A. Pemain:
1. Rian (sebagai
murid 1)
2. Banu (sebagai
murid 2)
3. Mita (sebagai
murid 3)
4. Dini (sebagai
murid 4)
5. Budi (sebagai
murid 5)
6. Pak Rendi (sebagai
bapak guru)
B. Alur Drama:
(Suatu ketika disaat keadilan sudah menjadi kata
yang punah, sedang diadakannya ujian semester. Rian dan Banu duduk sebangku, Mita
dan Dini duduk sebangku di depannya, sedangkan Budi duduk sendiri disamping
Banu. Mata pelajaran yang sedang di ujikan adalah matematika, semua murid
terlihat kebingungan dan kewalahan melihat soalnya. Kemudian, terjadilah
percakapan antara 5 sekawan, Adi, Budi, Banu, Mita dan Dini.)
Banu : “Din, aku minta jawaban soal nomor
5 dan 6!”
Dini :
“A dan C.”
Mita : “Kalau soal nomor 10, 11 dan 15
jawabannya apa Ban?”
Banu : “10 A, 11 D, nomor 15 aku belum.”
Rian : “Huss, jangan kencang-kencang
nanti gurunya dengar.”
Mita : “soalnya sulit sekali, masih
banyak yang belum aku kerjakan.”
(Mereka berempat saling contek-mencontek seperti
pelajar lainnya. Tapi tidak dengan Budi, ia terlihat rileks dan mengerjakan
soal ujian sendiri tanpa mencontek.)
Banu : “Bud,kamu sudah selesai?”
Budi : “Belum, tinggal 3 soal lagi.”
Banu : “Aku minta jawaban nomor 15 sampai
20 Bud!”
Budi : “Tidak Bisa Ban.”
Banu : “Kenapa? Kita sahabat bud, kita
harus kerjasama.”
Dini :
“Iya Bud, kita harus kerja sama.”
Rian : “Iya, kamu kan yang paling pintar
di sini bud.”
Budi : “Tapi bukan kerjasama seperti ini
teman-teman.”
Mita : “Kenapa memang Bud? Hanya 5 soal
saja!”
Budi : “Mencontek atau pun
memberi contek adalah hal buruk, yang dosanya
sama. Aku
tidak mau mencotek karena dosa, begitu pula member
contek ke
kalian. Aku minta maaf”
Mita : “Tapi saat ini, sangat mendesak
Bud”
Dini :
“Iya Bud, bantu kami.”
Budi : “Tetap tidak bisa.”
Rian : “Ya sudah, biarkan. Urus saja
dirimu sendiri Bud, dan kami urus diri
kami sendiri.” (marah dan kesal)
Banu : “Biarkan, kita lihat di buku saja.”
(Banu lalu mengeluarkan buku dari kolong bangkunya
secara diam-diam, kemudian melihat rumus dan jawaban di dalamnya. Lalu Mita
menanyakan hasilnya.)
Mita : “Bagaimana Ban? Ada tidak?
Banu : “Ada, kalian dengar ya. 15 A, 16
D, 17 D, 18 B, 19 A, 20 C.”
(Karena suara Banu yang agak terdengar keras, Pak Rendi pun mendengarnya dan menghampiri mereka berempat.)
Pak Rendi : “Kalian ini, mencontek terus.
Keluar kalian!”
(Mereka berempat di hukum di lapangan untuk
menghormati tiang bendera.)
Banu : “Aku tidak menyangka akan seperti
ini”
Dini :
“Aku juga tidak menyangka akan dihukum.”
Mita : “Seharusnya kita belajar ya!”
Rian : “Iya, Budi benar.”
Banu : “Disaat seperti ini, baru kita
menyadarinya yah!”
Mita : “Aku menyesal!”
Rian dan Dini :
“Aku juga.” (serentak)
(Setelah itu Budi keluar dari kelas dan menghampiri
mereka. Kemudian Budi ikut berdiri hormat seperti yang lain.)
Dini :
“kenapa Bud? Kamu di hukum juga?”
Budi : “Tidak, aku ingin menjalani
hukuman kalian juga.
Kita sahabat kan? Aku ingin kita bersama.”
Mita : “Aku berharap ini menjadi
pelajaran kita semua.”
Dini :
“Dan tidak kita ulangi lagi.”
Rian : “Kita sahabat sejati.”
(Lalu mereka semua menjalani hukuman dengan penuh
senyum dan tawa. Persahabatan akan mengalahkan segala keburukan.)
Karya: Yuliana
0 komentar:
Posting Komentar