis Oleh: Enis Fitria






Perbandingan Teks Sastra Novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata  dengan Novel Parwana Karya Deborah Ellis
Oleh: Enis Fitria
 



A.    PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Karya sastra lahir akibat adanya proses kreatif seorang pengarang dalam menanggapi keadaan di sekitarnya. Oleh karena itu, karya sastra terkadang dapat mewakili kehidupan yang nyata. Adapun salah satu definisi sastra menurut Semi (1993:8) mengemukakan bahwa sebagai karya kreatif, sastra harus mampu melahirkan suatu kreasi yang indah dan berusaha menyalurkan kebutuhan keindahan manusia, di samping itu sastra harus mampu menjadi wadah penyampaian ide-ide yang dipikirkan dan dirasakan oleh sastrawan tentang kehidupan umat manusia.
Karya sastra, apa pun jenis atau genre-nya, yang lahir dari tangan kreatif pengarang, pada dasarnya selalu berada di tengah-tengah konteks atau tradisi kebudayaannya. Atau dengan kata lain, bagaimanapun karya sastra tidak lahir dari situasi kosong budaya (Teeuw, 1980:11). Proses kreatif pengarang sendiri sangat besar pengaruhnya dalam pembuatan karya sastra. Biografi pengarang, keadaan sosial pengarang, kondisi psikologi pengarang, pandangan hidup pengarang, dan sebagainya akan mempengaruhi arah karya sastranya akan dikemanakan. Karena pengarang berperan sebagai penyampai pesan kepada pembaca melalui karyanya.  Menurut Holman, sastra bandingan adalah studi sastra yang memiliki perbedaan bahasa dan asal negara dengan suatu tujuan untuk mengetahui dan menganalisis hubungan dan pengaruhnya antara karya yang satu terhadap karya yang lain. Dalam hal ini, penulis ingin membandingan dua buah karya sastra. Karya sastra tersebut berbentuk novel. Novel yang pertama berjudul “Sang Pemimpi” karya Andrea Hirata dan novel kedua berjudul “Parvana” karya Deborah Ellis. Alasan penulis memilih kedua novel tersebut ialah karena penulis ingin mengetahui persamaan dan perbedaan dari kedua novel tersebut.

2.      Rumusan Masalah
Saya sebagai penulis membatasi masalah yang akan saya bahas dalam pembahasan makalah ini saya hanya akan membahas mengenai:
1        Bagaimana persamaan novel “Sang Pemimpi” karya Andrea Hirata dengan novel “Parvana” karya Deborah Ellis?
2        Bagaimana perbedaan novel “Sang Pemimpi” karya Andrea Hirata dengan novel “Parvana” karya Deborah Ellis?

3.      Tujuan
1        Mendeskripsikan persamaan novel “Sang Pemimpi” karya Andrea Hirata dengan novel “Parvana” karya Deborah Ellis.
2        Mendeskripsikan perbedaan novel “Sang Pemimpi” karya Andrea Hirata dengan novel “Parvana” karya Deborah Ellis.

B.     LANDASAN TEORI
1.      Landasan Teori
Ilmu sastra menjadi pijakan sastra bandingan. Oleh karena, melalui ilmu sastra tersebut akan dapat dilihat apakah karya sastra satu dengan yang lain saling bersinggungan atau tidak. Teori-teori tentang gaya bahasa, naratologi, estetika dan sebagainya amat bermanfaat bagi studi sastra perbandingan. Tanpa ilmu dan atau teori mendasar, seorang peneliti tak mungkin membandingkan karya sastra secara cermat. Apalagi kalau karya sastra yang dibandingkan itu sangat halus kemiripannya.
Sastra bandingan, awalnya memang berkembang di Perancis, Inggris, Jerman, dan negara-negara Eropa lainnya. Selanjutnya, sastra bandingan juga melebarkan sayap ke Amerika dan Asia pada umumnya. Sejak tahun 1970-an sastra bandingan mulai berkembang dengan mengkaji karya-karya Andre Malraug, William Somerset Maughnam dan Franz Kafka. Pada awalnya, sastra bandingan sekedar membandingkan karya sastra dengan karya sastra, untuk mencari kefavoritan dan keoriginalitasan karya sastra. Dari perbandingan ini, akan ditemukan karya-karya yang bertaraf nasional dan bahkan taraf dunia.
Kajian konsep pengaruh, merupakan titik terpenting bagi studi sastra bandingan. Karya yang terpengaruh dengan karya sebelumnya, tentu akan memiliki identitas tersendiri. Dari proses pengaruh-mempengaruhi itu akan terdapat berbagai aspek bandingan yang disebut varian. Dalam konteks ini, memang karya sebelumnya dianggap karya “super”, artinya bisa mempengaruhi karya berikutnya. Seberapa jauh keterpengaruhan tersebut, tergantung kemampuan pengarang.
Keterpengaruhan ini jelas akan dipengaruhi oleh berbagai hal, antara lain : (a) perkembangan karir pengarang, (b) proses penciptaan pengarang, (c) tradisi atau budaya pengarang. Dari tiga hal ini, manakala pengarang berikutnya bersikap ceroboh, tentu akan terdapat pengaruh yang langsung atau semakin jelas. Berbeda dengan pengarang yang kreatif, tentu pengaruh tersebut semakin halus dan hampir tersembunyi. Pengarang yang banyak membaca karya lain dan sering bermigrasi ke mana-mana, seringkali terpengaruh sumber.
Metode sastra bandingan tidak jauh berbeda dengan metode kritik sastra, yang obyeknya lebih darti satu karya. Penekanan sastra bandingan adalah pada aspek kesejarahan teks. Itulah ebabnya, menurut Yaapar (Santosa, 2003:99) sastra bandingan bersifat positivistik. Kajiannya bercorak binari (duaan) dan bertumpu pada rapport defaits, artinya perhubungan faktual antara dua buah teks yang diteliti secara pasti. Kegiatan yang dilakukan juga menganalisis, menafsirkan dan menilai. Karena obyeknya lebih dari satu, setiap obyek harus ditelaah, barulah hasil telaah tersebut diperbandingkan. Bisa saja, peneliti melakukan analisis struktural kedua karya, baru diperbandingkan. Dengan cara ini akan mempermudah peneliti melakjukan bandingan. Setidaknya akan mudah ditemukan unsur persamaan dan perbedaan setiap karya sastra.

2.      Sinopsis Novel Sang Pemimpi.
            Andrea Hirata kembali memukau pembaca dengan novel keduanya yakni Sang Pemimpi. Novel ini merupakan rangkaian kedua dalam seri tetralogi Laskar Pelangi. Apa yang diusung Andrea Hirata dalam novel kedua ini? Masih sama sebenrarnya dengan Laskar Pelangi, kisah tentang kekuatan mimpi, dinamika persahabatan, ambisi, cara memaknai hidup dan lainnya. Sebagai tetralogi, penyambung kisah novel pertama dengan novel kedua ini adalah tokoh Ikal. Jika pada Laskar Pelangi, kisah yang diusung adalah kehidupak kesepuluh anak-anak Laskar Pelangi, maka dalam Sang Pemimpi, Andrea membesut kisah persahabatan antara Ikal dan tokoh sentral lainnya bernama Arai. Mimpi mereka dimulai dari desa kecil di Belitong dan mereka impikan bermuara di Eropa, tepatnya di Perancis.
Kisah dalam novel ini dimulai dengan kehidupan tokoh ikal di Belitong pada saat ia masih SMA. Ia bersama saudara jauhnya yakni Ikal menjalani masa SMA yang menyenangkan meski berat sebab tuntutan ekonomi membuat mereka dewasa sebelum waktunya. Untuk tetap besekolah dan hidup, keduanya bekerja sebagai kuli di sebuah pelabuhan ikan. Waktu kerja mereka dini hari sehingga waktu sekolah tidak terganggu. Kegigihan mereka pada akhirnya terbayar saat mereka dewasa kelak. Ikal sendiri berhasil mendapatkan gelar sarjana ekonomi dari Universitas Indonesia, sementara Arai yang pada akhirnya kuliah di Kalimantan, menjadi seorang ahli biologi.
Selain Ikal dan Arai, ada tokoh sentral lain dalam novel Sang Pemimpi ini. Ia adalah Jimbron. Ia sendiri adalah anak yatim piatu yang diceritakan diasuh oleh seseorang bernama Geovanny. Ia berwajah bayi dengan tubuh gembur. Pemikirannya lurus, cenderung naïf dan polos. Jimbron sangat menyukai kuda dan tahu seluk beluk hewan tangkas tersebut. Jimbron menjadi perekat hubungan Ikal dan Arai, oleh sebab keluguannya, ia mudah disayangi dan mendapat simpati. Persahabatan mereka juga tentang bagaimana melindungi Jimbron. Namun, selepas SMA, ketiga sahabat ini berpisah. Mereka berbeda rute dan dipisahkan kota.
Ada banyak tokoh pembantu lainnya dalam cerita ini antara lain Pak Mustar, Pak Drs. Julian Ichsan Balia, Nurmalala, Lakshmi, Taikong Hamim, Bang Zaitun dan masih banyak lagi lainnya. Kesemua tokoh ini mewarnai dinamika perjuangan Arai juga Ikal meraih mimpi. Novel ini menarik dengan bahasa yang tentu apik khas Andrea Hirata. Meski memang tak sefeonomenas Laskar Pelangi, namun Sang Pemimpi ini seperti sebuah “penuntasan” dari apa yang dikosongkan Laskar Pelangi. Sama seperti cerita tetralogi lainnya, saat Anda membaca buku pertama, maka seyogyanya Anda juga menuntaskkan novel lanjutannya. 
Novel ini sangat direkomendasikan bagi mereka yang mencintai mimpi. Ada banyak quote membangun yang sederhana namun penuh kekuatan. Membaca Sang Pemimpi akan membuat Anda berani menyongsong mimpi Anda sendiri. Ada satu quote yang cukup memorable dari buku ini, yakni: “Kita tak kan pernah mendahului nasib!” teriak Arai.
“Kita akan sekolah ke Prancis, menjelajahi Eropa sampai ke Afrika! Apa pun yang terjadi!”

3.      Sinopsis Novel Parvana.
Afghanistan pada masa rezim Taliban tahun 1996-2001, kotanya porakporanda akibat perang berkepanjangan. Kesewenangan penguasa membuyarkan denyut kehidupan warga. Sekolah baik formal ataupun nonformal dibubarkan, segala bentuk hiburan ditiadakan, dan perempuan dilarang keluar rumah sendiri tanpa Burqa yang menutupi seluruh tubuhnya. Keadaannya nyaris tanpa kehidupan, Kota Kabul menjadi kota yang mati. Perumahan dan perkebunan dibombardir, hanya puing-puing dan ketakutan yang tersisa. Para suami yang dicurigai berkiblat ke Amerika ditangkap dan dipenjarakan tanpa fasilitas yang layak dan tanpa peradilan. Sepanjang jalan kini tinggal puing-puing belaka, dan bagi Parvana sangat sulit untuk membayangkan apa yang diceritakan oleh Nooria. Kondisi ini menimpa keluarga Parvana, gadis kecil berumur 11 tahun yang terpaksa harus menyamar menjadi laki-laki demi menghidupi keluarganya, seorang Ibu, Kakak perempuannya Nooria serta 2 adiknya; Maryam dan Ali. Hidup di sebuah petak apartemen yang sudah retak-retak, jauh dari tetangga karena saling mencurigai dan demi menghindari mata-mata, namun beruntung masih ada sumber air bersih didekatnya yang dijadikan sebagai sumber kehidupan. Parvana menjadi tulang punggung keluarga, mengangkut air untuk seluruh keluarga; mandi, cuci, dan keperluan memasak. Ia juga menjadi satu-satunya yang diharapkan dapat mencari penghasilan untuk kelangsungan hidup seluruh keluarganya, karena perempuan bekerja keluar rumah tanpa seorang suami atau anak laki-laki dilarang oleh rezim Taliban. Setelah ayahnya dipenjara, Parvana meniru apa yang sering dilakukan ayahnya untuk mencari uang. Beruntung datang Guru Parvana yang juga teman Ibunya, Parvana dijadikannya sebagai anak-laki, rambutnya dipotong pendek.
Di Kabul, masih jarang orang yang dapat membaca, Afghanistan termasuk kota termiskin di Dunia. Beruntung Parvana memiliki orang tua yang berpendidikan sehingga menularkannya kepadanya. Berbekal kepandaiannya membaca, yang ilmunya ia dapatkan saat masih sekolah, Parvana setiap hari menggelar selimut di pasar menunggu orang-orang yang memerlukan jasanya untuk membacakan/ menulis surat. Awalnya ia takut, namun setelah bertemu dengan Shauzia, teman sekolah yang juga menyamar menjadi laki-laki akhirnya ia percaya diri. Mencari uang tidak mudah. Dalam bisnis, selalu ada hari yang baik dan buruk. Terkadang Parvana duduk berjam-jam tanpa satupun pelanggan. Ia menghasilkan lebih sedikit uang dibandingkan ayahnya, tapi keluarga mereka masih butuh makan.
 Setiap hari berkeliling bersama Shauzia, kadang di pasar, kadang di lapangan bola, kadang di stasiun bis. Kadang parvana merasa lelah dan hanya ingin duduk di sekolah, ia tidak ingin tau lebih banyak tentang kematian, atau darah, perempuan dengan burqa yang mengemis dengan bayi-bayi di pangkuannya, namun faktanya hal tersebut adalah kehidupan normal di Kabul.
C.    PEMBAHASAN

1.      persamaan novel “Sang Pemimpi” karya Andrea Hirata dengan novel “Parvana” karya Deborah Ellis novel.
Ada beberapa persamaan antara novel “Sang Pemimpi” karya Andrea Hirata dengan novel “Parvana” karya Deborah Ellis diantaranya sebagai berikit.

1.1  Persamaan dari segi kehidupan ekonomi tokoh utamanya.
Teks Novel Sang Pemimpi
Teks Novel Parvana
Seperti kebanyakan anak-anak Melayu miskin di kampung kami yang mulai bekerja sejak remaja, Aria-lah yang mengajariku mencari akar banar untuk dijual di pasar. (Sang Pemimpi :26)
“kita sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dijual. Apa yang Parvana hasilkan memang cukup untuk roti nan, beras, dan teh, tapi tidak lebih dari itu. kita butuh uang untuk membayar sewa, untuk metana, untuk minyak tanah. Jika ia bisa menghasilkan uang dengan cara itu, dan ia menginginkannya, menurutku ia harus di izinkan. (Parvana :82).

Analisis: Dari dua penggalan teks novel di atas, dapat kita simpulkan bahwa kehidupan ekonomi dalam keluarga Ikal dan Parvana memiliki kesamaan yaitu sama-sama keluarga yang kurang mampu, sehingga membuat mereka yang masih dalam usia remaja juga harus membantu ekonomi keluarga mereka dengan bekerja.


1.2  Persamaan dari segi tempat impian.
Teks Novel Sang Pemimpi
Teks Novel Parvana
Pada saat itu, Aku, Arai dan Jimbron mengikrarkan satu harapan ambisius: kami ingin dan harus sekolah ke prancis! Ingin menginjakkan kaki di altar suci almamater Sorbonne, ingin menjelajahi Eropa sampai afrika. Begitu tinggi cita-cita kami. (Sang Pemimpi :62)
“di puncak menara Eiffel di paris. Aku kan sudah memberitahumu aku akan ke paris.” Parwana tertawa. “aku akan di sana” ia berujar. Kita tidak akan mengucapkan selamat tinggal kalau begitu. Untuk saat ini, kita hanya akan mengatakan sampai jumpa.” (parvana: 118)

Analisis : Dari penggalan teks novel di atas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa tokoh Ikal dalam novel “Sang Pemimpi” dengan tokoh Parvana dalam novel “Parvana”, keduanya sama-sama berkeinginan untuk pergi menuju Negara menara Eiffel yaitu Prancis.

1.3  Persamaan dari kasih sayang ayahnya.
Teks Novel Sang Pemimpi
Teks Novel Parvana
Aku berhasil menyusul ayah ketika dia sudah berada di tengah Jembatan Linggang. Saat aku berlari di samping sepedanya, ayah terkejut dan tersenyum. Sebuah senyuman lembut penuh kebanggaan. (Sang Pemimpi :144)
“Apakah aku bepergian sebagai seorang anak laki-laki atau sebagai anak perempuan ayah?” Parvana bertanya.
“Kau yang memeutuskan” jawab Ayahnya. “Apapun keputusanmu kau akan selalu menjadi malaikat kecilku.” (Parvana :117).

Analisis : Dari penggalan teks novel di atas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa kedua tokoh utama dalam novel-novel tersebut, yaitu Ikal dan Parvana memiliki seorang ayah yang menyayangi mereka, tidak peduli seperti apa mereka, apa yang mereka lakukan, ayah mereka akan tetap sama bangganya kepada mereka setiap saat. 

2.      Perbedaan novel “Sang Pemimpi” karya Andrea Hirata dengan novel “Parvana” karya Deborah Ellis.
Selain adanya beberapa persamaan antara  novel “Sang Pemimpi” karya Andrea Hirata dengan novel “Parvana” karya Deborah Ellis. Terdapat pula beberapa perbedaan antara kedua Novel tersebut, seperti:

2.1  Perbedaan dari segi kondisi lingkungan atau suasana lingkungan.
Teks Novel Sang Pemimpi
Teks Novel Parvana
Aku hafal betul lingkungan ini karena sebenarnya Aku, Arai dan Jimbron tinggal di salah satu kamar kontrakan di pasar kumuh ini. (Sang Pemimpi :03)
Meskipun bom masih sering berjatuhan dari langit Kabul, mereka tidak lagi jatuh sesering dulu. Peperangan terjadi di bagian utara Afganistan, dan di daerah itulah kebanyakan korban tewas belakangan ini. (Parvana :06)

Analisis: dari pengalan teks novel tersebut dapat kita simpulkan bagaimana perbedaan kondisi lingkungan dari kedua tokoh utama novel tersebut. Tokoh Ikal dalam novel “Sang Pemimpi” hanya menderita hidup di lingkungan yang kumuh, sementara tokoh Parvana dalam novel “Parvana” tersiksa sebab hidup di lingkungan yang sedang aktif berperang.

2.2  Perbedaan dari segi pendidikan tokoh utama.
Teks Novel Sang Pemimpi
Teks Novel Parvana
Akhirnya, aku berhasil menyelesaikan kuliah. Salah satu perpisahan yang paling menyedihkanku karena selesainya studi itu adalah berpisah dengan kereta yang hampir empat tahun kunaiki demi menuntut ilmu. (Sang Pemimpi : 235).
Parvana terpaksa berhenti sekolah ketika ia kelas enam dan kakaknyya Nooria juga tidak diperbolehkan ke sekolahnya yang sudah tingkat akhir. (Parvana :02)

Analisis : perbedaan yang terlihat jelas dalam kedua teks novel tersebut ialah tingkat pendidikan kedua tokoh utamanya, Tokoh Ikal dalam novel “Sang Pemimpi” mampu bersekolah hingga menyelesaikan S1 kuliahnya, sementara Tokoh Parvana dalam novel Parvana hanya bisa bersekolah hingga kelas Enam saja akibat Peraturan yang melarang siapapun pergi ke sekolah.

2.3  Perbedaan dari segi pendidikan orang tua Tokoh utama.
Teks Novel Sang Pemimpi
Teks Novel Parvana
Ibuku mungkin lebih pintar dari pada ayahku. ibuku, paling tidak, bisa menulisan kan namannya dengan huruf latin. Ayahku, hanya mampu menuliskan namanya dengan huruf Arab, huruf Arab Gundul. (Sang Pemimpi :75).
Kebanyakan penduduk Afganistan tidak dapat membaca dan menulis. Parvana salah satu dari mereka yang beruntung. Kedua orangtuanya lulusan Universitas dan mereka percaya pendidikan merupakan hak setiap orang, termasuk perempuan. (Parvana :03)

Analisis : perbedaan yang dapat kita temukan dari pengalan teks novel di atas adalah dari segi pendidikan orang tua tokoh utama novel-novel tersebut. Orang tua Ikal dalam novel “Sang Pemimpi” tidak pernah bersekolah atau bisa dibilang tidak berpendidikan sementara orangtua Parvana dalam novel “Parvana” adalah lulusan Universitas yang tentunya mereka berpendidikan tinggi.

D.    PENUTUP

1.      Simpulan
            Dari pembahasan yangn telah dipaparkan di atas dan dengan mengunakan teori perbandingan aliran Prancis, yaitu membandingkan karya sastra novel dengan novel dan kedua karya tercipta di dua Negara yang berbeda dapat diambil kesimpulan bahwa novel “Sang Pemimpi” karya Andrea Hirata dan Novel “Parvana” karya Debora Ellis M memiliki beberapa kesaam yang halus.
            Selain terdapat persamaan juga terdapat banyak perbedaan dari kedua karya novel tersebut. Namun kedua karya novel tersebut tetaplah memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing dan tetap menjadi karya novel yang baik dan enak untuk dinikmati para pecinta novel bergenre petualangan.

Daftar Pustaka

Hirata, Andrea. 2012. “Sang Pemimpi”. Yogyakarta: Bentang Pustaka.
Ellis, Deborah. 2011. “Parvana” terjemahan “The Breadwinner”. Jakarta: Granmadia.
Endaswara, suwardi.2014. “Metodologi Penelitian Sastra Bandingan” . Jakarta: Bukupop.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Rhifaery's Room Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang