Jumat, 21 Oktober 2016

Kumpulan Puisi Kehidupan





Aku

Aku berdiri di tengah penjuru
Aku besar dengan nama itu
Aku bukan manusia
Aku hanya sebuah kata
Namaku lambang kecerdasan
Namaku membunuh kebodohan
Betapa hebatnya aku?
Tak ada yang menandingiku
Sampai ini ku tak merasa hebat
Kali ini ku menangis
Bukan yang pertama
Bukan pula yang kedua
Tiada pemakai namaku yang menjadikanku hebat
Di sana-sini kebodohan belum terbunuh olehku
Tangisan ini penuh pilu
Belum banyak kecerdasan yang bertaburan
Jadilah pahlawanku
Anak negeri, hentikan pilu tangisku
Buatlah aku tersenyum merasa bangga akan namaku

Sekenario Tuhan

Biarkan takdir berkata
Cinta kita terselip diantara para malaikat
Terikat kuat dengan simpul cinta
Dimahkotai kerinduan dalam keterjangkauan
Inilah cinta kita di ujung akhir waktu
Takdir tetap menunjukkan kedigdayannya
Sekejam inikah takdir tuhan?
Ataukah kita yang telah salah memilih cinta?
Biarkan takdir jelaskan semuanya
Kini takdir menertawai kita
Kita yang putus asa
Kita yang telah terpisah  dalam linangan tanpa henti
Namun tetaplah tersenyum air mata dalam kesyukuran
Saling berdoa kau dan aku dipertemukan di kehidupan kedua
Kau dan aku dipersatukan dalam kesempatan yang lebih indah
Melebihi keindahan surge yang pernah ada


JEPIT

Sandal-sandal terjepit
Terjepit dalam kaki yang kotor
Terjepit dengan suatu cengkraman yang kuat
Dan sulit untuk lepas
Sandal ikut kemanapun kaki mau
Meski sulit untuk menompah
Tetap setia menemani kaki
Tapi kaki tidak pernah mengerti sandal
Yang selalu di bawah
jadi bawan injak-injakan
kaki yang kotor mengotori sandal yang bersih
sandal yang kotor mengotori kaki yang bersih
jika mau bersih dua-duanya
yookz bersihkan sandal dan kaki

Simpul jiwa
Jiwa ini mati,
Raga ini tak berarti
Saat nyawa tak lagi kembali
Kau tiupkan buhul-buhul kecil di ubun-ubun
Seperti dulu,
Kau ikatkan simpul-simpul pengikat hidupku
Jika hariku harus berhenti seperempat siang
Kan ku ucap pada-Mu
Aku hanya bertangan kecil
Tak mampu kusentuh
Tak mampu kurengkuh
Murka-murka Mu yang menggigil

Kereta sandiwara

Kehidupan adalah tidur panjang
Kematian adalah kehidupan
Bagaikan mengharap percikan api
Dari genangan air
Racun dalam fikiranku
Kerusakan kian menjamur
Melawan jalannya engkauSang sumber petaka
Bala tentara kebencian
Penderitaan…
Kegelisahan…
Kekecewaan…
Adalah sahabat-sahabat
Dalam melawan jalannya kereta sandiwara
Mampukah aku…
Menyapu noda-noda kesedihan
Melawan kereta kehidupan
Memenangkan rasa penyesalan
Membangun manhaj di atas manhaj
Hingga angin menasehatiku
Awan tersenyum padaku
Langit bersabda  takdir manusia akan terus berlaku
Karena dunia bukanlah tempat yang di  tuju
Biarlah takdir berjalan dengan tali kekangnnya
Tidak ada di antara kerdipan mata dan meleknya
Kecuali Sang penguasa hatilah yang dapat mengaturnya
Hal itu memaksaku menyerah pada Sang penguasa hati

Aku dan Cermin

Cermin itu memandangku
Atau aku yang memandangnya
Entah...    tapi
Dia bersuara
Tapi dia tak mendengarku
Di depan cermin itu
Ku gengam alunan romantis cinta
Perlahan-lahan jariku menari
Perlahan....
Melangkah, merangkak, berlari penuhi suara
Ku pandang lagi cermin itu
Dia acuhkanku
Ku diam berpura-pura tak tau
Dia berbicara terus tanpa peduliku
Ku acuhkan ia
Dan ia membisu.

Dinamika

Awan hitam yang dipenuhi hiasan petir yang menyambar
Semakin lama semakin tajam dan mencekam
Rasanya sama seperti goresan puisi perjalanan jiwa dalam pencarian
Ombak kehidupan yang pasang surut itu
Nampaknya membawaku dalam barisan-barisan perasaan yang beraneka
Ingin aku membagi triliunan rasa yang terjadi dalam biografiku pada kalian
Namun, pantaskah aku membebani kalian?
Ingin ku terdiam namun aku bosan
Apa yang sebenarnya ingin diungkapkan oleh yang menciptaku
Entah apa pula hikmah yang akan ku dapat setelahnya
Letih aku merasakan dinamika romansa yang tak berujung ini
Insan-insan yang pernah bersemayam dalam memori, logika, dan sejarah cintaku itu
Sepertinya belum sesuai dengan tulang rusukku
Hari berganti hari mengenalkanku pada pelangi kehidupan yang sebenarnya
Asa yang selalu kuimpikan menjadi pemacu gelora meraih impian
Mungkin akan terselipkan takdir terbaik-Nya di masa-masa itu
Isyarat yang tak kumengerti dari-Nya
Dapat kumengerti secuil demi secuil dari waktu ke waktu
Akan kutumbuhkan rasa percaya untuk menambah keoptimisan dalam jiwa
Hingga kutemukan hakikat dari pencarianku itu
Hantaran pengalaman yang masih terlintas di alam pikiran itu
Akan menjadi amunisi tersembunyi yang siap meletuskan semburan kebahagiaan
Dinamika kehidupan itu akan selalu terpenuhi dengan cahaya kasih-Nya
Impian yang sering melintas di sela-sela  malam akan segera menjadi kenyataan


