Selasa, 04 Oktober 2016

Perbandingan Teks Sastra Novel San Pek Eng Tay Karya Zhang Du dengan Cerita Lisan Roro Mendut Oleh: Isma Hudaya



Perbandingan Teks Sastra Novel San Pek Eng Tay Karya Zhang Du  dengan  Cerita Lisan Roro Mendut
Oleh: Isma Hudaya




A.    PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Membandingkan dua karya sastra atau lebih sedikitnya dua negara yang berbeda, dalam studi sastra, termasuk ke dalam wilayah sastra bandingan (comparative literature). Syaratnya antara lain adalah karya sastra yang akan diperbandingkan setidak-tidaknya mempunyai tiga perbedaan yang menyangkut perbedaan bahasa, wilayah, dan politik. Dari perbedaan inilah paling sedikit akan tersimpul bahwa perbedaan latar belakang sosial budaya (lokasi, tradisi, dan pengaruh) yang melingkari diri masing-masing pengarang, akan tercermin pula dalam karyanya.
Dalam khazanah kesusastraan bangsa-bangsa di dunia ditemukan begitu banyak karya dalam berbagai genre yang menunjukkan kesamaan-kesamaan. Kadang-kadang, kesamaan itu amat mengagetkan karena bukan saja menyangkut unsur-unsur tertentu di dalam teks, melainkan juga wujud teks secara keseluruhan. Dengan demikian, adanya kesamaan, baik tema maupun unsur-unsur lainya, tidaklah harus selalu ditafsirkan sebagai hasil pengaruh-mempengaruhi dari karya yang satu ke karya yang lain, tetapi boleh jadi lebih dilantarankan oleh kesamaan situasi sosial politik dan tradisi yang dihadapi masing-masing pengarang yang secara kebetulan pula dapat melahirkan satu gagasan yang sama. Jadi, bagaimanapun, pengarang sebagai bagian daripada anggota masyarakat, sering pula memiliki persepsi yang sama dalam memandang kehidupan sosial masyarakatnya.
Dengan cara ini pula, kita dapat menempatkan karya yang bersangkutan dalam konteks sosial budaya yang melahirkannya. Lebih jauh lagi adanya kesamaan universal ini juga, sedikitnya akan memberikan sumbangan berarti bagi kritik sastra. Sebagaimana pernah dilontarkan oleh Prof. A. Teeuw dalam ceramahnya di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (23 September 1989), Bermain dengan cerpen (Maman S Mahayana 2006 : 275).

Konsep sastra bandingan mengacu pada dua hal. Pertama, sastra bandingan mengkaji perbandingan antara karya sastra pengarang satu dengan pengarang lain yang hidup di dua negara yang berbeda. Kedua, sastra bandingan mengkaji perbandingan antara karya sastra dengan karya seni lain, seperti seni lukis, seni musik, lisan dan seni yang lainnya. Bahkan pada konsep kedua ini, sastra dapat diperbandingkan dengan bidang ilmu dan kepercayaan yang lain atau di luar sastra (Hosillos, 2001:28). Konsep kedua inilah yang digunakan dalm kajian penelitian ini.

Dalam tulisan ini, akan dilakukan kajian bandingan antara novel San Pek Eng Tay karya Zhang Du dari Tiongkok Cina dan cerita lisan dari Jawa Tengah Roro Mendut. Keduanya dipilih sebagai objek bandingan, karena keduanya mempersoalkan persoalan “cinta dengan tragedi atau tragedi cinta”. Meski demikian, keduanya memiliki perbedaan-perbedaan. Dalam tulisan ini persamaan atau kemiripan dan perbedaan keduanya akan diungkapkan.

2.      Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang akan dibahas pada makalah ini adalah sebagai berikut:
1.    Bagaimana sinopsis novel San Pek Eng Tay karya Zhang Dhu?
2.    Bagaimana cerita lisan Roro Mendut dari Jawa Tengah?
3.    Analisis persamaan dan perbedaan novel san pek eng tay dengan cerita lisan roro mendut?

3.      Tujuan Pembahasan

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan pembahasan dalam tulisan ini adalah sebagai berikut:

1.    Mendeskripsikan sinopsis novel San Pek Eng Tay karya Zhang Dhu dari Tiongkok Cina
2.    Mendreskripsikan cerita lisan Roro Mendut dari Jawa Tengah
3.    Mendeskripsikan persamaan dan perbedaan antara novel San Pek Eng Tay dengan cerita lisan Roro Mendut
B.     PEMBAHASAN
Sinopsis Novel San pek Eng Ta Pada jaman dahulu kala di negeri Cina tepatnya di propinsi Zhejiang hiduplah keluarga Zhu. Mereka termasuk keluarga kaya dan terpandang di daerah tersebut. Keluarga Zhu mempunyai seorang putri yang sangat cantik bernama Cuk Eng Tay. Sebagai anak perempuan, Eng Tay tidak boleh sering keluar rumah. Hal itu selalu membuatnya bosan. Dia ingin sekali pergi bersekolah seperti anak laki-laki. Berulang kali Eng Tay membujuk ayahnya untuk mengijinkannya pergi sekolah, namun ayahnya selalu menolak dengan tegas. Suatu hari dia mendapat sebuah ide. Eng Tay mengurung diri di kamar dan berpura-pura sakit. Tuan Zhu yang khawatir dengan kesehatan putri tunggalnya menyetujui usul Lin Ce pengasuh putrinya untuk memanggil seorang peramal.
“Tuan saya sarankan anda untuk mengirim putri anda ke sekolah di luar maka dian akan sembuh,” kata si peramal.
“Apa ? tidak mungkin aku mengirim anak perempuanku bersekolah. Tak ada gadis pun di sana!” kata Tuan Zhu gusar. Tiba-tiba peramal itu menyingkap tutup kepala dan jubahnya. Tuan Zhu terkejut karena peramal itu tidak lain adalah Eng Tay.
"Ayah, kalo aku berpakaian seperti laki-laki, bolehkah aku pergi ke sekolah? Tidak akan ada yang menyangka bahwa aku seorang gadis," bujuk Eng Tay.
Akhirnya dengan berat hati Tuan zhu mengijinkan Eng Tay untuk pergi bersekolah. Pada hari yang ditentukan dengan ditemani Lin Ce yang setia, Eng Tay berangkat ke sekolah Sung Yee. Tentu saja dengan menyamar sebagai laki-laki. Di tengah perjalanan Eng Tay bertemu dengan seorang pemuda yang juga akan pergi ke Sung Yee. Mereka pun berkenalan dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan bersama-sama. Pemuda itu bernama Liang San Pek dan berasal dari Guiji. Mereka pun menjadi akrab dan berjanji untuk saling menjaga. San Pek menganggap Eng Tay sebagai adik dan demikian sebaliknya Eng Tay menganggap San Pek sebagai kakak.
Di sekolah Eng Tay belajar dengan giat. Dia sangat bersemangat, apalagi kini dia semakin akrab dengan San Pek sehingga hari-harinya tidak lagi membosankan. Karena Eng Tay gadis yang cerdik, tidak seorang pun mencurigai penyamarannya. Maka San Pek pun memperlakukan Eng Tay sebagai adik laki-laki. Padahal Eng Tay ternyata mulai menaruh hati pada San Pek. Tidak terasa bertahun-tahun eng Tay menghabiskan harinya di Sung Yee. Selama itu tidak pernah sekali pun pulang menengok ayahnya. Hanya Lince yang pulang pergi membawa kabar dari Eng Tay dan ayahnya. Suatu hari Lin Ce membawa surat dari rumah yang mengabarkan bahwa ayahnya sakit keras dan menyuruhnya pulang. Eng Tay bimbang, dia sangat ingin pulang menengok ayahnya namun dia juga takut sekembalinya ke rumah dia tidak bisa kembali ke sekolah. Itu artinya Eng Tay tidak bisa bertemu lagi dengan San pek. Kapada Lin Ce memutuskan untuk meminta nasehat kepada guru Eng Tay. Eng Tay berterus terang bahwa dia adalah seorang gadis yang menyamar agar bisa sekolah. Untunglah beliau tidak marah. Eng Tay menitipkan sebuah bandulan kipas kepada guru untuk diberikan San Pek
Dengan berat hati San Pek mengantar kepergian Eng Tay. Sebelum berpisah Eng Tay mencoba memberi isyarat kepada Sam Pek bahwa dia adalah seorang gadis, namun San Pek tidak mengerti arti isyarat Eng Tay. Akhirnya Eng Tay menyerah dan berkata bahwa dia akan menjodohkan San Pek dengan adiknya, maka San Pek harus datang menemuinya dan melamarnya.
Setelah ditinggal Eng Tay, San Pek merasa kesepian. Akhirnya dia meminta ijin gurunya untuk menjenguk Eng Tay. Guru Sun Yee lalu memberikan bandulan kipas dari Eng Tay kepada San Pek dan memberitahukannya bahwa Eng Tay sebenarnya adalah seorang gadis. San Pek terkejut mendengarnya. Akhirnya dia mengerti bahwa sebenarnya Eng Tay ingin agar San Pek melamar Eng Tay dan bukan adiknya. Dengan hati berbunga-bunga San Pek pun berpamitan dan langsung memacu kudanya ke rumah Eng Tay.
Sementara itu Tuan Zhu bermaksud menjodohkan Eng Tay dengan anak keluarga kaya dan berkuasa bernama Ma Wencai. Tentu saja Eng Tay menolaknya dan berterus terang bahwa dia sudah memiliki seorang kekasih yang akan segera melamarnya. Tuan Zhu sangat marah mendengarnya. Dia tetap memaksa Eng Tay untuk menerima lamaran Ma Wencai dan mengancam akan mencelakakan San Pek jika Eng Tay berani menolaknya. Maka Eng Tay pun hanya bisa menangis sedih mendengar keputusan ayahnya.
Beberapa hari kemudian San Pek sampai di rumah Eng Tay. Setelah memohon pada ayahnya, akhirnya Eng Tay bisa menemui San Pek. Mereka sangat bahagia bisa bertemu lagi. Namun Eng Tay juga bersedih karena ini adalah terakhir kalinya dia bisa menemui San Pek. Ketika San Pek mengutarakan niatnya untuk mempersunting Eng Tay, Eng Tay pun tak kuasa menahan air matanya.

"Kenapa kau kelihatan menangis, adik Eng Tay? Apakah kau tidak suka aku melamarmu?" tanya San Pek. "Aku bahagia kakak San Pek. Tapi... ayahku telah menjodohkanku dengan pria lain dan aku tidak bisa menolaknya. Maafkan aku kakak!" tangis Eng Tay.

San Pek sangat marah mendengarnya. Dia pikir Eng Tay sudah melupakannya dan tidak ingin menjadi istrinya.

"Jadi kau lebih memilih menjadi istri orang kaya itu daripada aku yang miskin?" kata San Pek dengan marah. "Bukan begitu kakak San Pek, ini adalah keinginan ayah dan aku tidak kuasa menolaknya. Mengertilah kakak! Meski aku harus menikah dengan orang lain, cintaku hanya untuk kakak seorang," isak Eng Tay.

San Pek tidak mau mendengar perkataan Eng Tay, dengan sedih dia memacu kudanya pulang ke rumahnya. San Pek kehilangan semangat hidupnya. Maka dia pun menghabiskan waktunya dengan minum banyak arak hingga lupa makan, lupa tidur. Akhirnya San Pek pun jatuh sakit. Semakin hari sakitnya semakin parah. San Pek pun tidak mau berobat. Baginya hidup sudah tidak berarti lagi.

Ibu Eng Tay sangat sedih melihat keadaan putranya. Maka dengan berlinang air mata dia pergi ke rumah Eng Tay dan memohon kepada Tuan Zhu supaya mengijinkan Eng Tay menemui San Pek untuk terakhir kalinya. Namun Tuan Zhu menolaknya. Dengan hati sedih Eng Tay hanya bisa menitipkan sebuah bingkisan berisi puisi-puisi cinta dan segumpal rambutnya.

San Pek semakin sedih dan semakin tidak bergairah untuk sembuh. Suatu hari ketika sakitnya semakin parah, dia berpesan kepada ibunya bahwa jika ia meninggal dia ingin dikuburkan di jalan yang akan dilalui oleh iring-iringan pengantin Eng Tay. Beberapa saat kemudian San Pek pun menghembuskan nafas terakhirnya. Eng Tay pun berduka mendengar kematian kekasihnya. Dia menangis sepanjang hari dan meratapi nasib yang tidak menyatukannya dengan kekasih yang dicintainya. Tuan Zhu sangat khawatir melihat keadaan putrinya, maka dia meminta supaya tanggal pernikahan putrinya dipercepat.

Eng Tay lalu memohon kepada ayahnya supaya diijinkan untuk turun sebentar dari tandu pengantin dan mengunjungi makam San Pek untuk memberi penghormatan terakhir. Meski tidak setuju tapi akhirnya Tuan Zhu dan keluarga Ma memberi ijin.

Maka ketika iringan pengantin Eng Tay tiba di makam San Pek. Eng Tay turun dari tandu dan berlutut di makam kekasihnya. Dengan menangis sedih dia berkata: "Kakak San Pek percayalah bahwa cintaku hanya untukmu. Aku tidak ingin menikah dengan orang lain. Jika kakak mendengarku, bawalah aku pergi bersama kakak!" Mendadak angin bertiup sangat kencang dan hujan pun turun dengan derasnya. Di tengah suara petir yang menggelegar tiba-tiba makam San Pek terbelah dua dan muncullah lubang menganga di depan Eng Tay. Tanpa pikir panjang Eng Tay pun terjun ke dalam lubang tersebut tanpa sempat dicegah oleh para pengiringnya. Kemudian makam tersebut kembali menutup dan Eng Tay pun menghilang.

Suasana kembali cerah seperti tidak pernah ada kejadian apapun. Tinggallah para pengiring yang masih terkejut dengan kejadian tersebut. Hanya Lin Ce yang menangis meratapi kepergian majikannya. Tiba-tiba dari balik makam, muncullah sepasang kupu-kupu yang cantik. Mereka berputar-putar sebentar di kepala Lin Ce sebelum akhirnya terbang jauh dengan gembira. Lin Ce yakin bahwa kupu-kupu itu adalah penjelmaan roh majikannya yang telah bersatu dengan kekasihnya.

2.Cerita Lisan Roro Mendut

Alkisah di pantai utara kadipaten Pati, hiduplah seorang gadis yang sangat cantik jelita. Ia bernama Roro Mendut. Ia adalah putri seorang nelayan. Kecantikan Roro Mendut sangat tersohor, hingga beritanya sampai kepada Adipati Pragolo II, penguasa Kadipaten Pati. Adipati Pragolo penasaran dan ingin melihat Roro Mendut. Ternyata benar. Roro Mendut luar biasa cantiknya. Adipati Pragolo pun langsung terpesona.

Adipati Pragolo melamar Roro Mendut untuk di jadikan selir. Namun Roro Mendut menolak. Adipati Pragolo tidak menyerah. Berulang kali ia melamar Roro Mendut. Roro Mendut tetap menolak dan mengatakan bahwa ia sudah punya kekasih, yaitu Pranacitra, pemuda desa yang tampan, anak seorang saudagar kaya raya. Adipati Pragolo marah. Maka ia pun menyuruh pengawalnya untuk menculik Roro Mendut.

Suatu siang, saat Roro Mendut sedang menjemur ikan, tiba-tiba ia diseret paksa oleh dua orang pengawal kadipaten. Ia dinaikkan ke kuda dan di bawa ke kadipaten. Karena tetap tidak mau di jadikan selir, maka ia pun di pingit di dalam kadipaten.

Saat itu Kadipaten Pati berada di bawah kekuasaan kerajaan Mataram yang dipimpin oleh Sultan Agung. Karena Kadipaten Pati tidak membayar upeti, maka Sultan Agung memerintah panglima perangnya, yaitu  Tumenggung Wiraguna, untuk menyerang kadipaten Pati. Kadipaten Pati yang tidak siap siaga menjadi kalang kabut dan akhirnya kalah. Tumenggung Wiraguna pun dibunuh oleh Adipati Pragolo dengan menggunakan senjata Baru Klinthing. Maka seluruh kekayaan beserta orang-orang di Kadipaten pati diboyong ke Mataram.

Saat itulah Tumenggung Wiraguna melihat Roro Mendut. Ia terpesona dan langsung melamarnya untuk di jadikan selir. Roro Mendut menolak dan mengatakan bahwa ia sudah punya kekasih. Tumenggung Wiraguna marah. Sebagai hukuman, ia mengharuskan Roro Mendut untuk membayar upeti. Roro Mendut mencari cara untuk memperoleh uang, guna membayar upeti. Maka ia pun meminta ijin untuk berjualan rokok di pasar. Karena kecantikannya yang luar biasa, maka dagangannya pun laris manis. Bahkan putung hasil isapannya pun laris terjual dengan harga mahal.

Suatu hari Roro Mendut bertemu Pranacitra yang selalu mencarinya. Mereka pun berencana untuk melarikan diri. Sesampainya di kerajaan, Roro Mendut pun menceritakan ihwal pertemuannya dengan Pranacitra dan rencana mereka untuk melarikan diri dari kerajaan Mataram, kepada dua orang selir Tumenggung Wiraguna yang tidak setuju Tumenggung menambah selir lagi.

Dibantu oleh dua orang selir tersebut, Roro Mendut berhasil melarikan diri bersama Pranacitra. Namun sayang, usaha mereka diketahui oleh pengawal kerajaan. Maka Roro Mendutpun dibawa pulang ke kerajaan. Sementara itu, tanpa sepengetahuan Roro Mendut, Pranacitra dibunuh, dengan harapan Roro Mendut mau menikah dengan Tumenggung Wiraguna.

Tumenggung Wiraguna kembali mendesak Roro Mendut agar mau jadi selirnya.

“Tidak. Saya sudah punya calon suami” Kata Roro Mendut.

“Percuma kamu mengharapkan laki-laki itu. Dia sudah mati.” Kata Tumenggung Wiraguna.

“Tidak mungkin. Saya baru saja bertemu dia.” Timpal Roro Mendut.“Kalau tidak percaya, ayo, kuantar ke makamnya.” Kata Tumenggung Wiraguna. Melihat makam itu, Roro Mendut menjerit histeris. “Sudahlah, tidak ada gunanya meratapi orang yang sudah mati.” Kata Tumenggung Wiraguna.

Maka Roro Mendut ditarik paksa agar kembali ke kerajaan. Roro Mendut meronta-ronta. Dan saat tangannya terlepas dari genggaman Tumenggung Wiraguna, secepat kilat ia menyambar keris milik Tumenggung Wiraguna dan segera berlari ke makam Pranacitra.

“Jangan Roro Mendut!” Tumenggung Wiraguna berusaha menyusul untuk menghentikan Roro Mendut. Tetapi terlambat. Roro Mendut telah menancapkan keris itu ke tubuhnya, dan ia pun roboh di atas makam Pranacitra. Tumenggung Wiraguna sangat menyesal. Seandainya ia tidak memaksa Roro Mendut menjadi selirnya, tentu ia tak akan bunuh diri. Sebagai ungkapan penyesalannya, maka ia pun memakamkan Roro Mendut satu liang dengan Pranacitra.

1.      Analisis Persamaan dan Perbedaan Novel San Pek Eng Tay karya Karya Zhang Du  dengan cerita lisan Roro Mendut


Ø  Persamaan Tema
Teks Sastra Novel San Pek Eng Tay
            Teks Sastra Lisan Roro Mendut
CINTA DAN WANITA
Eng Tay berdiri di sisi ayahnya. Mendengar keteranganayahnya itu, ia terkesima. Ia berdiri terpaku, tubuhnyaseakan-akan tertikam beberapa golok tajam. Wajahnya,dari merah menjadi pucat pasi. Walaupun demikian, ia berhati keras dan kuat. Maka juga, sebelum ayahnyaselesai bicara, ia memotong. (halaman, 183)
Ia tak dapat membuka rahasia hatinya.Hingga akhirnya, ia berkata: “Urusan jodoh ini, aku tidaksetuju — seribu kali tidak setuju, selaksa kali tidaksetuju!”Setelah berkata demikian, Eng Tay berdiri tegak, keduatangannya dan sepuluh jarinya terlipat menjadi satu, dandiletakkan di depan dadanya. (halaman, 185)
“Kamu meminta izin Papa dan mama? Bagus!” kataayahnya. “Bagus, tapi aku tidak mengizinkan kamu menikah dengan Nio San Pek! Satu kali tidak mengizinkan, seribu kali juga tidak!” (halaman, 188)
CINTA DAN WANITA

Suatu hari Roro Mendut bertemu Pranacitra yang selalu mencarinya. Mereka pun berencana untuk melarikan diri. Sesampainya di kerajaan, Roro Mendut pun menceritakan ihwal pertemuannya dengan Pranacitra dan rencana mereka untuk melarikan diri dari kerajaan Mataram, kepada dua orang selir Tumenggung Wiraguna yang tidak setuju Tumenggung menambah selir lagi.

Analisis:
Tema merupakan dasar cerita atau gagasan umum dari sebuah novel (Nurgiyantoro, 2009: 70). 
Kutipan tersebut menunjukkan adanya  persamaan tema antara teks sastra tulis novel “San Pek Eng Tay” Karya Zhang Du dengan sastra lisan Roro Mendut. Kedua cerita ini sama-sama bertema wanita dan cinta.

Ø  Persamaan  Kematian yang Tragis Akibat Pertaruhan Cinta
Teks sastra Tulis Novel San Pek Eng tay
Teks Sastra Lisan Roro Mendut
Eng Tay menjadi girang tiada-kepalang. Ia segera berteriak: “Kakak San Pek, lekas buka pintu, Adikmu sudah datang!”
Hebat teriakan gadis itu. Suaranya bagaikan menggetarkan bumi. Dan, luar biasa, segera terjadilah keajaiban: Tanah kuburan itu merekah, dengan memperdengarkan suara nyaring; terbuka lebar-lebar, seperti dua daun pintu yang dibentang.
Dari liang lahat terlihat cahaya terang api lilin. Tanah bongkaran itu bertumpuk di kedua sisi.Menyaksikan hal itu, Eng Tay menjerit lagi: “Kakak San
Pek, Adikmu, datang…!”
Menyusul ucapannya itu, tubuh gadis itu bergerak,
melompat, masuk ke dalam liang kubur…. (Halaman, 310)
Roro Mendut telah menancapkan keris itu ke tubuhnya, dan ia pun roboh di atas makam Pranacitra.

Analisis :
            Kutipan tersebut menunjukkan ada persamaan teks sastra tulis novel “San Pek Eng Tay” Karya Zhang Du dengan sastra lisan Roro Mendut yakni Konflik yang menggerakkan kedua cerita adalah nasib San Pek-Eng Tay dan Roro Mendut-Pranacitra memang sama-sama naas dan penuh dengan romantisme, kedua pasangan tersebut mengalami kematian yang tragis akibat pertaruhan cinta.
Ø  Persamaan Tokoh
Teks Sastra Tulis Novel San Pek eng Tay
Teks Sastra Lisan Roro Mendut
aku ingin minta agar Papa dan Mama mengizinkan aku sekolah di bawah pimpinan pak guru Ciu itu. Nah, bagaimana pendapat Papa dan Mama?” (halaman, 7)
Oh, anakku, andaikata pun papa mu mengizinkan, di sana kau pasti akan membentur tembok penghalang, kau akan pulang sia-sia saja! Maka dari itu, Nak, ku anggap katakata mu itu sebagai igauan!”
Heran Eng Tay mendengar kata-kata ayahnya itu.“Pa, kata-kata Papa membuatku agak kurang paham,”katanya. “Apakah sudah pasti bahwa di antara tiga ribumurid Nabi Khong tidak seorang pun wanita? Atau, apakah tak ada wanita yang menyamar sebagai laki-laki di sana? Maka dari itu, bila aku sekolah di Hang-ciu, aku akanmenyamar sebagai laki-laki! Tentang hal ini, harap Papatidak usah khawatir….” (halaman, 7-8)
“Pa, ini adalah urusan hidupku seumur hidup, mengapa papa tidak terlebih dulu memberitahu aku? Ma, Mama juga tahu tabiatku, mengapa Mama juga mendustaiku?”
Berulang kali ia melamar Roro Mendut. Roro Mendut tetap menolak dan mengatakan bahwa ia sudah punya kekasih, yaitu Pranacitra, pemuda desa yang tampan, anak seorang saudagar kaya raya.

Analisis: Penokohan dalam novel adalah unsur yang sama pentingnya dengan unsur-unsur yang lain. Penokohan adalah teknik bagaimana pengarang menampilkan tokoh-tokoh dalam cerita sehingga dapat diketahui karakter atau sifat para tokoh (Siswandarti, 2009: 44). \
Kutipan di atas menunnjukkan adanya persamaan dari segi totoh. Kedua tokoh wanita pada cerita ini sama-sama mengalami masa sulit dalam hidupnya dengan akhir sebuah kematian. Tokoh Roro Mendut adalah tokoh masyarakat yang mempertahankan nilai harga diri dan kekuatannya sebagai seorang wanita yaitu keperawanan, keibuan, jodoh, dan emansipasi wanita. Begitu pula tokoh Eng Tay pada novel San Pek Eng Tay, tokoh Eng Tay melawan hakikatnya sebagai seorang wanita demi keinginannya untuk bersekolah, serta menentang perjodohan yang dilakukan oleh ayahnya padahal Eng Tay telah memiliki kekasih yaitu Sampek yang keadaan sosial mereka berbeda.
Ø  Persamaan Amanat
Teks Sastra Tulis Novel San Pek eng Tay
Teks Sastra Lisan Roro Mendut
“Non, aku hanya mengikutimu saja. Ke mana Nona pergi, ke sana aku turut juga! “Itu aku sudah tahu. Aku tanya tentang perasaan hatimu sendiri!” “Saya sudah mengambil keputusan seperti Nona. Sayaak mau menikah!”
“Itu baru separuh bunyi hatimu,” kata nona majikannya itu. “Baiklah, yang sebagian lagi aku yang katakan padamu. Aku ingin menyerahkan kau pada Su Kiu supaya kalian dapat hidup bersama seratus tahun….”

“Tidak. Saya sudah punya calon suami” Kata Roro Mendut.

“Percuma kamu mengharapkan laki-laki itu. Dia sudah mati.” Kata Tumenggung Wiraguna.

“Tidak mungkin. Saya baru saja bertemu dia.” Timpal Roro Mendut.


Analisis: Amanat atau nilai moral merupakan unsur isi dalam karya fiksi yang mengacu pada nilai-nilai, sikap, tingkah laku, dan sopan santun pergaulan yang dihadirkan pengarang melalui tokoh-tokoh di dalamnya (Kenny, 1966: 89 via Nurgiyantoro, 2009: 321).
Kutipan di atas menunjukkan persamaan amanat. kedua cerita ini menyampaikan pesan kepada pembaca bahwa kita boleh berkomitmen, tapi jangan sampai termakan oleh komitmen itu sendiri. Seperti cinta yang mengikat, cinta pula yang memisahkan. Seperti kesia-siaan. Namun cinta telah menyatukan mereka dalam satu nafas, kehidupan dan kematian. Sedangkan kekuasaan memang selalu menyiratkan kekuataan senjata dan darah, lalu melupakan nilai-nilai kemanusiaan tentang cinta dan kasih sayang.

Ø  Perbedaan Latar
Teks Sastra Tulis Novel San Pek eng Tay
Teks Sastra Lisan Roro Mendut
Santapan San Pek dan Eng Tay selalu disiapkan oleh Su Kiu dan Gin Sim. Sesudah bersantap, mereka menuju ruang kuliah.(halaman, 74).


Alkisah di pantai utara kadipaten Pati, hiduplah seorang gadis yang sangat cantik jelita. Ia bernama Roro Mendut. Ia adalah putri seorang nelayan. Kecantikan Roro Mendut sangat tersohor, hingga beritanya sampai kepada Adipati Pragolo II, penguasa Kadipaten Pati. Adipati Pragolo penasaran dan ingin melihat Roro Mendut.

Analisis: Latar menurut Abrams (1981:175 via Nurgiantoro, 2009: 216)  adalah landasan atau tumpuan yang memiliki pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan. 
Kutipan di atas menunjukkan adanya perbedaan latar. Latar cerita Roro Mendut sebagian besar adalah daerah Pathi pada masa kerajaan Mataram dan di alun-alun Mataram Istana Karta, tepatnya di tengah pasar rakyat, tempat dimana tokoh Mendut berjualan rokok dan menemukan kekasihnya Pronocitro. Sedangkan latar pada cerita San Pek Eng Tay lebih banyak mengambil latar pada sekolah Sung Yee dimana tokoh Eng Tay bertemu dengan tokoh Sampek. Latar dimaksudkan untuk mengidentifikasi situasi yang tergambar dalam cerita. Keberadaan elemen latar pada hakikatnya tidaklah hanya sekedar menyatakan di mana, kapan, dan bagaimana situasi peristiwa berlangsung, melainkan keterkaitan dengan gambaran tradisi, karakter, perilaku sosial dan pandangan masyarakat pada waktu cerita ditulis.
Ø  Perbedaan Akhir hayat (Kematian)
Teks sastra Tulis Novel San Pek Eng tay
Teks Sastra Lisan Roro Mendut
Hebat teriakan gadis itu. Suaranya bagaikan menggetarkan bumi. Dan, luar biasa, segera terjadilah keajaiban: Tanah kuburan itu merekah, dengan memperdengarkan suara nyaring; terbuka lebar-lebar, seperti dua daun pintu yang dibentang.
Dari liang lahat terlihat cahaya terang api lilin. Tanah bongkaran itu bertumpuk di kedua sisi.Menyaksikan hal itu, Eng Tay menjerit lagi: “Kakak San Pek, Adikmu, datang…!” Menyusul ucapannya itu, tubuh gadis itu bergerak, melompat, masuk ke dalam liang kubur….
Roro Mendut telah menancapkan keris itu ke tubuhnya, dan ia pun roboh di atas makam Pranacitra.

Analisis: Kutipan di atas menunjukkan perbedaan kematian. Kematian San pek-Eng Tay dilatar belakangi oleh keadaan sosial yang terjadi, konflik Eng Tay dan Ayahnya yang menjodohkan Eng Tay dengan pemuda anak keluarga kaya ini membuat Sampek frustasi sampai akhirnya ajal menjeputnya. Eng Tay yang sangat sedih pergi ke makam San Pek, dan mengutaran perasaanya. Kuburan San Pek pun terbuka, tanpa pikir panjang Eng Tay pun terjun ke dalam lubang tersebut tanpa sempat dicegah. Kemudian makam tersebut kembali menutup dan Eng Tay pun menghilang. Lain halnya dengan kematian yang dialami oleh Roro Mendut-Pronocitro lebih  disebabkan oleh konflik pribadinya dengan Tumenggung Wiroguno yang membawa-bawa politik dan kekuasaan. Karena itu, cara mereka mati pun sungguh berbeda, San Pek-Eng Tay mati karena hati mereka yang merana akibat cinta yang tak mendapat restu karena status sosial yang berbeda, sedangkan Roro Mendut dan Pronocitro tewas tertusuk keris, akibat kekejaman orang yang tidak menyukai hubungan cinta di antara keduanya.

C.    PENUTUP
1.      Simpulan
      Terlepas dari itu semua, kiranya menarik untuk disinggung ihwal konflik yang menggerakkan kedua cerita. Nasib San Pek-Eng Tay dan Roro Mendut-Pranacitra memang sama-sama naas, kedua pasangan tersebut mengalami kematian yang tragis akibat pertaruhan cinta. Namun, jika kematian San Pek-Eng Tay dilatarbelakangi oleh keadaan sosial yang terjadi, konflik Eng Tay dan Ayahnya yang menjodohkan Eng Tay dengan pemuda anak keluarga kaya ini membuat Sampek frustasi sampai akhirnya ajal menjeputnya, kematian Roro Mendut-Pranacitra lebih  disebabkan oleh konflik pribadinya dengan Tumenggung Wiroguno yang membawa-bawa politik dan kekuasaan. Karena itu, cara mereka mati pun sungguh berbeda, San Pek-Eng Tay mati semata-mata karena hati mereka yang merana, sedangkan Roro Mendut dan Pranacitra tewas akibat kekejaman orang yang tidak menyukai hubungan cinta di antara keduanya.

Telaah bandingan karya sastra dalam konteks pemahaman kebudayaan lintas bangsa amat penting dewasa ini. Lewat telaah semacam itu, dapat dipahami berbagai aspek kebudayaan setiap bangsa baik yang tersurat maupun tersirat di dalamnya. Telaah sederhana ini cukup membuktikan hal itu. Memang, mengingat karya sastra yang serupa dengan cerita lisan Roro Mendut bukan hanya San Pek Eng Tay, sebetulnya akan lebih baik jika telaah ini melibatkan pula karya lainnya.



Samsuni.2014. Roro Mendut, (online) (Cerita rakyat nusantara.com/id/folklore/304-kisah rara mendut) diakses tanggal 1 April 2016.
Teeuw,A.1988.Sastra dan Ilmu Sastra.Jakarta:Gramedia.


0 komentar:

Posting Komentar

 

Rhifaery's Room Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang