A.
Pemain:
1. Kemala
2. Sekar
(sebagai sahabat kemala)
3. Bu
Jenar (sebagai ibu Kemala)
4. Pak
Burhan (sebagai bapak Kemala)
5. Zain
(sebagai kekasih Kemala)
6. Fadil
(sebagai suami Kemala)
B.
Alur:
Meski terik mentari seakan membakar kulit
ari.Seorang gadis tetap kukuh berdiri di perempatan tempat perhentian bus yang
tak layak disebut halte itu.Gadis itu bernama Kemala sedang menunggu
kekasihnya.
Kemala:
“Duh, jam berapa ini?” (menggerutu sesekali melihat jam tangan).
Kegelisahan tampak di wajah sayu Kemala.Dia sibuk
memandangi handphone jadulnya itu.Sialnya handphonenya lowbed.Dia tidak bisa
menelpon atau sekedar sms pada seseorang yang dia tunggu.Beberapa menit
kemudian datanglah Zain dengan motornya.
Zain:”
Maaf lama nunggu ya Dik?” (memarkir motor di tepi jalan tepat Kemala berdiri).
Kemala:”Gak
Mas, aku sedikit khawatir saja!” (memaksa senyum).
Zain:”Tadi
aku mampir di mini market, ini minum dulu susunya! Kamu pasti belum makan
siang, nanti kita mampir di depot Asih dulu ya Dik!” (menyerahkan susu kotak).
Kemala:”Makasih
Mas, maaf Mas, kita langsung pulang saja ya, aku khawatir nanti kita pulangnya
kesorean, aku takut dimarahin bapak. ” (menghabiskan susu kotak pemberian
Zain).
Zain:”Iya,
dihabiskan dulu susunya!” (menstarter motor).
Setelah Kemala menghabiskan susu kotak, lalu mereka
pulang. Ini adalah pertama kalinya Kemala dijemput oleh kekasihnya.Tanpa
disangka saat itu adalah akhir mereka merajut kasih.
****
Kemala dan Zain telah sampai di depan rumah Kemala.
Rumah Kemala tampak sepi meski pintu dan jendela rumah terbuka.Wajar saja
karena Kemala adalah anak semata wayang Pak Burhan dan Bu Jenar.
Kemala:”Mari
Mas mampir! Kebetulan bapak sepertinya sudah pulang dari kebun.” (turundari
motor).
Zain:”Makasih,
Dik! Maaf aku langsung pulang saja mau ngunduh ayam juga,hehe!” (tersenyum di
atas motor lalu pergi).
Kemala:”Iya
hati-hati!” (agak berteriak masih berdiri melepas Zain yang telah berlalu).
Kemala berjalan masuk rumah.Tampak
sudut ruang tamu mulai gelap. Jam dinding menunjukan pukul 16.00 WIB.
Kemala:”Asalamualaikum!” (masuk ruang tamu).
Pak Burhan:”Walaikumsalam!” (menikmati secangkir
kopi).
Kemala:”Bapak sudah pulang?” (meraih dan mecium
tangan Pak Burhan).
Pak
Burhan:”Apa bapak menguliahkanmu hanya untuk berpelesiran dengan seorang
laki-laki? ” (menggeretak dengan nada keras).
Kemala:”Maafkan
Kemala, Pak! Kemala tadi cccuumaaa dddiaaaaaaaaaaantar pulang Mas Zain!”
(terbata-bata).
Pak
Burhan:”Bapak berulang kali melarangmu bergaul dengan laki-laki itu. Bapak
tidak mau anak bapak dikecewakan oleh laki-laki yang sebentar lagi akan
beristri.” (memegang dada lalu pingsan).
Kemala:”Bapaakkk!”
(menolong Pak Burhan yang jatuh pingsan). “Bapak bangun, Pak, maafkan Kemala.
Tolong!” (berteriak berlinangan ait mata).
Bu
Jenar:(berjalan tergopoh-gopoh masuk rumah). ”Kemala bapak kenapa? Apa yang
terjadi?” (mendekati Kemala dan Pak Burhan).
Kemala lari keluar rumah mencari
bantuan.Ruamah Kemala dekat dengan jalan raya.Beberapa orang tetangga lari
menuju rumah Kemala.Pak Burhan mempunyai sakit jantung dan akhir-akhir ini
sering kambuh.Pak Burhan dibawa ke rumah sakit.
****
Di rumah sakit Bu Jenar menangis
tersedu-sedu di bangku depan pintu kamar Pak Burhan dirawat. Kemala duduk
terdiam berlinangan air mata.Batinnya kini buncah berlinangan air mata.Batinnya
kini buncah memikirkan ucapan-ucapan Pak Burhan.
Kemala:”Bu,
maafkan Kemala! Kemala tidak bermaksud membuat keadaan menjadi seperti ini.Kemala tidak bermaksud membuat bapak jatuh sakit.” (bersipuh
memegang lutut Bu Jenar berlinagan air mata).
Bu
Jenar:”Kemala ibu tahu kamu mencintai Zain. Tapi ibu minta sama kamu. Demi
kesembuhan bapakmu lupakan Zain! Dia sebentar lagi akan menikah. Ibu tahu sejak
dua hari terakhir ini, tapi ibu tidak tega mau bercerita padamu.Ibu tidak ingin
kamu banyak pikiran.” (mengelus kepala Kemala).
Kemala:”Iya,
Bu Kemala ikhlas, Kemala ikut bahagia jika Mas Zain bahagia bersama pilihannya.
Yang Kemala inginkan sekarang kesembuhan bapak.Apapun akan Kemala lakukan
asalkan bapak sembuh.” (menyeka air mata lalu memeluk Bu Jenar).
****
Keesokan harinya Kemala berangkat kuliah.Hari ini
adalah hari terakhir UAS. Setelah selesai mengerjakan soal UAS Kemala dan Sekar
pergi ke taman kampus.
Sekar:”Kemala
aku perhatikan dari tadi kamu kok lemes gak seperti biasanya, kamu kenapa?
Sakit?” (duduk lalu menyentuh kening Kemala).
Kemala:”Gak
kok, aku baik-baik saja Sekar!” (duduk menunduk di samping Sekar).
Sekar:”Hemmm,
sudah bertahun-tahun kita berteman sejak kita duduk di bangku SMP. Sepertinya
kamu punya masalah yang serius.Cerita saja Kemala, siapa tahu aku bisa kasih
solusi!” (merayu).
Kemala:”Bapak
koma di rumah sakit. Sakit jantungnya kambuh dan itu semua karena aku Sekar!”
(menangis memeluk Sekar).
Sekar:”Sabar
Kemala itu semua sudah diatur Yang Maha Kuasa. Jangan menyalahkan diri
sendiri.Kita doakan saja semoga bapakmu cepat siuman dan sembuh.” (mengusap air
mata Kemala).
Kemala:”Kalau
saja kemarin aku tidak pulang bersama Mas Zain pasti ini semua tidak akan
terjadi dan aku sekarang sangat membenci Mas Zain. Kenapa dia merahasiakan
semua ini? Sekar Massss Zaaiinn diaaa akan menikah! Aku gak tahu harus
bagaimana?Kenapa cobaan ini datang menghujaniku?” (sesenggukan menangis di
pangkuan Sekar).
Sekar:”Kemala,
percayalah Allah tidak akan memberi cobaan diluar batas kemampuan umatnya.”
(mengelus kepala Kemala). “Ikhlaskan saja Zain, jodoh sudah ada yang mengatur.
Semoga kamu diberi jodoh yang jauh lebih baik dari Zain.Ayo kita pulang kamu
butuh istirahat!” (tersenyum menghibur Kemala).
Kemala:”Iya
makasih Sekar! Aku gak pulang, aku mau menunggui bapakku di rumah sakit.”
(mengangkat kepala dari pangkuan Sekar).
Sekar:”Baiklah,
ayo kita ke rumah sakit!” (berdiri).
Kemala dan Sekar pergi ke rumah sakit.Sampai di
rumah sakit, di loby Kemala dan Sekar bertemu dengan Bu Jenar.
Bu
Jenar:”Kemala, Sekar sudah selesai ujiannya?”
Kemala
dan Sekar:”Sudah, Bu!” (serentak, bersalaman dengan Bu Jenar).
Sekar:”Bu,
bagaimana keadaan Pak Burhan?”
Bu Jenar:”Alhamdulillah sekarang
sudah siuman, ya sudah ibu mau beli nasi bungkus dulu!” (pergi meninggalkan
Sekar dan Kemala)
Sekar
dan Kemala:”Iya, Bu!” (serentak)
Kemala sangat senang.Dia berlari menuju kamar Pak
Burhan dirawat. Sampai di depan kamar rawat Kemala tergesa-gesa membuka pintu.
Kemala:”Bapak!”
(membuka pintu berlari ke arah Pak Burhan). “Alhamdulillah bapak suda siuman,
maafkan Kemala, Pak! Ini semua salah Kemala, Kemala janji akan nurut sama
bapak, asalkan bapak sembuh.” (menangis memeluk Pak Burhan).
Pak
Burhan:”Sudahlah Nak, jangan menangis!” (mengelus kepala Kemala). “Bapak punya
satu permintaan dan bapak harap kamu bisa memenuhinya. Kemala bapak rasanya
sudah tidak kuat lagi, bapak ingin ada yang menjagamu dan bertanggungjawab atas
hidupmu kalau bapak sudah tiada.Bapak ingin menyaksikan pernikahanmu sebelum
bapak menutup mata untuk selamanya.Bapak ingin kamu menikah dengan Fadil anak
Pak Karim sahabat karib bapak.” (menangis).
Kemala:”Menikah?”
(tercengang). “Bapak jangan berkata seperti itu, bapak pasti sembuh, Pak!”
(menangis, memegang tangan Pak Burhan).
Pak
Burhan:”Bagaimana, Nak?”
Kemala:”Iiiiyaaa,
Pak! Kemala akan menikah dengan Fadil demi bapak.” (terisak-isak).
Pak
Burhan:”Besok persiapkan dirimu, Nak! Besok akan dilaksanakan pernikahanmu.
Maafkan bapak, sebenarnya sudah dari dulu bapak menjodohkanmu dengan Fadil.”
****
Keesokan harinya mendung seakan
bergelanyut di wajah gadis sayu itu.Seharusnya ada seberkas cahaya pelangi yang
terpancar di hari bahagianya. Berbeda dengan apa yang dirasakan Kemala saat
ini, dia menikah tanpa landasan cinta. Di ruang tempat Pak Burhan dirawat telah
selesai dilaksanakan pernikahan Kemala dan Fadil meskipun sangat sederhana.
Pak Burhan:”Kemala terima kasih, Nak! Maafkan
bapak!” (lalu memejamkan mata).
Kemala:”Bapakkkkkkkkkkk!
Jangan tinggalkan Kemala!” (terisak-isak memeluk Pak Burhan).
Langit
semakin kelam tiada seberkas cahaya untuk Kemala menatap masa depan.
****
Kemala telah menjadi istri Fadil.
Karena Fadil seorang TNI, maka Kemala harus ikut Fadil tugas di luar kota.
Berat hati Kemala meninggalkan Bu Jenar seorang diri.
Kemala:”Bu,
maafkan Kemala! Kemala harus pergi meninggalkan ibu.Kemala harus pergi
mengikuti suami.” (menangis memeluk Bu Jenar).
Bu
Jenar:”Iya, Nak! Semoga kamu bahagia.Jadilah istri yang setia dan soleha.”
(mencium kening Kemala).
Kemala:”Aku
nitip ibuku! Kamu sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri.” (memeluk Sekar).
Sekar:”Iya
Kemala, Bu Jenar juga sudah kuanggap seperti ibuku sendiri. Jaga dirimu
baik-baik semoga kamu bahagia.”
Fadil:”Bu,
maafkan Fadil, Kemala harus pergi bersama Fadil. Kami mohon doa restu ibu!”
(mencium tangan Bu Jenar).
Bu
Jenar:”Iya, Nak Fadil ibu merestui kalian. Semoga kalian bahagia, ibu nitip
Kemala jewer saja kalau di gak nurut sama Nak Fadil!” (tersenyum).
Kemala dan Fadil segera masuk mobil
meninggalkan Bu Jenar dan Sekar, lalu mereka pergi.Di pertigaan lampu merah
Kemala dan Fadil bertemu dengan Zain yang sedang membonceng istrinya.Tepat
disamping mobil Fadil, Zain berada mmenunggu lampu merah berkedip menjadi
hijau.Di celah kaca mobil yang terbuka seperempat itu, Kemala melihat seseorang
yang pernah dicintainya itu.Kemala terbakar cemburu, hatinya terasa tersayat
ketika melihat genggaman erat istri Zain dan perut istri Zain yang telah
mengandung.
Karya:
Tancik Andriyah
0 komentar:
Posting Komentar