Gadis kecil berbaju biru

Elok rambut ikatmu
Walau engkau mungil namun tanagmu tak semungil ragamu
Galah menjadi senjata utamamu selain pena yang kau simpan rapi dalam tasmu
Berjalan di pematang sawah hingga ke atas bukit dengan telanjang kaki untuk mengejar mimpimu
Walaupun dengan mata menantang matahari di atas kepala, namun engkau tak sedikitpun mengeluh
Puluhan Pinang yang laksana penyangga langit menjadi saksi
Saksi kekuatanmu di mata alam yang berada di depan kelopak matamu

Ibumu pekerja ladang nak
Ayahmu pekerja serabutan
Namun Cita-citamu tak sehina perjaan orangtuamu
Tak hina pekerjaan itu
Yang hina adalah keegoisan dunia di lingkungan matamu
Adik-adikmu yang setiap malam tidur berjajar layaknya pindang berguguran
Membuat laksana denyut nadi tak mengenakan

Ah, sudahlah nak
Berdoa saja kepada sang pembuat alam ini
Karena ini hanya jalan kehidupan yang butuh bayangan
Tanpa adanya tipuan


Balada Gadis Di Negeri Mimpi

Seorang gadis telah termenung di balkon rumahnya
Memandangi bulan yang masih saja tak bersuara
Dia bertanya “Bulan, apakah engkau memang setenang ini?”
Tak ada sahutan hanya ada angin yang mengirimkan bulir-bulir kesejukan
Malam adalah sebuah pintu tanpa diperlukan kuncinya lagi
Tiba-tiba sebuah unicron telah datang menghampiri
Sayap dan tanduk birunya adalah tanda keajaibannya
Untuk mengantar gadis itu pada sebuah negeri impian
Gadis itu terbang dan didapatinya keindahan nirwana
Ah tidak, dia belum mati tapi sudah merasakankan keindahannya
Pada sebuah lembah merah jambu
Telah berdiri kastil kokoh berlapisan emas
Astaga!
Ternyata dia seorang putri
Bergaun sutera menutup sampai ke kaki
Kanan kirinya telah berdiri seorang pengawal
Yang akan membawanya pada sosok pangeran berkuda putih
Begitu indah tanpa bisa dilukiskan dengan kata apapun
Nyayian malaikat kecil begitu membius sampai dia lupa dimana tempatnya berada
Seolah dilepas relativitas waktu segalanya berubah
Keindahan nirwana lenyap tak tersisah
Tak ada gaun sutera yang ada hanyalah gaun tidur kumal
Lihatlah, gadis itu baru saja tertidur di depan subuah cermin
Tak ada kastil, pengawal ataupun pangeran
Hanya dirinya...
Lalu sang bunda masuk dan menepuk ringan bahunya “ Bangunlah anakku, ini waktunya untuk sekolah!”


Pagi yang Hilang

Kala mentari mulai tersenyum
Terpancar indah kilau yang mempesona
Membawa panorama yang penuh makna
Di penghujung pesona yang kian merekah
Tapi kini kilaunya kian meredup
Diterpa angina yang begitu gusar
Membawa pesan akan keresahan
Jiwa kian menjadi suram
Pagiku hilang, tanpa senyuman
Meniti harapan namun hanya kepalsuan
Merana tanpa sebuah harapan
Hanya sabar dalam lamunan
Pusaka doa kian bergencar
Agar pagiku kembali datang
Membawa harapan kepastian
Mentari kan kembali terang
Akhir sebuah harapan


Puisi Seorang Anak untuk Ibu

Aku berangkat sekarang untuk membantai lawan
Untuk berjuang dalam pertempuran.
Aku berangkat, Bu, dengarlah aku pergi
Doakanlah agar aku berhasil.
Sayapku sudah tumbuh, aku ingin terbang.
Merebut kemenangan di mana pun adanya.
Aku akan pergi, Bu, janganlah menangis
Biar kucari jalanku sendiri.

Aku ingin melihat, menyentuh, dan mendengar
Meskipun ada bahaya, ada rasa takut.
Aku akan tersenyum dan menghapus air mata
Biar kuutarakan pikiranku.
Aku pergi mencari duniaku, cita-citaku
Memahat tempatku, menjahit kainku
Ingatlah, saat aku melayari sungaiku
Aku mencintaimu, di sepanjang jalanku.



0 komentar:

Posting Komentar

 

Rhifaery's Room Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang