Minggu, 12 Juni 2016

Perbandingan Teks Sastra Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck Karya Hamkadengan Sastra Lisan Panji Laras-Liris



Perbandingan Teks Sastra Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck Karya Hamkadengan Sastra Lisan Panji Laras-Liris
Oleh: Eka Ratna Jamilah





A.    PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang

            Karya sastra sebagai cerminan kehidupan masyarakat, merupakan dunia subjektivi­tas yang diciptakan oleh pengarang yang di dalamnya terdapat  berbagai aspek kehidupan yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Aspek kehidupan tersebut berupa aspek sosiolologis, psikologis, filsafat, budaya, dan agama. Keberadaan karya sastra tidak dapat dilepaskan dari diri pengarang sebagai bagian dari anggota suatu masyarakat. Sehingga dalam penciptaannya, pengarang tidak dapat terlepas dari lingkungan sosial budaya yang melatarinya.
            Aliran sastra bandingan terbagi ke dalam aliran Prancis dan aliran Amerika. Kedua aliran sepakat bahwa sastra bandingan merupakan kajian satra di luar batas sebuah negara. Akan tetapi, Aliran Prancis menganggap bahwa hubungan sastra dengan disiplin lain bukanlah sastra bandingan, melainkan seni bandingan.
Menurut Sapardi Djoko Damono (dalam Robert Escarpit, 2005: viii), sastra adalah kristalisasi keyakinan nilai-nilai dan norma-norma yang disepakati masyarakat, setidaknya begitulah yang terjadi di masa lampau ketika kepengarangan tidak dimasalahkan dan berbagai jenis tradisi lisan dimiliki beramai-ramai oleh masyarakat, tidak individu.
Kajian sastra banding ini  tidak menelaah karya-karya sastra semata-mata, melainkan membicarakan hubungan antara isi karya sastra dengan berbagai disiplin ilmu pengetahuan, agama, dan bahkan juga karya-karya seni.
Berdasarkan hal yang demikian, maka penulis membandingkan teks sastra novel “Tenggelamnya kapal van der wijck” karya HAMKA dengan cerita rakyat “Panji Laras-Liris”
2.      Rumusan Masalah
1)      Bagaimana sinopsis novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk dan cerita rakyat Panji Laras-Liris?
2)      Dimanakah letak perbandingan kedua cerita tersebut?
3)      Dimanakah letak persamaan dari kedua cerita tersebut?
3.      Manfaat Penelitian
a. Manfaat Praktis
1)        Bagi peneliti, penelitian ini dapat memperkaya wawasan sastra dan menambah khasanahan penelitian  sastra indonesia yang bermanfaat bagi perkembangan sastra indonesia.
2)      Bagi pembaca, penelitian ini dapat menambah minat baca dalam mengapresiasiasikan karya sastra, serta menambah pengetahuan tentang sastra.
b. Manfaat teoritis
Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan memahami karya sastra

4.      Objek Penelitian
Objek penelitian ini ialah cerita novel “Tenggelamnya kapal van der wijk” karya HAMKA dengan cerita rakyat “Panji Laras-Liris”
5.      Teori
            Sastra Banding (Comparative Literature) muncul pertama kali di Perancis tahun 1816 yang diambil dari rangkaian antologi untuk pengajaran sastra yang berjudul Cours de litterature comparee. Di Jerman, istilah ini dipadankan dengan vergleichende Literaturgeschichte yang muncul pada tahun 1854. Sementara itu, istilah comparative literatures muncul di Inggris pada tahun 1848.
Pada awalnya, istilah tersebut menunjuk pada usaha untuk melacak “pengaruh” seorang penulis dari suatu negara atau budaya pada penulis di negara atau budaya lain. Namun, dalam perkembangannya, terdapat kesulitan dalam mencari pengaruh tersebut karena pikiran dan perasaan yang diungkapkan oleh suatu bahasa berbeda dengan pikiran dan perasaan yang dinyatakan dengan bahasa lain. Karena itu pada awalnya, sastra banding hanya dilaksanakan di Eropa.
            Menurut Sapardi Djoko Damono (2005: 1), sastra bandingan adalah sebuah pendekatan dalam ilmu sastra yang tidak menghasilkan teori sendiri. Dengan kata lain, dalam kajian ini dapat   menggunakan teori apa saja selama masih dapat bersangkutan dengan sastra.

