Kamis, 05 Mei 2016

Resensi Novel Grey Sun Flower





Judul               : Grey Sunflower
Pengarang       : Ruth Priscila Angelina
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit    : 2010
Halaman          :248 Halaman
Harga              :Rp. 40.000
Resensator       :Rhifaery
 


Karya sastra bergenre fiksi khususnya metropop, memang sangat menarik untuk disimak. Di satu sisi, karya tersebut memang bersifat khayal dan hanya ada dalam imajinasi penulis saja, namun disisi lain, tidak semua imajinasi penulis itu berasal dari dunia khayal, bahkan ada juga penulis yang menggunakan pengalaman pribadinya dan dituangkannya ke dalam sebuah tulisan. Hal itu menunjukkan bahwa tidak semua novel yang bergenre fiksi itu bersifat kacangan atau hanya jual mimpi.
Seperti halnya pada novel- novel karangan Mira W. Novel yang bergenre Fiksi metropop itu mendapat sambutan yang baik bagi para pembacanya dengan penghargaan Best Seller. Hal itu menunjukkan pasaran novel fiksi juga tak kalah menjanjikan dibanding novel-novel nonfiksi. Tapi walaupun begitu, kekreatifan pengarang juga harus diperhitungkan. Dengan kata lain, itu semua tergantung dari sebagaimana kekreatifan penulis dalam merangkai sebuah cerita dan menuangkannya dalam bentuk novel.
Seperti halnya dalam novel Grey Sunflower yang ditulis oleh Ruth Priscilia Angelina ini, menceritakan tentang tokoh Louise, si gadis pecinta bunga matahari yang memutuskan melarikan diri ke Belanda dan membuka lembaran baru setelah kematian cinta pertamanya, Davin. Di sana ia berniat melanjutkan kuliah dan melupakan segala hal yang berhubungan dengan cinta. Tetapi, takdir malah mempertemukannya dengan Ben, saudara kembar Davin. Perasaan Louise campur aduk, kenangan akan Davin menariknya kepada Ben.
Namun, seakan hidup Louise belum cukup membingungkan, takdir malah memperumitnya dengan menghadirkan kembali Gerard, pria ang juga pernah mengisi hidupnya dan telah beberapa tahun telah menghilang. Dibayangi kenangan dan balutan kebimbangan hatinya Louise berusaha untuk menemukan bunga matahari-nya yang sejati.
Secara garis besar, novel ini memang seperti mimpi dan jauh dari realitas yang ada. Ada beberapa ketidak mungkinan alur dalam novel ini yang tidak akan terjadi pada kehidupan. Seperti pada adegan Davin yang menemui Louse dalam mimpi dan berniat
Secara garis besar, novel ini memang menarik untuk dibaca. Banyak adegan-adegan romantis yang membuat pembaca khusunya perempuan iri terhadap tokoh Louise. Adegan romantis saat Gerard menyatakan cintanya pada Louise di atap apartement-nya, adegan romantis saat Ben berlibur bersama Louise dan Ben menyatakan perasaannya, adegan romantis Ben saat dia melamar Louise. Dan adegan yang paling saya suka adalah saat Gerard melamar Louise dan adegan pernikahan mereka. Ikrar sepasang suami-istri di sebuah gereja kecil yang di bangun oleh Louise, sangat manis ditambah iringan paduan suara anak kecil. Sepasang suami-istri yang mengikrarkan janji mereka untuk hidup bersama sampai maut memisahkan mereka.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Rhifaery's Room Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang