Selasa, 24 Mei 2016

Perbandingan Teks Sastra Ayah Karya Andrea Hirata Dengan Ilmu Sosial


Perbandingan Teks Sastra Ayah  Karya Andrea Hirata Dengan Ilmu Sosial
Oleh: Arina Sadiamu
 


A. PENDAHULUAN
1.       Latar Belakang
Karya sastra lahir akibat adanya proses kreatif seorang pengarang dalam menanggapi keadaan di sekitarnya. Oleh karena itu, karya sastra terkadang dapat mewakili kehidupan yang nyata. Adapun salah satu definisi sastra menurut Wellek dan Warren via Wiyatmi (2006: 14) karya sastra merupakan karya imajinatif. Sedangkan Atar Semi (1993:8) mengemukakan bahwa sebagai karya kreatif, sastra harus mampu melahirkan suatu kreasi yang indah dan berusaha menyalurkan kebutuhan keindahan manusia, di samping itu sastra harus mampu menjadi wadah penyampaian ide-ide yang dipikirkan dan dirasakan oleh sastrawan tentang kehidupan umat manusia.
Aliran sastra bandingan terbagi ke dalam aliran Prancis dan aliran Amerika.Kedua aliran sepakat bahwa sastra bandingan merupakan kajian sastra di luar batas sebuah negara.Akan tetapi, Aliran Prancis menganggap bahwa hubugan sastra dengan disiplin lain bukanlah sastra bandingan,melainkan seni bandingan.
Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak pernah terlepas dari kehidupan sosial, sebuah kehidupan sosial akan membentuk suatu perkumpulan yang disebut masyarakat.
Adapun kesengajaan kami menganalisis novel ini berdasarkan ilmu sosial yang terkandung di dalamnya adalah untuk membantu membandingkan karya sastra tersebut dengan nilai-nilai sosial yang sangat penting untuk kita ketahui.
Berdasarkan latar belakang di atas maka makalah ini kami beri judul “PerbandinganNovel ayahkarya andrea hirata dengan ilmu sosiologi” .
2.   Rumusan masalah
1. Bagaimana perbandingan  novel Ayah karya Andrea Hirata dengan Ilmu Sosiologi?
3.   Tujuan Penulisan
1. Untukmembandingkan  novel Ayah karya Andrea Hirata dengan Ilmu Sosiologi?
B.     LANDASAN TEORI
1.   Pengertian Sastra Perbandingan
            Sastra bandingan yaitu (1) penelitian sastra lisan terutama cerita rakyat dan penyebarannya; (2) penyelidikan mengenai hubungan antara dua atau lebih karya sastra, yang menjadi bahan dan objek penyelidikannya, diantaranya, soal reputasi dan penetrasi, pengaruh dan kemasyuran karya besar; (3) penelitian sastra dalam keseluruhan sastra dunia, sastra umum, dan sastra universal (Rene Wellek dan Austin Warren, 1995: 47 – 49).
            Sedangkan menurut Damono (2005:1; 2009:1), sastra bandingan adalah suatu pendekatan dalam ilmu sastra yang tidak dapat menghasilkan teori sendiri. Bisa dikatakan, teori apapun dapat dimanfaatkan dalam penelitian sastra bandingan, sesuai dengan objek dan tujuan penelitian. Jadi, secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa sastra bandingan adalah kegiatan membandingkan dua karya sastra atau lebih yang memiliki persamaan dan perbedaan dalam hal unsur-unsur yang dikandungnya.
            Jadi, yang dimaksud dengan sastra perbandingan adalah wilayah keilmuwan sastra yang mempelajari keterkaitan antar sastra dan perbandingan sastra dengan bidang yang lain. Penelitian sastra perbandingan berperspektif interdisipliner tidak menelaah karya-karya sastra semata, melainkan juga hubungan isi karya sastra dengan bidang ilmu yang lain.
2.   Pengertian Sosiologi
            Secara etimologis sosiologi berasal dari kata socious dan logos. Socious dari bahasa Latin yang artinya teman, sedangkan logos dari bahasa Yunani yang artinya kata, perkataan, atau pembicaraan. Arti harfiah sosiologi adalah membicarakan teman pergaulan. Pengertian tersebut diperluas menjadi ilmu pengetahuan tentang pergaulan hidup manusia atau masyarakat. (Ary H.Gunawan, 2000:3).