B.     PEMBAHASAN
1.      Diskripsi novel yang dibandingkan
1)      Sinopsis Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk
Sejak berumur 9 bulan, Zainuddin telah ditinggalkan Daeng Habibah, ibunya. Kemudian menyusul ayahnya yang bernama Pendekar Sutan. Zainuddin tinggal bersama bujangnya, Mak Base, Kira-kira 30 tahun yang lalu, ayahnya punya perkara dengan Datuk Mantari Labih mamaknya, soal warisan. Dalam suatu pertengkaran Datuk Mantari terbunuh. Pendekar Sutan kemudian dibuang ke Cilacap selama 15 tahun. Setelah selesai masa hukumannya, ia dikirim ke Bugis untuk menumpas pemberontakan yang melawan Belanda. Di sanalah Pendekar Sutan bertemu dengan Daeng Habibah. Untuk mencari keluarga ayahnya, Zainuddin pergi ke desa Batipuh di Padang. Di Padang ia tinggal di rumah saudara ayahnya, Made Jamilah.
Sebagai seorang pemuda yang datang dari Makasar, ia merasa asing di Padang. Apalagi tanggapan saudara-saudaranya demikian. Demikian pula ketika ia dapat berkenalan dengan Hayati karena meminjamkan payungnya pada gadis itu. Hubungan antara Zainuddin dan Hayati makin hari tersiar ke seluruh dusun dan Zainuddin tetap dianggap orang asing bagi keluarga Hayati maupun orang-orang di Batipuh.
Untuk menjaga nama baik kedua orang muda dan keluarga mereka masing-masing, Zainuddin disuruh meninggalkan Batipuh oleh mamak Hayati. Dengan berat hati Zainuddin meninggalkan Batipuh menuju Padang Panjang. Di tengah jalan Hayati menemuinya dan mengatakan bahwa cintanya hanya untuk Zainuddin.
Zainuddin menerima kabar bahwa Hayati akan pergi ke Padang Panjang untuk melihat pacuan kuda atas undangan sahabat Hayati yang bemama Khadijah. Zainuddin hanya dapat bertemu pandang di tempat itu karena bersama orang banyak ia terusir dari pagar tribun. Pertemuan yang sekejap itu membuat Hayati mendapat ejekan dari Khadijah. Khadijah sendiri sebenamya bermaksud menjodohkan Hayati dengan Aziz, kakak Khadijah sendiri. Karena merasa cukup mempunyai kekayaan warisan dari orang tuanya setelah Mak Base meninggal,
Zainuddin mengirim surat lamaran pada Hayati. Temyata surat Zainuddin bersamaan dengan lamaran Aziz. Setelah diminta untuk memilih, Hayati memutuskan memilih Aziz sebagai calon suaminya. Zainuddin kemudian sakit selama dua bulan karena Hayati menolaknya. Atas bantuan dan nasehat Muluk, anak induk semangnya, Zainuddin dapat merubah pikirannya. Bersama Muluk, Zainuddin pergi ke Jakarta.
Dengan nama samaran “Z”, Zainuddin kemudian berhasil menjadi pengarang yang amat disukai pembacanya. la mendirikan perkumpulan tonil “Andalas”, dan kehidupannya telah berubah menjadi orang terpandang karena pekerjaannya. Zainuddin melanjutkan usahanya di Surabaya dengan mendirikan penerbitan buku-buku.
Karena pekeriaan Aziz dipindahkan ke Surabaya, Hayati pun mengikuti suaminya. Suatu kali, Hayati mendapat sebuah undangan dari perkumpulan sandiwara yang dipimpin dan disutradarai oleh Tuan Shabir atau “Z”. Karena ajakan Hayati Aziz bersedia menonton pertunjukkan itu. Di akhir pertunjukan baru mereka ketahui bahwa Tuan Shabir atau “Z” adalah Zainuddin.
Hubungan mereka tetap baik, juga hubungan Zainuddin dengan Aziz. Perkembangan selanjutnya Aziz dipecat dari tempatnya bekerja karena hutang yang menumpuk dan harus meninggalkan rumah sewanya karena sudah tiga bulan tidak membayar, bahkan barang-barangnya disita untuk melunasi hutang. Selama Aziz di Surabaya, ia telah menunjukkan sifat-sifatnya yang tidak baik. la sering keluar malam bersama perempuan jalang, berjudi, mabuk-mabukan, serta tak lagi menaruh cinta pada Hayati. Akibatnya, setelah mereka tidak berumah lagi. Mereka terpaksa menumpang di rumah Zainuddin.
Setelah sebulan tinggal serumah, Aziz pergi ke Banyuwangi meninggalkan isterinya bersama Zainuddin. Sepeninggal Aziz, Zainuddin sendiri pun jarang pulang, kecuali untuk tidur. Suatu ketika Muluk memberitahu pada Hayati bahwa Zainuddin masih mencintainya. Di dalam kamar kerja Zainuddin terdapat gambar Hayati sebagai bukti bahwa Zainuddin masih mencintainya.
Beberapa hari kemudian diperoleh kabar bahwa Aziz telah menceraikan Hayati. Aziz meminta supaya Hayati hidup bersama Zainuddin. Dan kemudian datang pula berita dari sebuah surat kabar bahwa Aziz telah bunuh diri meminum obat tidur di sebuah hotel di Banyuwangi.
Hayati meminta kesediaan Zainuddin untuk menerimanya sebagai apa saja, asalkan ia dapat bersama-sama serumah dengan Zainuddin. Permintaan itu tidak diterima baik oleh Zainuddin, ia bahkan amat marah dan tersinggung karena lamarannya dulu pemah ditolak Hayati, dan sekarang Hayati ingin menjadi isterinya. la tidak dapat menerima periakuan Hayati.
Dengan kapal Van Der Wijck, Hayati pulang atas biaya Zainuddin. Namun Zainuddin kemudian berpikir lagi bahwa ia sebenamya tidak dapat hidup bahagia tanpa Hayati. Oleh sebab itulah setelah keberangkatan Hayati ia berniat menyusul Hayati untuk dijadikan isterinya. Zainuddin kemudian menyusul naik kereta api malam ke Jakarta.
Harapan Zainuddin temyata tak tercapai. Kapal Van Der Wijck yang ditumpangi Hayati tenggelam di perairan dekat Tuban. Hayati tak dapat diselamatkan. Karena luka-luka di kepala dan di kakinya akhimya ia meninggal dunia. Jenazahnya dimakamkan di Surabaya.
Sepeninggal Hayati, kehidupan Zainuddin menjadi sunyi dan kesehatannya tidak terjaga. Akhimya pengarang terkenal itu meninggal dunia. Ia dimakamkan di sisi makam Hayati.

