Perbandingan Teks Sastra Novel Khustaw-SyirinKarya Syeikh Nizami dengan Ilmu Budaya
Oleh: Dewi Setyowati
A.
PENDAHULUAN
1. Latar
Belakang
Karya sastra merupakan cerminan
dalam kehidupan manusia sehari-hari yang terbentuk dari hasil imajinasi kreatif
oleh pengarang. Karya sastra tidak hanya sekadar cerita fiksi belaka, tetapi
karya sastra merupakan potret kehidupan manusia yang nyata, dimana karya sastra
tersebut dapat dikaitkan dengan fenomena-fenomena di luar karya sastra yang
disajikan untuk menghibur, tetapijuga memiliki nilai dan norma kepada khalayak
agar dapat diambil pesan atau amanat yang positif. Menurut Pradopo (1995:
121-123) sastra (karya sastra) merupakan karya seni yang mempergunakan bahasa
sebagai mediumnya. Sedangkan bahan sastra itu sendiri adalah bahasa yang
berkedudukan sebagai bahan dalam hubungan dengan sastra. Karya sastra mampu
membawa pembaca untuk berimajinasi tanpa harus berada pada ruang waktu tersebut.
Dewasa ini, pemahaman terhadap karya sastra semakin berkembang, maka perlu
dilakukan suatu kajian, khususnya dalam kajian sastra bandingan modern. Suatu
karya sastra bisa dibandingkan dengan sesuatu yang berada di luar karya sastra,
misalnya karya sastra dengan budaya, karya sastra dengan agama, karya sastra
dengan kesenian yang mempunyai keterkaitan dan hubungan dalam kajian satra
banding. Remak (dalam Endraswara, 2011:9) mengungkapkan bahwa sastra bandingan
merupakan penelitian sastra di luar batas sebuah negara serta penelitian
tentang hubungan sastra dengan bidang ilmu dan kepercayaan yang lain, seperti
seni (lukis, ukir, dan musik), filsafat, sejarah, sosial, sains, dan agama.
Salah satu sajian yang menarik adalah mengaitkan karya sastra dengan kebudayaan.
Menurut Endraswara (2011: 1-2) hakikat sastra bandingan adalah membandingkan
dua karya sastra atau lebih. Membandingkan karya sastra perlu memiliki
ketelitian dan pemahaman lebih mengenai sastra bandingan, karena yang
dibandingkan adalah keseluruhan unsur-unsurnya. Seperti halnya dengan novel
yang akan di analisis, bahwasannya suatu novel dapat dikaji melaui ilmu
kebudayaan yang ada dalam masyarakat sekitar latar yang dicerminkan oleh novel.
Oleh sebab itu, pemakalah menganalisis novel “Khusraw-Syirin” karya Syekh Hakim
An-Nizami. Dalam novel ini menceritakan hal-hal percintaan namun kental dengan
budaya kerajaan yang ada dalam perkembangan saat itu.
Kebudayaan sendiri adalah
kebiasaan-kebiasaan yang lahir dari kehidupan masyarakat tersebut. Kebudayaan itu
lahir karena adanya kebiasaan dan kesepakatan masyarakat yang ada di dalamnya
yang mempercayai kebudayaan-kebudayaan tersebut. Oleh karena itu pemakalah
menganalisis novel “Khusraw-Syirin” karya Syekh Hakim An-Nizami bila di
bandingkan dengan nilai budaya yang ada pada massa itu.
2.
Rumusan Masalah
1. Apa
pengertian dari ilmu budaya?
2. Bagaimana
perbandingan teks sastra
novel “Khusraw-Syirin” karya Syekh Hakim An-Nizami bila di bandingkan dengan
nilai budaya yang ada pada massa itu?
3.
Tujuan
1.
Untuk
mengetahui pengertian dari ilmu budaya.
2.
Untuk
mengetahui perbandingan teks sastra
novel “Khusraw-Syirin” karya Syekh Hakim An-Nizami bila di bandingkan dengan
nilai budaya yang ada pada massa itu.
4.
Objek Penelitian
Objek penelitian ini adalah cerita novel “Khusraw-Syirin” karya Syekh Hakim An-Nizami bila di
bandingkan dengan nilai budaya yang ada pada massa itu. Karena
teks novel “Khusraw-Syirin” karya Syekh
Hakim An-Nizami berisi tentang budaya-budaya pada saat itu yaitu budaya
kerajaan.
Selain itu, penulis juga merasa ingin belajar tentang kajian budaya.
5.
Teori
Ilmu Budaya:
Pengertian
dari kebudayaan itu sendiri, yakni sebagaimana yang disampaikan oleh E.B.Tylor
(1871) yang dikutip oleh Soerjono Soekanto bahwa kebudayaan itu adalah kompleks
yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat
istiadat dan lain kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan
yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Atau ada juga
definisi yang sederhana sebagaimana disebutkan oleh Selo Soemarjan yang dikutip
oleh Dedi Supriyadi, M.Ag, bahwa kebudayaan itu adalahsemua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat
Dari
definisi-definisi diatas, Penulis dapat menyimpulkan bahwa kebudayaanadalah segala sesuatu yang didapatkan oleh
manusia sebagai anggota masyarakattertentu yang meliputi pengetahuan,
kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adatistiadat serta kebiasaan-kebiasaan
lainnya
Ilmu budaya mengarah pada pembentukan
sikap dan kepribadian. Mencangkup
berbagai aspek kehidupan yang mengungkapkan masalah kemanusia dan budaya yang
mampu didekati dengan pengetahuan budaya. Hakekat manusia adalah universal.
tetapi manusia mempunyai keanekaragaman dalam perwujudan kehidupan
masing-masing jaman dan tempatnya. Dalam melihat dan menghadapi lingkungan
alam, sosial, budaya manusia tidak hanya mewujudkan kesamaan-kesamaannya,
tetapi juga ketidak seragamannya baik itu dalam pola pikir, tingkah laku,
perasaan, dsb. Suatu kebudayaan tidak akan pernah ada tanpa adanya
beberapa sistem yang mendukung terbentuknya suatu kebudayaan, sistem ini
kemudian disebut sebagai unsur yang membentuk sebuah budaya, mulai dari bahasa,
pengetahuan, tekhnologi dan lain lain.
Jadi
secara singkatnya, budaya adalah kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh
sekelompok orang yang kemudian kebiasaan-kebiasaan itu disepakati bersama lalu
jadilah suatu budaya yang ada dalam kelompok tersebut.
Sastra
Bandingan:
Sastra Banding (Comparative
Literatur e) muncul pertama kali di Perancis tahun 1816 yang diambil dari
rangkaian antologi untuk pengajaran sastra yang berjudul Cours de
litterature comparee. Di Jerman, istilah ini dipadankan dengan vergleichende
Literaturgeschichte yang muncul pada tahun 1854. Sementara itu, istilah comparative
literatures muncul di Inggris pada tahun 1848.
Pada
awalnya, istilah tersebut menunjuk pada usaha untuk melacak “pengaruh” seorang penulis dari suatu
negara atau budaya pada penulis di negara atau budaya lain. Namun, dalam
perkembangannya, terdapat kesulitan dalam mencari pengaruh tersebut karena
pikiran dan perasaan yang diungkapkan oleh suatu bahasa berbeda dengan pikiran
dan perasaan yang dinyatakan dengan bahasa lain. Karena itu pada awalnya,
sastra banding hanya dilaksanakan di Eropa. Menurut Sapardi Djoko Damono (2005:
1), sastra bandingan adalah sebuah pendekatan dalam ilmu sastra yang tidak
menghasilkan teori sendiri. Dengan kata lain, dalam kajian ini dapat menggunakan teori apa saja selama masih
dapat bersangkutan dengan sastra.
B.
PEMBAHASAN
1. Deskripsi
Novel “Khusraw-Syirin” karya Syekh Hakim An-Nizami
Khusraw-Syirin ini merupakan novel yang mengisahkan cinta
romansa pada masa dulu yang juga berakhir kematian keduanya, seperti halnya
kisah Laila Majnun. Namun Laila Majnun lebih terkenal dari pada novel
Khusraw-Syirin ini. Kisahnya dimulai dari, Syapur kekelahan setelah semalaman
suntuk ikut pesta bersama pangeran muda Khusraw. Syapur mencoba mencari
pasangan yang tepat untuk Khusraw, dan dia merasa puas dengan upayanya semalam.
“kugunakan trik tertua yang ada dibuku,” pikirnya, menyeringai pada dirinya
sendiri sambal naik ke pembaringan. Dan Khusraw terperangkap! Semakin banyak
semakin baik untuknya. Apa yang sudah dilakukan oleh sepupu dan pejabat istara
pangeran Khusraw tersebut ialah menceritakan seorang putri yang pernah
dilihantnya di Armenia dengan penuh semangat. Di akhir pesta, Khusrau telah
begitu terpesona oleh panah putri tersebut sehingga dia langsung jatuh cinta
pada banyangan semata. Di Armenia, Syirin yang telah di gambarkan oleh Syapur,
dia dibesarkan sebagai satu-satunya pewaris tahta Armenia. Bibinya sang Ratu
Agung Mahin, tidak memiliki anak, yang membuat Syirin menjadi penerusnya.
Dari keduanya ini, Khusraw dan Syirin adalah dua penerus di
kerajaan masing-masing. Keduanya jatuh cinta meski hanya lewat cerita yang di
dengarkan dari Syapur tanpa pernah bertemu. Dari cerita singkatnya, Khusraw
karena dia membuat kesalahan di kerajaan dan membuat ayahnya marah, dia
memutuskan untuk pergi ke Armenia untuk menemui cintanya Syirin, sedangkan di
Armenia sendiri, Syirin dan Syapur juga pergi ke Persia berniat menemui
Khusraw. Setelah keduanya sampai, Khusraw dan Syirin, keduanya sadar, bahwa
mereka tak bisa bertemu. Syirin tinggal sementara di Persia dan Khusraw yang
mengetahui itu tak berani pulang karena takut akan amarah ayahnya. setelah
mendapat kabar ayahnya meninggal dunia, akhirnya Khusraw pulang untuk
mengangkatan tahta Khusraw sebagai Raja Persia.
Cinta mereka menyatu meski melewati banyak masalah dan
walaupun mereka telah menikah ada saja masalah yang muncul. Sampai
akhirnyaKhusrau meninggal. Saat pemakan Khusrau disitu juga Syirin menancapkan
pisau pada dirinya sendiri. Syirin terjatuh di atas tubuh suaminya, dia
merebahkan kepala di atas dada suaminya. Syirin meninggal dengan senyum
dibibirnya.
2.
Perbandingan Teks Sastra Novel
“Khusraw-Syirin” karya Syekh Hakim An-Nizami dengan Nilai Budaya
Ø Perbedaan
Dari yang telah dianalisis oleh penulis yaitu hanya ada
perbedaan yang tercantum dalam hasil perbandingan yang telah dilakukan dari
budaya arab dengan budaya Indonesia.
|
Teks
Sastra
|
Ilmu Budaya
|
|
“Di Persia Raja Hurmuz mengadakan
lawatan singkat. Memanfaatkan kepergian ayahnya, Khusraw memutuskan untuk
membuat koin-koin baru yang bergambar dirinyasebagai pengganti sang raja.
Ketika Hurmuz kembali ke Mada’in, ibu kota kerajaan Persia, dia sangat marah
terhadap kelakuan putranya yang kurang ajar.” (Halaman 50)
|
Budaya di Indonesia adalah budaya
menghormati orang tua.
Soerjono Soekanto bahwa kebudayaan itu adalah kompleks yang mencakup
pengetahuan, kepercayaan,kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan
lain kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan
yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat (2007:150).
|
Analisisnya: ada perbedaan antara novel
Khusrau-Syirin dengan nilai budaya yang ada di Indonesia, yaitu budaya
Indonesia menganut budaya menghargai orang tua, tetapi dijelaskan dalam kutiban
novel tersebut bahwa sikap Khusraw pada ayahnya justru terbalik dengan budaya
Indonesia. Sikap Khusraw yang tidak sopan dan seenaknya sendiri dalam novel
tersebut.Hal ini sangat berdeda jauh tentunya dengan budaya yang diantut oleh
orang Indonesia. Ini adalah contoh kecilna saja.
|
Teks
Sastra
|
Ilmu Budaya
|
|
“Disitu ia meminta bantuan kaisar
Roma untuk merebut kembali negaranya dari Bahram. Kaisar yang terkesan dengan
kemudaan dan kecakapan Khusraw, memberikan putrinya yang bernama Maryam untuk
dinikahi Khusraw, lantas mengirim pasukan kerajaan Roma ke Persia.” (Halaman
61)
|
Budaya Indonesia mengenal budaya
toleransi dan musyawarah untuk mencapai keputusan atau mufakat, dimana
toleransi itu tidak memaksakan kehendak yang satu kepada kehendak yang lain,
namun harus menerima.
|
Analisisnya:
ada perbedaan antara novel
Khusraw-Syirin karya Syekh Hakim An-Nizami
dengan nilai budaya yang ada di Indonesia yaitu nilai budaya saling
toleransi sesama manusia, tidak memaksakan kehendaknya kepada orang lain, yang
seharusnya kaisar Roma tidak memaksa untuk menikahkan putrinya dengan Khusraw
dengan imbalan Kusraw akan dibantu untuk merebut kembali kerajaannya. Seperti
halnya dengan musyawarah, dalam novel tidak ada gambaran adanya musyawarah
dalam mencapai mufakat, hanya ada keputusan raja sebagai yang paling utama
tanpa memikirkan pendapat orang lain.
C. PENUTUP
1.
Simpulan
Dari uraian pada Bab I dan Bab II
telah dijelaskan bahwa budaya itu sangat mempengaruhi hal-hal apa yang ada di
dalam novel tersebut. Dan budaya-budaya itu dapat dianalisis sebagaimana
mestinya. Dapat disimpulkan bahwa dari bandingan antara novel Khusraw-Syirin
karya Syekh Hakim An-Nizami ini ada perbedaan dan persamaan dengan nilai
budaya, terutama budaya Indonesia. Salah satunya adalah budaya toleransi,
tolong menolong, menghormati orang tua dan budaya pengagungan keturunan sebagai
pewaris tahta kerajaan.
DAFTAR PUSTAKA
An-Nizami,
Syekh Hakim dkk, 2015. Laila Majnun; Plus
3 Kisah Cinta yang Mengguncang Dunia. Lamongan: Pustaka Ilalang.
Soerjono
Soekanto, Sosiologi suatu pengantar, PT.Raja
Grafindo Persada. Jakarta, 2007. Halaman150.
Dedi
Supriyadi, M.Ag. Sejarah Peradaban Islam.
Pustaka Setia. Bandung. 2008. halaman 17.

0 komentar:
Posting Komentar