Aku
Aku
berdiri di tengah penjuru
Aku
besar dengan nama itu
Aku
bukan manusia
Aku
hanya sebuah kata
Namaku
lambang kecerdasan
Namaku
membunuh kebodohan
Betapa
hebatnya aku?
Tak
ada yang menandingiku
Sampai
ini ku tak merasa hebat
Kali
ini ku menangis
Bukan
yang pertama
Bukan
pula yang kedua
Tiada
pemakai namaku yang menjadikanku hebat
Di
sana-sini kebodohan belum terbunuh olehku
Tangisan
ini penuh pilu
Belum
banyak kecerdasan yang bertaburan
Jadilah
pahlawanku
Anak
negeri, hentikan pilu tangisku
Buatlah
aku tersenyum merasa bangga akan namaku
Sekenario Tuhan
Biarkan
takdir berkata
Cinta
kita terselip diantara para malaikat
Terikat
kuat dengan simpul cinta
Dimahkotai
kerinduan dalam keterjangkauan
Inilah
cinta kita di ujung akhir waktu
Takdir
tetap menunjukkan kedigdayannya
Sekejam
inikah takdir tuhan?
Ataukah
kita yang telah salah memilih cinta?
Biarkan
takdir jelaskan semuanya
Kini
takdir menertawai kita
Kita
yang putus asa
Kita
yang telah terpisah dalam linangan tanpa
henti
Namun
tetaplah tersenyum air mata dalam kesyukuran
Saling
berdoa kau dan aku dipertemukan di kehidupan kedua
Kau
dan aku dipersatukan dalam kesempatan yang lebih indah
Melebihi
keindahan surge yang pernah ada
JEPIT
Sandal-sandal terjepit
Terjepit dalam kaki
yang kotor
Terjepit dengan suatu
cengkraman yang kuat
Dan sulit untuk lepas
Sandal ikut kemanapun
kaki mau
Meski sulit untuk
menompah
Tetap setia menemani
kaki
Tapi kaki tidak pernah
mengerti sandal
Yang selalu di bawah
jadi bawan
injak-injakan
kaki yang kotor
mengotori sandal yang bersih
sandal yang kotor
mengotori kaki yang bersih
jika mau bersih
dua-duanya
yookz bersihkan sandal
dan kaki
Simpul jiwa
Jiwa ini mati,
Raga ini tak berarti
Saat nyawa tak lagi
kembali
Kau tiupkan buhul-buhul
kecil di ubun-ubun
Seperti dulu,
Kau ikatkan
simpul-simpul pengikat hidupku
Jika hariku harus
berhenti seperempat siang
Kan ku ucap pada-Mu
Aku hanya bertangan
kecil
Tak mampu kusentuh
Tak mampu kurengkuh
Murka-murka Mu yang
menggigil
Kereta sandiwara
Kehidupan
adalah tidur panjang
Kematian
adalah kehidupan
Bagaikan
mengharap percikan api
Dari
genangan air
Racun
dalam fikiranku
Kerusakan
kian menjamur
Melawan jalannya engkauSang sumber petaka
Bala
tentara kebencian
Penderitaan…
Kegelisahan…
Kekecewaan…
Adalah
sahabat-sahabat
Dalam
melawan jalannya kereta sandiwara
Mampukah
aku…
Menyapu
noda-noda kesedihan
Melawan
kereta kehidupan
Memenangkan
rasa penyesalan
Membangun
manhaj di atas manhaj
Hingga
angin menasehatiku
Awan
tersenyum padaku
Langit
bersabda takdir manusia akan terus berlaku
Karena
dunia bukanlah tempat yang di tuju
Biarlah
takdir berjalan dengan tali kekangnnya
Tidak
ada di antara kerdipan mata dan meleknya
Kecuali
Sang penguasa hatilah yang dapat mengaturnya
Hal
itu memaksaku menyerah pada Sang penguasa hati
Aku dan Cermin
Cermin itu memandangku
Atau
aku yang memandangnya
Entah... tapi
Dia
bersuara
Tapi
dia tak mendengarku
Di
depan cermin itu
Ku
gengam alunan romantis cinta
Perlahan-lahan
jariku menari
Perlahan....
Melangkah,
merangkak, berlari penuhi suara
Ku
pandang lagi cermin itu
Dia
acuhkanku
Ku
diam berpura-pura tak tau
Dia
berbicara terus tanpa peduliku
Ku
acuhkan ia
Dan
ia membisu.
Dinamika
Awan hitam yang dipenuhi hiasan
petir yang menyambar
Semakin lama semakin tajam dan
mencekam
Rasanya sama seperti goresan puisi
perjalanan jiwa dalam pencarian
Ombak kehidupan yang pasang surut
itu
Nampaknya membawaku dalam
barisan-barisan perasaan yang beraneka
Ingin aku membagi triliunan rasa
yang terjadi dalam biografiku pada kalian
Namun, pantaskah aku membebani kalian?
Ingin ku terdiam namun aku bosan
Apa yang sebenarnya ingin
diungkapkan oleh yang menciptaku
Entah apa pula hikmah yang akan ku
dapat setelahnya
Letih aku merasakan dinamika romansa
yang tak berujung ini
Insan-insan yang pernah bersemayam
dalam memori, logika, dan sejarah cintaku itu
Sepertinya belum sesuai dengan
tulang rusukku
Hari berganti hari mengenalkanku
pada pelangi kehidupan yang sebenarnya
Asa yang selalu kuimpikan menjadi
pemacu gelora meraih impian
Mungkin akan terselipkan takdir terbaik-Nya
di masa-masa itu
Isyarat yang tak kumengerti dari-Nya
Dapat kumengerti secuil demi secuil
dari waktu ke waktu
Akan kutumbuhkan rasa percaya untuk
menambah keoptimisan dalam jiwa
Hingga kutemukan hakikat dari
pencarianku itu
Hantaran pengalaman yang masih
terlintas di alam pikiran itu
Akan menjadi amunisi tersembunyi
yang siap meletuskan semburan kebahagiaan
Dinamika kehidupan itu akan selalu
terpenuhi dengan cahaya kasih-Nya
Impian yang sering melintas di
sela-sela malam akan segera menjadi
kenyataan
Gadis kecil berbaju
biru
Elok rambut ikatmu
Walau engkau mungil
namun tanagmu tak semungil ragamu
Galah menjadi senjata
utamamu selain pena yang kau simpan rapi dalam tasmu
Berjalan di pematang
sawah hingga ke atas bukit dengan telanjang kaki untuk mengejar mimpimu
Walaupun dengan mata
menantang matahari di atas kepala, namun engkau tak sedikitpun mengeluh
Puluhan Pinang yang
laksana penyangga langit menjadi saksi
Saksi kekuatanmu di
mata alam yang berada di depan kelopak matamu
Ibumu pekerja ladang nak
Ayahmu pekerja
serabutan
Namun Cita-citamu tak
sehina perjaan orangtuamu
Tak hina pekerjaan itu
Yang hina adalah
keegoisan dunia di lingkungan matamu
Adik-adikmu yang setiap
malam tidur berjajar layaknya pindang berguguran
Membuat laksana denyut
nadi tak mengenakan
Ah, sudahlah nak
Berdoa saja kepada sang
pembuat alam ini
Karena ini hanya jalan
kehidupan yang butuh bayangan
Tanpa adanya tipuan
Balada Gadis Di Negeri
Mimpi
Seorang
gadis telah termenung di balkon rumahnya
Memandangi
bulan yang masih saja tak bersuara
Dia
bertanya “Bulan, apakah engkau memang setenang ini?”
Tak
ada sahutan hanya ada angin yang mengirimkan bulir-bulir kesejukan
Malam
adalah sebuah pintu tanpa diperlukan kuncinya lagi
Tiba-tiba
sebuah unicron telah datang menghampiri
Sayap
dan tanduk birunya adalah tanda keajaibannya
Untuk
mengantar gadis itu pada sebuah negeri impian
Gadis
itu terbang dan didapatinya keindahan nirwana
Ah
tidak, dia belum mati tapi sudah merasakankan keindahannya
Pada
sebuah lembah merah jambu
Telah
berdiri kastil kokoh berlapisan emas
Astaga!
Ternyata
dia seorang putri
Bergaun
sutera menutup sampai ke kaki
Kanan
kirinya telah berdiri seorang pengawal
Yang
akan membawanya pada sosok pangeran berkuda putih
Begitu
indah tanpa bisa dilukiskan dengan kata apapun
Nyayian
malaikat kecil begitu membius sampai dia lupa dimana tempatnya berada
Seolah
dilepas relativitas waktu segalanya berubah
Keindahan
nirwana lenyap tak tersisah
Tak
ada gaun sutera yang ada hanyalah gaun tidur kumal
Lihatlah,
gadis itu baru saja tertidur di depan subuah cermin
Tak
ada kastil, pengawal ataupun pangeran
Hanya
dirinya...
Lalu
sang bunda masuk dan menepuk ringan bahunya “ Bangunlah anakku, ini waktunya
untuk sekolah!”
Pagi yang Hilang
Kala mentari mulai tersenyum
Terpancar indah kilau yang mempesona
Membawa panorama yang penuh makna
Di penghujung pesona yang kian merekah
Tapi kini kilaunya kian meredup
Diterpa angina yang begitu gusar
Membawa pesan akan keresahan
Jiwa kian menjadi suram
Pagiku hilang, tanpa senyuman
Meniti harapan namun hanya kepalsuan
Merana tanpa sebuah harapan
Hanya sabar dalam lamunan
Pusaka doa kian bergencar
Agar pagiku kembali datang
Membawa harapan kepastian
Mentari kan kembali terang
Akhir sebuah harapan
Puisi Seorang Anak untuk Ibu
Aku berangkat sekarang untuk membantai lawan
Untuk berjuang dalam pertempuran.
Aku berangkat, Bu, dengarlah aku pergi
Doakanlah agar aku berhasil.
Sayapku sudah tumbuh, aku ingin terbang.
Merebut kemenangan di mana pun adanya.
Aku akan pergi, Bu, janganlah menangis
Biar kucari jalanku sendiri.
Aku ingin melihat, menyentuh, dan mendengar
Meskipun ada bahaya, ada rasa takut.
Aku akan tersenyum dan menghapus air mata
Biar kuutarakan pikiranku.
Aku pergi mencari duniaku, cita-citaku
Memahat tempatku, menjahit kainku
Ingatlah, saat aku melayari sungaiku
Aku mencintaimu, di sepanjang jalanku.

0 komentar:
Posting Komentar