Perbandingan Teks Sastra Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck Karya Hamkadengan Sastra Lisan
Panji Laras-Liris
Oleh: Eka Ratna Jamilah
A. PENDAHULUAN
1.
Latar
Belakang
Karya sastra sebagai cerminan
kehidupan masyarakat, merupakan dunia subjektivitas yang diciptakan oleh
pengarang yang di dalamnya terdapat
berbagai aspek kehidupan yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya.
Aspek kehidupan tersebut berupa aspek sosiolologis, psikologis, filsafat,
budaya, dan agama. Keberadaan karya sastra tidak dapat dilepaskan dari diri
pengarang sebagai bagian dari anggota suatu masyarakat. Sehingga dalam
penciptaannya, pengarang tidak dapat terlepas dari lingkungan sosial budaya
yang melatarinya.
Aliran sastra bandingan terbagi ke dalam aliran Prancis dan
aliran Amerika. Kedua aliran sepakat bahwa sastra bandingan merupakan kajian
satra di luar batas sebuah negara. Akan tetapi, Aliran Prancis menganggap bahwa
hubungan sastra dengan disiplin lain bukanlah sastra bandingan, melainkan seni
bandingan.
Menurut Sapardi Djoko Damono (dalam Robert Escarpit, 2005:
viii), sastra adalah kristalisasi keyakinan nilai-nilai dan norma-norma yang
disepakati masyarakat, setidaknya begitulah yang terjadi di masa lampau ketika
kepengarangan tidak dimasalahkan dan berbagai jenis tradisi lisan dimiliki
beramai-ramai oleh masyarakat, tidak individu.
Kajian
sastra banding ini
tidak menelaah karya-karya sastra semata-mata, melainkan membicarakan
hubungan antara isi karya sastra dengan berbagai disiplin ilmu pengetahuan,
agama, dan bahkan juga karya-karya seni.
Berdasarkan
hal yang demikian, maka penulis membandingkan teks sastra
novel “Tenggelamnya kapal
van der wijck” karya HAMKA
dengan cerita rakyat
“Panji Laras-Liris”
2.
Rumusan
Masalah
1)
Bagaimana sinopsis novel Tenggelamnya Kapal Van Der
Wijk dan cerita rakyat Panji Laras-Liris?
2)
Dimanakah letak perbandingan kedua cerita
tersebut?
3)
Dimanakah letak persamaan dari kedua
cerita tersebut?
3. Manfaat Penelitian
a. Manfaat Praktis
1)
Bagi peneliti, penelitian ini dapat
memperkaya wawasan sastra dan menambah khasanahan penelitian sastra indonesia yang bermanfaat bagi
perkembangan sastra indonesia.
2) Bagi
pembaca, penelitian ini dapat menambah minat baca dalam mengapresiasiasikan
karya sastra, serta menambah pengetahuan tentang sastra.
b.
Manfaat teoritis
Secara
teoritis penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan memahami karya
sastra
4. Objek Penelitian
Objek
penelitian ini ialah cerita novel “Tenggelamnya kapal van der wijk”
karya HAMKA
dengan cerita rakyat
“Panji Laras-Liris”
5.
Teori
Sastra Banding (Comparative
Literature) muncul pertama kali di Perancis tahun 1816 yang diambil dari
rangkaian antologi untuk pengajaran sastra yang berjudul Cours de
litterature comparee. Di Jerman, istilah ini dipadankan dengan vergleichende
Literaturgeschichte yang muncul pada tahun 1854. Sementara itu, istilah comparative
literatures muncul di Inggris pada tahun 1848.
Pada awalnya, istilah tersebut menunjuk pada usaha untuk
melacak “pengaruh” seorang penulis
dari suatu negara atau budaya pada penulis di negara atau budaya lain. Namun, dalam
perkembangannya, terdapat kesulitan dalam mencari pengaruh tersebut karena
pikiran dan perasaan yang diungkapkan oleh suatu bahasa berbeda dengan pikiran
dan perasaan yang dinyatakan dengan bahasa lain. Karena itu pada awalnya,
sastra banding hanya dilaksanakan di Eropa.
Menurut
Sapardi Djoko Damono (2005: 1), sastra bandingan adalah sebuah pendekatan dalam
ilmu sastra yang tidak menghasilkan teori sendiri. Dengan kata lain, dalam
kajian ini dapat menggunakan teori apa
saja selama masih dapat bersangkutan dengan sastra.
B. PEMBAHASAN
1.
Diskripsi
novel yang dibandingkan
1)
Sinopsis Tenggelamnya
Kapal Van Der Wijk
Sejak berumur 9 bulan, Zainuddin telah
ditinggalkan Daeng Habibah, ibunya. Kemudian menyusul ayahnya yang bernama
Pendekar Sutan. Zainuddin tinggal bersama bujangnya, Mak Base, Kira-kira 30
tahun yang lalu, ayahnya punya perkara dengan Datuk Mantari Labih mamaknya,
soal warisan. Dalam suatu pertengkaran Datuk Mantari terbunuh. Pendekar Sutan
kemudian dibuang ke Cilacap selama 15 tahun. Setelah selesai masa hukumannya,
ia dikirim ke Bugis untuk menumpas pemberontakan yang melawan Belanda. Di
sanalah Pendekar Sutan bertemu dengan Daeng Habibah. Untuk mencari keluarga
ayahnya, Zainuddin pergi ke desa Batipuh di Padang. Di Padang ia tinggal di rumah
saudara ayahnya, Made Jamilah.
Sebagai seorang pemuda yang datang dari
Makasar, ia merasa asing di Padang. Apalagi tanggapan saudara-saudaranya
demikian. Demikian pula ketika ia dapat berkenalan dengan Hayati karena
meminjamkan payungnya pada gadis itu. Hubungan antara Zainuddin dan Hayati
makin hari tersiar ke seluruh dusun dan Zainuddin tetap dianggap orang asing
bagi keluarga Hayati maupun orang-orang di Batipuh.
Untuk menjaga nama baik kedua orang muda dan
keluarga mereka masing-masing, Zainuddin disuruh meninggalkan Batipuh oleh
mamak Hayati. Dengan berat hati Zainuddin meninggalkan Batipuh menuju Padang
Panjang. Di tengah jalan Hayati menemuinya dan mengatakan bahwa cintanya hanya
untuk Zainuddin.
Zainuddin menerima kabar bahwa Hayati akan
pergi ke Padang Panjang untuk melihat pacuan kuda atas undangan sahabat Hayati
yang bemama Khadijah. Zainuddin hanya dapat bertemu pandang di tempat itu
karena bersama orang banyak ia terusir dari pagar tribun. Pertemuan yang
sekejap itu membuat Hayati mendapat ejekan dari Khadijah. Khadijah sendiri
sebenamya bermaksud menjodohkan Hayati dengan Aziz, kakak Khadijah sendiri.
Karena merasa cukup mempunyai kekayaan warisan dari orang tuanya setelah Mak
Base meninggal,
Zainuddin mengirim surat lamaran pada Hayati.
Temyata surat Zainuddin bersamaan dengan lamaran Aziz. Setelah diminta untuk
memilih, Hayati memutuskan memilih Aziz sebagai calon suaminya. Zainuddin
kemudian sakit selama dua bulan karena Hayati menolaknya. Atas bantuan dan
nasehat Muluk, anak induk semangnya, Zainuddin dapat merubah pikirannya.
Bersama Muluk, Zainuddin pergi ke Jakarta.
Dengan nama samaran “Z”, Zainuddin kemudian
berhasil menjadi pengarang yang amat disukai pembacanya. la mendirikan
perkumpulan tonil “Andalas”, dan kehidupannya telah berubah menjadi orang
terpandang karena pekerjaannya. Zainuddin melanjutkan usahanya di Surabaya
dengan mendirikan penerbitan buku-buku.
Karena pekeriaan Aziz dipindahkan ke Surabaya,
Hayati pun mengikuti suaminya. Suatu kali, Hayati mendapat sebuah undangan dari
perkumpulan sandiwara yang dipimpin dan disutradarai oleh Tuan Shabir atau “Z”.
Karena ajakan Hayati Aziz bersedia menonton pertunjukkan itu. Di akhir
pertunjukan baru mereka ketahui bahwa Tuan Shabir atau “Z” adalah Zainuddin.
Hubungan mereka tetap baik, juga hubungan
Zainuddin dengan Aziz. Perkembangan selanjutnya Aziz dipecat dari tempatnya
bekerja karena hutang yang menumpuk dan harus meninggalkan rumah sewanya karena
sudah tiga bulan tidak membayar, bahkan barang-barangnya disita untuk melunasi
hutang. Selama Aziz di Surabaya, ia telah menunjukkan sifat-sifatnya yang tidak
baik. la sering keluar malam bersama perempuan jalang, berjudi, mabuk-mabukan,
serta tak lagi menaruh cinta pada Hayati. Akibatnya, setelah mereka tidak
berumah lagi. Mereka terpaksa menumpang di rumah Zainuddin.
Setelah sebulan tinggal serumah, Aziz pergi ke
Banyuwangi meninggalkan isterinya bersama Zainuddin. Sepeninggal Aziz,
Zainuddin sendiri pun jarang pulang, kecuali untuk tidur. Suatu ketika Muluk
memberitahu pada Hayati bahwa Zainuddin masih mencintainya. Di dalam kamar
kerja Zainuddin terdapat gambar Hayati sebagai bukti bahwa Zainuddin masih
mencintainya.
Beberapa hari kemudian diperoleh kabar bahwa
Aziz telah menceraikan Hayati. Aziz meminta supaya Hayati hidup bersama
Zainuddin. Dan kemudian datang pula berita dari sebuah surat kabar bahwa Aziz
telah bunuh diri meminum obat tidur di sebuah hotel di Banyuwangi.
Hayati meminta kesediaan Zainuddin untuk
menerimanya sebagai apa saja, asalkan ia dapat bersama-sama serumah dengan Zainuddin.
Permintaan itu tidak diterima baik oleh Zainuddin, ia bahkan amat marah dan
tersinggung karena lamarannya dulu pemah ditolak Hayati, dan sekarang Hayati
ingin menjadi isterinya. la tidak dapat menerima periakuan Hayati.
Dengan kapal Van Der Wijck, Hayati pulang atas
biaya Zainuddin. Namun Zainuddin kemudian berpikir lagi bahwa ia sebenamya
tidak dapat hidup bahagia tanpa Hayati. Oleh sebab itulah setelah keberangkatan
Hayati ia berniat menyusul Hayati untuk dijadikan isterinya. Zainuddin kemudian
menyusul naik kereta api malam ke Jakarta.
Harapan Zainuddin temyata tak tercapai. Kapal
Van Der Wijck yang ditumpangi Hayati tenggelam di perairan dekat Tuban. Hayati
tak dapat diselamatkan. Karena luka-luka di kepala dan di kakinya akhimya ia
meninggal dunia. Jenazahnya dimakamkan di Surabaya.
Sepeninggal Hayati, kehidupan Zainuddin menjadi
sunyi dan kesehatannya tidak terjaga. Akhimya pengarang terkenal itu meninggal
dunia. Ia dimakamkan di sisi makam Hayati.
2)
Deskripsi
Cerita Rakyat Panji Laras-Liris
Dalam riwayat Panji Laras Liris tersebut diungkapkan, sekitar tahun 1640 –
1665 Kabupaten Lamongan dipimpin bupati ketiga bernama Raden Panji Puspa Kusuma
dengan gelar Kanjeng Gusti Adipati. Bupati tersebut mempunyai dua putra bernama
Panji Laras dan Panji Liris yang terkenal rupawan. Ketampanan
kedua pemuda Lamongan tersebut membuat jatuh hati dua putri Adipati Wirasaba
(wilayahnya sekitar Kertosono Nganjuk) bernama Dewi Andanwangi dan Dewi
Andansari.
Karena terus didesak
putrinya, meski dengan berat hati (karena pihak perempuan harus melamar ke
pihak laki-laki) Adipati Wirasaba menuruti keinginan putrinya dengan meminang
Panji Laras dan Panji Liris di Lamongan. “Saat itu warga Wirasaba masih belum
memeluk Islam, sedangkan di Lamongan Islam sudah sangat mengakar,” ungkap Yari.
Menyikapi kondisi itu,
Panji Laras dan Liris minta hadiah berupa dua genuk (tempat air) dari batu dan
dua tikar dari batu. Benda-benda tersebut harus dibawa sendiri oleh Dewi
Andansari dan Andanwangi. “Hadiah itu sebenarnya mengandung isyarat agar dewi
andansari dan andanwangi mau masuk Islam. Sebab genuk mengandung isyarat tempat
untuk wudlu dan tikar untuk sholat. Kedua benda tersebut saat ini tersimpan di
Masjid Agung Lamongan,” ungkap Yari.
Permintaan itu dinilai
sangat berat oleh Adipati Wirasaba. Meski begitu tetap dijanjikan akan
dipenuhi. Selanjutnya benda-benda itu dibawa sendiri oleh kedua perempuan itu
ke Lamongan dengan pengawalan satu pasukan prajurit dengan naik perahu
menyusuri Kali Lamong.
Kedatangan Dewi
Andansari dan Andanwangi disambut Panji Laras Liris di pinggir Kali Lamongan
yang saat ini masuk wilayah Kecamatan Mantup. Kedua pemuda tersebut juga
dikawal pasukan prajurit dari Lamongan dipimpin patih Mbah Sabilan.
Ketika akan turun dari
perahu tanpa sadar kain panjang Dewi Andansari dan Andanwangi tersingkap dan
kelihatan betisnya. Melihat betis kedua perempuan itu Panji Laras-Liris
terbelalak dan ketakutan. Sebab betis kedua perempuan itu penuh dengan bulu
lebat yang menakutkan. Spontan Panji laras Liris-liris menolak membatalkan perjodohan.
Mendengar kabar
pembatalan perjodohan sontak Dewi Andansari Andanwangi merasa terhina dan malu
sehingga mereka melakukan bunuh diri saat itu juga dihadapan panji laras-liris. Melihat junjungan mereka dihina dan dipermalukan sehingga sampai bunuh
diri, orang-orang Kediri itu akhirnya sangat marah dan ingin membunuh panji
laras-liris, sehingga perang pun tak bisa terhindarkan lagi.
Melihat nyawa
Panji Laras-liris dalam bahay, maka Ki Patih Mbah Sabilan berjuang mati-matian
melidungi mereka, sehingga akhirnya Ki Patih Mbah Sabilan harus tewas dalam
rangka melindungi nyawa Panji Laras-liris. Setelah patinya tewas, orang-orang
Lamongan pun semakin terdesak dan akhirnya Panji Laris-liris pun ikut kut tewas
tanpa diketahui jenazahnya.
Tidak puas
hanya menewaskan Ki Patih Mbah Sabilan serta panji laras-liris, orang-orang
Kediri pun semakin merangsekmaju bahkan sampai ke pendopo kadipaten. Dalam
pertempuran di pendopo kadipaten tersebut, Bupati Lamongan ikut gugur namun
sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, Bupati Lamongan sempat berpesan
agar menikah dengan orang Kediri.
3)
Letak
persamaan pada cerita novel tenggelamnay kapal van der wijk dan cerita rakyat
panji laras-liris
Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya HAMKA dengan cerita rakyat
Panji Laras-Liris memiliki persamaan yang terletak pada:
a.
Tema
|
No.
|
Teks novel Tenggelamnya Kapal
Van Der Wijck
|
Teks cerita rakyat Panji Laras-Liris
|
|
1.
|
Di zaman sekarang haruslah suami penumpangkan hidup itu
seorang yang tentu pencaharian, tentu asa-usul. Jika perkawinan dengan orang
yang demikian langsung, dan engkau beroleh anak, ke manakah anak itu Kn
berbako? Tidaklah engkau tahu bahwa Gunung Merapi masih tegak dengan
teguhnya? Adat masih berdiri dengan kuat, tak boleh lapuk oleh hujan, takboleh
lekang oleh panas? (hal. 53)
|
Ketika
akan turun dari perahu tanpa sadar kain panjang dewi Andansari dan Andanwangi
tersingkap dan kelihatan betisnya. Melihat betis kedua perempuan itu Panji
Laras-Liris terbelalak dan ketakutan. Sebab betis kedua perempuan itu penuh
dengan bulu lebat yang menakutkan. Spontan Panji laras Liris lari
meninggalkan kedua perempuan itu.
|
Analisis:
Pada novel
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan cerita rakyat Panji Laras-Liris memiliki
persamaan yakni kisah wanita yang cinta kasihnya tak tersampaikan kepda seorang
yang dicintai dan kasihinya. Hal tersebut terjadi dikarenakan oleh budaya adat
istiadat bahwa seorang terpandang tidak sembarangan dalam memilih jodoh, dengan
kata lain pada kedua cerita tersebut menganut asas kesamaan dalam strata
sosial.
4) Perbedaan Novel
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk dengan Cerita Rakyat Panji Laras-Liris
Selain memiliki persamaan, kedua cerita
tersebut memiliki perbedaan, yakni:
a.
Tokoh
|
No
|
Teks novel tenggelamnya kapal van der
wijk
|
Teks cerita rakyat panji laras-liris
|
|
1.
|
“mula-mula Hayati berkenalan dengan dia,
adalah seketika hari hujan lebat, sebab daerah Padang Panjang itu, lebih
banyak hujan-hujan lebat turun seketika mereka ada di ekor lubuk. Zainuddin
ada membawa payung dan Hayati bersama seorang temannya kebetulan tidak
berpayung.” (hal. 24).
|
tokoh dewi andanwangi dan dewi
andansari putri kembar dari adipati kediri dengan lawan tokoh panji laras dan
panji liris putra kembar dari Bupati Lamongan.
|
Analisis:
Pada
kedua cerita tersebut memiliki perbedaan tokoh. Yang mana pada cerita
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck memiliki dua tokoh utama yakni Zainuddin dan
Hayati. Sedangkan pada cerita rakyat Panji Laras-Liris memiliki empat tokoh
utama pembangun cerita ialah Dewi Andanwangi dan Dewi Andansari putri kembar
dari Adipati Kediri dengan lawan tokoh Panji Laras dan Panji Liris putra kembar
dari Bupati Lamongan. .
b.
Latar
|
No.
|
Teks novel Tenggelamnya Kapal Van Der
Wijck
|
Teks cerita rakyat Panji Laras-Liris
|
|
1.
|
“tiga dan empat tahun dia bergaul
dengan istri yang setia itu, dia beroleh seorang anak laki-laki, anak
tunggal, itulah dia Zainuddin, yang termenung di rumah bentuk Mengkasar, di
jendel yang menghadap ke laut di Kampung Baru yang dikisahkan pada permulaan
cerita ini.” (hal. 9)
|
tiba pada harinya, Dewi Andansari dan
Dewi Andanwangi diiringi dengan rombongan besar orang-orang Kediri datang ke
Lamongan.
|
|
2.
|
“Dia tahu akan gadis-gadis itu, orang
sekampungnya sama-sama orang Batipuh.....” (hal. 24)
|
|
|
3.
|
“Zainuddin baru saja sampai ke rumah
bakonya. Mande Jamilah telah menyambutnya dengan muka pucat pula. Belum
selesai dia makan, Mande Jamilah telah berkata: Lebih baik engkau
tinggalkan Batipuh ini, tinggallah di Padang Panjang. Sebab namamu
disebut-sebut orang banyak sekali. Tadi sore Mande mendengar beberapa anak
muda hendak bermaksud jahat kepadamu.” (hal. 54)
|
|
|
4.
|
“Ditinggalkanlah Pulau Sumatra, masuk
ke Tanah Jawa, medan perjuangan penghidupan yang lebih luas. Sesampainya di
Jakarta, disewanya sebuah rumah kecil di suatu kampung yang sepi, bersama
sahabatnya Muluk.” (hal. 145)
|
|
|
5.
|
“Setelah dia tahu bahwa buah penanya
telah menjadi perhatian umum, mengertilah ia bahwa inilah tujuan yang tetap
dari hidupnya. Oleh karena kota Surabaya lebih dekat dengan Mengkasar, dan di
sana penerbitan buku-buku masih sepi, maka bermaksudlah dia hendak berpindah
ke Surabaya, akan mengeluarkan buku-buku hikayat bikinan sendiri dengan modal
sendiri, dikirim ke seluruh Indonesia.” (hal. 146)
|
|
|
6.
|
“...kapal tersebut tenggelam 15 mil
jauhnya dari sebelah utara Tanjung Pakis.
“....sayang di sini perkakas tidak
cukup. Baru aja dipesankanke surabaya, beberapa dokter akan datang membantu
kemari.”
|
|
Analisis:
Novel
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck memiliki latar tempat Mengkasar (tempat
Zainuddin dilahirkan), Dusun Batipuh (tempat Hayati tinggal dan bertemu dengan
Zainuddin pertama kali), Padang Panjang (tempat Zainuddin pindah dari Batipuh
untuk mendalami ilmu, tempat khadijah tinggal, tempat adanya pacuan kuda dan
pasar malam), Jakarta/Batavia (tempat Zainuddin dan menjadi penulis bersama
sahabatnya Muluk, tempat pindahan kerja Azis dan Hayati), Lamongan (di rumah
sakit, tempat terakhir kalinya Zainuddin dan Hayati berdialog sebelum
meninggal). Sedangkan pada cerita Panji Laras-Liris berlatarkan tempat di bumi
kota Lamongan.
c.
Kisah Cinta Antar Kedua Cerita
|
No
|
Teks novel Tenggelamnya Kapal Van Der
Wijck
|
Teks cerita rakyat Panji Laras-Liris
|
|
1.
|
“sejak zainuddin berkenalan dengan
hayati, dia tidak merasa sunyi lagi di tanah minangkabau yang memandangnya
orang asing itu. Minangkabau telah lain dalam pemandanganya sekarang telah
ramai, telah mengalirkan penghargaan yang baru dalam hidupnya. Di sinilah
keduam makhluk itu mempersambungkan tali jiwa, sebelum mempersambungkan
mulut. Keluuhan dan tarikan nafas yang panjang, kegugupan menentang muka
orang yang dihadapi, telah cukup menjadi lukisan dari kata-kata hati”. (hal.
30)
|
Sampai suatu ketika Adipati Kediri
mendengar kabar bahwa bupati lamongan mempunyai dua orang putra kembar,
sehingga Adipati Kediri berniatan untuk menikahkahkan kedua putri kembarnya
dengan putra kembar Bupati Lamongan sekaligus sebagai langkah awal untuk
melakukan koalisi.
|
Analisis:
Kisah cinta
kedua cerita Tenggelemnya Kapal Van Der Wijck dan Panji Laras-Liris memilki
perbedaan. Pada kisah cinta Hayati dan Zainuddin ialah rasa cinta murni dari
hati seorang insan yang berlainan jenis, sedangkan pada awal cerita cinta Panji
Laras-Liris dengan Dewi Andansari Andanwangi memiliki beberapa unsur tujuan
tertentu, yakni bertujuan membangun koalisi yang akan dibangun oleh pihak
Adipati Kediri dengan cara menjodohkan putri kembar Adipati Kediri dengan putra
kembar Bupati Lamongan. Dengan maksud lain mempermudah Adipati Kediri untuk
mengambil alih kekuasaan dari Majapahit
d.
Konflik antar kisah percintaan pada kedua cerita
|
No.
|
Teks novel Tenggelamnya Kapal Van
Der Wijck
|
Teks cerita rakyat Panji
Laras-Liris
|
|
1.
|
Di zaman sekarang haruslah suami
penumpangkan hidup itu seorang yang tentu pencaharian, tentu asa-usul. Jika
perkawinan dengan orang yang demikian langsung, dan engkau beroleh anak, ke
manakah anak itu Kn berbako? Tidaklah engkau tahu bahwa Gunung Merapi masih
tegak dengan teguhnya? Adat masih berdiri dengan kuat, tak boleh lapuk oleh
hujan, takboleh lekang oleh panas? (hal. 53)
|
Pada saat
itu Lamongan sedang mengalami bencana banjir, sehingga mau tak mau Dewi
Andansari dan Dewi Andanwangi mengangkat kainnya sampai ke paha agar kain
yang dikenakannya tidak basah. Celakanya, karena hal itu panji laras-liris
bisa melihat bahwa ternyata kaki dewi andansari andanwangi ternyata berbulu
lebat seperti bulu kuda. Sehingg Panji Laras-liris menolak untuk menikahi
dewi andansari andanwangi serta meminta agar rencana pernikahan tersebut
dibatalkan saja.
|
Analisis:
Dapat
dianalisis bahwa konflik percintaan kedua cerita tersebut berbeda.
Kegagalan percintaan Hayati dan
Zainuddin disebabkan oleh budaya lokal yang menganggap Zainuddin bukan orang
Padang asli karena ibunya bukan kelahiran Batipuh. Selain itu, juga karena
Zainuddin adalah anak yatim piatu sehingga harus mendapatkan tantangan yang
besar dalam menjalin hubungan cinta kasih dengan Hayati. Sedangkan pada Panji
Laras-liris ialah disebabkan oleh bulu tebal pada Dewi Andansari Andanwangi
yang menjadinya alasan membatalkan perjodohan.
e.
Kisah Kematian Tokoh Utama
|
No.
|
Teks novel Tenggelamnya Kapal Van
Der Wijck
|
Teks cerita rakyat Panji
Laras-liris
|
|
1.
|
“Tiga Kali
Zainuddin membacakan kalimat Syahadat itu, diturutkannya yang mula-mula itu
dengan lidahnya, yang kedua dengan isyarat matanya, dan yang ketiga.. dia
sudah tak ada lagi!”
|
Mendergar
kabar pembatalan perjodohan sontak Dewi Andansari Andanwangi merasa terhina
dan malu sehingga mereka melakukan bunuh diri saat itu juga dihadapan panji
laras-liris.
|
Analisis:
Akhir tragis dari percintaan hayati
pada zainuddin harus berakhir dengan kematian hayati pada tragedi tenggelamnya
kapal van der wijck yang ditumpanginya saat perjalan pulang ke batipuh.
Sedangkan pada akhir cerita Panji
Laras-liris berakhir dengan kematian Dewi Andansari Andanwangi secara bunuh
diri.
C. PENUTUP
1.
Kesimpulan
Perbandingan antara karya sastra tulis Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan karya
sastra lisan Panji Laras-Liris di atas memiliki tujuan memberikan pandangan
masyarakat akan budaya yang ada di Indonesia antara lain budaya yang terjadi
antara Kediri dan Lamongan atas larangan menikahkan anak putra Lamongan dengan
putri Kediri. Begitupun dengan budaya Minang yang hanya boleh menikahkan
keturunan Minang dengan keturunan Minang. Dengan berbagai persamaan dan
perbedaan yang ada, menjadikan kedua karya sastra tersebut menarik untuk dikaji
sebab pada keduanya memuat sebuah cerita adat istiadat yang sama, yang hingga
saat ini masih dipertahankan sebagian masyarakat.
2.
Saran
Saran peneliti
kepada peneliti lain, diharapkan nantinya ada kelanjutan dari analisis saat ini
dengan lebih kratif dalam menelaah karya sastra tulis Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan karya sastra
lisan Panji Laras-Liris yang memiliki versi cerita yang berbeda-beda.
DAFTAR PUSTAKA
Damono, Sapardi Djoko. 2005. Pegangan
Penelitian Sastra Bandingan. Jakarta: Depdiknas
Endraswara,
Suwardi. 2014. Metodologi Penelitian Sastra Bandingan. Jakarta: Bukupop
HAMKA. 1999. Tenggelamnya
Kapal Van Der Wijck. Jakarta: PT Bulan Bintang
0 komentar:
Posting Komentar