Judul : Grey Sunflower
Pengarang : Ruth Priscila Angelina
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2010
Halaman :248 Halaman
Harga :Rp. 40.000
Resensator :Rhifaery
Karya
sastra bergenre fiksi khususnya metropop, memang sangat menarik untuk disimak.
Di satu sisi, karya tersebut memang bersifat khayal dan hanya ada dalam
imajinasi penulis saja, namun disisi lain, tidak semua imajinasi penulis itu
berasal dari dunia khayal, bahkan ada juga penulis yang menggunakan pengalaman
pribadinya dan dituangkannya ke dalam sebuah tulisan. Hal itu menunjukkan bahwa
tidak semua novel yang bergenre fiksi itu bersifat kacangan atau hanya jual mimpi.
Seperti
halnya pada novel- novel karangan Mira W. Novel yang bergenre Fiksi metropop
itu mendapat sambutan yang baik bagi para pembacanya dengan penghargaan Best
Seller. Hal itu menunjukkan pasaran novel fiksi juga tak kalah menjanjikan
dibanding novel-novel nonfiksi. Tapi walaupun begitu, kekreatifan pengarang
juga harus diperhitungkan. Dengan kata lain, itu semua tergantung dari
sebagaimana kekreatifan penulis dalam merangkai sebuah cerita dan menuangkannya
dalam bentuk novel.
Seperti
halnya dalam novel Grey Sunflower
yang ditulis oleh Ruth Priscilia Angelina ini, menceritakan tentang tokoh
Louise, si gadis pecinta bunga matahari yang memutuskan melarikan diri ke
Belanda dan membuka lembaran baru setelah kematian cinta pertamanya, Davin. Di
sana ia berniat melanjutkan kuliah dan melupakan segala hal yang berhubungan
dengan cinta. Tetapi, takdir malah mempertemukannya dengan Ben, saudara kembar
Davin. Perasaan Louise campur aduk, kenangan akan Davin menariknya kepada Ben.
Namun, seakan hidup Louise belum cukup membingungkan, takdir malah memperumitnya dengan menghadirkan kembali Gerard, pria ang juga pernah mengisi hidupnya dan telah beberapa tahun telah menghilang. Dibayangi kenangan dan balutan kebimbangan hatinya Louise berusaha untuk menemukan bunga matahari-nya yang sejati.
Namun, seakan hidup Louise belum cukup membingungkan, takdir malah memperumitnya dengan menghadirkan kembali Gerard, pria ang juga pernah mengisi hidupnya dan telah beberapa tahun telah menghilang. Dibayangi kenangan dan balutan kebimbangan hatinya Louise berusaha untuk menemukan bunga matahari-nya yang sejati.
Secara
garis besar, novel ini memang seperti mimpi dan jauh dari realitas yang ada.
Ada beberapa ketidak mungkinan alur dalam novel ini yang tidak akan terjadi
pada kehidupan. Seperti pada adegan Davin yang menemui Louse dalam mimpi dan
berniat
Secara
garis besar, novel ini memang menarik untuk dibaca. Banyak adegan-adegan romantis
yang membuat pembaca khusunya perempuan iri terhadap tokoh Louise. Adegan
romantis saat Gerard menyatakan cintanya pada Louise di atap apartement-nya,
adegan romantis saat Ben berlibur bersama Louise dan Ben menyatakan
perasaannya, adegan romantis Ben saat dia melamar Louise. Dan adegan yang
paling saya suka adalah saat Gerard melamar Louise dan adegan pernikahan
mereka. Ikrar sepasang suami-istri di sebuah gereja kecil yang di bangun oleh
Louise, sangat manis ditambah iringan paduan suara anak kecil. Sepasang
suami-istri yang mengikrarkan janji mereka untuk hidup bersama sampai maut
memisahkan mereka.

0 komentar:
Posting Komentar