2)      Deskripsi Cerita Rakyat Panji Laras-Liris
Dalam riwayat Panji Laras Liris tersebut diungkapkan, sekitar tahun 1640 – 1665 Kabupaten Lamongan dipimpin bupati ketiga bernama Raden Panji Puspa Kusuma dengan gelar Kanjeng Gusti Adipati. Bupati tersebut mempunyai dua putra bernama Panji Laras dan Panji Liris yang terkenal rupawan. Ketampanan kedua pemuda Lamongan tersebut membuat jatuh hati dua putri Adipati Wirasaba (wilayahnya sekitar Kertosono Nganjuk) bernama Dewi Andanwangi dan Dewi Andansari.
Karena terus didesak putrinya, meski dengan berat hati (karena pihak perempuan harus melamar ke pihak laki-laki) Adipati Wirasaba menuruti keinginan putrinya dengan meminang Panji Laras dan Panji Liris di Lamongan. “Saat itu warga Wirasaba masih belum memeluk Islam, sedangkan di Lamongan Islam sudah sangat mengakar,” ungkap Yari.

Menyikapi kondisi itu, Panji Laras dan Liris minta hadiah berupa dua genuk (tempat air) dari batu dan dua tikar dari batu. Benda-benda tersebut harus dibawa sendiri oleh Dewi Andansari dan Andanwangi. “Hadiah itu sebenarnya mengandung isyarat agar dewi andansari dan andanwangi mau masuk Islam. Sebab genuk mengandung isyarat tempat untuk wudlu dan tikar untuk sholat. Kedua benda tersebut saat ini tersimpan di Masjid Agung Lamongan,” ungkap Yari.
Permintaan itu dinilai sangat berat oleh Adipati Wirasaba. Meski begitu tetap dijanjikan akan dipenuhi. Selanjutnya benda-benda itu dibawa sendiri oleh kedua perempuan itu ke Lamongan dengan pengawalan satu pasukan prajurit dengan naik perahu menyusuri Kali Lamong.
Kedatangan Dewi Andansari dan Andanwangi disambut Panji Laras Liris di pinggir Kali Lamongan yang saat ini masuk wilayah Kecamatan Mantup. Kedua pemuda tersebut juga dikawal pasukan prajurit dari Lamongan dipimpin patih Mbah Sabilan.
Ketika akan turun dari perahu tanpa sadar kain panjang Dewi Andansari dan Andanwangi tersingkap dan kelihatan betisnya. Melihat betis kedua perempuan itu Panji Laras-Liris terbelalak dan ketakutan. Sebab betis kedua perempuan itu penuh dengan bulu lebat yang menakutkan. Spontan Panji laras Liris-liris menolak membatalkan perjodohan.
Mendengar kabar pembatalan perjodohan sontak Dewi Andansari Andanwangi merasa terhina dan malu sehingga mereka melakukan bunuh diri saat itu juga dihadapan panji laras-liris. Melihat junjungan mereka dihina dan dipermalukan sehingga sampai bunuh diri, orang-orang Kediri itu akhirnya sangat marah dan ingin membunuh panji laras-liris, sehingga perang pun tak bisa terhindarkan lagi.
Melihat nyawa Panji Laras-liris dalam bahay, maka Ki Patih Mbah Sabilan berjuang mati-matian melidungi mereka, sehingga akhirnya Ki Patih Mbah Sabilan harus tewas dalam rangka melindungi nyawa Panji Laras-liris. Setelah patinya tewas, orang-orang Lamongan pun semakin terdesak dan akhirnya Panji Laris-liris pun ikut kut tewas tanpa diketahui jenazahnya.
Tidak puas hanya menewaskan Ki Patih Mbah Sabilan serta panji laras-liris, orang-orang Kediri pun semakin merangsekmaju bahkan sampai ke pendopo kadipaten. Dalam pertempuran di pendopo kadipaten tersebut, Bupati Lamongan ikut gugur namun sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, Bupati Lamongan sempat berpesan agar menikah dengan orang Kediri.
3)      Letak persamaan pada cerita novel tenggelamnay kapal van der wijk dan cerita rakyat panji laras-liris
       Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya HAMKA dengan cerita rakyat Panji Laras-Liris memiliki persamaan yang terletak pada:
a.    Tema

No.
Teks novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Teks cerita rakyat Panji Laras-Liris
1.
Di zaman sekarang haruslah suami penumpangkan hidup itu seorang yang tentu pencaharian, tentu asa-usul. Jika perkawinan dengan orang yang demikian langsung, dan engkau beroleh anak, ke manakah anak itu Kn berbako? Tidaklah engkau tahu bahwa Gunung Merapi masih tegak dengan teguhnya? Adat masih berdiri dengan kuat, tak boleh lapuk oleh hujan, takboleh lekang oleh panas? (hal. 53)
Ketika akan turun dari perahu tanpa sadar kain panjang dewi Andansari dan Andanwangi tersingkap dan kelihatan betisnya. Melihat betis kedua perempuan itu Panji Laras-Liris terbelalak dan ketakutan. Sebab betis kedua perempuan itu penuh dengan bulu lebat yang menakutkan. Spontan Panji laras Liris lari meninggalkan kedua perempuan itu.

Analisis:
Pada novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan cerita rakyat Panji Laras-Liris memiliki persamaan yakni kisah wanita yang cinta kasihnya tak tersampaikan kepda seorang yang dicintai dan kasihinya. Hal tersebut terjadi dikarenakan oleh budaya adat istiadat bahwa seorang terpandang tidak sembarangan dalam memilih jodoh, dengan kata lain pada kedua cerita tersebut menganut asas kesamaan dalam strata sosial.
4) Perbedaan Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk dengan Cerita Rakyat Panji Laras-Liris
Selain memiliki persamaan, kedua cerita tersebut memiliki perbedaan, yakni:
a.    Tokoh
No
Teks novel tenggelamnya kapal van der wijk
Teks cerita rakyat panji laras-liris

1.
 “mula-mula Hayati berkenalan dengan dia, adalah seketika hari hujan lebat, sebab daerah Padang Panjang itu, lebih banyak hujan-hujan lebat turun seketika mereka ada di ekor lubuk. Zainuddin ada membawa payung dan Hayati bersama seorang temannya kebetulan tidak berpayung.” (hal. 24).
tokoh dewi andanwangi dan dewi andansari putri kembar dari adipati kediri dengan lawan tokoh panji laras dan panji liris putra kembar dari Bupati Lamongan.
Analisis:
            Pada kedua cerita tersebut memiliki perbedaan tokoh. Yang mana pada cerita Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck memiliki dua tokoh utama yakni Zainuddin dan Hayati. Sedangkan pada cerita rakyat Panji Laras-Liris memiliki empat tokoh utama pembangun cerita ialah Dewi Andanwangi dan Dewi Andansari putri kembar dari Adipati Kediri dengan lawan tokoh Panji Laras dan Panji Liris putra kembar dari Bupati Lamongan.  .
b.    Latar
No.
Teks novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Teks cerita rakyat Panji Laras-Liris
1.
“tiga dan empat tahun dia bergaul dengan istri yang setia itu, dia beroleh seorang anak laki-laki, anak tunggal, itulah dia Zainuddin, yang termenung di rumah bentuk Mengkasar, di jendel yang menghadap ke laut di Kampung Baru yang dikisahkan pada permulaan cerita ini.” (hal. 9)
tiba pada harinya, Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi diiringi dengan rombongan besar orang-orang Kediri datang ke Lamongan.
2.
“Dia tahu akan gadis-gadis itu, orang sekampungnya sama-sama orang Batipuh.....” (hal. 24)

3.
“Zainuddin baru saja sampai ke rumah bakonya. Mande Jamilah telah menyambutnya dengan muka pucat pula. Belum selesai dia makan, Mande Jamilah telah berkata: Lebih baik engkau tinggalkan Batipuh ini, tinggallah di Padang Panjang. Sebab namamu disebut-sebut orang banyak sekali. Tadi sore Mande mendengar beberapa anak muda hendak bermaksud jahat kepadamu.” (hal. 54)

4.
“Ditinggalkanlah Pulau Sumatra, masuk ke Tanah Jawa, medan perjuangan penghidupan yang lebih luas. Sesampainya di Jakarta, disewanya sebuah rumah kecil di suatu kampung yang sepi, bersama sahabatnya Muluk.” (hal. 145)

5.
“Setelah dia tahu bahwa buah penanya telah menjadi perhatian umum, mengertilah ia bahwa inilah tujuan yang tetap dari hidupnya. Oleh karena kota Surabaya lebih dekat dengan Mengkasar, dan di sana penerbitan buku-buku masih sepi, maka bermaksudlah dia hendak berpindah ke Surabaya, akan mengeluarkan buku-buku hikayat bikinan sendiri dengan modal sendiri, dikirim ke seluruh Indonesia.” (hal. 146)

6.
“...kapal tersebut tenggelam 15 mil jauhnya dari sebelah utara Tanjung Pakis.
“....sayang di sini perkakas tidak cukup. Baru aja dipesankanke surabaya, beberapa dokter akan datang membantu kemari.”

Analisis:
Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck memiliki latar tempat Mengkasar (tempat Zainuddin dilahirkan), Dusun Batipuh (tempat Hayati tinggal dan bertemu dengan Zainuddin pertama kali), Padang Panjang (tempat Zainuddin pindah dari Batipuh untuk mendalami ilmu, tempat khadijah tinggal, tempat adanya pacuan kuda dan pasar malam), Jakarta/Batavia (tempat Zainuddin dan menjadi penulis bersama sahabatnya Muluk, tempat pindahan kerja Azis dan Hayati), Lamongan (di rumah sakit, tempat terakhir kalinya Zainuddin dan Hayati berdialog sebelum meninggal). Sedangkan pada cerita Panji Laras-Liris berlatarkan tempat di bumi kota Lamongan.

c.    Kisah Cinta Antar Kedua Cerita
No
Teks novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Teks cerita rakyat Panji Laras-Liris
1.
“sejak zainuddin berkenalan dengan hayati, dia tidak merasa sunyi lagi di tanah minangkabau yang memandangnya orang asing itu. Minangkabau telah lain dalam pemandanganya sekarang telah ramai, telah mengalirkan penghargaan yang baru dalam hidupnya. Di sinilah keduam makhluk itu mempersambungkan tali jiwa, sebelum mempersambungkan mulut. Keluuhan dan tarikan nafas yang panjang, kegugupan menentang muka orang yang dihadapi, telah cukup menjadi lukisan dari kata-kata hati”. (hal. 30)
Sampai suatu ketika Adipati Kediri mendengar kabar bahwa bupati lamongan mempunyai dua orang putra kembar, sehingga Adipati Kediri berniatan untuk menikahkahkan kedua putri kembarnya dengan putra kembar Bupati Lamongan sekaligus sebagai langkah awal untuk melakukan koalisi.
Analisis:
Kisah cinta kedua cerita Tenggelemnya Kapal Van Der Wijck dan Panji Laras-Liris memilki perbedaan. Pada kisah cinta Hayati dan Zainuddin ialah rasa cinta murni dari hati seorang insan yang berlainan jenis, sedangkan pada awal cerita cinta Panji Laras-Liris dengan Dewi Andansari Andanwangi memiliki beberapa unsur tujuan tertentu, yakni bertujuan membangun koalisi yang akan dibangun oleh pihak Adipati Kediri dengan cara menjodohkan putri kembar Adipati Kediri dengan putra kembar Bupati Lamongan. Dengan maksud lain mempermudah Adipati Kediri untuk mengambil alih kekuasaan dari Majapahit
d.   Konflik antar kisah percintaan pada kedua cerita
No.
Teks novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Teks cerita rakyat Panji Laras-Liris
1.
Di zaman sekarang haruslah suami penumpangkan hidup itu seorang yang tentu pencaharian, tentu asa-usul. Jika perkawinan dengan orang yang demikian langsung, dan engkau beroleh anak, ke manakah anak itu Kn berbako? Tidaklah engkau tahu bahwa Gunung Merapi masih tegak dengan teguhnya? Adat masih berdiri dengan kuat, tak boleh lapuk oleh hujan, takboleh lekang oleh panas? (hal. 53)
Pada saat itu Lamongan sedang mengalami bencana banjir, sehingga mau tak mau Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi mengangkat kainnya sampai ke paha agar kain yang dikenakannya tidak basah. Celakanya, karena hal itu panji laras-liris bisa melihat bahwa ternyata kaki dewi andansari andanwangi ternyata berbulu lebat seperti bulu kuda. Sehingg Panji Laras-liris menolak untuk menikahi dewi andansari andanwangi serta meminta agar rencana pernikahan tersebut dibatalkan saja.
Analisis:
            Dapat dianalisis bahwa konflik percintaan kedua cerita tersebut berbeda. Kegagalan  percintaan Hayati dan Zainuddin disebabkan oleh budaya lokal yang menganggap Zainuddin bukan orang Padang asli karena ibunya bukan kelahiran Batipuh. Selain itu, juga karena Zainuddin adalah anak yatim piatu sehingga harus mendapatkan tantangan yang besar dalam menjalin hubungan cinta kasih dengan Hayati. Sedangkan pada Panji Laras-liris ialah disebabkan oleh bulu tebal pada Dewi Andansari Andanwangi yang menjadinya alasan membatalkan perjodohan.
e.    Kisah Kematian Tokoh Utama
No.
Teks novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Teks cerita rakyat Panji Laras-liris
1.
“Tiga Kali Zainuddin membacakan kalimat Syahadat itu, diturutkannya yang mula-mula itu dengan lidahnya, yang kedua dengan isyarat matanya, dan yang ketiga.. dia sudah tak ada lagi!”
Mendergar kabar pembatalan perjodohan sontak Dewi Andansari Andanwangi merasa terhina dan malu sehingga mereka melakukan bunuh diri saat itu juga dihadapan panji laras-liris.
Analisis:
Akhir tragis dari percintaan hayati pada zainuddin harus berakhir dengan kematian hayati pada tragedi tenggelamnya kapal van der wijck yang ditumpanginya saat perjalan pulang ke batipuh. Sedangkan pada akhir cerita  Panji Laras-liris berakhir dengan kematian Dewi Andansari Andanwangi secara bunuh diri.
           

C.    PENUTUP

1.      Kesimpulan
Perbandingan antara karya sastra tulis Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan karya sastra lisan Panji Laras-Liris di atas memiliki tujuan memberikan pandangan masyarakat akan budaya yang ada di Indonesia antara lain budaya yang terjadi antara Kediri dan Lamongan atas larangan menikahkan anak putra Lamongan dengan putri Kediri. Begitupun dengan budaya Minang yang hanya boleh menikahkan keturunan Minang dengan keturunan Minang. Dengan berbagai persamaan dan perbedaan yang ada, menjadikan kedua karya sastra tersebut menarik untuk dikaji sebab pada keduanya memuat sebuah cerita adat istiadat yang sama, yang hingga saat ini masih dipertahankan sebagian masyarakat.
2.      Saran
Saran peneliti kepada peneliti lain, diharapkan nantinya ada kelanjutan dari analisis saat ini dengan lebih kratif dalam menelaah karya sastra tulis Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan karya sastra lisan Panji Laras-Liris yang memiliki versi cerita yang berbeda-beda.


DAFTAR PUSTAKA

Damono, Sapardi Djoko. 2005. Pegangan Penelitian Sastra Bandingan. Jakarta: Depdiknas
Endraswara, Suwardi. 2014. Metodologi Penelitian Sastra Bandingan. Jakarta: Bukupop
HAMKA. 1999. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Jakarta: PT Bulan Bintang


0 komentar:

Posting Komentar

 

Rhifaery's Room Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang