Minggu, 12 Juni 2016

Perbandingan Teks Sastra Novel Khustaw-SyirinKarya Syeikh Nizami dengan Ilmu Budaya



Perbandingan Teks Sastra Novel Khustaw-SyirinKarya Syeikh Nizami dengan  Ilmu Budaya
Oleh: Dewi Setyowati





A.    PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Karya sastra merupakan cerminan dalam kehidupan manusia sehari-hari yang terbentuk dari hasil imajinasi kreatif oleh pengarang. Karya sastra tidak hanya sekadar cerita fiksi belaka, tetapi karya sastra merupakan potret kehidupan manusia yang nyata, dimana karya sastra tersebut dapat dikaitkan dengan fenomena-fenomena di luar karya sastra yang disajikan untuk menghibur, tetapijuga memiliki nilai dan norma kepada khalayak agar dapat diambil pesan atau amanat yang positif. Menurut Pradopo (1995: 121-123) sastra (karya sastra) merupakan karya seni yang mempergunakan bahasa sebagai mediumnya. Sedangkan bahan sastra itu sendiri adalah bahasa yang berkedudukan sebagai bahan dalam hubungan dengan sastra. Karya sastra mampu membawa pembaca untuk berimajinasi tanpa harus berada pada ruang waktu tersebut. Dewasa ini, pemahaman terhadap karya sastra semakin berkembang, maka perlu dilakukan suatu kajian, khususnya dalam kajian sastra bandingan modern. Suatu karya sastra bisa dibandingkan dengan sesuatu yang berada di luar karya sastra, misalnya karya sastra dengan budaya, karya sastra dengan agama, karya sastra dengan kesenian yang mempunyai keterkaitan dan hubungan dalam kajian satra banding. Remak (dalam Endraswara, 2011:9) mengungkapkan bahwa sastra bandingan merupakan penelitian sastra di luar batas sebuah negara serta penelitian tentang hubungan sastra dengan bidang ilmu dan kepercayaan yang lain, seperti seni (lukis, ukir, dan musik), filsafat, sejarah, sosial, sains, dan agama. Salah satu sajian yang menarik adalah mengaitkan karya sastra dengan kebudayaan. Menurut Endraswara (2011: 1-2) hakikat sastra bandingan adalah membandingkan dua karya sastra atau lebih. Membandingkan karya sastra perlu memiliki ketelitian dan pemahaman lebih mengenai sastra bandingan, karena yang dibandingkan adalah keseluruhan unsur-unsurnya. Seperti halnya dengan novel yang akan di analisis, bahwasannya suatu novel dapat dikaji melaui ilmu kebudayaan yang ada dalam masyarakat sekitar latar yang dicerminkan oleh novel. Oleh sebab itu, pemakalah menganalisis novel “Khusraw-Syirin” karya Syekh Hakim An-Nizami. Dalam novel ini menceritakan hal-hal percintaan namun kental dengan budaya kerajaan yang ada dalam perkembangan saat itu.
Kebudayaan sendiri adalah kebiasaan-kebiasaan yang lahir dari kehidupan masyarakat tersebut. Kebudayaan itu lahir karena adanya kebiasaan dan kesepakatan masyarakat yang ada di dalamnya yang mempercayai kebudayaan-kebudayaan tersebut. Oleh karena itu pemakalah menganalisis novel “Khusraw-Syirin” karya Syekh Hakim An-Nizami bila di bandingkan dengan nilai budaya yang ada pada massa itu.

2.      Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dari ilmu budaya?
2.      Bagaimana perbandingan teks sastra novel “Khusraw-Syirin” karya Syekh Hakim An-Nizami bila di bandingkan dengan nilai budaya yang ada pada massa itu?

3.      Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian dari ilmu budaya.
2.      Untuk mengetahui perbandingan teks sastra novel “Khusraw-Syirin” karya Syekh Hakim An-Nizami bila di bandingkan dengan nilai budaya yang ada pada massa itu.

4.      Objek Penelitian
Objek penelitian ini adalah cerita novel “Khusraw-Syirin” karya Syekh Hakim An-Nizami bila di bandingkan dengan nilai budaya yang ada pada massa itu. Karena teks novel “Khusraw-Syirin” karya Syekh Hakim An-Nizami berisi tentang budaya-budaya pada saat itu yaitu budaya kerajaan. Selain itu, penulis juga merasa ingin belajar tentang kajian budaya.