Sosiologi adalah ilmu objektf kategoris, membatasi diri pada apa yang terjadi dewasa ini (das sain) bukan apa yang seharusnya terjadi (das solen). Sebaliknya karya sastra bersifat evaluatif, subjektif, dan imajinatif. sosiologi sastra tidak terlepas dari manusia dan masyarakat yang bertumpu pada karya sastra sebagai objek yang dibicarakan.C. C.PEMBAHASAN
  1. Deskripsi Novel “AYAH”
Sebagai sebuah novel yang kental dengan nilai sosial, novel “Ayah sangat cocok didekati dengan pendekatan ilmu sosiologi.
Tuntutan terbesar dalam analisis sosilologi adalah pendekatan terhadap pengarang, namun karena pengarang berada di tempat yang jauh maka kami cukup mendekati novel ini dengan karya sastra itu sendiri dan kehidupan di masyarakat saja. Hal yang kami lakukan bukanlah hal yang salah karena kami berlandaskan kepada beberapa pendapat para tokoh lainnya termasuk dalam hal ini yaitu Endraswara (2003: 79) dalam bukunya Metodologi Pengajaran Sastra, memberi pengertian bahwa sosiologi sastra adalah penelitian yang terfokus pada masalah manusia karena sastra sering mengungkapkan perjuangan umat manusia dalam menentukan masa depannya, berdasarkan imajinasi, perasaan, dan intuisi.
Menurut struktur pembangun karya sastra itu sendiri, kami akan menjelaskan masalah-masalah sosial yang tampak pada novel itu. Dalam novel tersebut tampak jelas permasalahan-permasalahan yang ada dalam kehidupan sosial yaitu masalah status sosial, masalah konflik, masalah komunikasi, dan masalah penyeleseian konflik. Masalah tersebut adalah hal pokok dalam kehidupan sosial.
  1. Persamaan Teks Sastra Novel “AYAH” Karya Andrea Hirata dengan Ilmu Sosiologi
Perbedaan
No.
Novel “AYAH”
Ilmu Sosial
1.
“ Dan, menikahlah Marlena dengan Manikamhiduplah zorro dengan dua saudara tiri yang terus-menerus memusuhinya”.(hal 240).
Menurut Magnis dan Suseno, etika adalah keseluruhan norma dan penilaian yang dipergunakan oleh masyarakat yang bersangkutan untuk mengetahui bagaimana manusia seharusnya menjalankan kehidupannya.
ANALISIS: Menurut Magnis dan Suseno, etika adalah keseluruhan norma dan penilaian yang dipergunakan oleh masyarakat yang bersangkutan untuk mengetahui bagaimana manusia seharusnya menjalankan kehidupannya.
2.
“Hampir setahun Marlena hidup berdua saja dengan Zorro sebagai istilah popular masa kini – singgle mother, lena gembira karena semakin dekat dengan Zorro yang telah berusia 5 tahun, semakin cerdas dan semakin tampan” (hal 247)
Menurut Soerjono Soekanto, pengertian kelas sosial hampir sama dengan lapisan sosial tanpa membedakan apakah berdasarkan faktor uang, tanah, atau kekuasaan.
ANALISIS:  dari kutipan teks novel di atas terdapat perbedaan pendapat yang dipaparkan oleh Soerjono Soekamto bahwa kelas sosial tidak membedakan status sosial yaitu dengan sebutan Singgle Mother, pada dasarnya seorang manusia lahir dari kedua orang tua dan selamanya akan menjadi orang tua,  ditinjau dari sudut pandang Novel “Ayah”.
3.
“Marlena suaminya telah minggat direbut kucing garong dari pasar Padi Tanjung Pandan yang tak tahu adat” .(hal 2)
Menurut jeffri purnawan Kesantunan berbahasa tercermin dalam tatacara berkomunikasi lewat tanda
verbal atau tatacara berbahasa. Ketika berkomunikasi, kita tunduk pada
norma-norma budaya, tidak hanya sekedar menyampaikan ide yang kita pikirkan.

ANALISIS: dari kutipan teks novel di atas terdapat perbedaan pendapat yang dipaparkan oleh jeffri dimana kesantunan berbahasa tercermin dalam tata cara berkomunikasi. Dalam kutipan novel diatas terdapat ungkapan kucing garong yang dalam EYD merupakan kata yang kurang sopan.

Persamaan
No.
Novel “AYAH”
Ilmu social
1.
“Dalam kejengkelan yang memuncak lantaran tak tahu cara menenangkan Zorro, Lena melihat tas punggung kecil yang selalu dipakainya. Dibukanya ta s itu dan ditemukannya kemeja sabari. Diberikannya kemeja itu kepada Zorro. Zorro terpana lalu menjulurkan tangannya menerima kemeja itu. Diciumi dan dipeluknya kemeja itu. Perlahan-lahan tangisannya reda menjadi isakan sehingga tubuhnya tersentak-sentak. Ayah ayah katanya. Tak lama kemudian dia tertidur”. (hal 236)
Aristoteles (dalam Ilmu Sosial Dasar) bahwa manusia sebagai makhluk sosial (zoon-politicon), yang artinya manusia sebagai makhluk sosial yang tak lepas dari kebersamaan dengan manusia lain.
ANALISIS: dari kutipan teks novel di atas terdapat persamaan pendapat yang dipaparkan oleh Aristoteles dimana seorang anak kecil bersama Zorro membutuhkan sosok seorang ayah dalam hidupnya.
  1. Simpulan
Perbandingan Novel Ayah Karya Andrea Hirata memiliki tujuan yang hampir sama yakni mengetahui nilai-nilai sosial yang terkandung dalam novel Ayah karya Andrea Hirata dengan kehidupan dan pandangan dari segi ilmu sosial.
DAFTAR PUSTAKA
Damono, Sapardi Djoko. 2005. Pegangan Penelitian Sastra Bandingan.
 Jakarta: Pusat Bahasa Depdiknas.
              Gunawan, Ary H. 2000. Sosiologi Pendidikan. PT Rhineka Cipta. Hal.3
              Hirata, Andrea. 2015. Ayah.  Yokyakarta:Bentang Pustaka.
              Faruk. 2010. Pengantar Sosiologi Sastra. Yokyakarta:Pustaka Pers.


Lampiran:
Sinopsis
Seorang lelaki bernama Sabari tak henti-hentinya berusaha untuk mengejar perempuan bernama Marlena. Meski ditolak Marlena berkali-kali ia tak gentar dan tetap mencari cara untuk mendapatkan pujaan hatinya. Dibantu Ukun, Tamat, Toharun, serta sahabat lainnya, Sabari konsisten untuk mencuri hati Marlena. Sementara di belahan bumi lain, seorang anak bernama Amiru begitu mengagumi ayahnya yg amat mencintai radio kesayangannya. Suatu hari, radio kesayangan ayah Amiru harus digadaikan untuk membiayai pengobatan ibu Amiru.
Sabari, Tamat, dan Ukun adalah sahabat yang tidak terpisahkan. Tetap saja   dalam persahabatan ada perbedaan-perbedaan yang membuat mereka menjadi semakin akrab dan seperti keluarga. Seperti halnya dalam masalah pelajaran, Tamat dan Ukun selalu bersaing untuk menghindari rangking terbawah, sementara Sabari melenggang mulus diperingkat atas. Ibarat langit dengan bumi. Namun dalam hal cinta, Tamat dan Ukun (kecil) mempunyai selera yang sama. Sudah banyak gadis disukainya, hanya sebatas suka. Sedangkan Sabari tidak pernah sekalipun ingin merasakan apa itu cinta. Dia selalu menganggap orang yang jatuh cinta itu sudah gila.
Sabari mulai merasakan cinta kepada salah satu gadis tercantik Marlena. Hanya saja, semakin dia mengejar; semakin menjauhlah cintanya tersebut. Perjuangan untuk mengejar cinta sejatinya tidak pernah sedikitpun goyah. Walau dia tahu semakin dia mencintai, selama itu juga dia akan tersakiti. Sebuah romantisme cinta yang tidak kalah hebat dengan cerita Romeo dan Juliet.
Perjuangan Sabari untuk mendapatkan Marlena akhirnya terbayar sudah. Mereka menikah dan dikaruniai seorang anak. Zorro, itulah panggilan bayi mungil nan mempesona. Tidak berhenti di sana, Sabari akhirnya merasakan getirnya hidup. Ditinggal seorang istri yang menikah dengan orang lain, kemudian mengasuh anak dari kecil hingga berumur hampir tiga tahun. Dan mendengar ucapan pertama dari si kecil dengan sebutan “aya”. Setelah beranjak umur tiga tahun, Zorro kecil diambil paksa sang istri (Lena) untuk hidup dengannya. Kehidupan Lena tak jauh beda, jika Sabari menderita dan depresi karena ditinggal Lena dan Zorro. Lena sendiri melalui hidup dengan getir karena menikah beberapa kali, dan selalu kandas karena suaminya berselingkuh.
Sabari yang selalu mendambakan Zorro agar datang dipelukannya. Berkumpul dengannya, dan melalui hidup seperti orang lainnya. Menjadi ayah dan anaknya, dan mengajari anaknya untuk menjadi sosok yang bisa dibanggakan. Segala pengorbanan sudah dia lakukan untuk cintanya kepada istri, dan juga cintanya kepada anak. Sosok yang tidak ingin melihat anaknya menangis dan sengsara.


0 komentar:

Posting Komentar

 

Rhifaery's Room Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang