Tokoh-tokoh:
1. Lendra (Seorang yang bijaksana)
2. Anis (Seorang
yang suka jahil)
3. Rifa (Seorang
yang baik)
4. Ria (Seorang
yang pendiam)
5. Fita (Seorang
yang baik)
Alur Drama:
Pagi itu tepatnya di rumah Fita,
Lendra, Anis, dan Rifa sedang berkumpul. Tidak lama kemudian si Fita keluar
dari rumahnya karena mendengar ketiga temannya itu sedang ngobrol di depan
rumahnya.
Fita : Hai, ada apa
ini? Kok tumben kalian pada ngerumpi di depan rumahku, nggak manggil aku lagi? (sambil menguap lebar sepertinya
baru bangun tidur)
Lendra : Aku tadinya sih
mau manggil kamu, tapi kamunya sih udah keburu nongol duluan. Nggak ada acara
kamu hari ini, Fit?
Fita : Nggak ada
tuh…emang mau ngajak aku jalan gitu?
Lendra : Nggak kok, aku
cuman nanya aja… Ya, siapa tau aja kamu mau kemana gitu, kan biasanya kamu
padat jadwalnya. (dengan nada sedikit mengejek)
Fita : Nggak ada
kok, hari ini aku stay di rumah aja.
Tiba-tiba Anis
menyampaikan idenya kepada teman-temannya untuk ngejahilin Ria yang biasanya
lewat depan rumah Fita.
Anis : Eh
teman-teman, aku ada ide nih! (sambil melentikkan jari)
Rifa : Ide apaan
itu?
Anis : Biasanya jam
segini kan Ria lewat sini, gimana kalau kita kerjain aja dia. Setuju nggak
kalian?
Rifa : Ngerjain Ria?
Ah… kamu ini jahat amat sih jadi orang!
Fita : Iya tuh…
kenapa sih dari dulu kamu tuh nggak pernah berubah, Nis. Dari dulu kerjaannya
pengen ngejahilin orang mulu.
Anis : Biarin… kan
itu emang hobiku. (menyeringai)
Lendra berusaha untuk
menyadarkan Anis yang di usianya yang menginjak 17 tahun, tapi sikapnya masih
seperti anak-anak.
Lendra : Nis, kamu itu
kan udah dewasa, mestinya tabiat buruk yang selama ini melekat pada dirimu itu
sudah berangsur menghilang, nggak malah makin menjadi.
Fita : Tuh…
dengerin kata si Lendra, harusnya kamu tuh bisa bersikap lebih dewasa dan
kebiasaan kamu yang suka ngejahilin orang itu sedikit demi sedikt harus kamu
hilangkan.
Karena Anis anaknya
memang keras kepala dan suka mengganggu orang lain, maka dia tidak mengindahkan
nasehat teman-temannya.
Anis : Ah… masa
bodoh!
Melihat sikap si Anis
yang tidak juga sadar diri tentang kebiasaan buruknya, Rifa pun berusaha
menyadarkan Anis.
Rifa : Iseng itu
emang boleh aja sih, Nis. Tapi kalau berlebihan mah nggak baik juga. Ria itu
kan anaknya baik dan pendiam, terus kenapa tega amat kamu mau ngerjain dia.
Emang salah apa dia?
Fita : Bener
banget apa yang dibilang Rifa. Justru kalau aku pas ngelihat Ria itu yang ada
di hati ini malah rasa iba.
Anis : Iba? Emang
kenapa kok harus ngerasa iba? (dengan nada cuek)
Fita : Ria itu kan
udah nggak punya ibu. Dia sehari-hari menghabiskan waktunya untuk membantu
ayahnya berdagang di pasar.
Anis baru tahu kalau
ternyata Ria udah nggak punya ibu, mendengar kabar tersebut, keinginan Anis
untuk menjahili Ria pun pupus.
Anis : Oh… begitu
ya… kasihan si Ria! Ya udah deh, aku janji nggak bakalan ngejahilin atau
ngerjain Ria lagi.
Lendra : Bagus itu,
tapi jangan hanya sama Ria dong! Sama siapapun kamu nggak boleh bersikap jahil.
Itu kan perbuatan dosa.
Fita : Bener itu!
Anis : Ah… kalian
dikit-dikit dosa!
Semenjak itu, Anis sudah
tidak pernah mengganggu Ria lagi, namun perangai buruknya masih saja tidak
berubah. Anis sering membuat onar di kampungnya dan juga di sekolahan.
Karya:
Ulum Lendra Utari
0 komentar:
Posting Komentar