5.      Teori
Ilmu Budaya:
Pengertian dari kebudayaan itu sendiri, yakni sebagaimana yang disampaikan oleh E.B.Tylor (1871) yang dikutip oleh Soerjono Soekanto bahwa kebudayaan  itu adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan lain kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Atau ada juga definisi yang sederhana sebagaimana disebutkan oleh Selo Soemarjan yang dikutip oleh Dedi Supriyadi, M.Ag, bahwa kebudayaan itu adalahsemua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat
Dari definisi-definisi diatas, Penulis dapat menyimpulkan bahwa kebudayaanadalah segala sesuatu yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakattertentu yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adatistiadat serta kebiasaan-kebiasaan lainnya
Ilmu budaya mengarah pada pembentukan sikap dan kepribadian. Mencangkup berbagai aspek kehidupan yang mengungkapkan masalah kemanusia dan budaya yang mampu didekati dengan pengetahuan budaya. Hakekat manusia adalah universal. tetapi manusia mempunyai keanekaragaman dalam perwujudan kehidupan masing-masing jaman dan tempatnya. Dalam melihat dan menghadapi lingkungan alam, sosial, budaya manusia tidak hanya mewujudkan kesamaan-kesamaannya, tetapi juga ketidak seragamannya baik itu dalam pola pikir, tingkah laku, perasaan, dsb. Suatu kebudayaan tidak akan pernah ada tanpa adanya beberapa sistem yang mendukung terbentuknya suatu kebudayaan, sistem ini kemudian disebut sebagai unsur yang membentuk sebuah budaya, mulai dari bahasa, pengetahuan, tekhnologi dan lain lain.
Jadi secara singkatnya, budaya adalah kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang kemudian kebiasaan-kebiasaan itu disepakati bersama lalu jadilah suatu budaya yang ada dalam kelompok tersebut.
Sastra Bandingan:
Sastra Banding (Comparative Literatur e) muncul pertama kali di Perancis tahun 1816 yang diambil dari rangkaian antologi untuk pengajaran sastra yang berjudul Cours de litterature comparee. Di Jerman, istilah ini dipadankan dengan vergleichende Literaturgeschichte yang muncul pada tahun 1854. Sementara itu, istilah comparative literatures muncul di Inggris pada tahun 1848.
Pada awalnya, istilah tersebut menunjuk pada usaha untuk melacak “pengaruh” seorang penulis dari suatu negara atau budaya pada penulis di negara atau budaya lain. Namun, dalam perkembangannya, terdapat kesulitan dalam mencari pengaruh tersebut karena pikiran dan perasaan yang diungkapkan oleh suatu bahasa berbeda dengan pikiran dan perasaan yang dinyatakan dengan bahasa lain. Karena itu pada awalnya, sastra banding hanya dilaksanakan di Eropa. Menurut Sapardi Djoko Damono (2005: 1), sastra bandingan adalah sebuah pendekatan dalam ilmu sastra yang tidak menghasilkan teori sendiri. Dengan kata lain, dalam kajian ini dapat   menggunakan teori apa saja selama masih dapat bersangkutan dengan sastra.

B.     PEMBAHASAN
1.      Deskripsi Novel “Khusraw-Syirin” karya Syekh Hakim An-Nizami
Khusraw-Syirin ini merupakan novel yang mengisahkan cinta romansa pada masa dulu yang juga berakhir kematian keduanya, seperti halnya kisah Laila Majnun. Namun Laila Majnun lebih terkenal dari pada novel Khusraw-Syirin ini. Kisahnya dimulai dari, Syapur kekelahan setelah semalaman suntuk ikut pesta bersama pangeran muda Khusraw. Syapur mencoba mencari pasangan yang tepat untuk Khusraw, dan dia merasa puas dengan upayanya semalam. “kugunakan trik tertua yang ada dibuku,” pikirnya, menyeringai pada dirinya sendiri sambal naik ke pembaringan. Dan Khusraw terperangkap! Semakin banyak semakin baik untuknya. Apa yang sudah dilakukan oleh sepupu dan pejabat istara pangeran Khusraw tersebut ialah menceritakan seorang putri yang pernah dilihantnya di Armenia dengan penuh semangat. Di akhir pesta, Khusrau telah begitu terpesona oleh panah putri tersebut sehingga dia langsung jatuh cinta pada banyangan semata. Di Armenia, Syirin yang telah di gambarkan oleh Syapur, dia dibesarkan sebagai satu-satunya pewaris tahta Armenia. Bibinya sang Ratu Agung Mahin, tidak memiliki anak, yang membuat Syirin menjadi penerusnya.
Dari keduanya ini, Khusraw dan Syirin adalah dua penerus di kerajaan masing-masing. Keduanya jatuh cinta meski hanya lewat cerita yang di dengarkan dari Syapur tanpa pernah bertemu. Dari cerita singkatnya, Khusraw karena dia membuat kesalahan di kerajaan dan membuat ayahnya marah, dia memutuskan untuk pergi ke Armenia untuk menemui cintanya Syirin, sedangkan di Armenia sendiri, Syirin dan Syapur juga pergi ke Persia berniat menemui Khusraw. Setelah keduanya sampai, Khusraw dan Syirin, keduanya sadar, bahwa mereka tak bisa bertemu. Syirin tinggal sementara di Persia dan Khusraw yang mengetahui itu tak berani pulang karena takut akan amarah ayahnya. setelah mendapat kabar ayahnya meninggal dunia, akhirnya Khusraw pulang untuk mengangkatan tahta Khusraw sebagai Raja Persia.
Cinta mereka menyatu meski melewati banyak masalah dan walaupun mereka telah menikah ada saja masalah yang muncul. Sampai akhirnyaKhusrau meninggal. Saat pemakan Khusrau disitu juga Syirin menancapkan pisau pada dirinya sendiri. Syirin terjatuh di atas tubuh suaminya, dia merebahkan kepala di atas dada suaminya. Syirin meninggal dengan senyum dibibirnya.
2.      Perbandingan Teks Sastra Novel “Khusraw-Syirin” karya Syekh Hakim An-Nizami dengan Nilai Budaya
Ø  Perbedaan
Dari yang telah dianalisis oleh penulis yaitu hanya ada perbedaan yang tercantum dalam hasil perbandingan yang telah dilakukan dari budaya arab dengan budaya Indonesia.
Teks Sastra
Ilmu Budaya
Di Persia Raja Hurmuz mengadakan lawatan singkat. Memanfaatkan kepergian ayahnya, Khusraw memutuskan untuk membuat koin-koin baru yang bergambar dirinyasebagai pengganti sang raja. Ketika Hurmuz kembali ke Mada’in, ibu kota kerajaan Persia, dia sangat marah terhadap kelakuan putranya yang kurang ajar.” (Halaman 50)
Budaya di Indonesia adalah budaya menghormati orang tua.
Soerjono Soekanto bahwa kebudayaan itu adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan,kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan lain kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat (2007:150).

Analisisnya: ada perbedaan antara novel Khusrau-Syirin dengan nilai budaya yang ada di Indonesia, yaitu budaya Indonesia menganut budaya menghargai orang tua, tetapi dijelaskan dalam kutiban novel tersebut bahwa sikap Khusraw pada ayahnya justru terbalik dengan budaya Indonesia. Sikap Khusraw yang tidak sopan dan seenaknya sendiri dalam novel tersebut.Hal ini sangat berdeda jauh tentunya dengan budaya yang diantut oleh orang Indonesia. Ini adalah contoh kecilna saja.

Teks Sastra
Ilmu Budaya
“Disitu ia meminta bantuan kaisar Roma untuk merebut kembali negaranya dari Bahram. Kaisar yang terkesan dengan kemudaan dan kecakapan Khusraw, memberikan putrinya yang bernama Maryam untuk dinikahi Khusraw, lantas mengirim pasukan kerajaan Roma ke Persia.” (Halaman 61)
Budaya Indonesia mengenal budaya toleransi dan musyawarah untuk mencapai keputusan atau mufakat, dimana toleransi itu tidak memaksakan kehendak yang satu kepada kehendak yang lain, namun harus menerima.


Analisisnya: ada perbedaan antara novel Khusraw-Syirin karya Syekh Hakim An-Nizami  dengan nilai budaya yang ada di Indonesia yaitu nilai budaya saling toleransi sesama manusia, tidak memaksakan kehendaknya kepada orang lain, yang seharusnya kaisar Roma tidak memaksa untuk menikahkan putrinya dengan Khusraw dengan imbalan Kusraw akan dibantu untuk merebut kembali kerajaannya. Seperti halnya dengan musyawarah, dalam novel tidak ada gambaran adanya musyawarah dalam mencapai mufakat, hanya ada keputusan raja sebagai yang paling utama tanpa memikirkan pendapat orang lain.

C.    PENUTUP
1.      Simpulan
              Dari uraian pada Bab I dan Bab II telah dijelaskan bahwa budaya itu sangat mempengaruhi hal-hal apa yang ada di dalam novel tersebut. Dan budaya-budaya itu dapat dianalisis sebagaimana mestinya. Dapat disimpulkan bahwa dari bandingan antara novel Khusraw-Syirin karya Syekh Hakim An-Nizami ini ada perbedaan dan persamaan dengan nilai budaya, terutama budaya Indonesia. Salah satunya adalah budaya toleransi, tolong menolong, menghormati orang tua dan budaya pengagungan keturunan sebagai pewaris tahta kerajaan.



DAFTAR PUSTAKA

An-Nizami, Syekh Hakim dkk, 2015. Laila Majnun; Plus 3 Kisah Cinta yang Mengguncang Dunia. Lamongan: Pustaka Ilalang.
Soerjono Soekanto, Sosiologi suatu pengantar, PT.Raja Grafindo Persada. Jakarta, 2007. Halaman150.
Dedi Supriyadi, M.Ag. Sejarah Peradaban Islam. Pustaka Setia. Bandung. 2008. halaman 17.


0 komentar:

Posting Komentar

 

Rhifaery's Room Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang